Aku mengabaikan mereka.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah itu, aku merasa tidak takut kehilangan apa pun. Bukan karena aku tidak mencintai Dimas, tetapi karena saat itu aku akhirnya menyadari satu hal yang menyakitkan: selama ini aku hanya mencintai bayangan seorang suami yang tidak pernah benar-benar ada.
“Rani! Kamu dengar aku?” teriak Dimas dari luar pagar.

Aku berdiri di ruang tamu rumah baruku sambil memandang Mama yang masih memegang ponsel lama itu. Tangannya gemetar. Bukan karena penyakitnya, tetapi karena rasa takut yang sudah ia simpan terlalu lama.
“Mama duduk dulu,” kataku pelan.
Aku mengambil selimut dan menutup bahu Mama.
“Rani, jangan hancurkan rumah tanggamu karena video itu,” bisiknya.
Aku menatapnya.
“Ma, siapa yang menghancurkan rumah tangga ini? Aku yang pergi kerja setiap hari? Aku yang membayar semua kebutuhan? Atau orang yang menyakiti ibu yang membesarkanku?”
Mama terdiam.
Air mata jatuh dari sudut matanya.
“Aku takut kehilangan kalian.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Selama ini Mama selalu menjadi orang yang kuat. Sejak Ayah meninggal ketika aku masih kuliah, dialah yang bekerja keras sendirian. Dia menjual tanah warisan di Yogyakarta yang sebenarnya bisa menjadi jaminan hidupnya hanya agar aku bisa menyelesaikan pendidikan.
Bahkan ketika aku mendapat pekerjaan sebagai konsultan keuangan dan mulai memiliki penghasilan besar, Mama tidak pernah meminta apa pun.
Dia hanya berkata, “Simpan uangmu untuk masa depan. Mama sudah cukup bahagia melihat kamu berhasil.”
Ternyata di saat aku membangun masa depan, orang yang paling berjasa dalam hidupku justru sedang menderita di rumahku sendiri.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Pesan dari Dimas.
Rani, jangan keterlaluan. Ibu cuma marah sedikit. Mama kamu juga terlalu sensitif.
Aku menatap layar beberapa detik.
Lalu pesan berikutnya masuk.
Kalau kamu membuat masalah besar, pikirkan anak-anak. Jangan egois.
Tanganku mengepal.
Dia masih menggunakan anak-anak untuk menekan aku.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Mama.
Wajah Mama langsung berubah.
“Dimas memang pernah bilang begitu.”
“Pernah?”
Mama menghela napas panjang.
“Beberapa minggu lalu, Mama pernah ingin pulang ke Yogyakarta. Mama merasa tidak kuat. Tapi Dimas bilang kalau Mama pergi, dia akan mencari cara supaya Mama tidak bisa bertemu Alya dan Arga lagi.”
Aku menutup mata.
Rasa sakit yang kurasakan bukan lagi marah.
Lebih dari itu.
Aku merasa dikhianati.
Pria yang selama ini kupikir akan menjadi ayah terbaik untuk anak-anakku ternyata mampu menggunakan kasih sayang anak sebagai senjata.
Di luar, suara Ratna terdengar semakin keras.
“Rani! Kamu jangan lupa, Dimas itu suamimu! Kamu perempuan, harus tahu cara menjaga rumah tangga!”
Aku berjalan menuju pintu kaca.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Ratna bukan sebagai ibu mertua yang harus kuhormati.
Aku melihat seorang wanita yang selama ini membiarkan ketidakadilan terjadi.
Aku membuka pintu depan.
“Bu Ratna.”
Dia terdiam karena tidak menyangka aku akan keluar.
“Kamu akhirnya keluar juga. Bagus. Sekarang kita bicara baik-baik.”
Aku menatapnya.
“Baik-baik?”
“Ibumu memang sakit, tapi dia tinggal di rumah kami. Wajar kalau dia membantu pekerjaan rumah.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena aku tidak percaya apa yang baru saja kudengar.
“Rumah kami?”
Ratna mengangkat dagunya.
“Iya. Rumah Dimas.”
Aku membuka ponselku dan menunjukkan dokumen digital.
“Rumah di Alam Sutera itu atas nama saya. Cicilan dibayar dari rekening saya. Kendaraan Dimas juga saya yang lunasi. Bahkan biaya pengobatan Ibu selama tiga tahun terakhir juga saya yang bayar.”
Wajah Ratna mulai berubah.
Dimas menatapku dengan marah.
“Rani, jangan ungkit uang!”
“Aku tidak mengungkit uang, Mas. Aku hanya mengingatkan kalian bahwa kenyamanan yang kalian nikmati selama ini bukan datang dari kerja keras kalian.”
Dimas maju satu langkah.
“Kamu pikir karena kamu punya uang, kamu bisa merendahkan keluarga saya?”
Aku menatapnya lama.
“Tidak. Aku hanya baru sadar bahwa selama ini kamu merendahkan keluargaku.”
Suasana menjadi sunyi.
Lalu Dimas berkata dengan suara rendah.
“Kamu akan menyesal.”
Aku tidak menjawab.
Karena kalimat itu justru membuatku semakin yakin.
Malam itu, aku tidak tidur.
Aku menghubungi pengacara keluarga yang selama ini membantu urusan kontrak bisnis.
Aku mengirimkan semua bukti.
Video.
Pesan.
Riwayat pembayaran.
Dokumen rumah.
Semuanya.
Pagi harinya, ketika aku sedang membuat sarapan untuk Mama dan anak-anak, pengacara itu datang.
Namanya Andre.
Dia adalah teman lama Ayah yang sekarang menangani beberapa urusan legal perusahaan tempatku bekerja.
“Rani, aku sudah melihat semua bukti.”
Aku duduk di ruang makan.
“Apa yang bisa dilakukan?”
Andre membuka map.
“Pertama, kamu bisa mengajukan perlindungan hukum untuk ibumu karena ada bukti kekerasan fisik.”
Mama langsung terkejut.
“Jangan, Rani. Jangan sampai Dimas masuk penjara.”
Aku memegang tangannya.
“Ma, tujuan kita bukan menghancurkan hidupnya. Tujuan kita menghentikan dia.”
Andre mengangguk.
“Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu.”
“Apa?”
Dia membuka satu dokumen lain.
“Dimas sudah beberapa bulan terakhir mengambil pinjaman menggunakan data rumah tangga kalian.”
Aku mengerutkan kening.
“Apa?”
Andre menunjukkan laporan.
Ternyata Dimas memiliki utang besar.
Bukan untuk bisnis.
Bukan untuk kebutuhan keluarga.
Tetapi untuk investasi bodong dan gaya hidup.
Liburan mahal.
Barang bermerek.
Makan di restoran mewah.
Semua karena dia ingin terlihat seperti pria sukses.
Aku merasa mual.
Selama ini aku pikir dia hanya malas.
Ternyata dia juga berbohong.
“Dia menggunakan rekening bersama kalian sebagai jaminan.”
Aku menarik napas panjang.
“Jadi selama ini dia hidup dari uangku sambil menyiksa ibuku?”
Andre tidak menjawab.
Karena jawabannya sudah jelas.
Tiga hari kemudian, aku menerima panggilan dari Dimas.
Suaranya berbeda.
Tidak lagi marah.
Tidak lagi sombong.
“Rani, kita bicara.”
“Apa yang mau kamu bicarakan?”
“Aku salah.”
Aku terdiam.
Aku tidak menyangka permintaan maaf itu datang begitu cepat.
“Aku khilaf.”
“Khilaf dua bulan menyakiti Mama?”
“Tidak seperti itu.”
“Videonya ada, Mas.”
Dia diam.
Lalu suaranya melemah.
“Kalau aku kehilangan kamu, aku kehilangan semuanya.”
Aku menutup mata.
Kalimat itu akhirnya menunjukkan kebenaran.
Dia tidak takut kehilangan aku.
Dia takut kehilangan kehidupan nyaman yang selama ini kuberikan.
“Aku mencintaimu, Rani.”
Aku tersenyum pahit.
“Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan membuat ibuku takut tinggal di rumahku sendiri.”
Aku memutuskan telepon.
Seminggu kemudian, proses hukum berjalan.
Ratna akhirnya datang ke rumahku.
Namun kali ini bukan dengan wajah marah.
Dia terlihat lebih tua.
Lebih lelah.
“Aku ingin bicara.”
Aku mempersilahkannya masuk.
Dia melihat Mama sedang bermain dengan Alya dan Arga di taman.
Pemandangan itu membuat matanya berkaca-kaca.
“Aku salah.”
Aku diam.
“Awalnya aku hanya ingin Dimas menjadi suami yang dihormati. Aku terlalu takut melihat anakku gagal.”
Ratna menunduk.
“Tapi aku tidak sadar aku membiarkan anakku menjadi orang yang kejam.”
Aku tidak langsung memaafkan.
Karena luka tidak hilang hanya dengan satu kalimat.
Namun aku menghargai keberaniannya untuk mengakui kesalahan.
Beberapa bulan kemudian, hidup kami berubah.
Aku dan Mama tinggal bersama di rumah itu.
Alya dan Arga tumbuh dalam lingkungan yang lebih tenang.
Aku tidak pernah menceritakan keburukan ayah mereka kepada mereka.
Aku hanya mengajarkan satu hal.
Bahwa cinta tanpa rasa hormat bukanlah cinta.
Suatu sore, ketika aku sedang merapikan taman, Mama duduk di kursi sambil melihat bunga-bunga yang baru kutanam.
“Rani.”
“Iya, Ma?”
“Mama minta maaf.”
Aku menoleh.
“Untuk apa?”
“Karena dulu Mama menjual tanah itu untuk kamu sekolah, tapi ternyata Mama hampir menjadi beban untuk kamu.”
Aku langsung memegang tangannya.
“Ma, dengar. Mama bukan beban.”
Aku tersenyum.
“Tanpa Mama, aku tidak akan menjadi siapa-siapa.”
Mama menangis.
Beberapa detik kemudian, Alya berlari menghampiri kami.
“Nenek, lihat bunga Alya!”
Mama tertawa.
Dan saat itu aku sadar.
Kadang kehilangan seseorang bukan hukuman.
Kadang itu adalah cara Tuhan membuka mata kita agar kita bisa melihat siapa yang benar-benar mencintai kita.
Rumah besar dengan pagar hitam itu bukan hanya tempat tinggal baru.
Itu adalah simbol bahwa seorang anak perempuan akhirnya mampu melindungi ibunya.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Mama bisa tidur tanpa rasa takut.
