AKU MENGUSIR ANAK PEREMPUANKU YANG BERUSIA EMPAT BELAS TAHUN DI TENGAH HUJAN DERAS KARENA BUKAN DARAH DAGINGKU. SEPULUH TAHUN KEMUDIAN

Berikut adalah terjemahan teks tersebut ke dalam Bahasa Indonesia:

AKU MENGUSIR ANAK PEREMPUANKU YANG BERUSIA EMPAT BELAS TAHUN DI TENGAH HUJAN DERAS KARENA BUKAN DARAH DAGINGKU. SEPULUH TAHUN KEMUDIAN, SEBUAH KEBENARAN TERUNGKAP DAN MENGHANCURKAN SEGALANYA YANG KUPERCAYAI!

Aku bernama Budi Santoso. Lima puluh dua tahun yang lalu, tepatnya saat usiaku empat puluh dua, aku menjalani hidup sebagai pedagang bahan bangunan di pinggiran Surabaya. Tokoku kecil tapi ramai. Setiap pagi aku berangkat sebelum fajar, memuat semen, pasir, dan bata ke dalam truk tua. Istriku, Lestari, selalu menyiapkan kopi hitam pahit dan nasi goreng sederhana. Putri kami, Dewi, yang saat itu berusia empat belas tahun, sering membantu menghitung uang kembalian di warung kecil depan rumah. Kami hidup sederhana, tapi aku merasa lengkap.

Semua berubah dalam satu sore yang panas. Lestari mengendarai motor ke pasar untuk membeli sayur. Sebuah truk kontainer menabraknya di persimpangan. Aku menerima telepon dari rumah sakit saat sedang menurunkan barang di toko. Saat aku tiba, dokter sudah menyatakan Lestari meninggal dunia. Aku berdiri di lorong rumah sakit dengan kepala kosong. Dunia terasa runtuh dalam hitungan detik.

Pemakaman berlangsung sederhana di tanah keluarga. Banyak tetangga datang. Di antara mereka, Pak Bambang, teman lama Lestari, menarikku ke sisi makam. Ia berbisik dengan suara berat, “Budi, maafkan saya bicara di hari seperti ini. Sebelum kalian menikah, Lestari pernah dekat dengan Mas Hendra. Banyak orang tahu. Saya khawatir ada yang perlu kamu ketahui.”

Aku menolak mendengar. “Jangan fitnah istriku di depan makamnya!” bentakku. Namun kata-kata itu menempel di kepala seperti duri. Malam harinya, setelah semua orang pulang, aku membuka laci meja rias Lestari. Di balik tumpukan kain, aku menemukan setumpuk surat tua diikat pita merah pudar. Surat-surat dari Hendra. Baris-barisnya penuh rayuan dan janji. Salah satu kalimat membuat tanganku gemetar: “Semoga anak kita, Dewi, tumbuh sehat dan kuat seperti ayahnya.”

Aku menghitung tanggal. Dewi lahir sembilan bulan setelah pernikahan kami. Namun amarah membutakan logika. Aku melihat setiap senyum Dewi sebagai bukti pengkhianatan. Setiap kali ia memanggil “Ayah”, aku mendengar suara Hendra tertawa di kepalaku. Aku mulai minum tuak setiap malam. Usahaku terbengkalai. Aku menatap Dewi dengan mata penuh curiga.

Suatu sore, setelah berminggu-minggu aku menghindarinya, aku memanggil Dewi ke ruang tamu. Aku melemparkan setumpuk surat ke pangkuannya. “Baca! Kamu bukan anakku. Ibumu bohong padaku selama bertahun-tahun!”

Dewi membaca dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh di atas kertas kuning. “Ayah… ini surat lama. Ibu pernah cerita Ayah adalah ayah kandung Dewi. Dewi tidak mengerti kenapa Ayah marah sekali.”

Aku tidak mau mendengar penjelasan. Rasa dikhianati sudah membakar segalanya. “Kamu bukan darah dagingku! Pergi dari rumah ini sekarang juga!”

Dewi menatapku dengan mata lebar penuh ketakutan. Ia tidak berteriak. Ia hanya berdiri, memeluk tas sekolah usangnya, dan berjalan pelan ke pintu. Hujan deras tiba-tiba turun seolah langit ikut menangis. Aku membuka pintu lebar-lebar dan mendorongnya keluar. “Ambil tasmu dan jangan pernah kembali! Aku tidak punya anak yang tidak sedarah!”

Ia berdiri di teras, basah kuyup dalam hitungan detik. “Ayah… Dewi janji akan jadi anak baik. Jangan usir Dewi…”

Aku menutup pintu dengan keras. Suara hujan menutupi segalanya. Aku mengintip dari jendela. Sosok kecil Dewi berjalan menjauh di tengah jalanan yang sudah banjir. Ia tidak menoleh lagi. Aku merasa telah membersihkan aib keluarga. Namun di dalam dada, sesuatu sudah retak dan tak bisa diperbaiki.

Sepuluh tahun berlalu. Aku hidup seperti orang mati yang masih bernapas. Toko tetap buka, tapi pelanggan berkurang karena aku sering marah tanpa sebab. Setiap malam aku terbangun karena mimpi Dewi kecil berlari mengejarku sambil memanggil “Ayah, tunggu!” Aku bangun dengan dada sesak dan wajah basah oleh air mata yang tak kuingat menetes.

Kesehatanku menurun. Dokter di klinik kampung mengatakan tekanan darahku terlalu tinggi. Aku harus berhenti mengangkat barang berat. Aku mengabaikan nasihat itu. Setiap kali melewati sekolah lama Dewi, aku melihat bayangan seragam putih-merah kecil berlari di koridor. Aku mempercepat langkah.

Suatu sore yang cerah, aku duduk di teras depan rumah, memegang secangkir teh yang sudah dingin. Tubuhku terasa lelah luar biasa. Tiba-tiba sebuah motor bebek berhenti di depan pagar. Seorang perempuan muda turun. Ia mengenakan jas putih rapi, rambutnya diikat rapi ke belakang. Matanya menatapku dengan tatapan yang sangat akrab, seolah ia sudah mengenalku seumur hidup.

Ia berjalan mendekat dengan langkah tegas. “Permisi, Bapak Budi Santoso?”

Aku mengangguk pelan. “Ada apa?”

Ia berdiri tegak di bawah sinar matahari sore. Suaranya jelas dan tenang. “Saya Dokter Anisa. Saya datang untuk memberitahu Bapak sebuah kebenaran yang sudah terlalu lama Bapak sembunyikan dari diri sendiri.”

Aku mengerutkan dahi. Jantungku berdetak kencang. “Kebenaran apa?”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang