Aku sengaja menyebut angka Rp14,8 miliar sambil tersenyum.
Bukan karena aku bahagia.
Aku hanya ingin melihat siapa yang pertama kali berubah.
Dan ternyata aku tidak perlu menunggu lama.
Mata Maya yang tadi penuh kemarahan langsung membesar. Ibu berhenti menangis seolah air matanya memiliki tombol. Bahkan tangannya yang sejak tadi menutupi gelang milik Nadia perlahan turun.
“Empat belas koma delapan miliar?” ulang Maya.
Aku mengangguk.

“Setelah pajak dan biaya pengacara.”
Ibu mendekat. Suaranya mendadak lembut.
“Alhamdulillah. Berarti semua pengorbananmu di Korea akhirnya terbayar.”
Aku hampir tertawa.
Lima menit lalu perempuan yang sama sedang menjelaskan mengapa istriku pantas tidur di gudang.
Sekarang ia berbicara tentang pengorbananku.
Nadia menarik lenganku.
“Mas, rumah sakit.”
Aku langsung tersadar.
Aku merangkul pinggangnya.
“Iya. Kita berangkat sekarang.”
“Aku ikut,” kata Ibu cepat.
“Tidak perlu.”
“Tapi Nadia sakit. Ibu tahu riwayat pengobatannya.”
Aku menatapnya.
“Kalau Ibu benar-benar tahu, seharusnya Nadia tidak sampai seperti ini.”
Wajahnya menegang.
Aku membawa Nadia keluar melalui pintu depan. Ketika melewati ruang tengah, aku semakin memahami ke mana uangku pergi.
Sofa kulit baru.
Televisi besar.
Meja makan marmer.
Pendingin ruangan di hampir setiap kamar.
Di dinding bahkan tergantung foto Maya saat pembukaan salon kecantikannya.
Tidak ada satu pun foto Nadia.
Di mobil sewaan yang kupanggil, Nadia duduk bersandar di bahuku. Lima menit pertama ia diam.
Kemudian ia berbisik, “Maaf.”
Aku menoleh.
“Untuk apa?”
“Mas baru pulang, malah langsung begini.”
Aku menggenggam tangannya.
“Jangan minta maaf.”
“Tapi aku seharusnya lebih kuat.”
Aku menahan napas.
“Nad, dengarkan aku. Yang seharusnya minta maaf itu aku.”
Dia menggeleng.
“Aku yang meninggalkanmu.”
“Mas bekerja.”
“Aku yang menyerahkan semua uang kepada Ibu tanpa pernah memeriksa.”
“Mas percaya keluarga sendiri.”
“Dan kepercayaan itu hampir membunuh istriku.”
Nadia terdiam.
Aku memandang keluar jendela agar dia tidak melihat mataku mulai panas.
Di rumah sakit, dokter jaga langsung memerintahkan pemeriksaan darah, infus, dan beberapa pemeriksaan lanjutan setelah melihat kondisinya.
Aku duduk di lorong hampir tiga jam.
Pukul sebelas malam seorang dokter bernama dr. Reza memanggilku.
“Keluarga Ibu Nadia?”
“Suaminya.”
Dia membuka berkas.
“Kondisinya mengalami anemia cukup berat dan malnutrisi. Dari riwayat sebelumnya, beliau seharusnya menjalani evaluasi lanjutan setelah kemoterapi ketiga.”
“Apakah masih bisa diobati?”
Dokter itu tidak memberikan janji palsu.
“Kita harus melakukan pemeriksaan lengkap dulu. Tapi keterlambatan beberapa bulan jelas bukan sesuatu yang kami inginkan.”
Aku menelan ludah.
“Lakukan apa pun yang diperlukan.”
Dia mengangguk.
“Besok kami akan koordinasikan dengan dokter onkologi.”
Saat aku kembali ke kamar, Nadia sudah tertidur.
Ponselku penuh pesan.
Ibu.
Maya.
Ibu lagi.
Lalu Maya.
Pesan terakhir membuatku tersenyum.
Kak, besok kita bicara soal uang kompensasi itu. Jangan mengambil keputusan sendiri. Kita keluarga.
Aku mematikan layar.
Pagi berikutnya aku melakukan dua hal.
Pertama, memindahkan Nadia ke kamar perawatan yang lebih nyaman setelah dokter menyatakan kondisinya cukup stabil.
Kedua, menghubungi seseorang bernama Bima.
Bima adalah teman SMA-ku yang sekarang bekerja sebagai pengacara di Surabaya.
Aku menceritakan semuanya.
Dia terdiam cukup lama.
“Rekening tempat kirimanmu masuk masih atas nama ibumu?”
“Iya.”
“Bukti transfer?”
“Lengkap.”
“Pesan tentang tujuan uang?”
“Ada sebagian. Transfer besar biasanya aku kasih keterangan.”
“Bagus. Jangan konfrontasi mereka dulu.”
“Aku sudah bilang soal Rp14,8 miliar.”
Bima mendesah.
“Kenapa?”
“Umpan.”
Beberapa detik kemudian dia tertawa pendek.
“Kamu memang masih gila.”
“Bisa bantu?”
“Bisa.”
Selama dua hari berikutnya, aku tidak pulang ke rumah.
Anehnya, Ibu dan Maya tidak banyak bertanya mengenai kondisi Nadia.
Mereka justru terus menanyakan kapan aku akan menerima uang kompensasi.
Aku menjawab bahwa proses pencairan sedang dilakukan.
Itu bohong.
Uang kompensasi memang ada, tetapi bukan Rp14,8 miliar.
Setahun sebelumnya aku mengalami kecelakaan ketika sebuah komponen mesin terlepas dan melukai tangan kiriku. Perusahaan memberikan kompensasi, tetapi jumlah bersih yang kuterima sekitar Rp1,2 miliar.
Angka Rp14,8 miliar adalah angka yang sengaja kubuat.
Dan keserakahan bekerja lebih cepat daripada dugaanku.
Hari ketiga, Maya mengirim foto sebuah ruko.
Kak, kalau kita beli ini, salon bisa jadi tiga lantai. Investasi keluarga.
Dua jam kemudian Ibu mengirim brosur perumahan.
Ada rumah bagus di daerah Surabaya Barat. Nanti kalau kamu pulang permanen, kita semua bisa tinggal nyaman.
Aku membalas singkat.
Nanti kita bicarakan.
Mereka tidak tahu Bima sudah membantu mengumpulkan mutasi rekening empat tahun terakhir.
Hasilnya membuatku hampir muntah.
Total uang yang kukirim selama bekerja di Korea lebih dari Rp1,4 miliar.
Sebagian memang digunakan untuk renovasi rumah dan kebutuhan sehari-hari.
Namun ratusan juta rupiah mengalir ke rekening Maya.
Ada pembayaran uang muka SUV.
Modal salon.
Pembelian perhiasan.
Liburan ke Bali.
Bahkan cicilan ponsel mahal.
Sementara dari catatan rumah sakit, biaya pengobatan Nadia yang benar-benar dibayar keluarga tidak sampai sepersepuluh dari jumlah yang mereka gunakan untuk gaya hidup.
Yang lebih buruk ditemukan Bima dari percakapan lama Nadia dengan seorang tetangga bernama Bu Sari.
Nadia pernah meminjam uang Rp3 juta untuk pemeriksaan.
Ibu mengetahuinya.
Malam itu Nadia dipaksa menyerahkan ponselnya karena dianggap mempermalukan keluarga.
Aku membaca pesan terakhir Nadia kepada Bu Sari berulang kali.
Kalau suatu hari Arga pulang dan aku sudah tidak ada, tolong bilang aku tidak pernah menyalahkan dia.
Tanganku gemetar begitu keras sampai ponsel hampir jatuh.
Hari kelima, dokter memberi kabar yang sedikit membuatku bernapas.
Penyakit Nadia memang berkembang, tetapi masih ada opsi terapi. Kondisinya harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum pengobatan berikutnya.
Aku duduk di samping tempat tidurnya.
“Kita lanjut.”
Nadia menatapku.
“Biayanya pasti besar.”
“Jangan pikirkan biaya.”
“Aku tidak mau Mas kehilangan semua hasil kerja.”
Aku tersenyum.
“Aku bekerja empat tahun untuk masa depan kita. Kalau uang itu tidak bisa dipakai mempertahankan kamu dalam masa depan itu, buat apa?”
Dia menutup wajah dan menangis.
Seminggu setelah kepulanganku, aku mengajak Ibu dan Maya bertemu di rumah.
Nadia tetap di rumah sakit.
Bima datang lebih dulu dan menunggu di kamar depan.
Aku duduk di meja makan.
Ibu mengenakan gelang Nadia lagi.
Maya datang membawa map.
“Apa itu?”
“Proposal.”
Aku hampir kagum.
Dia benar-benar membuat proposal bisnis.
“Aku sudah hitung,” katanya antusias. “Dengan dua miliar kita bisa buka tiga cabang. Kakak jadi pemegang saham utama.”
Ibu tersenyum.
“Kalau Ibu tidak minta banyak. Cukup rumah baru supaya keluarga kita punya aset.”
Aku menyandarkan tubuh.
“Kalau uangnya belum cair?”
Maya langsung terlihat kecewa.
“Kapan?”
“Mungkin tidak pernah.”
Senyumnya hilang.
“Maksudnya?”
“Karena uang Rp14,8 miliar itu tidak ada.”
Ruangan menjadi sunyi.
Ibu mengerutkan dahi.
“Kamu bilang perusahaan membayar.”
“Mereka memang membayar kompensasi. Tapi bukan sebanyak itu.”
Maya membanting map ke meja.
“Kakak bohong?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin tahu berapa cepat kalian melupakan Nadia begitu mendengar angka besar.”
Ibu berdiri.
“Jangan kurang ajar kepada Ibu.”
Aku mengeluarkan setumpuk kertas.
“Ini mutasi rekening.”
Wajahnya berubah.
“Ini transfer ke Maya.”
Kutaruh lembar kedua.
“Ini pembayaran mobil.”
Lembar ketiga.
“Ini salon.”
Lembar berikutnya.
“Perhiasan.”
Aku menatap gelang di tangannya.
“Termasuk barang yang bukan milik Ibu.”
Ibu buru-buru melepas gelang itu.
“Kamu mau memperkarakan ibu kandungmu sendiri?”
“Aku belum selesai.”
Bima keluar dari kamar.
Maya pucat.
“Siapa dia?”
“Pengacaraku.”
Ibu langsung duduk.
Aku menjelaskan bahwa seluruh bukti penggunaan uang, penguasaan barang milik Nadia, catatan medis, serta kesaksian mengenai perlakuan terhadap Nadia sudah dikumpulkan.
Maya mulai menangis.
“Kak, aku memang pakai uang, tapi Ibu bilang Kakak setuju!”
Ibu menoleh tajam.
“Maya!”
“Apa? Ibu yang bilang uang kiriman Kak Arga boleh dipakai!”
“Diam!”
Mereka mulai saling menyalahkan.
Aku hanya menonton.
Umpannya akhirnya bekerja sempurna.
Namun kemudian Maya mengatakan sesuatu yang bahkan tidak kuketahui.
“Aku cuma mengikuti Ibu! Ibu juga yang suruh Nadia mencukur rambutnya!”
Aku berdiri.
“Apa?”
Maya menutup mulut.
Ibu memucat.
“Dia sudah kehilangan sebagian rambut karena kemoterapi,” kata Maya terbata-bata. “Ibu bilang daripada rambutnya berjatuhan dan bikin rumah kotor, sekalian dicukur.”
Aku merasa ruangan berputar.
“Siapa yang mencukurnya?”
Maya tidak menjawab.
Aku menatap Ibu.
“Ibu?”
Ia menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, aku benar-benar kehilangan kata-kata.
Aku tidak berteriak.
Tidak membanting meja.
Aku hanya mengambil gelang Nadia dan memasukkannya ke saku.
“Mulai hari ini, rumah ini bukan lagi tempat tinggalku.”
Ibu menangis.
“Arga…”
“Dan bukan tempat tinggal Nadia.”
“Kamu mau meninggalkan ibu sendiri?”
Aku memandang Maya.
“Ibu punya anak yang salon dan mobilnya kubiayai. Seharusnya dia bisa merawat Ibu.”
Maya langsung menoleh.
“Kok jadi aku?”
Aku tersenyum pahit.
Itulah keluarga yang selama ini kubiayai.
Ketika ada uang, semuanya milik bersama.
Ketika ada tanggung jawab, semua mencari pintu keluar.
Aku tidak mengambil rumah itu.
Rumah tersebut warisan ayah dan secara hukum masih memiliki persoalan kepemilikan yang harus diselesaikan bersama.
Aku hanya berhenti menjadi mesin ATM.
SUV akhirnya dijual oleh Maya beberapa bulan kemudian karena cicilannya tidak mampu ia bayar.
Salonnya bertahan, tetapi dia harus mengurusnya tanpa uang dariku.
Bima membantuku menempuh langkah hukum yang diperlukan terkait aset dan uang, tetapi aku tidak menjadikan balas dendam sebagai pusat hidupku.
Aku sudah kehilangan empat tahun.
Aku tidak mau kehilangan tahun berikutnya hanya untuk membenci mereka.
Fokusku adalah Nadia.
Aku menyewa sebuah rumah kecil dekat Surabaya agar akses ke rumah sakit lebih mudah.
Tidak mewah.
Hanya dua kamar.
Ada halaman kecil di depan.
Nadia menyukainya.
“Lebih kecil daripada rumah Ibu,” katanya suatu sore.
“Tapi?”
Dia tersenyum.
“Rasanya lebih luas.”
Aku mengerti maksudnya.
Beberapa bulan kemudian rambutnya mulai tumbuh tipis.
Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tetapi berat badannya naik perlahan. Pengobatan tidak selalu berjalan mulus. Ada hari ketika ia muntah berjam-jam. Ada malam ketika aku tidur di lantai rumah sakit sambil memegang tangannya.
Aku tidak kembali ke Korea.
Aku menggunakan sebagian tabunganku dan kompensasi yang sebenarnya untuk membuka bengkel kecil bersama teman lama.
Namanya sederhana.
Bengkel Nadi.
Nadia yang memilih.
“Kenapa Nadi?”
“Karena selama masih ada nadi, kita belum selesai.”
Setahun setelah hari kepulanganku, kami kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan.
Aku duduk di luar ruangan sambil menggoyangkan kaki tanpa henti.
Ketika Nadia keluar, wajahnya sulit dibaca.
Aku berdiri.
“Bagaimana?”
Dia berjalan mendekat.
Kemudian menyerahkan hasil pemeriksaan.
Aku tidak memahami sebagian besar istilah medisnya.
“Dokternya bilang apa?”
Nadia menatapku.
Matanya mulai basah.
Aku langsung takut.
“Nad?”
Dia memelukku.
“Respons terapinya sangat baik, Mas.”
Aku membeku.
“Artinya?”
“Artinya kita punya waktu.”
Aku memeluknya sekuat yang kubisa tanpa menyakitinya.
Di lorong rumah sakit itu, aku akhirnya menangis seperti anak kecil.
Bukan karena Rp14,8 miliar.
Bukan karena rumah.
Bukan karena uang yang hilang.
Aku menangis karena akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama.
Selama empat tahun aku mengira tugasku sebagai suami adalah mengirim uang sebanyak mungkin.
Aku mengira cinta bisa ditransfer setiap tanggal gajian.
Aku mengira menyediakan rumah sama dengan menyediakan rasa aman.
Ternyata tidak.
Beberapa hari kemudian, sebuah paket datang ke rumah.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada kotak kecil.
Gelang emas berbentuk daun milik Nadia.
Aku menatap gelang itu cukup lama sebelum membawanya ke kamar.
“Nad.”
Dia sedang menyisir rambutnya yang kini sudah tumbuh beberapa sentimeter.
Aku menyerahkan kotak itu.
Nadia membukanya.
Wajahnya berubah.
“Ibu?”
“Mungkin.”
Dia tidak langsung memakainya.
Sebaliknya, Nadia menutup kotak itu dan meletakkannya di meja.
“Mas tahu sesuatu?”
“Apa?”
“Dulu aku pikir kalau gelang ini kembali, semuanya akan terasa adil.”
“Sekarang?”
Dia melihat pantulan dirinya di cermin.
Perempuan di sana masih kurus. Rambutnya pendek. Ada bekas luka dan perjalanan panjang yang tidak bisa dihapus oleh emas apa pun.
Namun matanya sudah berbeda.
Hidup.
“Sekarang aku tidak membutuhkannya untuk merasa menang.”
Aku berdiri di belakangnya dan memegang kedua bahunya.
Nadia tersenyum melalui cermin.
“Karena ternyata yang paling mahal bukan gelang ini.”
“Lalu?”
Dia menggenggam tanganku.
“Kesempatan kedua.”
Aku tidak pernah tahu apakah Rp14,8 miliar akan benar-benar membuat hidup kami bahagia.
Uang sebesar apa pun mungkin bisa membeli rumah, mobil, salon, perhiasan, bahkan perawatan terbaik.
Tetapi pada hari aku pulang diam-diam dari Korea, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada semua itu.
Aku hampir kehilangan perempuan yang menungguku selama empat tahun hanya karena aku terlalu sibuk membangun masa depan sampai lupa memastikan orang yang kucintai masih baik-baik saja di dalamnya.
Sejak hari itu, setiap kali seseorang bertanya mengapa aku meninggalkan pekerjaan bergaji besar di Korea dan memilih bengkel kecil yang membuat tanganku kembali kotor oleh oli, jawabanku selalu sama.
Karena dulu aku pergi jauh untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Ternyata kehidupan itu selama ini sedang menungguku pulang.
