Aku baru pulang dari Riyadh setelah bertahun-tahun bekerja demi masa depan anakku. Namun belum genap sehari menginjakkan kaki di kampung, aku sudah mengetahui bahwa Raka berhenti sekolah, sakit berbulan-bulan tanpa pernah diperiksa, dan pernah dikunci di kamar ketika ayah kandungnya datang membawa uang.
Saat itu aku belum tahu bahwa semua uang yang kukirim ternyata bukan satu-satunya uang yang disembunyikan dariku.
Aku membawa Raka ke rumah sakit malam itu juga.

Tetangga kami, Pak Darto, membantu mencarikan mobil milik saudaranya. Sepanjang perjalanan, Raka berbaring dengan kepala di pangkuanku. Sesekali wajahnya meringis menahan sakit.
Aku terus mengusap rambutnya.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang ke Ibu?”
Raka membuka mata perlahan.
“Mau bilang gimana?”
“Waktu kita telepon.”
“Bibi selalu dekat aku.”
Dadaku terasa semakin sesak.
“Kalau aku ngomong yang aneh-aneh, setelah telepon selesai aku dimarahin.”
Tanganku berhenti mengusap kepalanya.
“Dimarahin bagaimana?”
Raka langsung diam.
Aku tidak memaksanya. Tubuhnya sedang sakit. Ada terlalu banyak pertanyaan, tetapi malam itu keselamatannya lebih penting daripada semua jawaban.
Setelah diperiksa, dokter mengatakan Raka mengalami gangguan pencernaan yang sudah cukup lama, diperparah pola makan tidak teratur dan kondisi tubuh yang kurang baik. Ia harus menjalani pemeriksaan lanjutan dan dirawat sementara.
Aku duduk di samping ranjangnya sampai hampir tengah malam.
Ketika Raka akhirnya tertidur, ponselku bergetar.
Hendra.
Aku mengangkatnya.
“Kamu di mana?” tanyanya.
“Rumah sakit.”
“Kenapa nggak bilang dulu?”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Anakku sakit tiga bulan dan kalian tidak membawanya berobat. Sekarang kamu bertanya kenapa aku tidak bilang?”
“Mbak, jangan langsung nuduh. Kami juga punya kebutuhan.”
“Besok pagi datang ke rumah sakit. Bawa semua catatan penggunaan uang yang kukirim.”
Telepon mendadak sunyi.
“Maksud Mbak?”
“Kamu tahu maksudku.”
Aku memutus sambungan.
Keesokan paginya Hendra tidak datang.
Yang datang justru seseorang yang sama sekali tidak kuduga.
Mantan suamiku.
Arif berdiri di ujung lorong rumah sakit dengan kemeja abu-abu dan wajah yang tampak jauh lebih tua dibanding terakhir kali aku melihatnya.
Kami bercerai bukan karena perselingkuhan atau kekerasan. Setelah usahanya bangkrut, kami terus bertengkar karena uang sampai akhirnya merasa tidak sanggup hidup bersama.
Hubungan kami buruk.
Tapi seburuk apa pun hubungan kami, ia tetap ayah Raka.
“Raka di mana?” tanyanya.
Aku berdiri menghadangnya.
“Kamu tahu dari siapa?”
“Pak Darto telepon aku.”
Ia mencoba melihat ke dalam kamar.
“Gimana kondisinya?”
“Kenapa dulu kamu datang diam-diam?”
Arif menatapku.
“Diam-diam?”
“Raka bilang kamu pernah datang.”
Wajahnya berubah.
“Aku bukan cuma pernah datang.”
Aku merasa ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku.
“Apa maksudmu?”
“Aku datang tiga kali.”
Aku tidak bergerak.
Arif mengeluarkan ponselnya.
“Pertama sekitar setahun setelah kamu berangkat. Aku ingin ketemu Raka. Hendra bilang Raka marah sama aku dan nggak mau ketemu.”
“Tapi Raka dikunci di kamar.”
Arif menutup mata sebentar.
“Berarti benar.”
“Benar apa?”
“Aku dengar suara seperti orang mengetuk pintu dari belakang rumah waktu itu. Hendra bilang anak tetangga.”
Aku menggigit bibir.
“Terus uang?”
“Aku kasih dua juta waktu pertama datang.”
“Dua juta?”
“Iya. Buat Raka.”
“Berapa kali?”
Arif menatapku lama.
“Setiap beberapa bulan aku transfer.”
Kakiku seperti kehilangan tenaga.
Aku duduk di kursi lorong.
“Berapa totalnya?”
“Kurang lebih tiga puluh juta.”
Aku menatap wajahnya.
Aku sendiri mengirim uang rutin setiap bulan dari Riyadh. Kalau uang Arif ditambah uangku, seharusnya kebutuhan Raka lebih dari cukup.
“Buktinya?”
Arif membuka riwayat transfer.
Semua tujuan rekeningnya sama.
Rekening Hendra.
Aku memotretnya satu per satu.
Saat itulah Raka terbangun dan melihat ayahnya dari dalam kamar.
“Bapak?”
Arif membeku.
Raka menatapnya beberapa detik, lalu mulai menangis.
Arif masuk dan memeluk anaknya.
“Aku kira kamu nggak mau ketemu Bapak.”
Raka menggeleng keras.
“Paman bilang Bapak nggak mau lihat aku lagi.”
Arif menoleh kepadaku.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Kami berdua akhirnya memahami pola yang sama.
Kepadaku, Hendra membuat seolah-olah Raka baik-baik saja.
Kepada Arif, ia membuat seolah-olah Raka membenci ayahnya.
Kepada Raka, ia membuat seolah-olah kedua orang tuanya meninggalkannya.
Sore harinya aku pulang ke rumah Hendra seorang diri.
Kali ini aku tidak datang untuk bertanya.
Aku datang untuk mendapatkan jawaban.
Motor yang terparkir di teras langsung menarik perhatianku.
Aku ingat betul Hendra dulu hanya memiliki motor tua yang sering mogok.
Aku masuk.
Sari sedang duduk di ruang tengah.
Begitu melihatku, ia berdiri.
“Raka gimana?”
“Sudah ditangani dokter.”
“Syukurlah.”
Aku meletakkan ponsel di atas meja.
Di layar ada foto bukti transfer dari Arif.
Wajah Sari langsung berubah.
“Ini apa?”
“Kamu yang jawab.”
Ia diam.
“Uang dari aku ke mana?”
“Mbak…”
“Uang dari Arif ke mana?”
Sari mundur selangkah.
“Mas Hendra yang ngatur.”
“Panggil dia.”
“Nggak tahu ke mana.”
Aku mengambil tas sekolah Raka yang tadi kubawa dari kamar dan meletakkannya di meja.
Debu masih menempel di permukaannya.
“Anakku berhenti sekolah sementara kalian memperbaiki rumah dan membeli motor.”
“Mbak jangan sembarangan ngomong.”
“Kalau begitu tunjukkan uangnya.”
Sari mulai menangis.
Tapi aku tidak lagi mudah luluh.
Beberapa menit kemudian Hendra datang.
Ia berhenti di pintu ketika melihatku.
Aku menunjuk kursi.
“Duduk.”
“Mbak, kita keluarga.”
“Justru karena kita keluarga, aku kasih kamu kesempatan menjelaskan.”
Hendra tidak duduk.
Aku menunjukkan semua bukti transfer.
Wajahnya memucat.
“Aku hitung kasar. Uang yang kukirim selama aku kerja ditambah uang dari Arif jumlahnya puluhan juta. Raka berhenti sekolah. Tidak dibawa berobat. Pakaiannya bahkan tidak layak. Jadi uang itu ke mana?”
Hendra mengusap wajah.
“Aku pakai sebagian.”
“Sebagian berapa?”
“Buat kebutuhan rumah.”
“Berapa?”
Ia tidak menjawab.
Aku menatap motor di luar.
“Motor itu?”
Hendra tetap diam.
“Renovasi rumah?”
Sari mulai menangis lebih keras.
“Waktu itu kami benar-benar susah, Mbak.”
Aku menatapnya.
“Aku juga susah.”
Suaraku justru menjadi sangat tenang.
“Aku bangun sebelum subuh setiap hari di negeri orang. Aku bekerja sampai malam. Aku menahan rindu bertahun-tahun karena percaya anakku dijaga keluarga sendiri.”
Air mataku mulai jatuh.
“Ternyata anakku disuruh cari rumput sementara uangnya kalian pakai.”
Hendra akhirnya duduk.
“Aku bisa ganti.”
“Kapan?”
“Pelan-pelan.”
“Aku bukan sedang bicara soal uang.”
Aku menunjuk kamar belakang.
“Kenapa Raka dikunci waktu ayahnya datang?”
Hendra langsung menatap Sari.
Gerakan kecil itu cukup untuk membuatku sadar ada sesuatu yang lain.
“Sari?”
Perempuan itu menangis sambil menutup wajah.
“Aku cuma mengikuti Mas Hendra.”
“Mengikuti apa?”
Hendra membentak.
“Sudah, Sar!”
Aku berdiri.
“Kalau kalian tidak bicara sekarang, besok aku lapor polisi.”
Ruangan langsung sunyi.
Hendra menatapku dengan wajah tegang.
Lalu Sari berkata pelan.
“Mas Hendra takut Raka dibawa bapaknya.”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa dia takut?”
Sari menelan ludah.
“Karena kalau Raka pergi, uang dari Mbak berhenti.”
Aku menatap adikku.
Hendra membuang muka.
Aku tidak pernah membayangkan mendengar kalimat seperti itu tentang anakku sendiri.
“Jadi Raka kalian pertahankan di sini supaya uang terus masuk?”
“Awalnya nggak begitu,” kata Hendra cepat. “Awalnya aku memang mau bantu. Tapi kebutuhan makin banyak.”
“Lalu kalian menghentikan sekolahnya?”
“Aku punya utang.”
“Utang apa?”
Hendra terdiam.
Sari tiba-tiba berkata, “Pinjaman online.”
Hendra langsung berdiri.
“Diam kamu!”
Aku menatap mereka bergantian.
Ternyata renovasi rumah bukan tanda keadaan mereka membaik. Hendra terjebak utang setelah mencoba usaha jual beli hasil pertanian. Ketika gagal, ia mulai memakai uang kirimanku. Setelah itu ia mengambil pinjaman lain untuk menutup pinjaman sebelumnya.
Uang Raka menjadi jalan keluar termudah.
Tapi ternyata belum selesai.
Aku meminta melihat dokumen sekolah Raka.
Sari mengambil sebuah map dari lemari.
Di antara buku rapor dan fotokopi kartu keluarga, aku menemukan beberapa lembar kertas yang tidak kukenal.
Salah satunya formulir pembukaan rekening.
Namaku tercetak di sana.
Tapi tanda tangannya bukan tanda tanganku.
Aku menatap Hendra.
“Ini apa?”
Wajahnya kehilangan warna.
Aku membaca lebih teliti.
Ada salinan identitasku.
Ada formulir.
Ada nomor rekening atas namaku.
“Aku tidak pernah membuka rekening ini.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku langsung memotret semuanya.
Barulah Hendra bicara.
“Mbak, dengarkan dulu.”
“Untuk apa rekening ini?”
Ia mendekat.
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
Sari terduduk sambil menangis.
Akhirnya dari mulutnya keluar rahasia yang membuatku benar-benar kehilangan kata-kata.
Selama aku bekerja di luar negeri, Hendra bukan hanya menerima uang dariku dan Arif.
Ia juga menggunakan salinan dokumen yang kutinggalkan untuk mengurus beberapa transaksi atas namaku. Ada uang pinjaman yang masuk ke rekening tersebut.
Jumlahnya hampir empat puluh juta rupiah.
Aku merasa mual.
“Kamu pakai identitasku buat utang?”
“Aku niatnya mau bayar.”
“Kapan?”
“Aku pikir usaha panen cabai bakal berhasil.”
“Kalau gagal?”
Hendra diam.
“Kalau aku tidak pulang?”
Ia tetap diam.
Aku baru sadar alasan Hendra selalu bertanya kapan kontrakku selesai.
Bukan karena rindu.
Ia ingin tahu kapan aku akan kembali dan menemukan semuanya.
Malam itu aku tidak menginap di rumahnya.
Aku kembali ke rumah sakit.
Raka sudah bisa duduk. Arif sedang menyuapinya bubur.
Melihat pemandangan itu, aku berhenti di depan pintu.
Dulu aku pergi karena merasa harus menjadi satu-satunya orang yang menyelamatkan masa depan Raka.
Ternyata selama bertahun-tahun aku terlalu sibuk mengirim uang sampai tidak benar-benar tahu kehidupan yang dijalani anakku.
Aku duduk di sampingnya.
“Raka.”
“Iya, Bu?”
“Kalau sudah sembuh, kamu mau sekolah lagi?”
Matanya langsung berbinar, tetapi sesaat kemudian redup.
“Boleh?”
Aku hampir menangis.
“Kenapa tanya boleh?”
“Paman bilang aku sudah ketinggalan jauh.”
Aku memegang kedua tangannya.
“Ketinggalan bukan berarti nggak bisa mengejar.”
Ia diam beberapa saat.
Lalu bertanya, “Ibu pergi lagi?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada semua yang terjadi hari itu.
Aku sudah merencanakan kembali ke Riyadh setelah cuti selesai. Kontrakku masih tersisa hampir satu tahun.
Namun saat menatap Raka, aku tahu ada harga yang tidak lagi sanggup kubayar.
“Nggak.”
Raka menatapku seolah tidak percaya.
“Ibu tinggal?”
Aku mengangguk.
“Kita mulai lagi dari sini.”
Beberapa minggu berikutnya tidak mudah.
Aku melaporkan penyalahgunaan identitasku dan mengurus persoalan rekening tersebut. Hendra akhirnya mengakui perbuatannya. Hubungan kami hancur. Ibu kami menangis dan berkali-kali memintaku menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
Tapi aku berkata kepadanya, “Kalau keluarga dipakai sebagai alasan supaya orang yang salah tidak bertanggung jawab, besok kesalahan yang sama akan terjadi lagi.”
Aku tidak membenci Hendra.
Namun memaafkan bukan berarti membiarkan semuanya tanpa konsekuensi.
Raka menjalani pengobatan dan perlahan kondisinya membaik.
Arif mulai datang secara teratur.
Kami tidak kembali menjadi suami istri. Luka di antara kami terlalu banyak, dan aku tidak ingin membuat keputusan besar hanya karena sedang emosional.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami belajar menjadi orang tua bersama.
Dua bulan kemudian, Raka kembali bersekolah.
Pada hari pertamanya, aku mengantarnya sampai gerbang.
Seragam barunya sedikit kebesaran.
Ia menggenggam tanganku.
“Bu.”
“Hm?”
“Nanti jemput?”
“Iya.”
“Bener?”
Aku tersenyum.
“Bener.”
Ia berjalan beberapa langkah, lalu kembali memelukku.
Aku hampir menangis di depan gerbang sekolah.
Sepulang dari sana, aku membuka koper yang sejak kepulanganku belum sempat benar-benar kubongkar.
Di bagian paling bawah ada sebuah amplop berisi tabunganku dari Riyadh.
Tidak banyak.
Jauh dari impianku membeli tanah dan membangun rumah.
Dulu aku mungkin akan merasa gagal.
Aku pergi ke luar negeri dengan janji akan pulang membawa masa depan untuk anakku.
Namun aku pulang dan menemukan bahwa masa depan itu hampir hilang justru ketika aku sibuk mengejarnya.
Sore itu Arif datang membawa sebuah kotak kecil.
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat puluhan surat.
Tulisan tangan anak-anak.
Aku mengenali tulisan Raka.
“Ini dari mana?”
Arif menatapku.
“Waktu terakhir aku datang ke rumah Hendra, sebelum aku menyerah datang, aku menemukan satu surat terselip di bawah pintu belakang. Kupikir cuma satu.”
Ia menyerahkan semuanya.
“Ternyata setelah Raka tahu aku pernah menerima surat pertama, dia menitipkan surat-surat berikutnya ke Pak Darto. Tapi Pak Darto nggak punya alamatmu. Jadi dia simpan. Kemarin semuanya diberikan kepadaku.”
Tanganku gemetar ketika membuka surat paling atas.
Ada tanggal hampir dua tahun lalu.
“Ibu, Raka masih nunggu Ibu pulang.”
Surat berikutnya lebih pendek.
“Ibu, Raka sekarang sudah tidak sekolah. Jangan sedih. Raka bisa bantu Paman.”
Surat berikutnya membuat air mataku jatuh.
“Ibu, kalau uang Ibu habis, nggak usah kirim lagi. Raka bisa makan sedikit.”
Aku menutup mulut.
Lalu kubuka surat terakhir.
Tulisan tangannya jauh lebih rapi.
“Ibu, kata Paman Ibu mungkin sudah punya keluarga baru di sana. Kalau benar, Raka nggak marah. Raka cuma mau tahu Ibu masih ingat Raka atau tidak.”
Aku tidak sanggup membaca lagi.
Malam itu aku memeluk Raka lama sekali.
Ia kebingungan.
“Ibu kenapa?”
Aku mengusap rambutnya.
“Ibu baca surat-surat kamu.”
Wajahnya langsung berubah.
“Bapak kasih?”
Aku mengangguk.
Raka menunduk.
“Maaf.”
Aku menahan wajahnya dengan kedua tangan.
“Kenapa minta maaf?”
“Karena aku kira Ibu lupa.”
Aku memeluknya lagi.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh siapa pun kepadaku.
Aku pergi ribuan kilometer karena ingin memberikan rumah yang lebih baik, sekolah yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik kepada anakku.
Aku mengira menjadi ibu yang baik berarti sanggup berkorban sejauh mungkin.
Ternyata seorang anak tidak menghitung cinta dari berapa banyak uang yang masuk ke rekening setiap bulan.
Kadang ia hanya ingin tahu bahwa ketika dunia memperlakukannya dengan buruk, masih ada seseorang yang akan datang ketika ia memanggil.
Setahun kemudian, aku memang belum memiliki rumah seperti yang dulu kujanjikan.
Aku menyewa rumah kecil tidak jauh dari sekolah Raka dan membuka usaha makanan rumahan dengan tabungan yang tersisa.
Rumah itu hanya memiliki dua kamar.
Atap dapurnya pernah bocor saat hujan besar.
Motor yang kupakai juga motor bekas.
Namun suatu malam, ketika kami sedang makan di lantai karena belum mampu membeli meja makan yang bagus, Raka tiba-tiba berkata,
“Bu, rumah kita akhirnya jadi juga.”
Aku tertawa.
“Ini rumah kontrakan, Nak.”
Raka menggeleng.
“Bukan itu maksudku.”
Ia mengambil nasi lagi, lalu berkata begitu santai seolah kalimat itu tidak akan mengubah apa pun.
“Dulu Ibu bilang mau bikin rumah buat kita. Menurut Raka, rumah itu bukan tanah sama tembok.”
Aku menatapnya.
“Terus apa?”
Raka tersenyum.
“Tempat di mana aku nggak takut ditinggal.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menunduk karena air mataku sudah jatuh ke piring.
Bertahun-tahun aku bekerja di negeri orang untuk membangun rumah bagi anakku.
Pada akhirnya, justru anakku yang mengajariku arti pulang.
