Pesan terakhir itu membuat rasa sakit di tulang rusukku seolah menghilang selama beberapa detik.
Lena, tetap merunduk. Aku sudah di depan rumah.
Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.
Aku tidak pernah memberitahunya namaku.
Dari luar kamar mandi terdengar suara benda jatuh, disusul langkah kaki cepat menuju ruang depan.

Untuk pertama kalinya malam itu, Damar terdengar panik.
“Siapa di luar?”
Tak ada jawaban.
Aku menahan napas.
Kemudian terdengar suara pintu depan dibuka paksa.
“Polisi! Jangan bergerak!”
Teriakan itu disusul suara gaduh. Ada benturan keras, makian Damar, lalu beberapa langkah kaki berlari melintasi ruang tamu.
Aku merunduk di samping bak mandi seperti yang diperintahkan orang asing itu.
Ponselku kembali bergetar.
“Jangan keluar. Belum aman.”
Beberapa detik kemudian terdengar suara laki-laki dari balik pintu.
“Lena?”
Aku menggigit bibir.
Suara itu tenang. Berat. Sama sekali tidak kukenal.
“Siapa kamu?”
“Orang yang menerima pesanmu.”
Aku semakin mencengkeram ponsel.
“Bagaimana kamu tahu namaku?”
Hening sebentar.
“Nanti aku jelaskan. Sekarang dengarkan aku. Polisi sudah mengamankan Damar. Ada paramedis di luar. Bisa buka pintunya?”
Aku tidak langsung bergerak.
Setelah hampir dua tahun hidup bersama Damar, aku sudah belajar bahwa kata aman tidak selalu berarti aman.
“Buktikan.”
“Apa?”
“Buktikan Damar sudah diamankan.”
Laki-laki itu tidak memaksa.
Beberapa detik kemudian terdengar suara perempuan.
“Mbak Lena, saya Ipda Rani dari Polres. Pelaku sudah kami amankan. Kalau Mbak belum nyaman membuka pintu, tidak apa-apa. Kami tunggu.”
Barulah tangisku pecah.
Aku merangkak menuju pintu.
Saat kunci terbuka, tubuhku hampir langsung roboh.
Seorang polisi perempuan menangkap bahuku. Dua paramedis masuk membawa perlengkapan medis.
Namun mataku justru tertuju kepada laki-laki yang berdiri beberapa meter di belakang mereka.
Usianya sekitar tiga puluh lima tahun. Kemeja hitamnya kusut, rambutnya sedikit basah oleh hujan, dan ada bekas luka tipis di dekat alis kirinya.
Dia menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Bukan rasa ingin tahu.
Bukan iba.
Seolah-olah dia sudah mengenalku sejak lama.
“Siapa kamu?” tanyaku.
Laki-laki itu tidak menjawab.
Paramedis memasang penyangga leher dan membawaku keluar.
Ketika melewati ruang tamu, aku melihat Damar dalam keadaan diborgol.
Wajahnya berubah begitu melihat laki-laki berkemeja hitam itu.
Bukan marah.
Takut.
“Kamu?”
Laki-laki itu menatapnya dingin.
Damar mendadak berusaha berdiri.
“Kamu seharusnya sudah mati!”
Semua orang terdiam.
Aku menoleh.
Laki-laki itu tetap berdiri tanpa bergerak.
“Sayangnya tidak,” jawabnya.
Setelah itu semuanya menjadi kabur.
Lampu ambulans.
Suara hujan.
Oksigen menutupi hidungku.
Kemudian gelap.
Aku sadar di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan.
Dokter mengatakan dua tulang rusukku retak, bukan patah total. Ada memar di paru-paru, luka di kepala, serta berbagai bekas cedera lama yang membuat dokter menatapku sedikit terlalu lama.
Aku tahu apa yang dipikirkannya.
Ini bukan pertama kalinya.
Memang bukan.
Damar tidak selalu seperti itu.
Ketika kami menikah tiga tahun lalu, dia adalah laki-laki yang akan menyeberang jalan hanya untuk membelikanku es kopi kesukaanku. Dia mengingat ulang tahun ibuku. Dia selalu mengantarku bekerja.
Perubahan itu datang perlahan.
Pertama, dia memeriksa ponselku.
Kemudian melarangku bertemu teman-temanku.
Setelah itu dia mulai mengatakan pekerjaanku membuatku terlalu mandiri.
Aku berhenti bekerja.
Lalu datang dorongan pertama.
Permintaan maaf pertama.
Tamparan pertama.
Bunga pertama setelah kekerasan.
Siklus itu terus berulang sampai aku hampir lupa seperti apa diriku sebelum menikah dengannya.
Maya adalah satu-satunya teman yang masih diam-diam kuhubungi.
Itulah sebabnya malam itu aku mencoba mengirim pesan kepadanya.
Pintu kamar rumah sakit terbuka.
Ipda Rani masuk bersama laki-laki berkemeja hitam tadi.
Sekarang dia sudah berganti pakaian.
“Nama saya Arga Pratama,” katanya.
Aku menatapnya.
“Bagaimana kamu tahu namaku?”
Arga menarik kursi, tetapi tidak duduk sebelum aku mengangguk.
“Nomor yang kamu kirimi pesan dulu milik seseorang bernama Nadine.”
Aku mengerutkan kening.
Nama itu asing.
“Siapa Nadine?”
Arga menatap lantai beberapa detik.
“Adik saya.”
Ada sesuatu dalam cara dia mengucapkan dua kata itu yang membuat ruangan terasa lebih dingin.
“Dia meninggal empat tahun lalu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Nomornya tidak pernah saya nonaktifkan,” lanjut Arga. “Saya pindahkan ke ponsel cadangan. Bodoh memang. Tapi kadang saya masih mengirim pesan ke nomor itu.”
Dadaku terasa sesak karena alasan yang berbeda.
“Jadi pesan saya masuk ke nomor adikmu?”
Arga mengangguk.
“Tapi itu belum menjelaskan bagaimana kamu tahu nama saya.”
Kali ini Ipda Rani dan Arga saling pandang.
Arga mengeluarkan ponselnya.
“Karena saya pernah melihat foto kamu.”
Dia menunjukkan sebuah foto lama.
Darahku serasa berhenti mengalir.
Di foto itu ada Damar.
Lebih muda beberapa tahun.
Tangannya merangkul seorang perempuan berambut sebahu.
Nadine.
“Aku tidak mengerti.”
Arga menggeser layar.
Foto berikutnya memperlihatkan Damar dan Nadine di sebuah restoran.
Foto lain di sebuah pantai.
Kemudian tangkapan layar percakapan.
Pesan ancaman.
Permintaan maaf.
Ancaman lagi.
Aku mulai merasa mual.
“Damar adalah pacar Nadine,” kata Arga.
Aku menatapnya.
“Tidak mungkin.”
“Hubungan mereka berakhir enam bulan sebelum Nadine meninggal.”
“Bagaimana dia meninggal?”
Arga terdiam cukup lama hingga aku sudah mengetahui jawabannya sebelum dia mengatakannya.
“Jatuh dari balkon apartemennya.”
Tanganku menjadi dingin.
“Polisi menyimpulkan bunuh diri. Damar mengatakan Nadine depresi setelah mereka putus.”
Ipda Rani kemudian meletakkan sebuah map di meja.
“Kasus itu sedang kami buka kembali.”
Aku memandang mereka bergantian.
“Kenapa?”
Arga menjawab, “Karena pola kekerasan yang kamu alami hampir sama dengan yang Nadine tulis di catatan pribadinya.”
Aku ingin menyangkal semuanya.
Namun kemudian aku teringat ucapan Damar ketika melihat Arga.
Kamu seharusnya sudah mati.
“Apa maksud Damar tadi malam?”
Rahang Arga mengeras.
“Dua tahun lalu saya mengalami kecelakaan. Rem mobil saya gagal ketika turun dari kawasan Puncak.”
“Damar?”
“Kami tidak pernah punya bukti.”
Aku memejamkan mata.
Selama ini aku mengira hidup bersama seorang pria pemarah.
Sekarang aku mulai memahami kemungkinan bahwa aku hidup bersama seseorang yang jauh lebih berbahaya.
“Kenapa polisi bisa datang secepat itu?”
Arga menarik napas.
“Rumahmu hanya sekitar tujuh menit dari tempat saya berada. Setelah membaca pesanmu, saya menghubungi polisi dalam perjalanan. Saya kenal Rani karena dia dulu ikut menangani kasus Nadine.”
“Tapi namaku?”
Arga membuka percakapan lama di ponselnya.
Ada sebuah foto.
Foto pernikahanku.
Damar dan aku berdiri di pelaminan.
Foto itu dikirim dari nomor Nadine hampir tiga tahun lalu.
Padahal Nadine sudah meninggal empat tahun lalu.
Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.
Namanya Lena. Kalau sesuatu terjadi padanya, jangan percaya Damar.
Aku merasa seluruh ruangan berputar.
“Siapa yang mengirim ini?”
“Itulah yang selama tiga tahun ingin saya ketahui.”
Polisi memeriksa nomor tersebut, tetapi tidak menemukan jawaban. Kartu SIM pernah aktif sebentar dari sebuah perangkat lama lalu mati lagi.
Aku pulang dari rumah sakit empat hari kemudian.
Damar ditahan atas kasus kekerasan dalam rumah tangga, tetapi penyelidikan kematian Nadine masih berlangsung.
Aku tinggal sementara bersama Maya.
Seminggu kemudian aku memberanikan diri kembali ke rumah bersama polisi untuk mengambil barang-barangku.
Rumah itu terasa berbeda.
Aku masuk ke kamar kerja Damar.
Selama menikah, ruangan itu selalu dikunci.
Polisi sudah memeriksanya, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan selain dokumen pekerjaan.
Aku mengambil beberapa berkas milikku dari lemari.
Ketika menarik laci paling bawah, laci itu macet.
Aku menarik lebih keras.
Bagian belakangnya terlepas.
Sebuah ponsel lama jatuh ke lantai.
Aku memungutnya.
Baterainya sudah habis.
Polisi membawanya sebagai barang bukti.
Dua hari kemudian Ipda Rani meneleponku.
“Lena, kamu harus datang.”
Di kantor polisi, ponsel itu sudah berhasil dinyalakan.
Di dalamnya terdapat foto, rekaman suara, dan percakapan lama.
Salah satunya adalah video Nadine.
Dia duduk di sebuah kamar, wajahnya memar.
“Kalau kalian menemukan video ini,” katanya dengan suara gemetar, “berarti sesuatu sudah terjadi pada saya.”
Aku menutup mulut.
Nadine kemudian menyebut nama Damar.
Dia menceritakan kekerasan, ancaman, dan bagaimana Damar beberapa kali berkata bahwa tak seorang pun akan mempercayainya.
Namun bagian terakhir video itu membuat semua orang terdiam.
“Saya sudah mengirim seluruh bukti kepada seseorang yang saya percaya. Namanya Sari.”
Aku menoleh kepada Rani.
“Sari siapa?”
Polisi menemukannya tiga hari kemudian.
Sari ternyata mantan asisten rumah tangga keluarga Damar.
Dia mengaku menemukan Nadine masih hidup setelah jatuh dari balkon.
Nadine sempat mengatakan satu kalimat kepadanya sebelum kehilangan kesadaran.
“Damar mendorong saya.”
Sari ketakutan.
Keluarga Damar membayarnya agar diam dan mengancam anaknya.
Sebelum menghilang ke kampung halamannya di Jawa Tengah, Sari mengambil ponsel Nadine yang tertinggal.
Bertahun-tahun kemudian, ketika mengetahui Damar menikah lagi, dia mencari informasi tentangku melalui media sosial.
Dialah yang mengirim foto pernikahanku kepada Arga menggunakan nomor Nadine.
Peringatan yang tidak pernah dipahami Arga.
Kesaksian Sari, video Nadine, dan bukti digital akhirnya mengubah semuanya.
Damar tidak hanya diadili atas kekerasan terhadapku.
Kasus kematian Nadine dibuka kembali sebagai dugaan pembunuhan.
Beberapa bulan kemudian aku bertemu Arga di sebuah kedai kopi.
Untuk pertama kalinya kami bertemu tanpa polisi, rumah sakit, atau ketakutan.
“Ada satu hal yang masih menggangguku,” kataku.
“Apa?”
“Kalau malam itu aku tidak salah kirim pesan…”
Arga tersenyum tipis.
“Mungkin ceritanya berbeda.”
Aku menggeleng.
“Bukan itu.”
Aku membuka ponsel dan memperlihatkan pesan pertama yang kukirim malam itu.
Nomor tujuan berbeda satu digit dari nomor Maya.
Satu angka.
Hanya satu kesalahan kecil dari jari yang gemetar.
Arga menatap layar.
Aku tertawa pelan meski mataku mulai panas.
“Selama berbulan-bulan aku menganggap salah kirim itu kesalahan terbesar yang kulakukan malam itu.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku pikir itu mungkin kesalahan pertama dalam hidupku yang justru menyelamatkanku.”
Setahun kemudian aku kembali bekerja.
Aku menyewa apartemen kecil dan mulai mengikuti konseling.
Aku juga menjadi relawan di sebuah lembaga pendamping korban kekerasan domestik.
Kadang perempuan yang datang masih mengatakan hal yang dulu sering kukatakan kepada diriku sendiri.
Dia sebenarnya baik.
Dia hanya sedang stres.
Dia sudah berjanji tidak akan mengulanginya.
Pada saat seperti itu aku tidak pernah memaksa mereka.
Aku hanya mengatakan satu hal.
“Jangan menunggu sampai seseorang hampir mendobrak pintu untuk percaya bahwa kamu pantas diselamatkan.”
Nomor Nadine akhirnya dinonaktifkan.
Sebelum Arga melakukannya, dia mengirim satu pesan terakhir.
Terima kasih sudah menyelamatkan Lena.
Pesan itu tentu tidak pernah dibalas.
Namun beberapa menit sebelum nomor tersebut resmi ditutup, ponsel Arga menerima notifikasi aneh.
Sebuah pesan lama yang tertunda akhirnya masuk dari server operator.
Tanggal pengirimannya empat tahun sebelumnya.
Malam sebelum Nadine meninggal.
Pesan itu ditujukan kepada Arga.
Hanya terdiri dari dua kalimat.
Kalau suatu hari ada perempuan lain yang meminta bantuan melalui nomor ini, tolong percaya padanya.
Jangan sampai dia terlambat diselamatkan seperti aku.
