Aku Menemukan Cincin Bertuliskan Nama Wanita Lain di Tas Suamiku, Tapi Saat Kutanya Siapa Livia, Jawabannya Justru Membuatku Meragukan Pernikahan Kami

“Maya, kamu membuka tas kerjaku?”

Pertanyaan itu membuat seluruh kecurigaanku berubah menjadi ketakutan.

Bukan karena Arga terdengar marah. Justru sebaliknya. Suaranya terlalu tenang, seperti seseorang yang baru menyadari sebuah rahasia besar mungkin sudah terbongkar.

“Aku cuma mencari charger,” jawabku. “Kotaknya jatuh sendiri.”

Arga diam.

“Jadi benar cincin itu milikmu?”

“Maya, dengarkan aku.”

“Siapa Livia?”

“Aku akan jelaskan nanti.”

“Nanti kapan?”

“Aku sedang tidak bisa bicara.”

Aku tertawa pendek. Rasanya pahit.

“Tujuh tahun aku jadi istrimu, Ga. Aku menemukan cincin bertuliskan nama perempuan lain di tasmu, lalu ada orang asing mengirim foto kalian sedang makan malam. Menurutmu aku masih bisa menunggu?”

Hening beberapa detik.

Kemudian Arga mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

“Livia sudah meninggal.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Dia meninggal delapan tahun lalu.”

Sambungan telepon berakhir.

Aku mencoba menelepon kembali, tetapi Arga tidak mengangkat.

Malam itu aku duduk sendirian di ruang tamu dengan pikiran yang semakin kacau.

Jika Livia sudah meninggal delapan tahun lalu, siapa perempuan dalam foto yang baru saja dikirim kepadaku?

Aku membuka pesan dari nomor tak dikenal.

“Katamu Livia siapa?”

Tidak ada balasan.

Aku mengirim lagi.

“Perempuan di foto itu Livia?”

Beberapa menit kemudian muncul jawaban.

“Tidak.”

Jantungku berdegup semakin keras.

“Lalu siapa?”

“Adiknya.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Belum sempat bertanya lebih jauh, pesan berikutnya masuk.

“Namanya Laras. Kalau Mbak ingin tahu kenapa Mas Arga menemuinya diam-diam, datang besok pukul sepuluh pagi ke Kafe Arunika di Kemang.”

Aku tidak tidur malam itu.

Arga baru pulang hampir pukul satu dini hari.

Aku mendengar pintu terbuka, tetapi aku tetap berbaring membelakanginya. Ia masuk ke kamar, berdiri beberapa saat di dekat tempat tidur, lalu menghela napas.

“Aku tahu kamu belum tidur.”

Aku membuka mata.

“Jelaskan.”

Arga duduk di ujung ranjang.

“Livia adalah seseorang dari masa laluku.”

“Pacarmu?”

Dia mengangguk pelan.

Jawaban sederhana itu menusuk lebih dalam daripada yang kubayangkan.

“Kalian mau menikah?”

“Pernah merencanakannya.”

Aku menatap langit-langit.

Tujuh tahun menikah, aku tidak pernah tahu bahwa sebelum mengenalku, Arga hampir menikahi seseorang.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

“Karena dia sudah meninggal. Aku pikir tidak ada gunanya membawa masa lalu ke pernikahan kita.”

“Lalu cincin itu?”

Arga mengusap wajah.

“Itu cincin yang dulu kupesan untuknya.”

“Kenapa ada di tasmu sekarang?”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku menoleh.

“Ga?”

“Aku menemukannya lagi beberapa minggu lalu.”

“Di mana?”

“Rumah ibuku.”

Aku tahu dia berbohong.

Arga selalu menggaruk sisi ibu jarinya ketika gugup. Kebiasaan kecil yang kukenal setelah tujuh tahun tidur di sampingnya.

Dan malam itu ia melakukannya.

“Siapa Laras?”

Tangannya berhenti.

Wajah Arga berubah.

“Dari mana kamu tahu nama itu?”

“Aku bertanya dulu.”

“Maya.”

“Dia adik Livia, kan?”

Arga berdiri.

“Siapa yang menghubungimu?”

Jadi benar.

Aku bangkit.

“Kenapa kamu makan malam dengannya?”

“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Semua orang yang ketahuan menyembunyikan sesuatu selalu bilang begitu.”

“Aku tidak berselingkuh.”

“Kalau begitu tunjukkan ponselmu.”

Arga terdiam.

Aku mengulurkan tangan.

“Berikan.”

Untuk beberapa detik dia menatapku. Kemudian dia mengambil ponselnya dan meletakkannya di telapak tanganku.

Tidak ada pesan romantis.

Tidak ada foto mesra.

Namun percakapannya dengan Laras membuat tengkukku dingin.

Laras berkali-kali menanyakan satu hal.

Kapan kamu akan memberitahu Maya?

Arga selalu menjawab dengan variasi kalimat yang sama.

Belum sekarang.

Aku mengangkat wajah.

“Memberitahuku tentang apa?”

Arga mengambil kembali ponselnya.

“Aku butuh waktu.”

Aku tertawa tanpa humor.

“Kamu sudah punya tujuh tahun.”

Keesokan paginya aku pergi ke Kafe Arunika.

Aku tidak mengatakan apa pun kepada Arga.

Seorang perempuan sekitar tiga puluh tahun sudah duduk di pojok. Wajahnya sama seperti perempuan dalam foto.

Laras.

Ketika melihatku, dia berdiri.

“Mbak Maya?”

Aku mengangguk.

“Siapa yang mengirim pesan kepadaku?”

“Saya.”

Aku langsung duduk.

“Kenapa?”

Laras terlihat ragu.

“Karena Mas Arga tidak akan pernah berani mengatakan semuanya.”

Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.

Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.

Arga jauh lebih muda berdiri di samping seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip Laras.

Livia.

Di salah satu foto, Livia memegang buket bunga sambil tersenyum. Arga memandangnya dengan bahagia.

Dadaku terasa sakit.

“Livia meninggal karena kecelakaan,” kata Laras. “Tiga bulan sebelum mereka menikah.”

Aku menelan ludah.

“Lalu kenapa cincin itu muncul sekarang?”

Laras menatapku lama.

“Karena cincin itu bukan milik Mas Arga selama delapan tahun terakhir.”

Aku mengernyit.

“Maksudmu?”

“Kakak saya meninggalkan cincin itu kepada seseorang.”

Laras mengeluarkan selembar surat yang sudah menguning.

Tulisan tangan memenuhi kertas.

Di bagian bawah terdapat nama Livia.

Aku membacanya perlahan.

Surat itu ditujukan kepada Arga.

Livia menulis bahwa jika sesuatu terjadi kepadanya, cincin tersebut harus diberikan kepada seseorang bernama Bu Ratih.

Nama itu membuatku membeku.

Ratih adalah nama ibuku.

Aku menatap Laras.

“Ini kebetulan?”

“Bukan.”

Dunia seolah berhenti.

“Apa hubungan ibuku dengan Livia?”

Laras menarik napas.

“Ibu Mbak adalah perawat yang berada di rumah sakit malam ketika Kak Livia meninggal.”

Aku semakin bingung.

“Lalu?”

“Mas Arga selama bertahun-tahun percaya kecelakaan itu murni kecelakaan.”

“Memangnya bukan?”

Laras menggeleng.

“Sebelum meninggal, Kak Livia sadar sebentar. Dia memberikan cincin itu kepada Bu Ratih dan mengatakan seseorang sengaja menabraknya.”

Tanganku mulai gemetar.

“Siapa?”

“Itulah yang kami coba cari tahu.”

Aku langsung berdiri.

“Kenapa ibuku tidak pernah mengatakan apa pun?”

Laras menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Karena beberapa hari setelah kematian Kak Livia, Bu Ratih menghilang dari rumah sakit.”

Ibuku memang pernah bekerja sebagai perawat sebelum membuka toko kecil di Bogor. Tetapi aku tidak pernah tahu alasan dia berhenti.

Aku meninggalkan kafe dan langsung menelepon Ibu.

“Ibu di rumah?”

“Ada apa, May?”

“Aku mau ke sana.”

Nada suaraku mungkin membuatnya sadar sesuatu telah terjadi.

“Maya, kamu kenapa?”

“Aku mau bicara tentang Livia.”

Tidak ada suara dari seberang.

Lalu telepon terputus.

Satu jam kemudian aku tiba di rumah Ibu.

Pintu depan terbuka.

Ibu duduk di ruang tengah dengan wajah pucat.

Di atas meja terdapat sebuah kotak plastik tua.

“Akhirnya kamu tahu,” katanya.

Aku tidak langsung duduk.

“Ibu kenal Livia?”

Ibu mengangguk.

“Kenapa tidak pernah cerita?”

“Karena aku ingin melindungimu.”

“Melindungiku dari siapa?”

Ibu membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat potongan koran lama, sebuah flashdisk, dan salinan laporan kecelakaan.

“Delapan tahun lalu, Livia dibawa ke rumah sakit tempat Ibu bekerja. Kondisinya parah, tapi sempat sadar.”

Ibu menatapku.

“Dia terus mengatakan satu nama.”

“Siapa?”

Ibu tidak menjawab.

Sebaliknya, ia menyerahkan laporan kecelakaan.

Nama pemilik kendaraan yang diduga menabrak Livia tercantum di sana.

Bima Prasetyo.

Aku mengenal nama itu.

Bima adalah ayah Arga.

Mertuaku sendiri.

Aku merasa lututku kehilangan tenaga.

“Tidak mungkin.”

“Itulah sebabnya Ibu berhenti bekerja,” katanya. “Beberapa hari setelah kecelakaan, seseorang datang dan meminta rumah sakit mengubah beberapa catatan.”

“Ayah Arga?”

“Bukan.”

“Lalu siapa?”

Ibu menatapku dengan wajah yang sulit kubaca.

“Ibunya.”

Bu Mirna.

Perempuan yang selama tujuh tahun memanggilku anak sendiri.

Ibu menjelaskan bahwa Livia menemukan transaksi ilegal di perusahaan keluarga Arga. Saat itu ia bekerja di bagian keuangan. Ia berniat menyerahkan bukti kepada polisi.

Malam sebelum kecelakaan, Livia bertengkar dengan Bima.

Tetapi menurut Ibu, Bima bukan orang yang mengendarai mobil.

Mobil itu miliknya.

Pengemudinya orang lain.

“Siapa?”

Ibu menunjuk flashdisk.

“Semua yang Ibu punya ada di sana.”

Aku memasukkannya ke laptop.

Ada rekaman CCTV buram dari sebuah minimarket dekat lokasi kecelakaan.

Sebuah mobil hitam terlihat berhenti beberapa menit sebelum tabrakan.

Pengemudinya turun sebentar.

Wajahnya terlihat ketika lampu minimarket menyala.

Aku mengenalnya.

Bu Mirna.

Tanganku langsung menutup mulut.

“Ya Tuhan.”

Ibu menggenggam tanganku.

“Setelah Livia meninggal, keluarga itu membuat semuanya terlihat seperti kecelakaan biasa.”

“Tapi kenapa Ibu diam?”

“Karena mereka tahu Ibu punya anak.”

Aku membeku.

“Kamu.”

Ternyata seseorang pernah mengirim foto sekolahku kepada Ibu bersama ancaman.

Saat itu aku masih kuliah semester awal.

Ibu ketakutan.

Ia berhenti dari rumah sakit, pindah rumah, dan menyembunyikan cincin serta bukti selama bertahun-tahun.

“Lalu bagaimana cincin itu sampai ke Arga?”

“Ibu yang memberikannya tiga minggu lalu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kenapa?”

“Karena ayahnya meninggal bulan lalu. Ibu pikir sudah waktunya Arga tahu.”

Potongan-potongan itu akhirnya tersambung.

Arga bukan menyembunyikan perselingkuhan.

Ia menyembunyikan kehancuran keluarganya sendiri.

Aku langsung pulang.

Namun Arga tidak ada di rumah.

Aku meneleponnya berkali-kali.

Tidak dijawab.

Kemudian Laras menelepon.

“Mbak Maya, Mas Arga pergi menemui ibunya.”

Dadaku berdegup keras.

“Di mana?”

“Rumah Bu Mirna.”

Aku melaju ke sana.

Ketika tiba, suara pertengkaran terdengar dari dalam.

“Kamu membunuh dia!”

Itu suara Arga.

Aku masuk.

Arga berdiri di ruang tengah dengan mata merah. Bu Mirna duduk di sofa, tetapi wajahnya justru terlihat tenang.

“Kamu tidak mengerti apa yang terjadi waktu itu,” katanya.

“Aku mengerti cukup banyak!”

“Ayahmu akan masuk penjara. Perusahaan akan hancur. Ratusan karyawan kehilangan pekerjaan.”

“Jadi Ibu menabrak Livia?”

Bu Mirna menutup mata.

“Aku hanya ingin menakutinya.”

Arga tertawa getir.

“Dia mati, Bu.”

Bu Mirna mulai menangis.

“Aku panik.”

Saat itulah aku masuk.

“Dan setelah itu Ibu mengancam ibu saya.”

Bu Mirna menoleh.

Wajahnya seketika pucat.

“Maya?”

Aku meletakkan ponsel di meja.

Perekam suara masih menyala.

Bu Mirna langsung berdiri.

“Kamu merekam?”

“Semua.”

Dia mencoba meraih ponselku, tetapi Arga berdiri di antara kami.

“Cukup, Bu.”

Untuk pertama kalinya aku melihat Arga menatap ibunya seperti orang asing.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan lama dibuka kembali.

Bukti dari Ibu, rekaman pengakuan Bu Mirna, dan dokumen yang disimpan Laras cukup untuk membuat polisi memeriksa kasus itu lagi.

Pernikahanku dengan Arga tidak langsung kembali seperti semula.

Ada luka yang tidak bisa hilang hanya karena ternyata suamiku tidak berselingkuh.

Aku tetap marah karena dia memilih menyimpan semuanya sendiri.

Suatu malam, kami duduk di balkon apartemen.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal?” tanyaku.

Arga menatap jalanan Jakarta di bawah.

“Karena aku takut.”

“Takut aku meninggalkanmu?”

Dia menggeleng.

“Takut kamu melihatku dan selalu teringat keluarga yang membunuh seseorang.”

Aku menggenggam tangannya.

“Aku menikah denganmu, Ga. Bukan dengan dosa orang tuamu.”

Matanya memerah.

Kemudian ia mengeluarkan kotak beludru hitam yang pernah membuat hidupku runtuh.

Cincin Livia ada di dalamnya.

“Aku mau mengembalikan ini kepada Laras.”

Aku mengangguk.

Namun sebelum kotak itu ditutup, aku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kusadari.

Di balik ukiran Untuk Livia terdapat tulisan sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Aku mendekatkannya ke lampu.

Ada dua kata lain.

Terima kasih, Maya.

Aku membeku.

“Ga, lihat.”

Arga mengambil cincin itu.

Wajahnya berubah.

Tulisan itu jelas bukan bagian dari ukiran lama.

Laras akhirnya mengaku bahwa dialah yang menambahkannya beberapa hari sebelumnya, sebelum memberikan cincin itu kepada Arga.

Menurutnya, Livia pernah mengatakan bahwa jika kebenaran suatu hari terungkap, itu mungkin terjadi karena seseorang yang bahkan belum mereka kenal.

Seseorang yang memilih bertanya ketika semua orang memilih diam.

Aku menatap cincin itu lama.

Benda kecil yang awalnya kukira menjadi bukti pengkhianatan ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada pernikahanku.

Malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Pernikahan tidak selalu hancur karena hadirnya orang ketiga.

Kadang yang paling berbahaya justru adalah rahasia yang dibiarkan hidup terlalu lama.

Aku dan Arga tidak bisa mengubah masa lalu.

Kami juga tidak bisa mengembalikan Livia.

Tetapi kami bisa memilih satu hal yang selama bertahun-tahun gagal dilakukan keluarga kami.

Berhenti menyembunyikan kebenaran.

Arga menggenggam tanganku.

“Mulai sekarang tidak ada lagi rahasia.”

Aku menatapnya.

“Jangan berjanji kalau kamu tidak sanggup.”

Dia mengangguk.

“Aku sanggup.”

Aku tidak tahu apakah masa depan akan selalu mudah.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak menemukan cincin bertuliskan nama perempuan lain di tas suamiku, aku tidak lagi takut pada nama Livia.

Karena akhirnya aku tahu, perempuan yang semula kukira akan menghancurkan pernikahanku justru telah meninggalkan sebuah kebenaran yang menyelamatkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang