AKU MENGIKUTI TANGIS ANAK KE BASEMENT TERLARANG, LALU PINTU BESI DI BALIK LEMARI MEMBUKA RAHASIA ISTRI BARU MILIARDER YANG DISEMBUNYIKAN SELAMA SETAHUN DARI SEMUA ORANG

Jam di dapur menunjukkan pukul 02.07 ketika aku mendengar suara itu.

Awalnya kupikir suara televisi dari ruang keluarga. Pesta yang diadakan Bu Selvi baru selesai sekitar setengah jam lalu. Beberapa temannya masih menunggu mobil di halaman depan, sementara gelas kotor dan piring berisi sisa makanan memenuhi meja makan.

Aku sedang menuangkan air ketika suara itu terdengar lagi.

Pelan. Serak. Hampir seperti bisikan.

“Bu… saya lapar…”

Tanganku langsung berhenti.

Suara anak kecil.

Aku menatap pintu dapur. Tidak mungkin berasal dari lantai atas. Setelah dua puluh tahun bekerja di rumah keluarga Mahendra, aku hafal bagaimana suara merambat dari setiap lorong.

Suara itu datang dari bawah.

Basement.

Tempat yang sejak Selvi menikah dengan Tuan Arga tidak boleh dimasuki siapa pun.

Aku mencoba mengabaikannya, tetapi beberapa detik kemudian terdengar lagi.

“Bu… tolong…”

Aku mengambil ponsel dan senter dari laci. Sebelum turun, aku mengirim pesan kepada Fajar, sopir keluarga yang tinggal di rumah staf belakang.

“Bangun. Datang ke pintu servis basement. Jangan lewat depan.”

Tidak ada balasan.

Aku tetap turun.

Tangga menuju basement gelap. Lampu utama tidak menyala. Udara di bawah pengap dan berbau lembap.

Kemudian terdengar ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Dari belakang lemari besar di ujung ruangan.

Aku mendekat.

“Siapa di sana? Jangan takut. Saya Bu Marni.”

Suara kecil itu menjawab.

“Uwa Marni?”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Sudah lebih dari setahun tidak ada seorang pun memanggilku begitu.

Hanya satu anak yang memanggilku Uwa.

Faris.

Putra Tuan Arga yang kami percaya meninggal bersama ibunya dalam kebakaran vila keluarga di Puncak.

“Siapa namamu?” tanyaku dengan suara gemetar.

Terdengar isakan.

“Faris.”

Aku mendorong lemari itu sekuat tenaga sampai menemukan pintu besi tersembunyi di belakangnya. Setelah berusaha membuka pengait menggunakan perkakas dari rak, pintu akhirnya terbuka.

Cahaya senter menyapu sebuah ruangan sempit.

Seorang anak duduk di samping ranjang kecil. Pergelangan kakinya terikat rantai panjang yang tersambung ke rangka ranjang.

Tubuhnya kurus.

Namun wajah itu tidak mungkin kulupakan.

Aku berjongkok.

“Faris?”

Ia menatapku lama sebelum merangkak mendekat dan memelukku.

“Uwa benar-benar datang?”

Aku memeluknya erat.

“Papa di mana?”

“Papa sedang di luar kota.”

“Tante Selvi bilang Papa sudah tidak mau Faris.”

Dadaku terasa terbakar.

“Siapa yang membawa kamu ke sini?”

“Tante Selvi sama Om Reno.”

Reno adalah kakak Selvi.

Lalu Faris mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku dingin.

“Mama juga tidak pergi.”

Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, langkah kaki terdengar dari tangga.

Lampu basement menyala.

Selvi berdiri di sana dengan gaun pesta berwarna hitam.

Di belakangnya muncul Pak Dedi, kepala keamanan rumah.

Aku sempat merasa lega sampai menyadari sesuatu.

Dedi melihat Faris tanpa menunjukkan sedikit pun keterkejutan.

Selvi menoleh kepadanya.

“Kamera basement?”

“Sudah saya matikan sejak pesta mulai, Bu.”

Saat itulah aku mengerti.

Aku tidak sedang berhadapan dengan satu orang.

“Bu Marni,” kata Selvi. “Keluar dari ruangan itu.”

Aku berdiri di depan Faris.

“Tidak.”

Selvi berjalan mendekat.

“Jangan membuat keadaan lebih sulit.”

“Kamu menyembunyikan anak Tuan Arga selama ini.”

“Apa yang Ibu lihat tidak sesederhana itu.”

“Anak ini dirantai.”

Selvi menatap Faris sejenak.

Anehnya, tidak ada kebencian di wajahnya. Yang kulihat justru kegelisahan.

“Pak Dedi,” katanya, “ambil ponselnya.”

Dedi maju.

Aku mundur sambil menggenggam ponsel.

“Jangan mendekat!”

Dedi berhenti.

Kemudian suara lain terdengar dari belakang.

“Kalau saya jadi Bapak, saya tidak akan bergerak.”

Fajar berdiri di tangga servis.

Tangannya memegang ponsel dengan kamera menyala.

Wajah Dedi berubah.

“Kamu ngapain di sini?”

“Merekam.”

Selvi langsung berbalik.

“Matikan.”

Fajar menggeleng.

“Sudah terlambat, Bu. Videonya otomatis masuk cloud.”

Itu bohong.

Aku tahu Fajar bahkan sering mengeluh penyimpanan ponselnya penuh.

Tetapi Dedi tidak tahu.

Selvi tahu.

Aku melihatnya dari tatapan matanya.

Ia menatap Dedi tajam.

“Jangan sentuh mereka.”

Kemudian sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Selvi menutup pintu menuju tangga utama basement dan menguncinya.

Ia berbalik kepada kami.

“Kita cuma punya beberapa menit.”

Aku menatapnya bingung.

“Apa maksudmu?”

“Reno akan datang.”

“Bukankah dia kakakmu?”

Selvi tertawa kecil tanpa kegembiraan.

“Sayangnya, iya.”

Ia berjalan ke arah Faris, tetapi aku menghadangnya.

“Jangan dekat-dekat.”

“Kalau saya benar-benar ingin Faris mati, Bu Marni, kenapa dia masih hidup?”

Aku terdiam.

Selvi menunjuk rantai di kaki Faris.

“Kuncinya ada pada Dedi.”

Semua mata tertuju kepada kepala keamanan itu.

Dedi mundur.

Wajah Selvi berubah keras.

“Berikan kuncinya.”

“Bu Selvi, kita sudah sepakat.”

“Saya bilang berikan.”

Dedi tiba-tiba berlari ke tangga.

Fajar mencoba menghadangnya.

Keduanya bertabrakan.

Aku mendengar benda logam jatuh.

Sebuah gantungan kunci.

Aku mengambilnya dan mencoba beberapa kunci sampai rantai Faris akhirnya terbuka.

Faris langsung memeluk pinggangku.

Dedi berhasil mendorong Fajar dan hendak membuka pintu ketika Selvi mengambil vas logam dari meja lalu menghantamkannya ke panel alarm di dinding.

Sirene rumah langsung berbunyi.

Dedi membeku.

“Apa yang Ibu lakukan?”

“Mengakhiri semuanya.”

Beberapa menit kemudian seluruh rumah kacau.

Staf berlarian. Tamu terakhir yang belum pulang keluar dari mobil. Petugas keamanan di gerbang menelepon ke dalam.

Selvi menyuruh Fajar membawa Faris melalui pintu servis.

Aku menahannya.

“Tidak sebelum kamu menjelaskan.”

Selvi menatapku.

“Kebakaran di Puncak bukan kecelakaan.”

Aku merasa lututku melemas.

Setahun lalu, Tuan Arga menerima kabar bahwa vila tempat istri pertamanya, Nadia, dan Faris menginap terbakar tengah malam. Dua jasad ditemukan dalam kondisi sulit dikenali.

Identifikasi dilakukan berdasarkan barang pribadi dan catatan medis.

Tuan Arga hancur.

Empat bulan kemudian, Selvi muncul sebagai konsultan yayasan perusahaan.

Enam bulan setelah tragedi, mereka menikah.

Semua orang menganggap Tuan Arga terlalu cepat menikah lagi.

Namun tidak seorang pun membayangkan hal seperti ini.

“Reno mengatur kebakaran itu,” kata Selvi.

“Kenapa?”

“Uang.”

Ternyata Nadia menemukan penggelapan dana investasi milik Mahendra Group yang berlangsung bertahun-tahun. Reno terlibat melalui perusahaan cangkang dan menggunakan beberapa pegawai internal untuk memalsukan transaksi.

Nadia berniat menyerahkan bukti kepada suaminya.

Sebelum sempat melakukannya, vila terbakar.

“Tapi Faris selamat?”

Selvi mengangguk.

“Reno membawa Faris keluar sebelum api membesar. Nadia juga selamat karena petugas kebun menemukan dia di belakang vila.”

“Lalu kenapa mereka dinyatakan meninggal?”

“Karena dua korban lain digunakan untuk membuat semua orang percaya mereka sudah mati.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dan kamu tahu?”

“Saya tahu setelah kejadian.”

“Lalu kamu menikahi Tuan Arga?”

Selvi menunduk.

“Karena itu satu-satunya cara saya bisa masuk ke rumah ini dan mencari dokumen yang Reno sembunyikan.”

Aku tertawa getir.

“Kamu berharap saya percaya?”

“Tidak.”

Ia mengeluarkan sebuah flashdisk dari kalung yang dikenakannya.

“Saya cuma berharap Tuan Arga percaya ini.”

Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman.

Selvi memucat.

“Reno.”

Kami membawa Faris ke ruang laundry dekat pintu servis.

Namun sebelum sempat keluar, Reno sudah muncul bersama dua pria.

Dedi berdiri di belakangnya.

Reno memandang Faris yang memelukku.

Wajahnya langsung berubah.

“Kamu bodoh sekali, Selvi.”

Selvi berdiri di depan kami.

“Sudah selesai, Mas.”

Reno tersenyum.

“Belum.”

Ia mengeluarkan ponsel.

“Kalau Arga tahu anaknya hidup, kamu pikir apa yang akan terjadi? Kamu yang tinggal di rumah ini. Kamu yang menguasai basement. Kamu yang punya akses ke semua rekening rumah tangga.”

Aku mulai memahami rencananya.

Semua bukti telah disusun agar mengarah kepada Selvi.

Reno hendak menjadikannya kambing hitam.

Selvi berkata pelan, “Makanya aku butuh saksi.”

Reno tertawa.

“Pembantu tua dan sopir?”

“Bukan.”

Selvi menatap ke arahku.

Kemudian terdengar suara dari ponselku.

“Marni?”

Aku tersentak.

Layar masih menyala.

Nama yang muncul membuat tanganku gemetar.

Tuan Arga.

Aku baru sadar saat Dedi mencoba merebut ponselku tadi, jariku tanpa sengaja menekan panggilan terakhir.

Panggilan itu telah tersambung selama hampir dua belas menit.

Tuan Arga mendengar semuanya.

“Pak…” suaraku pecah.

Suara Tuan Arga terdengar dari pengeras.

“Berikan teleponnya kepada Faris.”

Aku menyerahkan ponsel.

Faris menatap layar dengan tangan gemetar.

“Papa?”

Di ujung sana tidak terdengar apa-apa selama beberapa detik.

Lalu suara seorang ayah yang selama setahun hidup dalam duka akhirnya pecah.

“Faris…”

Anak itu langsung menangis.

“Papa, Faris enggak nakal. Faris mau pulang.”

Tuan Arga terisak.

“Papa tahu. Papa pulang sekarang.”

Reno merebut ponsel dari tangan Faris dan membantingnya ke lantai.

“Bodoh!”

Ia memerintahkan kedua pria bersamanya menutup pintu.

Tetapi sebelum mereka bergerak, suara sirene terdengar dari luar rumah.

Bukan alarm.

Sirene polisi.

Fajar menatapku sambil mengangkat ponselnya.

“Saya memang bohong soal cloud,” katanya. “Tapi saya enggak bohong soal kirim video.”

Ia telah mengirim rekaman pertama kepada adiknya yang bekerja sebagai penyidik di Polres Bogor.

Reno mencoba melarikan diri melalui pintu belakang.

Tidak berhasil.

Pagi itu rumah keluarga Mahendra dipenuhi polisi.

Dedi ditahan bersama Reno. Ruangan tersembunyi diperiksa. Dari sana ditemukan obat penenang, catatan pembayaran, telepon prabayar, serta dokumen mengenai sebuah fasilitas rehabilitasi swasta di pinggiran Bogor.

Nama Nadia tercatat di sana menggunakan identitas palsu.

Tuan Arga tiba dari Singapura sore harinya.

Aku tidak akan pernah melupakan saat ia turun dari mobil.

Faris berdiri di teras dengan pakaian baru milik anak salah satu staf.

Tuan Arga berhenti beberapa meter di depannya.

Seolah takut anak itu akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat.

Faris yang lebih dulu berlari.

“Papa!”

Tuan Arga berlutut dan memeluknya.

Ia menangis tanpa memedulikan para polisi, staf, maupun wartawan yang mulai berkumpul di luar gerbang.

“Ampuni Papa.”

Faris hanya memeluk lehernya.

“Papa jangan pergi lagi.”

Malam itu juga Tuan Arga pergi bersama polisi ke fasilitas yang disebut Faris.

Nadia ditemukan hidup.

Tubuhnya lemah akibat pemberian obat dalam jangka panjang, tetapi ia masih mengenali suaminya.

Penyelidikan berikutnya membongkar semuanya.

Reno memang terlibat dalam penggelapan dana perusahaan. Ia merencanakan kebakaran setelah mengetahui Nadia memiliki salinan transaksi ilegal.

Dedi membantu memindahkan Faris dari satu tempat ke tempat lain.

Namun satu pertanyaan tetap menggangguku.

Selvi.

Mengapa Faris berada di basement rumah kalau Selvi sebenarnya ingin menyelamatkannya?

Jawabannya baru kutahu tiga minggu kemudian.

Aku sedang menemani Faris sarapan ketika Selvi datang ke rumah untuk terakhir kalinya sebelum memberikan keterangan tambahan kepada polisi.

Tuan Arga berdiri di ruang kerja.

“Kenapa kamu tidak langsung mengatakan semuanya kepadaku?”

Selvi menatapnya.

“Karena enam bulan lalu saya mencoba.”

Ia meletakkan ponsel lama di meja.

Ada rekaman percakapan antara dirinya dan Reno.

Dalam rekaman itu, Reno mengatakan bahwa jika Selvi memberi tahu Arga, Nadia akan dipindahkan dan Faris akan dibunuh.

“Faris baru dibawa ke basement tiga hari sebelum Bu Marni menemukannya,” jelas Selvi. “Reno mulai curiga saya mengumpulkan bukti. Dia sengaja memindahkan Faris ke rumah ini supaya kalau polisi menemukan anak itu, semuanya mengarah kepada saya.”

“Rantai itu?”

“Dedi.”

Tuan Arga menatapnya lama.

“Kenapa kamu menikah denganku?”

Selvi tidak langsung menjawab.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto lama.

Foto Nadia saat masih kuliah.

Di sebelahnya berdiri seorang gadis yang lebih muda.

Selvi.

“Nadia bukan sekadar teman saya.”

Tuan Arga membeku.

Selvi menarik napas.

“Dia kakak tiri saya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Selama bertahun-tahun hubungan itu disembunyikan karena konflik keluarga mereka. Reno adalah kakak Selvi dari pihak ayah, sedangkan Nadia kakaknya dari pihak ibu.

Selvi terjebak di antara dua keluarga.

Ketika mengetahui Reno berusaha menghilangkan Nadia, ia memilih masuk ke lingkungan Arga dan mencari bukti dari dalam.

Pernikahan mereka pada awalnya memang bagian dari rencananya.

Namun ada satu kenyataan yang tidak bisa dihapus.

Arga benar-benar mempercayainya.

Dan mungkin, pada suatu titik, Selvi juga mulai menyayanginya.

“Saya tidak meminta dimaafkan,” katanya. “Saya cuma ingin Nadia dan Faris kembali.”

Ia kemudian melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya di meja.

“Saya akan mengurus pembatalan pernikahan setelah kasus ini selesai.”

Selvi berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, Faris muncul dari ruang makan.

“Tante Selvi.”

Selvi berhenti.

Faris mendekatinya perlahan.

Semua orang menunggu.

Anak itu kemudian memeluknya.

“Terima kasih sudah kasih Faris telepon waktu Om Reno enggak lihat.”

Aku tertegun.

Selvi menutup mata.

Ternyata selama Faris disekap, Selvi diam-diam memberinya sebuah ponsel lama tanpa kartu SIM dan mengajarinya merekam setiap percakapan Reno.

Itulah sebabnya Reno memindahkan Faris ke rumah Mahendra.

Ia menemukan ponsel itu dan menyadari seseorang telah membantu anak tersebut.

Faris kemudian mengambil sesuatu dari sakunya.

Sebuah kartu memori kecil.

“Tante bilang jangan kasih siapa-siapa sebelum Papa pulang.”

Wajah Selvi berubah.

Ia rupanya mengira kartu itu sudah ditemukan Reno.

Polisi memeriksa isinya.

Rekaman di dalam kartu itulah yang akhirnya menjadi bukti paling kuat.

Ada suara Reno mengakui bahwa kebakaran vila sengaja dibuat.

Ada suara Dedi membicarakan pembayaran kepada pegawai fasilitas tempat Nadia ditahan.

Dan ada satu rekaman terakhir.

Suara Reno berbicara dengan seseorang melalui telepon.

Orang itu bukan Selvi.

Bukan Dedi.

Suara tersebut milik direktur keuangan Mahendra Group yang telah bekerja bersama keluarga itu hampir tiga puluh tahun.

Orang yang selama ini berdiri di sisi Tuan Arga dan membantu mengurus seluruh proses identifikasi korban kebakaran.

Pak Surya.

Dialah yang menandatangani banyak dokumen setelah tragedi.

Dialah yang meyakinkan Arga bahwa tidak perlu melihat kondisi jenazah.

Dan dialah otak yang selama bertahun-tahun menggunakan Reno sebagai perantara untuk menguras perusahaan.

Penangkapan Pak Surya mengguncang keluarga Mahendra jauh lebih keras daripada penangkapan Reno.

Enam bulan kemudian, Nadia mulai pulih.

Ia belum sepenuhnya sehat, tetapi sudah bisa berjalan di taman bersama Faris.

Tuan Arga mengundurkan diri sementara dari perusahaan dan menyerahkan pengelolaan kepada tim profesional sampai penyelidikan selesai.

Selvi tidak lagi tinggal bersama kami.

Ia menolak uang dan rumah yang ditawarkan Tuan Arga.

Sebelum pergi, ia hanya meminta satu hal.

Jangan pernah mengatakan kepada Faris bahwa dirinya adalah penyebab keluarganya terpecah.

“Aku masuk ke keluarga ini dengan kebohongan,” katanya kepadaku. “Biarkan aku keluar tanpa mengambil apa pun.”

Aku menjawab, “Tidak semua kebohongan dibuat untuk menghancurkan seseorang.”

Selvi tersenyum tipis.

“Justru itu yang paling berbahaya, Bu Marni. Kadang kita terlalu mudah memaafkan kebohongan hanya karena hasil akhirnya baik.”

Setahun setelah malam di basement itu, aku masih bekerja di rumah keluarga Mahendra.

Basement sudah direnovasi.

Pintu besi dibongkar.

Ruangan tempat Faris pernah dikurung sekarang menjadi gudang biasa.

Suatu sore aku sedang merapikan rak ketika Faris datang membawa sebuah kotak.

“Uwa.”

“Apa?”

Ia mengeluarkan gelang benang biru yang dulu kupasang di tangannya.

Sudah putus.

“Bisa dibenerin?”

Aku tersenyum.

“Bisa.”

Aku mengikat kembali benang itu di pergelangan tangannya.

Faris memperhatikannya lalu bertanya pelan.

“Uwa, kalau malam itu Uwa enggak dengar Faris nangis, Faris bakal gimana?”

Tanganku berhenti.

Aku tidak punya jawaban.

Akhirnya aku hanya mengusap rambutnya.

“Yang penting Uwa dengar.”

Faris tersenyum lalu berlari naik.

Aku tetap duduk sendirian di basement.

Di tempat yang selama setahun menyimpan rahasia sebuah keluarga besar.

Aku akhirnya memahami sesuatu.

Rumah sebesar apa pun bisa menyembunyikan kejahatan di balik pintu yang terkunci. Kekayaan bisa membeli penjaga, kamera, dokumen, bahkan kebisuan orang-orang.

Tetapi malam itu, seluruh kebohongan yang dibangun dengan uang miliaran rupiah runtuh karena satu hal yang dianggap terlalu kecil untuk diperhatikan siapa pun.

Tangisan seorang anak yang lapar.

Dan seorang perempuan tua yang memilih untuk tidak berpura-pura tidak mendengarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang