AKU PULANG DIAM-DIAM SETELAH EMPAT TAHUN BEKERJA DI KOREA DAN MENEMUKAN ISTRIKU KURUS KERING, RAMBUTNYA HABIS DICUKUR, MAKAN NASI SISA DI BELAKANG RUMAH. IBUKU BILANG ITU HUKUMAN YANG PANTAS, JADI AKU TERSENYUM DAN MENGUMUMKAN BARU MENDAPAT UANG RP14,8 MILIAR

Aku baru saja mengatakan angka Rp14,8 miliar ketika sesuatu yang lebih menjijikkan daripada kemarahan muncul di wajah ibu dan adikku.

Harapan.

Mata Ibu Ratih yang tadi dingin ketika memandang Siti mendadak berbinar. Indah bahkan melangkah mendekat, seolah perempuan kurus yang nyaris pingsan dalam pelukanku sudah tidak ada.

“Empat belas koma delapan miliar?” ulang Ibu pelan.

Aku mengangguk.

“Sudah masuk rekening pribadiku.”

Indah langsung tersenyum.

“Mas, berarti kita bisa memperbesar salon. Ruko sebelah sebenarnya mau dijual. Kalau Mas mau bantu—”

“Ambil kunci mobil.”

Senyumnya terputus.

“Apa?”

“Kunci mobil. Kita bawa Siti ke rumah sakit sekarang.”

Ibu Ratih mencoba memegang lenganku.

“Budi, jangan terburu-buru. Ibu kenal pengobatan alternatif yang bagus. Kanker itu belum tentu harus—”

Aku menepis tangannya.

“Kalau Ibu masih menghalangi sekali lagi, saya panggil polisi dari halaman ini.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menggunakan kata saya kepada perempuan yang melahirkanku.

Wajah Ibu berubah.

Indah melemparkan kunci SUV kepadaku dengan kesal.

“Keterlaluan. Baru pulang sudah mengancam keluarga sendiri.”

Aku tidak menjawab.

Aku mengangkat tubuh Siti dan membawanya masuk ke mobil.

Beratnya bahkan mungkin tidak sampai empat puluh kilogram.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, kepalanya bersandar di dadaku.

“Maaf, Mas,” bisiknya.

Aku menunduk.

“Kenapa kamu yang minta maaf?”

“Aku gagal menjaga semuanya.”

Kalimat itu membuat tenggorokanku tercekat.

“Kamu tidak gagal apa-apa.”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Aku pernah mencoba kabur.”

Tanganku yang memegang bahunya menegang.

Siti menceritakan semuanya dengan napas terputus-putus.

Delapan bulan sebelumnya, dia menemukan benjolan di payudaranya. Pemeriksaan awal menunjukkan kemungkinan kanker dan dokter meminta serangkaian tes lanjutan.

Siti meminta uang kepada Ibu Ratih.

Ibu bilang uang kirimanku sedang diputar untuk usaha keluarga.

Ketika Siti bersikeras, pertengkaran terjadi.

Indah mengambil ponselnya.

Mereka mengatakan kepadaku bahwa ponsel Siti rusak.

“Kenapa tidak pinjam telepon tetangga?”

“Aku mencoba.”

Siti menutup mata.

“Waktu itu aku lari ke rumah Bu Marni. Ibu menyusul dan bilang ke semua tetangga kalau aku mengalami gangguan mental karena tidak bisa punya anak. Mereka percaya karena Ibu menangis.”

Aku memejamkan mata.

Jadi bahkan cerita tentang kondisi mental Siti sudah dipersiapkan.

“Lalu rambutmu?”

Tangannya perlahan menyentuh kepala botaknya.

“Aku sempat mendapat kemoterapi dua kali dari bantuan seorang dokter. Setelah rambutku mulai rontok, Indah mencukur sisanya.”

“Kenapa?”

Siti terdiam beberapa detik.

“Katanya aku membuat rumah terlihat seperti rumah orang sakit.”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Kalau aku membuka mulut saat itu, mungkin aku akan berteriak.

Setibanya di rumah sakit, dokter langsung membawa Siti ke ruang pemeriksaan.

Aku duduk sendirian di lorong hampir tiga jam.

Ketika dokter akhirnya keluar, ekspresinya serius.

“Kondisi istri Anda berat. Dia mengalami malnutrisi, anemia, dan infeksi. Mengenai kanker, kami perlu pemeriksaan lengkap untuk menentukan perkembangannya.”

“Bisa disembuhkan?”

Dokter tidak langsung menjawab.

“Kita fokus pada apa yang masih bisa dilakukan.”

Kalimat itu menghancurkanku lebih keras daripada pukulan mana pun.

Aku masuk ke kamar Siti.

Dia tertidur dengan infus terpasang.

Aku menggenggam tangannya dan untuk pertama kalinya sejak pulang dari Korea, aku menangis tanpa berusaha menahannya.

Empat tahun.

Aku merasa telah menjadi suami yang baik karena mengirim uang setiap bulan.

Padahal uang tidak bisa menggantikan kehadiran.

Aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di rumahku sendiri.

Ponselku bergetar.

Ibu.

Aku tidak menjawab.

Kemudian pesan masuk.

Budi, pulanglah. Kita harus membicarakan uang kompensasi itu. Ibu sudah memikirkan investasi yang bagus untuk masa depan keluarga.

Aku menatap layar beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

Mereka bahkan belum menanyakan keadaan Siti.

Aku menelepon seseorang.

Namanya Dimas, teman masa SMA yang sekarang bekerja sebagai pengacara di Yogyakarta.

“Masih ingat aku?” tanyaku.

“Budi? Kamu di Indonesia?”

“Aku butuh bantuan.”

Dimas datang malam itu juga.

Aku menceritakan semuanya.

Dia mendengarkan tanpa memotong.

Setelah selesai, pertanyaan pertamanya justru sederhana.

“Rumah yang ditempati ibumu itu atas nama siapa?”

“Bapak.”

“Sudah dibalik nama?”

Aku menggeleng.

“Setelah Bapak meninggal, belum pernah.”

“Berarti kita cek dokumen warisnya.”

Keesokan harinya, sementara Siti menjalani pemeriksaan, aku dan Dimas pergi ke bank.

Aku meminta seluruh riwayat transfer empat tahun terakhir.

Jumlah total uang yang kukirim ternyata mencapai lebih dari Rp1,4 miliar.

Aku hampir tidak percaya melihat angkanya.

Lalu kami memeriksa beberapa bukti penggunaan uang yang masih bisa ditelusuri.

DP mobil.

Renovasi rumah.

Modal salon.

Pembelian perhiasan.

Bahkan cicilan apartemen kecil di Sleman atas nama Indah.

Tidak ada satu pun yang pernah kuberi izin.

Namun temuan terbesar muncul dua hari kemudian.

Dimas datang ke rumah sakit membawa map cokelat.

“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Dia meletakkan fotokopi dokumen di depanku.

Itu surat pernyataan pembagian warisan.

Di bagian bawah terdapat tanda tanganku.

Aku memandangnya lama.

“Itu bukan tanda tanganku.”

“Aku tahu.”

Ternyata enam bulan sebelumnya, Ibu Ratih dan Indah mencoba mengurus perubahan kepemilikan rumah peninggalan Bapak.

Dalam dokumen itu tertulis aku telah melepaskan bagian warisanku kepada Ibu Ratih.

Masalahnya, enam bulan lalu aku masih berada di Korea.

“Kalau terbukti dipalsukan?” tanyaku.

Dimas menatapku.

“Masalahnya jauh lebih serius daripada sekadar pertengkaran keluarga.”

Aku menyandarkan tubuh ke kursi.

Semua kepingan akhirnya terlihat jelas.

Ini bukan sekadar keserakahan spontan.

Mereka sudah menyiapkan semuanya.

Uangku.

Rumah.

Bahkan cerita bahwa Siti mengalami gangguan mental.

Malam itu aku mengirim pesan kepada Ibu.

Besok malam kumpulkan semua keluarga di rumah. Kita bicara soal uang Rp14,8 miliar.

Jawabannya datang kurang dari semenit.

Baik, Nak. Ibu siapkan makan besar.

Aku tersenyum.

Keesokan malam aku datang tanpa Siti.

Rumah dipenuhi saudara.

Paman.

Bibi.

Sepupu.

Bahkan beberapa tetangga dekat.

Di meja makan tersaji berbagai hidangan.

Ibu Ratih mengenakan kebaya modern yang mahal. Indah memakai gelang dan kalung emas.

Begitu melihatku, Ibu tersenyum lebar.

“Budi sudah datang.”

Aku duduk.

Paman Joko tertawa.

“Katanya sekarang jadi miliarder Korea?”

Semua tertawa.

Aku ikut tersenyum.

Ibu Ratih mulai bicara.

“Ibu sudah memikirkan semuanya. Sebaiknya uang itu jangan dihabiskan untuk rumah sakit. Untuk pengobatan Siti secukupnya saja. Sisanya kita investasi.”

Aku menatapnya.

“Investasi apa?”

Indah langsung membuka tablet.

“Aku sudah survei. Kita bisa buka tiga cabang salon lagi. Lalu beli tanah di Bantul. Mas juga bisa renovasi rumah ini lagi.”

“Menarik.”

Wajah mereka semakin bersemangat.

Aku mengeluarkan sebuah map.

“Kalau begitu, sebelum bicara soal uangku, kita bicara soal uang yang sudah kukirim.”

Ruangan mendadak lebih sunyi.

Aku meletakkan rekening koran di meja.

“Empat tahun. Total Rp1.437.600.000.”

Indah mulai gelisah.

“Itu kan dipakai keluarga.”

“Keluarga siapa?”

Ibu Ratih mengerutkan dahi.

“Kamu jangan hitung-hitungan sama ibu sendiri.”

“Aku tidak menghitung uang yang Ibu makan.”

Aku menunjuk laporan itu.

“Aku menghitung uang yang seharusnya digunakan untuk istriku tetapi dipakai membeli mobil, apartemen Indah, salon, perhiasan, dan renovasi.”

Beberapa saudara mulai berbisik.

Ibu berdiri.

“Jangan mempermalukan Ibu di depan keluarga!”

Aku mengeluarkan dokumen kedua.

“Kalau begitu kita bahas ini.”

Aku meletakkannya tepat di depan Ibu Ratih.

Wajahnya berubah dalam sekejap.

“Surat pelepasan hak waris.”

Indah langsung berdiri.

“Mas, itu—”

“Dengan tanda tanganku yang palsu.”

Tidak ada seorang pun berbicara.

Paman Joko mengambil kertas itu.

“Kak Ratih… ini apa?”

Ibu mulai terbata.

“Itu hanya urusan administrasi.”

“Administrasi?”

Aku tersenyum.

“Memalsukan tanda tangan orang yang sedang berada di luar negeri disebut administrasi?”

Indah mulai menangis.

“Mas, kami cuma takut rumah ini nanti dijual Siti!”

Aku menatapnya.

“Jadi kalian mengurungnya?”

“Dia bukan keluarga kita!”

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Indah.

Aku berdiri.

“Dia istriku.”

Aku menatap seluruh ruangan.

“Dan orang yang kalian sebut bukan keluarga itu hampir mati karena keluarga kandungku sendiri.”

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Dimas masuk.

Bersamanya dua orang petugas kepolisian.

Wajah Ibu Ratih memutih.

“Budi… kamu melaporkan ibu sendiri?”

Aku menatapnya lama.

Ada bagian kecil dalam diriku yang masih melihat perempuan yang dulu menyuapiku ketika sakit, menungguku pulang sekolah, dan menjahit seragamku ketika robek.

Namun perempuan yang sama juga membiarkan istriku kelaparan di gudang.

“Aku melaporkan pemalsuan dokumen dan dugaan penggelapan.”

Ibu Ratih menangis.

“Kamu durhaka!”

Aku menelan ludah.

“Mungkin.”

Aku mengambil kunci mobil dari meja.

“Tapi menjadi anak bukan berarti aku harus membiarkan kejahatan.”

Tiga minggu berikutnya menjadi periode paling berat dalam hidupku.

Siti menjalani operasi dan rangkaian pengobatan.

Dokter mengatakan kankernya memang sudah lanjut, tetapi masih ada peluang untuk mengendalikan penyakit itu.

Aku menggunakan sebagian uang kompensasi untuk memastikan dia mendapatkan perawatan terbaik.

Namun ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan kepada keluargaku.

Uang Rp14,8 miliar itu memang nyata.

Tetapi bukan seluruhnya kompensasi kecelakaan.

Hanya sekitar Rp2,1 miliar yang berasal dari asuransi dan perusahaan.

Sisanya berasal dari saham kecil yang diam-diam kumiliki di perusahaan pemasok komponen otomotif Korea tempat aku bekerja.

Selama bertahun-tahun aku menyisihkan hampir seluruh bonusku untuk membeli saham perusahaan itu ketika nilainya masih rendah.

Perusahaan tersebut kemudian diakuisisi perusahaan teknologi besar.

Nilai sahamku melonjak.

Aku sengaja mengatakan seluruh uang itu berasal dari kompensasi karena ingin melihat satu hal.

Apakah setelah mengetahui aku hampir menjadi korban kecelakaan, keluargaku akan bertanya apakah aku baik-baik saja?

Tidak.

Pertanyaan pertama mereka tetap tentang uang.

Enam bulan kemudian, Siti duduk di teras sebuah rumah kecil yang kami sewa di kawasan Kaliurang.

Rambutnya mulai tumbuh kembali.

Pendek dan tipis, tetapi dia sangat bangga setiap kali bercermin.

Aku membawakannya teh hangat.

“Ada surat dari rumah sakit,” katanya.

Jantungku langsung berdegup cepat.

Dia menyerahkan hasil pemeriksaan kepadaku.

Respons terapi baik.

Ukuran tumor menurun signifikan.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

“Mas?”

Aku memandangnya.

Dia tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, wajahnya terlihat hidup.

Aku memeluknya erat.

Rumah peninggalan Bapak akhirnya dibekukan status kepemilikannya selama proses hukum. Mobil dijual untuk menutup sebagian kerugian. Salon Indah berhenti beroperasi.

Namun aku tidak pernah merasa menang.

Tidak ada kemenangan ketika orang yang menghancurkan kepercayaanmu adalah keluargamu sendiri.

Suatu sore, Siti bertanya kepadaku sesuatu.

“Kalau suatu hari Ibu minta maaf, Mas akan memaafkan?”

Aku terdiam lama.

“Mungkin.”

Siti menatapku heran.

“Tapi memaafkan bukan berarti memberikan kembali kepercayaan yang sama.”

Dia tersenyum kecil.

Aku menggenggam tangannya.

Empat tahun aku berpikir keberhasilan seorang suami dapat diukur dari jumlah uang yang mampu dia kirim pulang.

Aku salah.

Ada orang yang hidup serumah dengan keluarga tetapi tidak pernah benar-benar hadir.

Ada pula orang sepertiku yang berada ribuan kilometer jauhnya dan terlalu percaya bahwa uang dapat menjaga seseorang yang kita cintai.

Sejak hari itu aku berhenti mengejar kehidupan yang terlihat mewah di mata orang lain.

Aku menolak tawaran kembali bekerja penuh waktu di Korea.

Dengan sebagian uang yang kumiliki, aku membuka bengkel dan usaha distribusi suku cadang kecil di Yogyakarta.

Tidak sebesar bisnis yang dulu kubayangkan.

Tetapi setiap sore aku bisa pulang.

Setiap kali membuka pintu rumah, aku bisa melihat Siti.

Dan setiap kali melihat rambutnya tumbuh beberapa milimeter lebih panjang, aku merasa lebih kaya daripada ketika pertama kali melihat angka Rp14,8 miliar di rekeningku.

Setahun kemudian, pada hari ulang tahun pernikahan kami, Siti memberikan sebuah kotak kecil kepadaku.

Di dalamnya terdapat gelang emas berbentuk daun.

Mirip gelang yang dulu diberikan kepadanya lalu direbut Ibu.

“Aku tidak butuh gelang,” kataku.

“Ini bukan untuk Mas.”

Dia tertawa kecil lalu mengenakannya sendiri.

Aku ikut tertawa.

Namun beberapa detik kemudian mataku panas.

Siti menatap gelang itu.

“Dulu aku pikir mereka mengambil semuanya dariku.”

Dia kemudian menatapku.

“Ternyata tidak.”

“Apa yang masih kamu punya?”

Dia menggenggam tanganku.

“Kesempatan untuk hidup lagi.”

Saat itulah aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan uang sebanyak apa pun.

Kekayaan terbesar bukanlah memiliki Rp14,8 miliar.

Kekayaan terbesar adalah masih memiliki waktu untuk memperbaiki kesalahan sebelum orang yang kita cintai benar-benar pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang