Bu Sari menarik selembar kertas dari dalam amplop itu dengan jari-jari yang masih gemetar.
Awalnya ia mengira itu hanya nota dari toko Ardi yang tanpa sengaja terselip di dalam beras. Namun begitu kertas tersebut terbuka, matanya langsung terpaku pada tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Tulisan Ardi.
Tulisan yang dulu memenuhi buku-buku sekolah dasar yang selalu Bu Sari sampul dengan kertas kalender bekas.
Di bagian paling atas hanya ada satu kalimat.

“Maafkan aku, Ibu. Diam-diam aku selalu menyayangimu.”
Bu Sari menutup mulutnya.
Dadanya seakan berhenti bergerak.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi, lalu menurunkan pandangan ke baris berikutnya.
“Ibu mungkin marah setelah apa yang terjadi malam ini. Mungkin Ibu juga tidak akan percaya pada apa yang kutulis. Tapi tolong baca surat ini sampai selesai. Jangan beri tahu siapa pun tentang surat ini, terutama Ratna.”
Bu Sari mengernyit.
Air hujan masih menetes dari rambutnya ke lantai, tetapi rasa dingin mendadak tidak lagi terasa.
Ia terus membaca.
“Enam bulan terakhir, toko bangunanku terlilit utang. Aku membuat keputusan bodoh. Aku meminjam uang untuk membuka cabang baru karena ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang sukses. Ratna tidak tahu semuanya. Dia hanya tahu bisnis sedang berkembang. Kalau dia tahu kenyataannya, rumah tangga kami mungkin hancur.”
Bu Sari terdiam.
Jadi tatapan gelisah Ardi tadi bukan hanya karena malu melihat ibunya.
Ada sesuatu yang disembunyikannya.
Namun bagian berikutnya justru membuat tangan Bu Sari semakin gemetar.
“Ada uang di dasar kantong beras ini. Aku tidak berani memberikannya di depan Ratna. Gunakan untuk makan dan berobat. Jangan kembalikan. Itu bukan pinjaman. Itu uang Ibu sendiri.”
Bu Sari segera meletakkan surat itu.
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam beras, mengaduk butiran-butiran putih tersebut sampai jemarinya menyentuh sebuah bungkusan plastik.
Ia menariknya keluar.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah.
Bu Sari menghitungnya perlahan.
Dua juta rupiah.
Bagi Ardi mungkin jumlah itu tidak besar.
Tetapi bagi Bu Sari, uang sebanyak itu bisa membuat dapurnya tetap mengepul selama berbulan-bulan.
Air matanya akhirnya jatuh.
Bukan karena uang itu.
Melainkan karena selama perjalanan pulang tadi, ia sempat percaya bahwa anak yang dibesarkannya telah benar-benar kehilangan hati.
Bu Sari kembali membaca.
“Aku tahu dua juta tidak sebanding dengan semua yang pernah Ibu lakukan untukku. Aku masih ingat ketika Bapak meninggal saat aku kelas dua SMP. Ibu menjahit sampai lewat tengah malam agar aku tetap sekolah. Aku tahu Ibu pernah makan hanya dengan garam supaya aku bisa membeli buku. Aku ingat semuanya, Bu. Aku hanya terlalu pengecut untuk mengatakannya.”
Tangis Bu Sari pecah.
Kenangan lama datang satu demi satu.
Ardi kecil yang tidur di pangkuannya saat demam.
Ardi yang menangis ketika sepatu sekolahnya robek.
Ardi yang pertama kali diterima bekerja dan menyerahkan seluruh gajinya kepada ibunya sambil berkata bahwa suatu hari ia akan membangun rumah besar untuk mereka.
Entah sejak kapan jarak tumbuh di antara mereka.
Mungkin sejak Ardi menikah.
Mungkin sejak bisnisnya berkembang.
Atau mungkin sejak Bu Sari sendiri terlalu sering berkata bahwa ia baik-baik saja sehingga anaknya percaya bahwa ibunya memang tidak membutuhkan siapa-siapa.
Namun surat itu belum selesai.
Di bagian paling bawah terdapat kalimat yang membuat Bu Sari kembali terdiam.
“Kalau suatu hari terjadi sesuatu padaku, buka kotak besi di bawah mesin jahit tua milik Ibu. Kuncinya ada di belakang foto Bapak.”
Bu Sari spontan menoleh ke sudut kamar.
Mesin jahit tua itu masih berada di sana.
Mesin yang tadi bahkan sempat ia pikirkan untuk dijual.
Dengan jantung berdebar, ia berjalan mendekatinya.
Bu Sari menggeser mesin jahit itu perlahan.
Tidak ada kotak.
Ia lalu teringat kalimat Ardi.
Di bawah mesin jahit.
Bu Sari berlutut dengan susah payah dan meraba bagian bawah meja kayu.
Jemarinya menyentuh sesuatu yang ditempel menggunakan lakban hitam.
Sebuah kotak besi kecil.
Napasnya tercekat.
Ia mengambil foto almarhum suaminya yang tergantung di dinding. Di balik bingkai foto itu benar-benar terdapat sebuah kunci kecil.
Saat kotak dibuka, Bu Sari menemukan beberapa dokumen.
Ada sertifikat tanah.
Ada buku tabungan.
Ada pula sebuah map cokelat bertuliskan namanya.
Bu Sari membuka buku tabungan tersebut.
Saldo terakhir membuatnya harus membaca angka itu beberapa kali.
Seratus delapan puluh tujuh juta rupiah.
Nama pemilik rekening itu adalah Sari Wulandari.
Bu Sari terduduk.
Ia tidak pernah membuka rekening tersebut.
Tidak pernah pula merasa memiliki uang sebanyak itu.
Di dalam map terdapat catatan lain dari Ardi.
“Tujuh tahun lalu, ketika toko mulai menghasilkan uang, aku berjanji menyisihkan sebagian keuntungan untuk Ibu. Aku tahu kalau kuberikan langsung, Ibu pasti menolak. Jadi aku membuat tabungan atas nama Ibu. Sebagian uang ini berasal dari keuntungan toko. Sebagian lagi adalah uang hasil penjualan tanah warisan Bapak yang memang menjadi hak Ibu.”
Bu Sari menatap dokumen-dokumen itu dengan pandangan kabur.
Ternyata selama bertahun-tahun Ardi diam-diam menyimpan uang untuknya.
Namun satu pertanyaan segera muncul.
Kalau Ardi benar-benar menyayanginya, mengapa ia membiarkan Ratna memperlakukannya seperti pengemis?
Pertanyaan itu menghantui Bu Sari sepanjang malam.
Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar tinggi, suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Bu Sari mengintip dari jendela.
Ardi turun dari mobil pikapnya.
Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding malam sebelumnya.
Begitu masuk, Ardi langsung menundukkan kepala.
“Ibu sudah menemukan suratnya?”
Bu Sari tidak menjawab.
Ia hanya menunjuk kursi kayu di depannya.
“Duduk.”
Ardi menurut.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam.
Kemudian Bu Sari bertanya dengan suara tenang.
“Kenapa kamu membiarkan istrimu memperlakukan Ibu seperti itu?”
Ardi menunduk.
“Aku salah.”
“Bukan itu jawaban Ibu.”
Ardi menarik napas panjang.
“Ratna sedang memegang sebagian besar keuangan rumah dan toko. Sejak bisnis bermasalah, dia jadi sangat takut kehilangan semuanya. Dia pikir keluarga dari pihakku hanya akan menjadi beban.”
“Termasuk ibumu?”
Ardi tidak mampu menjawab.
Bu Sari memandang anaknya lama.
“Kamu menyimpan uang untuk Ibu. Kamu masih ingat semua yang Ibu lakukan. Tapi tadi malam kamu berdiri diam ketika istrimu mempermalukan Ibu.”
Mata Ardi mulai merah.
“Aku takut bertengkar dengannya.”
Bu Sari tersenyum pahit.
“Jadi supaya rumah tanggamu tidak bertengkar, ibumu yang harus menelan penghinaan?”
Kalimat itu menghantam Ardi lebih keras daripada bentakan.
Ia menundukkan wajah dan menangis.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bu Sari kembali melihat anak laki-laki yang dahulu bersembunyi di belakang tubuhnya setiap kali merasa takut.
Namun kali ini Bu Sari tidak langsung memeluknya.
Kasih seorang ibu memang luas, tetapi kasih tidak berarti membenarkan setiap kesalahan.
“Dengar, Ardi. Ibu tidak marah karena kamu tidak memberi uang. Kalau kemarin kamu hanya punya segenggam beras pun Ibu tetap akan menerimanya. Yang membuat Ibu sakit adalah melihat anak yang Ibu besarkan tidak berani mengatakan kepada istrinya bahwa ibunya harus dihormati.”
Ardi mengusap wajah.
“Aku akan memperbaikinya, Bu.”
Belum sempat Bu Sari menjawab, suara mobil lain terdengar.
Ratna datang.
Ia turun dengan langkah cepat dan langsung masuk tanpa mengetuk.
“Mas! Kamu benar-benar ke sini?”
Begitu melihat Bu Sari, ekspresinya berubah.
“Bu, saya tidak tahu apa yang Ibu katakan kepada Ardi, tapi kami sedang punya masalah besar. Tolong jangan menambah masalah.”
Ardi berdiri.
“Ratna, cukup.”
Ratna terkejut.
Selama bertahun-tahun, suaminya hampir tidak pernah berbicara kepadanya dengan nada seperti itu.
“Apa?”
“Aku bilang cukup.”
Ardi berdiri di antara Ratna dan ibunya.
“Kamu boleh marah kepadaku soal bisnis. Kamu boleh menyalahkanku karena membuat keputusan yang buruk. Tapi mulai hari ini, jangan pernah lagi bicara kepada Ibu seperti tadi malam.”
Ratna tertawa kecil.
“Sekarang kamu membelanya? Setelah bertahun-tahun kita yang harus menanggung keluargamu?”
Bu Sari tiba-tiba berdiri.
“Ratna.”
Suasana langsung sunyi.
Bu Sari berjalan menuju meja dan mengambil map cokelat.
“Selama ini kamu mengira Ibu datang untuk mengambil uang kalian.”
Ratna tidak menjawab.
Bu Sari mengeluarkan sertifikat tanah.
“Tapi tanah tempat toko bangunan kalian berdiri masih atas nama Ibu.”
Wajah Ratna seketika pucat.
Ardi juga terkejut.
“Apa?”
Bu Sari memandang Ardi.
“Kamu tidak tahu?”
Ardi menggeleng.
Bu Sari membuka dokumen lain.
Ternyata tanah tempat toko pertama Ardi berdiri dahulu dibeli almarhum suaminya puluhan tahun lalu. Ardi memang membangun dan mengembangkan toko di atasnya, tetapi hak kepemilikannya tidak pernah dialihkan.
Ratna mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar.
“Kalau begitu… Ibu mau mengambil toko itu?”
Bu Sari menatapnya.
Untuk sesaat Ratna tampak benar-benar takut.
Namun Bu Sari justru menggeleng.
“Tidak.”
Ratna terpaku.
“Ibu tidak datang untuk mengambil apa pun.”
Bu Sari mengambil tongkatnya.
“Tanah itu akan Ibu hibahkan kepada Ardi.”
Ardi langsung menatap ibunya.
“Bu, jangan.”
“Dengarkan dulu.”
Bu Sari menatap anaknya tegas.
“Ibu akan hibahkan tanah itu dengan satu syarat. Kamu harus berhenti berbohong tentang keadaan bisnismu. Jual cabang yang membebani. Bayar utang semampumu. Mulai lagi dari yang kecil kalau perlu. Jangan mempertahankan kemewahan hanya supaya orang lain menganggapmu sukses.”
Ardi terdiam.
Kemudian Bu Sari menatap Ratna.
“Dan kamu tidak harus menyukai Ibu. Ibu tidak meminta itu. Tapi selama Ibu masih hidup, jangan pernah memperlakukan orang tua yang datang ke rumahmu seperti pengemis. Hari ini mungkin Ibu yang berdiri di depan pagar. Besok kita tidak pernah tahu siapa yang membutuhkan pertolongan.”
Ratna menunduk.
Untuk pertama kalinya kesombongan di wajahnya hilang.
Air matanya mulai jatuh.
“Saya… saya minta maaf, Bu.”
Bu Sari tidak langsung menjawab.
Permintaan maaf memang bisa diucapkan dalam beberapa detik, tetapi perubahan hanya bisa dibuktikan oleh waktu.
Tiga bulan kemudian, toko cabang Ardi dijual.
Mobil mahal Ratna juga dilepas.
Sebagian hasilnya digunakan untuk membayar utang. Ardi kembali mengurus toko pertamanya sendiri seperti ketika bisnis itu baru berdiri.
Anehnya, kehidupan mereka justru menjadi lebih tenang.
Ratna mulai beberapa kali datang ke rumah Bu Sari membawa makanan. Awalnya percakapan mereka terasa kaku, tetapi Bu Sari tidak pernah mengungkit penghinaan malam itu.
Suatu sore, Ardi datang membawa sebuah kotak.
“Ibu, ikut aku sebentar.”
Ia mengajak Bu Sari ke belakang rumah.
Di sana berdiri sebuah bangunan kecil yang baru selesai direnovasi.
Ada papan sederhana di depannya.
“Dapur Sari.”
Bu Sari menatap Ardi bingung.
“Apa ini?”
Ardi tersenyum.
“Dapur gratis setiap Jumat. Untuk lansia yang hidup sendiri dan warga yang sedang kesulitan makan.”
Bu Sari menatap anaknya.
Ardi melanjutkan dengan suara pelan.
“Malam ketika Ibu datang karena dua hari tidak makan, aku sadar sesuatu. Di luar sana pasti ada banyak orang tua yang mengalami hal yang sama, tetapi mereka bahkan tidak punya anak yang bisa didatangi.”
Mata Bu Sari berkaca-kaca.
Ia masuk ke dapur itu.
Di sudut ruangan terdapat beberapa karung beras.
Salah satunya membuat Bu Sari tersenyum.
Ia menyentuh permukaan karung tersebut dan teringat malam hujan ketika dirinya berjalan pulang sambil menahan lapar dan penghinaan.
Setahun kemudian, Bu Sari meninggal dengan tenang dalam tidurnya.
Setelah pemakaman, Ardi kembali ke rumah ibunya seorang diri.
Ia duduk di depan mesin jahit tua dan menangis cukup lama.
Ketika hendak membereskan barang-barang, ia menemukan sebuah amplop terselip di dalam kotak besi.
Di bagian depan tertulis namanya.
“Untuk Ardi.”
Tangannya gemetar ketika membuka surat itu.
Tulisan Bu Sari tidak lagi rapi karena usia.
“Nak, kalau kamu membaca ini, mungkin Ibu sudah tidak ada. Jangan terus menyalahkan dirimu karena malam hujan itu. Ibu sudah memaafkanmu bahkan sebelum membuka kantong beras yang kamu berikan.”
Ardi menutup mulutnya, menahan tangis.
Namun masih ada satu paragraf terakhir.
“Dulu kamu menulis bahwa diam-diam kamu selalu menyayangi Ibu. Sebenarnya kamu tidak perlu diam-diam, Nak. Orang yang kita sayangi seharusnya tahu bahwa mereka disayangi ketika mereka masih bisa mendengarnya. Jangan ulangi kesalahan itu kepada istrimu, anakmu, atau siapa pun. Katakan sebelum terlambat.”
Ardi menangis sambil memeluk surat itu.
Bertahun-tahun kemudian, Dapur Sari berkembang menjadi tempat makan sederhana yang membantu puluhan lansia setiap pekan. Di dindingnya tidak ada foto Ardi, tidak ada nama toko bangunannya, dan tidak ada cerita tentang berapa banyak uang yang pernah ia sumbangkan.
Hanya ada satu benda yang dipajang dalam bingkai kaca.
Sebuah kantong beras tua.
Di bawahnya tertulis satu kalimat dari surat Bu Sari.
“Kasih sayang yang hanya disimpan di dalam hati terkadang baru diketahui ketika waktu untuk membalasnya sudah habis.”
Dan setiap kali hujan turun di Sukamaju, Ardi selalu berdiri beberapa saat di depan kantong beras itu.
Bukan untuk mengenang malam ketika ia memberi ibunya makanan.
Melainkan untuk mengingat malam ketika seorang ibu berusia 72 tahun, yang pulang dengan tubuh basah dan hati terluka, masih memilih mencari alasan untuk memaafkan anaknya sendiri.
