Aku terkapar, napas tertahan di tenggorokan. Rasa sakit yang tajam di tulang rusukku terasa seperti seribu jarum yang menusuk bersamaan. Suara langkah kaki mereka menjauh, samar-samar terdengar di antara desau angin pegunungan Benguet yang dingin.
Renato berbisik nyaris tak terdengar, tepat di samping telingaku. “Alatnya… alatnya masih menyala, Lourdes. Rekamannya tersambung ke penyimpanan awan (cloud) yang tidak akan bisa mereka hapus. Mereka sudah masuk perangkap.”
Aku menangis tanpa suara. Air mataku bercampur dengan darah yang mengalir dari pelipisku. Namun, di balik rasa pedih itu, muncul api kemarahan yang membakar lebih hebat daripada luka di tubuhku. Kami tidak boleh mati di sini. Kami harus hidup untuk memastikan iblis berwajah malaikat itu mendapatkan balasan setimpal.
Kami diselamatkan oleh tim SAR enam jam kemudian, setelah sebuah sinyal darurat otomatis yang Renato pasang di dalam jaketnya mengirimkan koordinat GPS ke ponsel sepupuku yang bekerja di kepolisian. Kami dirawat secara intensif. Selama tiga minggu di rumah sakit, Maribel datang setiap hari. Dia berperan sebagai anak yang berduka, menangis di bahu kami, bahkan memegang tangan kami dengan kasih sayang yang palsu.

“Syukurlah kalian selamat,” isaknya. “Tuhan benar-benar melindungi kalian dari kecelakaan tragis itu.”
Aku hanya bisa menatapnya kosong. Di balik topeng kesedihanku, aku melihat seorang wanita yang sedang menunggu sisa-sisa “kematian” kami yang tertunda. Dia tidak tahu bahwa rekaman itu telah dikirimkan ke pengacara kami dan ke meja kepolisian.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Kami mengadakan pertemuan keluarga di ruang tengah rumah kami, tepat sebulan setelah kejadian. Maribel dan Ramil hadir dengan wajah yang tampak lelah, namun sorot mata mereka berbinar penuh keserakahan. Mereka pikir, dengan luka-luka yang masih kami derita, kami akan menyerah dan menandatangani surat pengalihan aset.
“Ma, Pa,” ujar Ramil membuka pembicaraan. “Untuk menjamin masa depan kalian setelah kecelakaan ini, sebaiknya kami mengurus semua aset kalian. Agar kalian bisa beristirahat total.”
Aku berdiri dengan bantuan tongkat, mendekati meja. Di atasnya, aku menaruh sebuah tablet.
“Maribel,” suaraku serak namun tegas. “Ingatkah kau pada malam saat Carlo pergi?”
Wajahnya berubah pucat pasi. “Kenapa… kenapa bertanya begitu, Ma?”
“Renato tidak hanya menyimpan alat perekam di sakunya hari itu,” kataku tenang. “Selama dua puluh tahun, kami sudah curiga. Namun, kami butuh bukti yang tidak bisa kau bantah.”
Aku menekan tombol play pada tablet itu.
Suara jurang itu bergema di dalam ruangan. Suara Ramil yang bertanya, “Apa kau yakin mereka sudah mati?” dan jawaban dingin Maribel yang menghancurkan hatiku selamanya: “Jika belum, aku akan turun ke bawah dan menghabisi mereka.”
Ruangan hening. Ramil tersentak, wajahnya kehilangan semua warna. Maribel membeku, matanya terbelalak melihat kami berdua yang berdiri tegak, tanpa keraguan sedikit pun.
“Itu… itu tidak mungkin,” bisiknya gemetar.
“Bukan hanya rekaman itu, Maribel,” potong Renato dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan. “Kami tahu tentang hutang lima juta peso-mu. Kami tahu tentang tanda tangan palsu itu. Dan polisi sudah ada di luar.”
Tepat saat itu, pintu depan didobrak. Seragam polisi menyambut mereka. Namun, di tengah kekacauan itu, Maribel tidak menunjukkan penyesalan. Dia tertawa—sebuah tawa melengking yang mengerikan.
“Kalian pikir kalian menang?” teriaknya saat diborgol. “Kalian hanyalah orang tua bodoh yang mencintai anak yang sudah mati lebih dari anak yang hidup! Carlo itu bodoh! Dia pantas mati karena dia ingin menghancurkan mimpiku!”
Aku merasa jantungku seolah berhenti. Bukan karena kejahatannya, tapi karena ketiadaan nurani di matanya. Saat dia diseret keluar, dia menatapku dengan kebencian yang murni. “Aku tidak menyesal! Harusnya aku memastikan kalian benar-benar hancur hari itu!”
Tiga bulan berlalu. Maribel dan Ramil mendekam di penjara, menunggu vonis atas percobaan pembunuhan dan penipuan.
Namun, kejutan sebenarnya datang di hari terakhir persidangan.
Seorang pria muda mengetuk pintu rumah kami. Dia tinggi, memiliki sorot mata yang familiar, dan membawa sebuah tas lusuh. Dia mengaku sebagai saksi kunci, tapi lebih dari itu, dia adalah seseorang yang selama ini kami kira sudah menjadi abu di dasar jurang.
Dia adalah Carlo.
Dia tidak mati malam itu. Dia selamat karena tertahan di semak-semak, dan karena trauma hebat serta ketakutan akan adiknya, dia melarikan diri, mengganti identitasnya, dan membangun hidup baru di jauh di selatan. Dia telah mengawasi kami dari jauh selama bertahun-tahun, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam pada Maribel, sampai akhirnya dia melihat berita tentang kecelakaan kami.
“Aku takut kembali,” ucapnya sambil menangis di pelukan kami. “Aku takut jika aku kembali, Maribel akan membunuhku dengan cara lain.”
Kami duduk di teras, rumah yang dulu terasa dingin kini terasa hangat kembali. Namun, ada satu hal yang terus mengganjal pikiranku.
Malam itu, setelah Carlo pergi untuk beristirahat, Renato memanggilku ke ruang kerjanya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berbeda dari kotak besi sebelumnya.
“Ada satu hal lagi, Lourdes,” bisiknya.
Dia membuka kotak itu, dan di dalamnya ada sebuah catatan bank dari luar negeri—bukan dari rekening kami. Itu adalah catatan investasi besar atas nama Maribel, yang nilainya sepuluh kali lipat dari seluruh harta kami. Dan yang paling mengejutkan, ada sebuah surat wasiat atas nama orang lain yang tidak kami kenal.
“Maribel tidak hanya mengincar harta kita,” kata Renato. “Dia sudah lama beroperasi sebagai sindikat penipuan asuransi jiwa. Dia telah membunuh setidaknya tiga orang lain sebelum mencoba membunuh kita, hanya untuk uang.”
Aku terduduk lemas. Putri kami bukanlah sekadar anak yang serakah; dia adalah predator yang menyamar di keluarga kami sendiri selama dua dekade.
Kini, setiap kali aku memandang ke arah pegunungan dari jendela, aku tidak lagi merasa takut. Maribel ada di penjara, dan Carlo telah kembali. Namun, setiap malam, aku masih sering terbangun, bertanya-tanya: apakah iblis seperti dia benar-benar bisa berhenti, atau apakah ada sesuatu yang lebih besar yang menunggu kami di luar sana?
Satu hal yang pasti: kami tidak lagi berpura-pura. Kami sudah bangkit dari “kematian” kami, dan kali ini, kamilah yang memegang kendali atas akhir cerita ini.
Apakah menurutmu, setelah semua pengkhianatan dan kebenaran yang terungkap ini, kami seharusnya merasa lega, atau apakah justru ada bahaya baru yang lebih besar yang mungkin datang karena keterlibatan Maribel dalam sindikat tersebut?
