AKU PIKIR SUAMIKU SEDANG DALAM PERJALANAN BISNIS SATU BULAN DI JERMAN—SAMPAI ANAKKU YANG BARU BERUSIA TIGA TAHUN BERBISIK PELAN, “MAMA, JANGAN NAIK KE LOTENG… PAPA ADA DI SANA BERSAMA TANTE STELLA

Bianca tidak pernah menyangka bahwa kalimat polos dari seorang anak berusia tiga tahun mampu menghancurkan ketenangan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya terus dipenuhi ucapan Noah. Ia berusaha mencari penjelasan yang masuk akal. Mungkin Noah hanya bermimpi. Mungkin ia salah melihat seseorang. Atau mungkin Ethan memang pernah pulang diam-diam sebelum berangkat ke Jerman.

Namun semakin ia memikirkan semuanya, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Selama tiga minggu terakhir, Ethan selalu menolak panggilan video dengan alasan yang sama. Saat Bianca meminta memperlihatkan pemandangan di luar hotel, Ethan selalu berkata sedang berada di ruang rapat. Ketika Bianca bertanya soal cuaca di Jerman, Ethan menjawab singkat lalu mengalihkan pembicaraan.

Yang dulu dianggap biasa, kini berubah menjadi potongan-potongan teka-teki.

Sesampainya di kantor pusat perusahaan logistik miliknya di kawasan Sudirman, Bianca langsung memanggil Rendra, kepala divisi teknologi informasi yang telah bekerja bersamanya sejak perusahaan itu masih berupa gudang kecil.

“Aku butuh bantuanmu.”

Rendra menatap wajah Bianca yang terlihat pucat.

“Masalah perusahaan?”

Bianca menggeleng.

“Masalah keluargaku.”

Tanpa menjelaskan terlalu banyak, Bianca meminta Rendra mengecek apakah laptop kantor milik Ethan pernah terhubung ke jaringan perusahaan selama ia seharusnya berada di Jerman.

Rendra terlihat ragu.

“Kalau ini urusan pribadi…”

“Aku bertanggung jawab penuh.”

Beberapa menit kemudian, wajah Rendra berubah.

“Bianca…”

“Iya?”

“Laptop Pak Ethan terakhir aktif dua jam yang lalu.”

Bianca mencoba tetap tenang.

“Dari mana?”

Rendra memutar monitor ke arahnya.

Alamat IP yang muncul berasal dari Jakarta Selatan.

Jaraknya bahkan tidak sampai lima kilometer dari rumah mereka.

Jantung Bianca berdetak semakin cepat.

Ia tidak menangis.

Ia justru merasa pikirannya menjadi sangat jernih.

Sore itu, ia berpura-pura mengirim pesan kepada Ethan.

“Semoga training hari ini lancar.”

Balasan datang lima belas menit kemudian.

“Capek sekali. Baru selesai presentasi.”

Bianca menatap layar ponsel tanpa ekspresi.

Presentasi di Jerman.

Padahal laptopnya baru saja aktif di Jakarta.

Malam itu Bianca sengaja pulang lebih lambat.

Begitu memasuki rumah, Stella menyambutnya dengan senyum seperti biasa.

“Kak, capek ya?”

“Iya.”

“Noah tadi tidur siang lama.”

“Syukurlah.”

Semuanya tampak normal.

Terlalu normal.

Bianca memperhatikan setiap sudut rumah.

Tak ada tanda-tanda siapa pun bersembunyi.

Namun ketika semua orang tertidur, ia membuka aplikasi keamanan rumah.

Dua tahun lalu ia memasang beberapa sensor pintar yang terhubung ke ponselnya. Ethan sendiri yang meminta fitur itu dimatikan karena merasa terganggu.

Bianca tidak pernah benar-benar menghapus sistemnya.

Ia hanya menonaktifkan notifikasinya.

Kini semua sensor diaktifkan kembali.

Sekitar pukul sembilan pagi keesokan harinya, Bianca berpamitan berangkat kerja seperti biasa.

Ia mencium Noah.

“Tunggu Mama pulang.”

“Iya.”

Ia melirik Stella.

“Tolong jaga Noah.”

“Tentu saja.”

Mobil Bianca keluar dari gerbang.

Namun bukannya menuju kantor, ia berhenti dua blok dari rumah.

Ia berganti mobil dengan kendaraan operasional perusahaan yang kacanya gelap.

Kemudian kembali secara diam-diam.

Melalui ponselnya, ia melihat sensor di loteng aktif.

Lima menit kemudian.

Sensor tangga.

Lalu pintu belakang.

Ada seseorang yang bergerak di dalam rumah.

Bianca menghubungi Rendra.

“Aktifkan drone.”

Salah satu proyek baru perusahaan adalah drone inventaris yang dilengkapi kamera kecil.

Dalam hitungan menit, gambar dari drone muncul di layar ponsel.

Bianca menahan napas.

Loteng yang selama ini dianggap penuh barang bekas ternyata telah diubah menjadi ruang pribadi.

Ada sofa.

Televisi.

Pendingin ruangan.

Lemari pakaian.

Dan seseorang sedang turun dari tangga loteng.

Ethan.

Masih mengenakan kaus yang sama seperti saat video call semalam.

Beberapa detik kemudian Stella muncul dari dapur sambil membawa dua cangkir kopi.

Ia tersenyum.

Ethan merangkul pinggangnya.

Bianca merasakan dadanya sesak.

Namun ia tetap diam.

Ia belum selesai.

Ia ingin mengetahui seberapa jauh pengkhianatan itu berlangsung.

Selama tiga hari berikutnya Bianca tetap berpura-pura tidak tahu.

Ia mengumpulkan bukti.

Rekaman kamera.

Percakapan.

Lokasi ponsel Ethan.

Riwayat transaksi.

Semuanya menunjukkan satu fakta yang mengerikan.

Ethan tidak pernah pergi ke Jerman.

Foto di bandara ternyata diambil berminggu-minggu sebelumnya.

Boarding pass yang ia kirim hanyalah hasil edit.

Video koper yang ia kirim direkam sebelum hari keberangkatan.

Yang lebih mengejutkan lagi, Ethan diam-diam telah mentransfer uang perusahaan ke rekening pribadi dengan alasan biaya proyek luar negeri.

Jumlahnya mencapai hampir delapan miliar rupiah.

Namun kejutan terbesar datang dari Noah.

Suatu malam saat Bianca membacakan dongeng sebelum tidur, Noah berkata pelan.

“Mama…”

“Iya?”

“Papa bilang nanti rumah ini jadi punya Tante Stella.”

Bianca membeku.

“Papa bilang begitu?”

“Iya.”

“Terus Mama disuruh kerja terus.”

Air mata akhirnya jatuh untuk pertama kalinya.

Bukan karena perselingkuhan itu.

Melainkan karena anak sekecil Noah ternyata selama ini mendengar semua pembicaraan mereka.

Bianca memeluk putranya erat.

“Kamu tidak salah apa-apa.”

Dua hari kemudian, Bianca mengadakan rapat direksi.

Ethan tentu tidak hadir.

Secara resmi ia masih berada di Jerman.

Dalam rapat itu Bianca mengumumkan audit internal terhadap seluruh transaksi internasional.

Sore harinya Ethan menelepon dengan nada panik.

“Kenapa tiba-tiba ada audit?”

“Karena memang waktunya.”

“Kamu nggak percaya sama aku?”

Bianca tersenyum tipis.

“Haruskah aku percaya?”

Telepon langsung terputus.

Malam itu Ethan buru-buru pulang ke rumah melalui pintu belakang.

Ia tidak tahu bahwa seluruh rumah sudah dipenuhi kamera tambahan.

Begitu ia turun dari loteng, lampu ruang keluarga mendadak menyala.

Bianca duduk tenang di sofa.

Di sebelahnya ada pengacara perusahaan, notaris, dua auditor, dan beberapa petugas kepolisian yang berpakaian sipil.

Stella langsung pucat.

Ethan berhenti melangkah.

“Wah… kamu sudah pulang?”

Bianca menatapnya tanpa emosi.

“Bukankah seharusnya kamu masih di Jerman?”

Tak ada jawaban.

Bianca mengambil remote.

Televisi besar di ruang keluarga menyala.

Satu per satu rekaman diputar.

Video Ethan turun dari loteng.

Video Stella memeluk Ethan.

Rekaman suara mereka membahas pemindahan uang perusahaan.

Sampai percakapan tentang rencana mengambil alih rumah setelah menceraikan Bianca.

Ruangan itu sunyi.

Stella mulai menangis.

“Kak… aku bisa jelaskan…”

“Tidak perlu.”

Ethan mencoba mendekat.

“Bianca, dengarkan aku.”

“Duduk.”

Nada suara Bianca begitu dingin hingga Ethan berhenti melangkah.

Pengacara kemudian menyerahkan beberapa dokumen.

“Ini gugatan cerai.”

“Ini laporan dugaan penggelapan dana perusahaan.”

“Dan ini surat pemberhentian Saudara Ethan dari seluruh jabatan.”

Wajah Ethan berubah pucat.

“Kamu nggak mungkin melakukan ini.”

Bianca menatap lurus ke matanya.

“Perusahaan itu aku bangun sebelum mengenalmu.”

“Rumah ini kubeli dengan hasil kerjaku.”

“Jabatanmu kuberikan karena aku percaya.”

“Lalu semuanya kamu balas dengan kebohongan.”

Petugas kepolisian maju.

Mereka menunjukkan surat resmi pemeriksaan atas dugaan tindak pidana penggelapan.

Ethan hanya bisa tertunduk.

Stella berlutut sambil menangis meminta maaf.

“Aku khilaf, Kak.”

Bianca menghela napas panjang.

“Kesalahan terbesar bukan karena kamu jatuh cinta pada suami orang.”

Stella mengangkat wajahnya.

“Kesalahan terbesarmu adalah mengkhianati orang yang menganggapmu keluarga.”

Hari itu juga Ethan dan Stella meninggalkan rumah.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum selesai.

Sebagian besar dana perusahaan berhasil diselamatkan karena audit dilakukan tepat waktu.

Perceraian Bianca berjalan tanpa banyak drama.

Hak asuh Noah sepenuhnya jatuh kepadanya.

Suatu sore, ketika mereka sedang bermain layang-layang di taman, Noah menggenggam tangan Bianca.

“Mama sekarang senyum terus.”

Bianca tersenyum sambil mengusap kepala putranya.

“Iya.”

“Karena Papa sudah nggak sembunyi lagi?”

Bianca menatap langit yang mulai berwarna jingga.

“Tidak semua orang yang pergi membuat kita kehilangan.”

“Kadang, justru saat orang yang salah pergi, kita akhirnya menemukan kembali kedamaian.”

Noah mengangguk meski belum sepenuhnya mengerti.

Bianca memeluk putranya.

Ia sadar bahwa harta bisa dibangun kembali.

Perusahaan bisa berkembang lagi.

Namun kepercayaan adalah sesuatu yang hanya pantas diberikan kepada mereka yang benar-benar menghargainya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bianca menutup pintu rumahnya tanpa rasa curiga, karena ia tahu tidak ada lagi siapa pun yang bersembunyi di loteng maupun di balik kebohongan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang