Malam itu, hujan turun deras di Jakarta ketika Ana tiba di sebuah restoran kecil di kawasan Menteng. Ia memilih meja paling sudut, jauh dari pengunjung lain. Sejak sore, perasaannya tidak tenang. Nada suara Isa di telepon terus terngiang di kepalanya, terutama saat pria itu menekankan kata mengabdikan.
Tepat pukul delapan, sebuah mobil hitam berhenti di depan restoran. Wildan turun lebih dahulu, lalu membantu Isa keluar dan duduk di kursi rodanya. Ana berdiri refleks ketika Isa mendekat.
“Tuan Isa.”

Isa tidak menjawab sapaan itu. Tatapannya berhenti pada wajah Ana, seolah sedang mencari sisa sentuhan Renan di sana.
“Duduk,” katanya datar.
Ana menuruti. Tangannya saling menggenggam di bawah meja.
“Saya ingin membicarakan pernikahan kita.”
“Pernikahan kita?” Isa tersenyum hambar. “Kukira itu hanya kontrak kerja selama satu tahun. Aku duduk di kursi roda, keluargaku membutuhkan perawat, lalu setelah tubuhku tak lagi berguna bagimu, kau akan mengajukan perceraian.”
Wajah Ana seketika pucat.
Isa mendengarnya.
“Tuan Isa, saya bisa menjelaskan.”
“Jelaskan bagian mana?” Isa mencondongkan tubuhnya. “Bagian ketika kau mengatakan tidak mencintaiku, atau bagian ketika kau meminta pria lain menunggumu selama setahun?”
Ana menahan napas. Ketakutan menyusup ke seluruh tubuhnya, tetapi kali ini ia memutuskan tidak akan berbohong lagi.
“Semua yang Tuan dengar memang benar.”
Wildan yang berdiri beberapa meter dari mereka memalingkan wajah. Ia tahu jawaban itu akan melukai Isa, tetapi Isa justru tertawa pelan.
“Setidaknya sekarang kau jujur.”
“Saya tidak ingin menikah dengan Tuan,” lanjut Ana dengan suara bergetar. “Namun saya juga tidak punya pilihan. Mama saya ditahan Singgih. Dia mengancam akan menyakiti Mama kalau saya membatalkan pernikahan.”
“Dan kau percaya dia akan membebaskan ibumu dua jam sebelum akad?”
“Saya harus percaya.”
“Tidak.” Suara Isa tiba-tiba meninggi. “Kau hanya terlalu takut untuk menerima bahwa dia sedang mempermainkanmu.”
Ana menggigit bibir. “Tuan tidak tahu apa pun tentang Singgih.”
“Aku tahu jauh lebih banyak daripada yang kau bayangkan.”
Isa memberi isyarat kepada Wildan. Pria itu mendekat dan meletakkan sebuah tablet di atas meja. Layar menampilkan rekaman kamera pengawas dari sebuah rumah tua. Di sana tampak seorang perempuan paruh baya duduk di ranjang, diawasi dua orang pria.
“Mama…” Ana menutup mulutnya.
Ia mengenali perempuan itu. Rambutnya lebih tipis, wajahnya terlihat lelah, tetapi tidak ada luka berat di tubuhnya.
“Beliau masih hidup,” kata Isa. “Orang-orangku menemukannya sore tadi di sebuah rumah kosong di Bekasi.”
Ana menoleh tajam. “Kenapa Tuan melakukan ini?”
“Karena aku tidak suka calon istriku datang ke altar karena ancaman.”
“Kalau begitu selamatkan Mama saya.”
“Aku akan melakukannya. Namun ada syarat.”
Ana menegang. “Syarat apa?”
“Pernikahan tetap dilaksanakan.”
Air muka Ana berubah. Ia mengira Isa akan membantunya tanpa meminta imbalan.
Isa menangkap kekecewaan itu. “Bukan karena aku membutuhkan perawat. Bukan pula karena aku ingin memaksamu menjadi istriku. Aku membutuhkan pernikahan itu untuk membuat Singgih keluar dari persembunyiannya.”
“Apa hubungan Tuan dengan Singgih?”
Isa belum sempat menjawab ketika ponsel Ana berdering. Nama Singgih muncul di layar.
Ana menatap Isa. Pria itu mengangguk dan meminta panggilan tersebut dinyalakan melalui pengeras suara.
“Ana,” suara Singgih terdengar kasar, “kamu di mana?”
“Saya sedang bekerja.”
“Jangan bohong. Orangku bilang kamu pergi dengan calon suamimu.”
Ana menelan ludah. “Saya hanya membicarakan persiapan pernikahan.”
“Bagus. Ingat, jangan mencoba macam-macam. Ibumu masih ada padaku.”
Ana memandang rekaman ibunya di tablet. Kebohongan Singgih semakin jelas.
“Saya ingin mendengar suara Mama.”
“Tidak perlu. Kamu akan bertemu dengannya pada hari pernikahan.”
Sambungan terputus.
Isa menatap layar ponsel itu dengan dingin. “Dia sudah panik. Artinya salah satu tempat persembunyiannya mulai diketahui.”
Ana menatap Isa lekat-lekat. “Siapa sebenarnya Tuan?”
Isa tidak langsung menjawab. Tangannya merogoh saku jas, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam.
Sebuah kancing.
Ana terpaku.
Bentuk dan ukirannya sama persis dengan kancing yang tersimpan di lokernya.
“Tuan…”
“Pria yang menolongmu malam itu bukan orang asing.”
Seluruh tubuh Ana membeku. Ia mengingat malam ketika Singgih dan dua anak buahnya mengejarnya di lorong gelap. Seorang pria bertopi menolongnya, menariknya masuk ke mobil, lalu mengantarnya ke depan rumah tanpa menyebutkan nama. Dalam perkelahian itu, satu kancing jas pria tersebut terlepas.
“Itu Tuan?”
Isa mengangguk.
“Tapi malam itu Anda bisa berdiri.”
Isa menatap kedua kakinya. “Aku masih bisa berdiri. Aku juga bisa berjalan beberapa langkah.”
Ana semakin bingung.
“Kursi roda ini bukan kebohongan sepenuhnya,” lanjut Isa. “Saraf di kaki kiriku mengalami kerusakan setelah kecelakaan dua tahun lalu. Aku bisa berjalan, tetapi belum stabil dan tidak untuk waktu lama.”
“Kenapa Tuan menyembunyikannya?”
“Karena seseorang ingin memastikan aku tetap lumpuh.”
Ana terdiam.
“Singgih adalah orang yang mengatur kecelakaan itu.”
Pengakuan tersebut membuat Ana tak mampu berkata-kata.
Isa kemudian menceritakan bahwa Singgih pernah menjadi orang kepercayaan ayahnya. Setelah perusahaan keluarga Isa berkembang, Singgih mulai menggelapkan dana dan menjual informasi kepada pesaing. Ketika ayah Isa mengetahui semuanya, Singgih merancang kecelakaan. Ayah Isa meninggal di tempat, sedangkan Isa selamat dengan cedera serius.
“Sejak saat itu dia mengira aku tidak berdaya,” kata Isa. “Aku membiarkannya percaya demikian sambil mengumpulkan bukti.”
“Lalu kenapa saya dilibatkan?”
“Karena ibumu menyimpan sesuatu yang dia inginkan.”
Ana menggeleng. “Mama hanya seorang penjahit.”
“Itu yang kau tahu.”
Isa mengambil sebuah amplop dari dalam tas Wildan. Di dalamnya ada salinan akta kelahiran dan foto lama. Ana menerima keduanya dengan tangan gemetar.
Di foto itu, ibunya berdiri di samping seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan ayah Isa. Mereka menggendong dua bayi perempuan.
“Salah satu bayi itu adalah Nadine,” kata Isa. “Yang satu lagi adalah kau.”
Ana menatapnya seolah dunia baru saja berhenti.
“Tidak mungkin.”
“Ibumu bekerja di rumah keluarga kami dua puluh enam tahun lalu. Ibu kandung Nadine meninggal setelah melahirkan. Ayahku meminta ibumu merawat Nadine bersama anak kandungnya sendiri. Namun beberapa bulan kemudian terjadi perebutan warisan. Demi melindungi kalian, ayahku memisahkan identitas kalian. Nadine dibesarkan sebagai bagian dari keluarga kami, sedangkan kau tetap bersama ibumu.”
“Apa maksud Tuan?” suara Ana hampir tidak terdengar.
Isa menarik napas panjang. “Kau dan Nadine adalah saudara seibu.”
Ana menatap foto itu lagi. Ia melihat kemiripan yang selama ini tidak pernah disadarinya. Bentuk mata, garis rahang, bahkan lesung kecil di pipi kiri.
“Tapi kenapa Nadine tidak pernah mengatakan apa pun?”
“Karena dia baru mengetahui semuanya tiga bulan lalu.”
Rasa sesak menjalar di dada Ana. Ia teringat bagaimana Nadine datang menawarkan pernikahan dengan Isa. Nadine mengatakan Isa adalah kakaknya yang membutuhkan perawatan, lalu meyakinkan Ana bahwa pernikahan itu hanya formalitas.
“Jadi Nadine sengaja menyerahkan saya kepada Tuan?”
“Awalnya aku melamar Nadine.”
Kalimat itu menghantam Ana lebih keras daripada pengungkapan sebelumnya.
Isa menatapnya tanpa berkedip. “Bukan karena cinta. Pernikahan kami dirancang untuk menyatukan saham keluarga dan mencegah Singgih mengambil alih perusahaan. Namun Nadine menolak. Dia berkata ada perempuan lain yang lebih cocok menggantikannya.”
“Saya.”
Isa mengangguk. “Aku marah ketika dia memberikan namamu. Aku pikir dia hanya ingin melemparkan tanggung jawab kepada adiknya yang tidak tahu apa-apa. Namun saat melihat fotomu, aku mengenalimu sebagai perempuan yang pernah kutolong malam itu.”
Ana tidak tahu harus merasa dikhianati atau lega. Nadine ternyata memang kakaknya, tetapi perempuan itu telah menyeretnya ke dalam pernikahan berbahaya tanpa menjelaskan kebenaran.
“Kenapa Singgih menahan Mama?”
“Karena ibumu memiliki surat asli yang membuktikan status Nadine dan dirimu. Surat itu juga memuat wasiat ayahku. Jika dokumen tersebut muncul, sebagian besar saham yang selama ini dikuasai Singgih akan kembali kepada kalian.”
Ana meremas foto di tangannya. “Saya tidak peduli saham. Saya hanya ingin Mama selamat.”
“Karena itu kita akan menjalankan rencana.”
Tiga hari berikutnya berlangsung seperti mimpi buruk. Ana tetap bekerja di kafe agar Singgih tidak curiga. Isa mempersiapkan pernikahan sambil mengirimkan tim untuk mengawasi rumah tempat ibu Ana ditahan. Renan beberapa kali menghubungi Ana, tetapi ia tidak berani menjelaskan semuanya melalui telepon.
Pada malam sebelum akad, Renan tiba-tiba datang ke rumah kontrakan Ana.
“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu,” katanya. “Aku melihat orang-orang Isa mengikutimu.”
Ana mengajak Renan masuk. Untuk pertama kalinya, ia menceritakan semua yang telah diketahuinya.
Renan mendengarkan dalam diam, tetapi wajahnya berubah ketika mengetahui Isa adalah pria misterius yang menolong Ana.
“Jadi sekarang kau percaya padanya?”
“Aku percaya dia ingin menyelamatkan Mama.”
“Aku bertanya tentang dirimu, Ana.” Renan menatapnya tajam. “Apa kau mulai percaya padanya sebagai seorang lelaki?”
Pertanyaan itu membuat Ana terdiam terlalu lama.
Renan tersenyum pahit. “Aku mengerti.”
“Ren, aku masih mencintaimu.”
“Tidak.” Renan menggeleng. “Kau mencintai kenangan kita. Tapi sekarang, setiap kali membicarakan Isa, matamu berbeda.”
Ana ingin menyangkal, tetapi tidak menemukan kata-kata.
Renan meraih tangannya. “Aku akan tetap membantumu besok. Setelah ibumu selamat, kau bebas memilih. Aku tidak ingin kau kembali kepadaku hanya karena merasa berutang janji.”
Keesokan harinya, gedung pernikahan dijaga ketat. Ana mengenakan kebaya putih gading pemberian Isa. Di balik senyumnya, jantungnya berdegup keras.
Dua jam sebelum akad, Singgih datang membawa ibu Ana. Perempuan itu berjalan lemah dengan didampingi dua pria.
“Mama!”
Ana hendak berlari, tetapi Singgih menarik lengan ibunya.
“Akad dulu. Setelah itu kalian boleh berpelukan.”
Isa duduk di kursi roda di samping penghulu. Wajahnya tetap tenang.
“Mana suratnya?” tanya Isa.
Singgih tersenyum. “Setelah kau menandatangani pengalihan saham.”
Isa menyodorkan map di atas meja. Singgih membukanya dengan rakus, lalu menandatangani beberapa halaman tanpa membaca semuanya.
Saat tinta terakhir menyentuh kertas, Isa berdiri dari kursi rodanya.
Ruangan seketika gaduh.
Singgih mundur. “Kau bisa berdiri?”
“Aku juga bisa memastikan orang sepertimu tidak pernah berdiri bebas lagi.”
Pintu gedung terbuka. Polisi masuk bersama Renan dan Nadine. Dua pria yang menjaga ibu Ana langsung ditangkap.
Singgih mencoba melarikan diri, tetapi Wildan menjatuhkannya sebelum mencapai pintu.
“Dokumen yang kau tanda tangani bukan pengalihan saham,” kata Isa. “Itu pengakuan transaksi palsu dan persetujuan audit seluruh rekening yang kau gunakan.”
Wajah Singgih memucat.
Polisi menemukan pistol kecil di pinggangnya, beberapa kartu identitas palsu, serta rekaman percakapan tentang penculikan ibu Ana. Seluruh bukti yang dikumpulkan Isa akhirnya cukup untuk menjeratnya.
Ana memeluk ibunya erat. Tangis mereka pecah di tengah ruangan.
Nadine berdiri beberapa langkah dari mereka. Matanya merah.
“Aku minta maaf,” katanya kepada Ana. “Aku tahu kau adikku, tapi aku terlalu takut mengatakan semuanya. Singgih mengancam akan membunuh Mama kalau aku mendekatimu.”
Ana menatapnya lama. Luka karena kebohongan itu belum hilang, tetapi darah dan rasa kehilangan membuatnya melangkah maju.
Untuk pertama kalinya, dua saudara itu berpelukan.
Setelah Singgih dibawa pergi, penghulu bertanya apakah akad tetap dilanjutkan.
Semua mata tertuju kepada Ana.
Isa kembali duduk di kursi rodanya. “Kau tidak perlu menikah denganku. Ancaman itu sudah berakhir.”
Ana menatap Renan. Lelaki itu tersenyum kecil, lalu mengangguk seolah memberikan izin yang sebenarnya tidak pernah ia butuhkan.
Kemudian Ana menatap Isa.
“Kalau pernikahan ini bukan lagi paksaan,” katanya, “apa alasan Tuan masih ingin menikahi saya?”
Isa terdiam sejenak.
“Karena sejak malam aku menolongmu, aku tidak pernah bisa melupakan matamu. Namun aku tidak ingin kau memilihku karena rasa terima kasih.”
Ana berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan kursi rodanya.
“Saya tidak memilih Tuan karena Tuan menyelamatkan saya,” ucap Ana. “Saya memilih seseorang yang tetap melindungi saya bahkan setelah mendengar saya mencintai lelaki lain.”
Isa menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ana kemudian menoleh kepada penghulu. “Akadnya bisa dimulai.”
Enam bulan kemudian, Isa telah mampu berjalan menggunakan tongkat. Singgih dijatuhi hukuman atas penculikan, percobaan pembunuhan, dan penggelapan dana. Nadine memilih mengelola yayasan milik keluarga bersama ibu Ana, sementara Renan menerima pekerjaan di Surabaya dan memulai hidup baru.
Pada suatu sore, Ana berdiri di balkon rumah bersama Isa. Di tangannya ada hasil pemeriksaan dari rumah sakit.
Isa membacanya, lalu menatap Ana dengan wajah tegang.
“Kau benar-benar hamil?”
Ana tersenyum sambil mengangguk.
Isa memeluknya erat, tetapi tiba-tiba Ana tertawa.
“Ada satu hal yang belum pernah aku ceritakan.”
“Apa?”
“Waktu aku bilang kepada Renan bahwa aku hamil anak pria lain, aku berbohong. Aku bahkan belum pernah hamil saat itu.”
Isa mengerutkan kening. “Lalu kenapa sekarang dokter menulis usia kandunganmu delapan minggu?”
Ana menatap suaminya dengan senyum lembut.
“Karena sekarang aku benar-benar hamil anak pria yang dulu kukira hanya membutuhkan seorang perawat.”
Isa tertawa pelan, lalu mencium keningnya.
Ana akhirnya mengerti bahwa hidup tidak selalu membawa seseorang kepada cinta yang pertama. Kadang-kadang, hidup menghancurkan semua rencana agar manusia berani melihat cinta yang selama ini berdiri diam-diam di hadapannya.
