Pukul dua dini hari.
Listrik padam.
Malam terasa sangat gerah di sebuah rumah tua peninggalan keluarga di Bogor, Jawa Barat.
Dan satu-satunya suara yang terdengar di seluruh rumah adalah bunyi lengan anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang masih dibalut gips, menghantam dinding semen berulang kali.
Tok. Tok. Tok.
Setiap benturan diiringi tangisan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
Mateo bermandikan keringat.
Tubuhnya menggigil karena demam.
Matanya merah akibat terus menangis.

Namun yang paling menyakitkan…
Tak seorang pun mempercayainya.
“Kalau kamu terus seperti ini, Mateo, Ayah akan membawamu ke klinik besok pagi,” bentak ayahnya, Carlos.
Baginya, rasa gatal di balik gips hanyalah bagian dari proses penyembuhan.
Namun bagi Mateo…
“Itu bergerak… ada sesuatu yang bergerak di dalam. Tolong lepaskan gips ini…”
Lorena, istri baru Carlos, hanya menghela napas.
“Itu cuma imajinasinya. Dia masih belum bisa menerima kepergian ibunya.”
Mateo langsung menatap tajam ke arah wanita itu.
“Kamu tahu kenapa ini terjadi.”
Ucapan itu membuat Lorena kehilangan senyum sejenak.
Namun sedetik kemudian ia kembali memasang wajah sedih.
Carlos yang sudah kelelahan akhirnya mengikat tangan Mateo yang masih sehat agar anak itu tidak terus memukul gipsnya sendiri.
Ketika semua orang meninggalkan kamar, hanya Bu Rosa yang tetap tinggal.
Asisten rumah tangga itu telah merawat Mateo sejak bayi.
Saat mendekat, ia mencium aroma aneh.
Manis.
Namun busuk.
Di bawah cahaya lampu minyak, ia melihat beberapa semut rangrang keluar dari sela-sela gips.
Wajahnya langsung pucat.
Ia teringat pesan terakhir Clara sebelum meninggal.
“Rosa… lindungi anakku.”
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil gunting besar.
Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, ia meretakkan balutan gips itu.
Retakan pertama langsung diikuti hembusan udara yang berbau tidak sedap.
Bu Rosa menahan napas.
Ia tidak menemukan sesuatu yang mustahil.
Namun yang ia lihat justru membuat jantungnya berhenti sesaat.
Kulit lengan Mateo berubah kehitaman di beberapa bagian.
Di sela-sela kapas yang seharusnya bersih, terdapat gumpalan kain lembap bercampur sisa makanan manis yang sudah membusuk.
Di situlah semut-semut itu berkumpul.
“Ya Tuhan…”
Bu Rosa langsung sadar.
Ini bukan kecelakaan.
Seseorang sengaja memasukkan sesuatu ke dalam gips itu.
Dengan tangan gemetar, ia segera melepaskan seluruh balutan sementara Mateo menangis karena rasa nyeri.
Begitu gips terbuka seluruhnya, Bu Rosa melihat luka yang mulai terinfeksi.
Ia segera membersihkannya sebisanya, lalu membopong Mateo keluar melalui pintu belakang rumah.
“Bu… kita mau ke mana?”
“Ke rumah sakit. Sekarang.”
“Tapi Ayah…”
“Nanti Ayah akan mengerti.”
Mereka baru sampai di halaman ketika suara Lorena terdengar dari teras.
“Mau ke mana kalian?”
Bu Rosa tidak menjawab.
Ia terus berjalan menuju gerbang.
Lorena langsung berteriak memanggil Carlos.
Carlos keluar dengan wajah bingung.
“Ada apa ini?”
“Dia mau membawa Mateo pergi tanpa izin!”
Bu Rosa akhirnya berhenti.
Ia menatap Carlos dengan mata berkaca-kaca.
“Pak… kalau kita menunggu sampai pagi, luka anak ini bisa semakin parah. Tolong lihat sendiri.”
Carlos membuka sisa balutan yang masih menempel.
Ekspresinya berubah.
“Kenapa bisa seperti ini?”
“Ada sesuatu di dalam gips.”
“Mustahil.”
“Kalau Bapak tidak percaya, lihat ini.”
Bu Rosa mengeluarkan gumpalan kain yang tadi ditemukan.
Carlos memegangnya.
Baunya sangat menyengat.
Ada bekas cairan lengket seperti sirup.
Semut-semut masih mengerumuninya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Carlos langsung menggendong Mateo ke mobil.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Mateo hanya memegang tangan ayahnya.
“Ayah…”
“Iya?”
“Aku tidak bohong, kan?”
Kalimat itu menghantam hati Carlos lebih keras daripada apa pun.
Ia tidak mampu menjawab.
Sesampainya di rumah sakit, dokter ortopedi yang bertugas langsung membawa Mateo ke ruang tindakan.
Beberapa jam kemudian dokter keluar.
“Kami berhasil membersihkan lukanya.”
Carlos mengembuskan napas lega.
“Tapi…”
Satu kata itu membuat semua orang kembali tegang.
“Infeksi ini bukan disebabkan patah tulangnya.”
“Lalu?”
“Dari yang kami lihat, ada benda asing yang sengaja dimasukkan ke dalam gips beberapa hari setelah pemasangan.”
Carlos langsung berdiri.
“Dokter yakin?”
“Sangat yakin.”
“Dengan kata lain…”
“Seseorang telah mengotori bagian dalam gips. Jika tidak cepat ditemukan, infeksinya bisa berkembang jauh lebih serius.”
Carlos merasa seluruh tubuhnya lemas.
Ia langsung teringat bahwa hanya ada tiga orang yang pernah berada di rumah bersama Mateo selama seminggu terakhir.
Dirinya.
Bu Rosa.
Dan Lorena.
Hari berikutnya, polisi datang setelah pihak rumah sakit melaporkan dugaan tindak penganiayaan terhadap anak.
Lorena terlihat sangat tenang.
Ia bahkan ikut menangis saat diperiksa.
“Saya juga sedih melihat kondisi Mateo.”
Namun penyidik menemukan sesuatu yang janggal.
Di dapur rumah, terdapat botol sirup gula yang tumpah.
Tidak jauh dari situ, ada gulungan kain yang sama persis dengan potongan kain yang ditemukan di dalam gips.
Lorena menjelaskan bahwa semua itu kebetulan.
Penjelasan itu terdengar masuk akal.
Sampai Bu Rosa teringat sesuatu.
Beberapa hari sebelumnya, kamera CCTV ruang keluarga sempat mati selama hampir dua jam.
Lorena mengatakan listrik sedang bermasalah.
Namun ternyata hanya kamera itu yang mati.
Polisi segera memeriksa rekaman dari kamera halaman.
Terlihat Lorena keluar rumah malam itu.
Ia kembali membawa kantong kecil dari minimarket.
Isi kantong tersebut tidak terlihat jelas.
Penyelidikan kembali buntu.
Sampai Mateo yang mulai pulih mengingat satu kejadian.
“Malam itu…”
“Apa yang kamu ingat?” tanya polisi.
“Aku bangun sebentar.”
“Lalu?”
“Aku lihat Bu Lorena duduk di samping tempat tidur.”
“Dia bilang sedang memeriksa gipsku.”
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa hari kemudian hasil laboratorium keluar.
Cairan lengket pada kain ternyata bukan sekadar sirup.
Di dalamnya terdapat bahan yang dapat mempercepat pertumbuhan bakteri apabila dibiarkan di ruang lembap.
Bukan racun.
Namun cukup untuk membuat luka semakin buruk.
Carlos merasa dunianya runtuh.
Ia tidak lagi bisa memandang istrinya dengan cara yang sama.
Saat polisi hendak menangkap Lorena, wanita itu justru tersenyum tipis.
“Kalian pikir semua ini soal kebencian?”
Semua orang terdiam.
“Aku hanya ingin Carlos tidak lagi bergantung pada anak itu.”
Ucapan tersebut terdengar membingungkan.
Namun penyelidikan terhadap masa lalu Lorena akhirnya mengungkap semuanya.
Ia memiliki utang dalam jumlah besar.
Beberapa bulan sebelum menikah, ia mengetahui bahwa seluruh aset keluarga Clara sebenarnya akan diwariskan kepada Mateo saat anak itu berusia delapan belas tahun.
Selama Mateo masih di bawah umur, Carlos hanyalah wali.
Jika Mateo mengalami sesuatu, jalur warisan akan berubah dan membuka peluang sengketa yang menguntungkan pihak lain.
Lorena tergoda oleh janji seseorang yang bersedia melunasi semua utangnya.
Ia mengira membuat Mateo sakit hanya akan membuat proses hukum berubah.
Ia tidak pernah membayangkan keadaan bisa menjadi begitu berbahaya.
Carlos menangis untuk pertama kalinya sejak Clara meninggal.
Ia duduk di samping tempat tidur putranya.
“Maafkan Ayah.”
Mateo memandang wajah ayahnya cukup lama.
“Ayah akhirnya percaya sama aku.”
Carlos memeluk anaknya erat.
“Ayah seharusnya percaya sejak awal.”
Beberapa bulan kemudian, Mateo sembuh sepenuhnya.
Bu Rosa tetap tinggal bersama mereka.
Rumah tua yang dulu dipenuhi ketakutan perlahan kembali dipenuhi tawa.
Carlos memasang kembali seluruh kamera keamanan.
Ia juga mendirikan yayasan kecil atas nama Clara untuk membantu anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan penelantaran.
Di ruang tamu rumah itu kini tergantung sebuah foto keluarga lama.
Clara tersenyum sambil memeluk Mateo kecil.
Di bawah bingkai foto itu terdapat secarik tulisan tangan yang ditemukan Bu Rosa ketika membereskan barang-barang mendiang Clara.
“Anak-anak mungkin belum mampu menjelaskan semuanya dengan kata-kata. Tetapi rasa takut mereka hampir tidak pernah berbohong.”
Sejak hari itu, setiap kali Mateo berkata bahwa ada sesuatu yang tidak beres, Carlos tidak pernah lagi menganggapnya sekadar imajinasi.
Karena ia telah belajar dengan cara yang paling menyakitkan bahwa terkadang, hal yang paling berbahaya bukanlah apa yang terlihat oleh mata, melainkan apa yang diabaikan oleh orang-orang yang seharusnya paling percaya.
