Halaman pertama itu membuat darahku seperti berhenti mengalir.
Di bagian atas tertulis nama sebuah kantor hukum di Jakarta Selatan. Tepat di bawahnya ada kalimat yang kubaca dua kali karena otakku menolak mempercayainya.
Permohonan penetapan pengampuan sementara dan evaluasi hak asuh anak.
Namaku tercantum sebagai pihak yang dinilai tidak mampu menjalankan kewajiban keluarga karena berada di luar negeri dalam jangka panjang.
Nama Naya tercantum sebagai ibu yang diduga mengalami gangguan psikologis pascapersalinan.

Sementara Arka disebut sebagai anak yang membutuhkan pengasuhan alternatif dari keluarga terdekat.
Aku mengangkat kepala.
“Apa ini?”
Mama tidak menjawab.
Aku membalik halaman berikutnya.
Ada salinan laporan psikologis. Ada surat pernyataan dari dua orang saksi. Ada catatan tentang kondisi Naya yang disebut tidak stabil, mudah menangis, menolak makan, dan tidak mampu merawat bayinya sendiri.
Yang membuat tanganku gemetar adalah nama para saksi.
Mama dan Citra.
“Naya tidak pernah diperiksa psikolog ini,” kataku.
Mama mencoba mengambil map itu.
“Dimas, dengarkan Mama dulu.”
Aku mundur.
“Jangan sentuh.”
Suasana mendadak sunyi.
Arka mulai merengek dalam pelukan Naya.
Aku membuka lembar berikutnya.
Ada rancangan surat kuasa pengelolaan beberapa aset atas namaku. Belum ditandatangani, tetapi tanda tanganku sudah tercetak pada halaman contoh.
Aku mengenal tanda tangan itu.
Mirip sekali.
Terlalu mirip.
“Siapa yang membuat ini?”
Citra mendengus.
“Kamu terlalu dramatis.”
Aku menatapnya.
“Jawab.”
“Semua dilakukan supaya aset keluarga tetap aman.”
“Aman dari siapa?”
Citra menunjuk Naya.
“Dari dia.”
Naya tersentak.
Aku hampir maju, tetapi Naya berkata lebih dulu.
“Aku tidak pernah meminta aset Mas Dimas.”
Mama akhirnya bicara.
“Kamu mungkin tidak meminta sekarang. Tapi kami tidak tahu nanti.”
Aku menatap perempuan yang membesarkanku itu dan untuk pertama kalinya merasa sedang berbicara dengan orang asing.
“Setiap bulan aku kirim satu setengah miliar.”
Mama mengangkat dagu.
“Dan?”
“Uang itu untuk Naya dan Arka.”
“Kami keluarga kamu juga.”
“Berapa yang benar-benar dipakai untuk mereka?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengeluarkan ponsel.
Mama langsung berubah tegang.
“Kamu mau apa?”
“Menelepon orang yang seharusnya aku telepon sejak lima menit lalu.”
Naya menyentuh lenganku.
“Mas, jangan polisi dulu.”
Aku menoleh.
Dia menggeleng pelan.
“Aku punya sesuatu.”
Naya berjalan kembali menuju dapur servis.
Beberapa menit kemudian dia datang membawa kantong plastik hitam.
Dari dalamnya, dia mengeluarkan buku kecil, beberapa lembar kuitansi, dan sebuah ponsel lama dengan layar retak.
“Aku mencatat semuanya.”
Mama memucat.
“Naya.”
Naya menatapnya.
Kali ini tidak ada ketakutan di matanya.
“Hari keempat setelah Mas Dimas berangkat, perawat disuruh pulang. Hari kelima, pengasuh Arka dipindahkan ke rumah Mbak Citra. Seminggu kemudian, kartu ATM yang Mas kasih kepadaku diambil.”
“Bohong!” Citra membentak.
Naya menyalakan ponsel lama itu.
“Aku merekam beberapa percakapan.”
Citra langsung bergerak maju.
Aku berdiri di depannya.
“Jangan.”
Naya membuka satu rekaman.
Suara Mama terdengar jelas.
“Biar dia kelihatan depresi. Jangan kasih ponselnya dulu. Kalau Dimas menelepon, bilang dia tidur.”
Kemudian suara Citra.
“Kalau nanti pemeriksaan psikolog bagaimana?”
“Sudah diatur.”
Aku merasa mual.
Rekaman berikutnya bahkan lebih buruk.
Citra terdengar tertawa sambil berkata bahwa setelah dokumen selesai, Naya bisa dipindahkan ke klinik rehabilitasi swasta untuk beberapa bulan.
Setelah itu, mereka akan mengatakan kepadaku bahwa istriku membutuhkan perawatan intensif.
Aku mematikan rekaman.
“Kenapa?”
Mama menatapku lama.
“Karena sejak menikah dengannya, kamu berubah.”
Aku tidak percaya.
“Berubah bagaimana?”
“Kamu mulai memisahkan aset. Kamu membuat rekening sendiri. Kamu membeli rumah atas nama kalian berdua. Kamu lebih mendengarkan istri daripada Mama.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi ini soal uang?”
“Ini soal keluarga.”
“Tidak. Ini soal kalian takut kehilangan akses ke uangku.”
Citra memukul meja.
“Mas gampang bicara karena Mas tidak tahu berapa banyak keluarga bergantung sama Mas!”
“Aku membantu karena aku mau. Bukan karena kalian berhak mengambil semuanya.”
Aku menunjuk map biru.
“Dan kalian mau mengambil istriku juga?”
Mama tiba-tiba menangis.
Tangis yang dulu selalu membuatku merasa bersalah.
Namun kali ini aku hanya berdiri diam.
“Mama melakukan semuanya untuk kamu.”
Aku menggeleng.
“Jangan pakai kalimat itu.”
Aku menelepon seseorang.
Bukan polisi.
Namanya Reza, teman kuliahku yang kini menjadi pengacara korporasi.
Kebetulan kantornya tidak jauh.
Aku hanya berkata, “Datang ke rumah sekarang. Bawa satu orang dari timmu.”
Empat puluh menit kemudian Reza tiba bersama seorang rekannya.
Aku memberikan map biru, rekaman Naya, dan akses mutasi rekening yang selama ini kugunakan untuk mentransfer uang.
Reza membaca beberapa halaman.
Ekspresinya semakin serius.
“Dim, ini bukan cuma masalah keluarga.”
“Aku tahu.”
“Kalau tanda tangan ini dipalsukan dan dokumen sudah digunakan untuk mengurus sesuatu, masalahnya bisa masuk pidana.”
Mama langsung menyela.
“Belum ada yang dipalsukan!”
Reza mengangkat sebuah lembar.
“Kalau begitu, Ibu pasti bisa menjelaskan kenapa ada surat persetujuan dengan tanda tangan Dimas tertanggal dua minggu lalu.”
Aku mengambilnya.
Dua minggu lalu aku berada di Singapura.
Aku bahkan memiliki catatan imigrasi dan jadwal rapat yang membuktikannya.
Citra mendadak diam.
Reza melanjutkan memeriksa dokumen.
Lalu dia menemukan sesuatu yang tidak kami duga.
Sebuah bukti pembayaran kepada seorang dokter.
Namanya sama dengan dokter yang tercantum dalam laporan kondisi mental Naya.
Nominalnya Rp75 juta.
Aku menatap Mama.
“Jadi dokter ini dibayar?”
Mama menggeleng cepat.
“Itu biaya konsultasi.”
“Konsultasi siapa? Naya bahkan tidak pernah bertemu dia.”
Mama tidak menjawab.
Malam itu aku membawa Naya dan Arka keluar dari rumah.
Kami menginap sementara di apartemen milik perusahaan di kawasan Sudirman.
Dalam perjalanan, Naya hampir tidak bicara.
Dia duduk di belakang sambil memeluk Arka.
Ketika mobil berhenti di lampu merah, aku melihatnya melalui kaca spion.
“Aku minta maaf.”
Naya mengangkat wajah.
“Untuk apa?”
“Karena aku tidak tahu.”
Dia tersenyum tipis.
“Mas percaya sama keluarga sendiri. Itu wajar.”
“Tidak kalau kepercayaanku membuat kamu menderita.”
Naya menatap Arka.
“Aku berkali-kali mau pergi.”
“Kenapa tidak?”
“Mereka menyimpan dokumenku. KTP, paspor, kartu bank. Aku takut kalau pergi tanpa Arka, mereka tidak akan mengizinkanku kembali.”
Dadaku semakin sesak.
“Kenapa kamu tidak minta bantuan tetangga?”
“Aku pernah coba.”
Aku menoleh.
“Apa yang terjadi?”
“Mama bilang kepada semua orang aku mengalami depresi berat dan kadang berhalusinasi. Mereka diminta tidak mempercayai apa pun yang kukatakan.”
Aku menggenggam kemudi lebih kuat.
Barulah aku memahami rencana itu.
Mereka tidak sekadar ingin mengambil uang.
Mereka sedang menghancurkan kredibilitas Naya sedikit demi sedikit sampai tidak ada orang yang percaya kepadanya.
Dua hari kemudian, audit rekening selesai.
Hasilnya membuatku hampir tidak percaya.
Dalam enam bulan, aku sudah mentransfer Rp9 miliar.
Pengeluaran yang benar-benar berkaitan dengan Naya dan Arka bahkan tidak mencapai lima persen.
Sisanya tersebar ke berbagai rekening.
Cicilan apartemen Citra.
Mobil baru suaminya.
Tas mewah Mama.
Renovasi vila keluarga di Puncak.
Investasi usaha milik sepupuku.
Bahkan biaya liburan keluarga ke Jepang yang selama ini kukira dibayar bersama.
Tapi kejutan terbesar datang dari satu transfer senilai Rp600 juta ke sebuah perusahaan bernama PT Arunika Sentosa.
Aku tidak mengenal perusahaan itu.
Reza menyelidikinya.
Pemegang saham mayoritasnya adalah suami Citra.
“Kita punya masalah lebih besar,” kata Reza ketika datang ke apartemen.
Dia meletakkan laptop di meja.
“Perusahaan itu baru didirikan delapan bulan lalu. Tapi ada pengajuan kredit menggunakan surat jaminan yang mengatasnamakan salah satu asetmu.”
Aku menatap layar.
Sebuah ruko milikku di Surabaya.
Aku tidak pernah menjaminkannya.
“Nilainya?”
“Delapan belas miliar.”
Aku bersandar.
Naya yang duduk di sampingku langsung memegang tanganku.
“Sudah cair?”
“Belum seluruhnya. Tapi sebagian dana sudah masuk.”
Aku menutup mata.
Sekarang semuanya jelas.
Mereka membutuhkan kendali atas asetku karena penipuan mereka sudah terlalu jauh.
Kalau aku mengetahui penggunaan jaminan itu, semuanya akan terbongkar.
Maka mereka membutuhkan alasan hukum untuk menggambarkanku sebagai kepala keluarga yang absen dan Naya sebagai ibu yang tidak kompeten.
Mereka mengira masih punya waktu karena aku seharusnya baru pulang tiga minggu lagi.
Kepulanganku yang mendadak menghancurkan jadwal mereka.
Namun Mama belum menyerah.
Tiga hari kemudian, dia datang ke apartemen.
Sendirian.
Aku membiarkannya masuk.
Mama duduk di sofa tanpa menyentuh minuman yang disediakan.
“Naya di mana?”
“Di kamar.”
“Mama mau bicara sama kamu saja.”
Aku duduk di seberangnya.
Mama mengeluarkan sebuah amplop.
“Apa ini?”
“Surat.”
Aku membukanya.
Isinya membuatku terdiam.
Sebuah hasil tes DNA lama.
Namaku tercantum di sana.
Nama seorang pria bernama Surya Pranoto juga tercantum.
Kesimpulannya menunjukkan probabilitas hubungan biologis ayah dan anak sebesar 99,9 persen.
Aku mengangkat kepala.
“Apa maksudnya?”
Mama menangis.
“Papamu yang kamu kenal selama ini bukan ayah kandungmu.”
Aku tidak bicara.
“Surya adalah ayahmu. Dia pemilik perusahaan tempat Mama bekerja dulu. Ketika kamu lahir, dia sudah menikah. Dia memberikan uang supaya Mama diam.”
Aku menatap kertas itu.
“Mama menyimpan uang itu dan membangun usaha keluarga. Semua yang kita punya bermula dari sana.”
Aku mulai memahami ke mana pembicaraan ini menuju.
Mama menggenggam tanganku.
“Dimas, Mama takut kamu melakukan hal yang sama kepada kami.”
“Hal yang sama?”
“Setelah kamu sukses, setelah menikah, kamu mulai menjauh. Mama takut suatu hari kamu memilih Naya dan meninggalkan semua orang yang membesarkanmu.”
Aku menarik tanganku.
“Jadi karena takut ditinggalkan, Mama mencoba menghancurkan pernikahanku?”
“Mama hanya ingin memastikan keluarga kita aman.”
“Dengan memalsukan tanda tanganku?”
Mama menangis semakin keras.
“Citra yang mengurus dokumennya. Mama tidak tahu semuanya.”
Aku memandangnya lama.
Dulu aku mungkin langsung percaya.
Sekarang aku belajar satu hal.
Orang yang sudah berbohong berkali-kali tidak boleh dipercaya hanya karena akhirnya menangis.
Aku menyerahkan hasil DNA itu kepada Reza.
“Periksa.”
Mama membeku.
“Untuk apa?”
“Karena sekarang aku tidak percaya satu lembar kertas pun yang datang dari rumah itu.”
Dua hari kemudian, Reza menelepon.
Hasilnya sederhana.
Dokumen DNA itu palsu.
Laboratorium yang namanya tercantum memang ada, tetapi nomor registrasinya milik pasien lain.
Mama mencoba menggunakan satu rahasia terakhir untuk membuatku merasa berutang kepadanya.
Saat itulah aku berhenti berharap semuanya masih bisa diselesaikan sebagai masalah keluarga.
Aku menyerahkan bukti kepada pihak berwenang.
Penyelidikan berjalan cepat karena dokumen keuangan meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
Suami Citra ternyata menjadi orang pertama yang bekerja sama.
Ketika mengetahui dirinya bisa ikut terseret, dia menyerahkan percakapan grup keluarga, dokumen perusahaan, dan rekaman pembicaraan dengan Citra.
Dari sanalah rahasia terakhir terbuka.
Rencana awal mereka ternyata bukan sekadar membuat Naya dianggap tidak stabil.
Citra sudah menyiapkan sebuah perempuan untuk mendekatiku di Singapura.
Ada foto, percakapan, bahkan rencana pertemuan.
Mereka ingin menciptakan bukti bahwa aku berselingkuh.
Jika berhasil, Naya akan diperlihatkan foto-foto itu saat kondisinya sedang lemah.
Mereka berharap Naya meminta cerai.
Setelah itu, Mama akan meyakinkanku bahwa Naya hanya mengejar harta dan membawa Arka pergi.
Kami akan dipisahkan oleh kebohongan yang dirancang dari dua arah.
Aku membaca semua percakapan itu tanpa mampu berkata-kata.
Naya duduk di sampingku.
Setelah lama diam, dia justru berkata sesuatu yang tidak kuduga.
“Jangan habiskan hidup kita untuk membalas mereka.”
Aku menatapnya.
“Mereka hampir menghancurkan kamu.”
“Aku tahu.”
“Mereka mengambil uang kita.”
“Uang bisa dicari lagi.”
“Mereka hampir mengambil Arka.”
Naya menatapku lurus.
“Karena itu kita harus memastikan mereka bertanggung jawab. Tapi setelah itu, selesai. Jangan biarkan mereka tetap tinggal di kepala kita.”
Beberapa bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.
Sebagian aset berhasil dibekukan.
Pengajuan kredit dibatalkan setelah ditemukan penggunaan dokumen tanpa persetujuanku.
Aku juga memutus semua akses keluarga terhadap rekening dan perusahaan.
Namun perubahan terbesar justru terjadi dalam hidupku sendiri.
Aku berhenti bekerja seperti seseorang yang sedang dikejar dunia.
Aku menjual sebagian kepemilikan bisnisku di Singapura dan kembali menetap di Jakarta.
Suatu sore, aku duduk di lantai ruang keluarga apartemen baru kami.
Arka mulai belajar merangkak.
Naya duduk di sofa sambil membaca.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Pesan dari Mama.
Aku tidak membukanya.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.
Naya melihatku.
“Tidak dibaca?”
“Nanti.”
Dia tersenyum.
Arka merangkak ke arahku dan menarik ujung celanaku.
Aku mengangkatnya.
Saat itulah aku sadar sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak kupahami.
Aku selalu mengira tugas seorang suami adalah menghasilkan sebanyak mungkin uang agar keluarganya tidak kekurangan apa pun.
Karena itu aku bekerja jauh, mengirim uang dalam jumlah besar, membayar semua kebutuhan, dan percaya bahwa selama rekening mereka penuh, aku sudah menjalankan tanggung jawabku.
Ternyata aku salah.
Keluarga tidak hanya membutuhkan uang yang kita kirim.
Mereka membutuhkan kehadiran kita.
Mereka membutuhkan seseorang yang benar-benar melihat ketika wajah mereka berubah, mendengar ketika suara mereka melemah, dan bertanya ketika sesuatu terasa tidak masuk akal.
Aku pernah mengirim Rp1,5 miliar setiap bulan untuk memastikan istri dan anakku hidup nyaman.
Namun pada hari aku pulang tanpa memberi kabar, aku menemukan istriku makan nasi sisa di dapur belakang dan anakku tidur di keranjang cucian.
Yang menyelamatkan keluargaku akhirnya bukan uang yang kukirim.
Melainkan satu keputusan sederhana yang hampir tidak kulakukan.
Pulang lebih cepat.
