AKU MENGIRA PUTRAKU MANDI SETIAP PUKUL TIGA PAGI HANYA KARENA STRES. NAMUN SAAT AKU MENGINTIP DARI CELAH PINTU, AKU MELIHAT IA MELETAKKAN SEBUAH PONSEL LAMA DI SAMPING WASTAFEL DAN MEMUTAR BERULANG-ULANG PANGGILAN TERAKHIR ADIK PEREMPUANKU SEBELUM IA MENGHILANG.

Aku mengira putraku mandi setiap pukul tiga pagi hanya karena stres. Namun saat aku mengintip dari celah pintu, aku melihat ia meletakkan sebuah ponsel lama di samping wastafel dan memutar berulang-ulang panggilan terakhir adik perempuanku sebelum ia menghilang.

Namaku Lestari.

Sudah sebelas tahun adik perempuanku, Nisa, dinyatakan hilang.

Tidak ada jasad.

Tidak ada surat.

Tidak ada saksi.

Hanya satu panggilan telepon berdurasi empat belas detik.

Hari itu, Nisa meneleponku pukul tiga lewat enam menit pagi.

Aku sedang tertidur.

Telepon itu tidak sempat kuangkat.

Saat kudengar rekamannya beberapa jam kemudian, yang terdengar hanya napasnya yang terengah-engah.

“Lari…”

“Lestari…”

“Lari…”

Lalu suara benturan keras.

Dan sambungan terputus.

Polisi mencarinya selama berbulan-bulan. Foto Nisa ditempel di terminal, rumah sakit, kantor polisi, dan berbagai sudut kota. Aku mendatangi setiap tempat yang katanya pernah melihat perempuan mirip dengannya.

Tak ada hasil.

Kasus itu akhirnya perlahan dilupakan.

Orang-orang berkata Nisa mungkin kabur.

Aku tidak pernah percaya.

Karena Nisa tidak mungkin meninggalkan ibu kami tanpa sepatah kata.

Waktu berjalan.

Aku menikah dengan Bagas, seorang teknisi yang bekerja di perusahaan konstruksi. Dua tahun kemudian, lahirlah putra kami, Arvin.

Kini usianya dua puluh dua tahun.

Ia tumbuh menjadi anak yang baik. Pendiam. Tidak pernah membuat masalah.

Namun tiga bulan terakhir, ia berubah.

Setiap malam Arvin mengunci diri di kamar. Ia sering pulang larut tanpa menjelaskan dari mana. Tepat sekitar pukul tiga pagi, aku selalu mendengar pintu kamar mandi dibuka.

Awalnya kukira ia sedang stres karena skripsinya.

Sampai malam itu.

Pukul tiga lewat empat menit, aku bangun karena suara air.

Aku berjalan ke lorong dan berhenti di depan kamar mandi.

Pintunya tidak tertutup rapat.

Dari celah kecil itu, kulihat Arvin berdiri di depan wastafel. Keran menyala, tetapi ia tidak sedang mandi.

Di samping wastafel tergeletak sebuah ponsel lama berwarna hitam.

Aku mengenalinya.

Itu ponsel milik Nisa.

Tanganku langsung dingin.

Arvin menekan tombol pemutar.

Suara yang selama sebelas tahun menghantuiku kembali terdengar.

Napas terengah-engah.

“Lari…”

“Lestari…”

“Lari…”

Benturan.

Lalu sunyi.

Arvin memutarnya lagi.

Dan lagi.

Aku mendorong pintu.

“Arvin.”

Tubuhnya tersentak.

Wajahnya seketika pucat.

“Kenapa ponsel Tante Nisa ada padamu?”

Ia buru-buru mematikannya.

“Bu, dengarkan aku dulu.”

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

Arvin diam.

Aku merebut ponsel itu.

“Benda ini disimpan polisi sebagai barang bukti bertahun-tahun sebelum dikembalikan kepadaku. Setelah itu kusimpan di kotak dalam lemari. Kenapa ada padamu?”

Arvin menatapku lama.

“Aku mengambilnya tiga bulan lalu.”

“Untuk apa?”

Ia menelan ludah.

“Karena rekaman itu tidak mengatakan apa yang selama ini Ibu pikirkan.”

Aku membeku.

“Apa maksudmu?”

Arvin mengambil laptop dari kamarnya. Ia membuka sebuah program pengolah audio.

“Aku membersihkan suara latarnya. Awalnya cuma karena penasaran. Tapi ada suara lain di belakang suara Tante Nisa.”

Ia memasang earphone ke telingaku.

Rekaman diputar.

Napas Nisa terdengar.

“Lari…”

“Lestari…”

“Lari…”

Kali ini, setelah suara benturan, terdengar sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kusadari.

Suara laki-laki.

Sangat pelan.

“Cepat. Mobilnya tunggu di belakang.”

Dadaku berdebar.

Arvin memperbesar bagian lain.

Ada suara mesin.

Lalu bunyi pendek seperti alarm mundur kendaraan besar.

“Aku cari karakter suaranya,” kata Arvin. “Itu bukan suara mobil biasa. Kemungkinan kendaraan proyek atau truk.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu melakukan semua ini sendirian?”

“Karena aku takut.”

“Takut pada siapa?”

Arvin tidak menjawab.

Lalu terdengar suara pintu depan terbuka.

Aku menoleh.

Bagas berdiri di ujung lorong.

Suamiku menatap ponsel di tanganku.

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun pernikahan kami, aku melihat ketakutan murni di mata suamiku.

“Kenapa benda itu keluar lagi?” tanyanya.

Kalimat itu membuat seluruh tubuhku membeku.

Bukan “ponsel apa itu?”

Bukan “apa yang terjadi?”

Ia bertanya kenapa benda itu keluar lagi.

Seolah ia tahu persis benda apa yang kupegang.

“Bagas,” kataku pelan. “Kamu tahu ponsel ini?”

Ia tidak menjawab.

Arvin berdiri di depanku.

“Ayah tahu lebih banyak daripada yang selama ini Ayah ceritakan.”

Bagas memejamkan mata.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Sebelas tahun,” suaraku bergetar. “Sebelas tahun aku mencari adikku.”

“Lestari…”

“Kamu tahu sesuatu?”

Bagas menatap Arvin.

“Kamu menemukan lokasi itu?”

Arvin mengangguk.

“Aku menemukan proyek lama tempat Ayah bekerja sebelas tahun lalu.”

Dunia seolah berhenti.

Bagas memang bekerja di proyek konstruksi saat Nisa menghilang.

Tetapi selama ini aku tak pernah menghubungkan keduanya.

Arvin membuka sebuah foto udara lama.

“Proyek apartemen terbengkalai di pinggir Bekasi. Pembangunannya dihentikan sebelas tahun lalu karena sengketa lahan. Ayah tercatat sebagai teknisi malam di sana.”

Aku menatap Bagas.

“Apa hubungan Nisa dengan tempat itu?”

Bagas duduk perlahan.

“Nisa datang mencariku malam itu.”

“Mencarimu?”

“Ia mengetahui sesuatu.”

Ternyata beberapa minggu sebelum menghilang, Nisa bekerja sementara sebagai staf administrasi di perusahaan kontraktor yang sama dengan Bagas. Ia menemukan manipulasi laporan keselamatan dan penggelapan dana proyek.

Nisa berniat melaporkannya.

Salah satu atasannya mengetahui rencana itu.

Malam tersebut, Nisa menghubungi Bagas karena percaya kepadanya.

“Kenapa dia percaya padamu?” tanyaku.

Bagas menunduk.

“Karena sebelum aku mengenalmu, aku mengenal Nisa.”

Jantungku serasa jatuh.

Bagas dan Nisa ternyata pernah berteman dekat. Bahkan mereka sempat berpacaran singkat, jauh sebelum aku bertemu Bagas.

Nisa tidak pernah menceritakannya kepadaku.

“Jadi kamu berada di sana malam dia menghilang?”

Bagas mengangguk.

Air mataku jatuh.

“Kamu membunuhnya?”

“Tidak.”

Jawabannya cepat.

“Aku datang terlambat. Ketika aku tiba, Nisa sudah dibawa seseorang.”

“Siapa?”

“Manajer proyek kami, Surya.”

Nama itu terasa asing.

Bagas menjelaskan bahwa Surya mengetahui Nisa telah menyalin dokumen perusahaan. Malam itu terjadi pertengkaran. Bagas melihat Surya membawa Nisa pergi menggunakan kendaraan proyek.

“Lalu kenapa kamu diam?”

“Karena Surya mengancam akan membunuhmu juga.”

Aku tertawa pahit.

“Dan kamu percaya begitu saja?”

“Aku pengecut.”

Bagas menangis.

“Aku memilih melindungimu dengan cara yang salah.”

Arvin tiba-tiba berkata, “Ayah masih belum mengatakan semuanya.”

Bagas menatapnya.

Arvin mengeluarkan sebuah amplop.

“Aku pergi ke lokasi proyek dua minggu lalu.”

Aku hampir berteriak.

“Kamu apa?”

“Ada penjaga tua yang dulu bekerja di sana. Namanya Pak Darto. Dia memberikan ini.”

Di dalam amplop terdapat sebuah foto lama.

Nisa berdiri di depan sebuah rumah kecil.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Jika sesuatu terjadi padaku, cari rumah dekat Waduk Cibeureum. Darto tahu jalannya.

Bagas berdiri.

“Kita harus ke sana sekarang.”

Menjelang subuh kami bertiga berangkat.

Sepanjang perjalanan tak seorang pun berbicara.

Pak Darto menunggu kami di sebuah warung kecil. Lelaki tua itu menatap Bagas dengan wajah dingin.

“Baru sekarang berani datang?”

Bagas menunduk.

Pak Darto membawa kami melewati jalan sempit menuju sebuah rumah sederhana yang tersembunyi di balik deretan pohon.

Jantungku berdetak semakin cepat.

“Apa Nisa dikuburkan di sini?” tanyaku.

Pak Darto berhenti.

“Siapa bilang dia meninggal?”

Aku tidak bisa bernapas.

Ia mengetuk pintu.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan berdiri di sana.

Rambutnya pendek. Ada bekas luka tipis di dahinya.

Tetapi aku mengenali matanya.

Mata yang sama yang kulihat setiap pagi di cermin.

“Nisa…”

Perempuan itu menutup mulutnya.

“Kak Lestari?”

Kakiku lemas.

Aku memeluknya begitu erat sampai kami berdua hampir jatuh.

Sebelas tahun.

Sebelas tahun aku mengira adikku mungkin sudah tidak ada.

Namun Nisa masih hidup.

Setelah tangis kami mereda, kenyataan yang sebenarnya jauh lebih rumit terungkap.

Malam itu Surya memang mengejar Nisa karena dokumen yang dicurinya. Namun Nisa berhasil melompat dari kendaraan ketika mobil melambat. Ia terluka dan ditemukan Pak Darto.

Karena takut Surya akan mencarinya, Pak Darto menyembunyikannya.

“Tapi kenapa kamu tidak menghubungiku?” tanyaku.

Nisa menangis.

“Aku mencoba.”

Ia menunjuk ponsel lama itu.

“Panggilan empat belas detik itu.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kenapa kamu mengatakan lari?”

Nisa menatapku.

“Aku tidak mengatakan lari.”

Aku terdiam.

Arvin langsung mengeluarkan laptop.

Nisa meminta rekaman diputar.

“Lari…”

“Lestari…”

“Lari…”

Nisa menggeleng.

“Bukan lari.”

Arvin memperlambat rekaman.

Suara itu akhirnya terdengar lebih jelas.

“Cari…”

“Lestari…”

“Cari…”

Aku merinding.

Selama sebelas tahun, kami salah mendengar satu kata.

“Apa yang harus kucari?” tanyaku.

Nisa menatap Bagas.

“Dia.”

Semua mata tertuju kepada suamiku.

Bagas pucat.

Nisa masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah map plastik.

Di dalamnya terdapat salinan dokumen proyek.

“Aku tidak menghilang hanya karena takut Surya. Aku menghilang karena saat itu aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.”

Ia mengeluarkan satu lembar laporan.

Di bagian bawah terdapat dua tanda tangan.

Surya.

Dan Bagas.

Aku menatap suamiku.

Bagas terdiam lama sebelum akhirnya mengaku.

Ia memang terlibat dalam pemalsuan laporan proyek. Bukan sebagai dalang, tetapi ia menandatangani dokumen yang diketahuinya bermasalah karena menerima uang.

Nisa mengetahui hal itu.

“Aku ingin Kakak mengetahui siapa laki-laki yang sedang mendekatimu waktu itu,” kata Nisa.

Aku tersentak.

Berarti saat Nisa menghilang, Bagas sudah mulai mendekatiku.

Bagas menangis.

“Aku memang bersalah. Tapi setelah Nisa hilang, aku memutus hubungan dengan Surya. Aku menikahimu bukan untuk menutupinya.”

“Bagaimana aku bisa percaya?”

Ia tidak menjawab.

Nisa kemudian mengatakan alasan terbesar ia tidak pernah kembali.

Beberapa bulan setelah kejadian, ia mencoba menghubungi ibu kami secara diam-diam.

Namun sebelum sempat pulang, Surya menemukan keberadaannya.

Pak Darto membantu Nisa berpindah tempat.

Kemudian Nisa mengetahui Surya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun setelahnya.

Saat ancaman itu akhirnya hilang, ibu kami sudah meninggal.

Nisa kehilangan keberanian untuk kembali.

“Aku malu,” katanya sambil menangis. “Aku merasa sudah menghancurkan keluarga kita. Setiap tahun aku ingin pulang. Setiap tahun aku menunda.”

Aku memegang wajahnya.

“Kamu bodoh.”

Nisa tertawa di tengah tangis.

“Iya.”

“Tapi kamu tetap adikku.”

Arvin yang sejak tadi diam akhirnya mendekati Nisa.

“Tante.”

Nisa menatapnya untuk pertama kali dengan saksama.

Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.

“Kamu Arvin?”

Arvin mengangguk.

Nisa memeluknya.

Namun kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuatku terpaku.

“Aku pernah melihatmu ketika kamu masih bayi.”

Aku menatap Nisa.

“Apa?”

Nisa tersenyum sedih.

“Tahun pertama setelah aku menghilang, aku diam-diam datang ke Jakarta. Aku berdiri di seberang rumah sakit ketika Kakak melahirkan. Pak Darto menunjukkan fotomu kepadaku.”

Air mataku kembali jatuh.

Ternyata selama bertahun-tahun, jarak antara kami tidak selalu sejauh yang kubayangkan.

Kadang seseorang yang kita anggap telah hilang sebenarnya masih berada di dunia yang sama, hanya terkurung ketakutan, rasa bersalah, dan keputusan yang semakin sulit diperbaiki semakin lama dibiarkan.

Pagi itu Bagas menyerahkan semua dokumen yang masih ia simpan kepada polisi dan bersedia memberikan keterangan tentang kasus lama tersebut.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Ada kebohongan sebelas tahun yang tidak mungkin diselesaikan dengan satu permintaan maaf.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku berhenti mengejar bayangan.

Beberapa minggu kemudian, Nisa pulang bersamaku.

Saat memasuki rumah, ia berhenti di depan foto ibu yang tergantung di ruang keluarga.

Tangannya gemetar ketika menyentuh bingkainya.

“Maaf, Bu. Nisa pulang terlambat.”

Aku memeluk bahunya.

Arvin berdiri di belakang kami.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, aku tidak mendengar suara kamar mandi pukul tiga pagi.

Aku bangun sendiri pada pukul tiga lewat enam menit.

Rumah sunyi.

Aku mengambil ponsel lama Nisa dan membuka rekaman empat belas detik yang telah menghantui hidupku selama sebelas tahun.

Jariku sempat berada di atas tombol putar.

Namun aku tidak menekannya.

Aku menghapus rekaman itu.

Bukan karena ingin melupakan Nisa.

Justru karena akhirnya aku tidak perlu lagi mengingatnya sebagai suara ketakutan selama empat belas detik.

Adikku sedang tidur di kamar sebelah.

Masih hidup.

Masih bernapas.

Dan pagi itu aku akhirnya mengerti bahwa kehilangan paling menyakitkan bukan selalu ketika seseorang pergi untuk selamanya.

Kadang kehilangan terjadi ketika ketakutan membuat orang-orang yang saling menyayangi memilih diam terlalu lama.

Dan terkadang, satu-satunya cara untuk menemukan jalan pulang adalah berhenti bersembunyi dari kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang