Wulandari menghela napas panjang sambil meletakkan tas tangannya di atas sofa. Sorot matanya masih penuh penilaian ketika memandangi Nindy dari ujung kepala hingga kaki.
“Kerjaan memang penting, tapi rumah tangga lebih penting,” ucapnya datar. “Kalau perempuan terlalu sibuk di luar, jangan heran kalau suaminya mencari kenyamanan di tempat lain.”
Ucapan itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Nindy. Ia ingin menjawab, ingin membela diri, tetapi tenggorokannya tercekat. Air mata yang tadi berhasil ia tahan kembali menggenang.
Belum sempat ia berkata apa-apa, Juna turun dari lantai atas dengan pakaian rapi. Wajahnya tampak dingin seolah pertengkaran beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.

“Ma, Pa,” sapanya singkat.
Ayah Juna, Hendra, hanya mengangguk sambil membuka koran. Berbeda dengan istrinya, Hendra lebih banyak diam dan jarang ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
Wulandari langsung berdiri.
“Kamu sudah sarapan?”
“Belum.”
“Lihat tuh istrimu. Belum siap apa-apa.”
Juna melirik Nindy sekilas. Tidak ada sedikit pun niat membelanya.
“Nggak apa-apa, Ma. Bibi sudah masak.”
Jawaban itu justru membuat hati Nindy semakin sesak. Lima tahun menikah, Juna selalu membiarkannya menghadapi semua tudingan sendirian.
Saat mereka duduk di meja makan, suasana terasa mencekam. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar.
Tiba-tiba ponsel Juna berbunyi.
Nama Mira muncul jelas di layar.
Juna buru-buru mematikan layar, tetapi semuanya sudah terlambat. Nindy melihatnya. Wulandari juga melihatnya.
“Mira siapa?” tanya Wulandari.
“Teman kantor.”
Juna menjawab terlalu cepat.
Ponsel itu kembali berdering.
Kali ini pesan masuk.
Juna refleks mengambilnya, tetapi Nindy lebih cepat.
Ia berhasil membaca isi notifikasi yang muncul.
Mas, aku kangen. Jangan lupa malam ini ya. Aku sudah booking kamar yang sama.
Napas Nindy seolah berhenti.
Tangannya gemetar.
Tanpa berkata apa pun, ia menyerahkan ponsel itu kepada Juna.
Wajah Juna berubah pucat.
“Ini….”
Belum sempat ia menjelaskan, Nindy berdiri.
“Cukup.”
Suaranya pelan, tetapi membuat semua orang terdiam.
“Aku capek.”
Ia berjalan meninggalkan meja makan.
Wulandari memanggilnya beberapa kali, tetapi Nindy tidak menoleh.
Di dalam kamar, ia mengunci pintu.
Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
Lima tahun.
Lima tahun ia berusaha menjadi istri terbaik.
Bangun paling pagi.
Tidur paling malam.
Tetap bekerja agar keuangan mereka stabil.
Tetap melayani keluarga Juna.
Namun, semua pengorbanannya seolah tidak pernah berarti.
Yang lebih menyakitkan bukan perselingkuhan itu sendiri.
Melainkan kenyataan bahwa suaminya lebih percaya pada wanita lain daripada dirinya.
Beberapa jam kemudian, ponselnya berbunyi.
Nama Davin muncul.
“Nin, kamu nggak masuk kantor?”
Nindy mengusap air matanya.
“Aku izin.”
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya.”
Davin terdiam beberapa detik.
“Kalau kamu butuh teman cerita, aku siap.”
Nindy tersenyum pahit.
“Makasih.”
Ia menutup telepon.
Di sisi lain kota, Davin memandang layar ponselnya dengan wajah khawatir.
Ia tahu sesuatu pasti terjadi.
Sudah beberapa bulan terakhir, ia melihat Nindy sering melamun.
Bahkan beberapa kali Juna datang ke kantor hanya untuk memastikan Nindy benar-benar sedang bekerja.
Awalnya Davin mengira itu bentuk perhatian.
Kini ia sadar.
Itu adalah ketidakpercayaan.
Sore harinya, Davin menerima telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya.
“Halo.”
“Pak Davin?”
“Iya.”
“Saya Raka.”
“Siapa?”
“Saya tunangan Mira.”
Davin terdiam.
“Saya rasa kita perlu bertemu.”
Malam itu, di sebuah kedai kopi yang sepi, Raka meletakkan sebuah flashdisk di atas meja.
“Saya tahu Mira.”
Davin mengangguk pelan.
“Dia rekan kerja Nindy.”
“Bukan cuma itu.”
Raka menarik napas panjang.
“Selama dua tahun terakhir, Mira punya hubungan dengan beberapa pria yang sudah menikah.”
Davin mengernyit.
“Kenapa kamu kasih tahu saya?”
“Karena saya baru tahu semuanya minggu lalu.”
Raka mengeluarkan beberapa foto.
Di sana terlihat Mira bersama beberapa pria berbeda.
Salah satunya adalah Juna.
Ada pula tangkapan layar percakapan.
Mira sengaja mendekati pria-pria yang rumah tangganya sedang bermasalah.
Ia mengadu domba mereka dengan istrinya.
Setelah hubungan mereka rusak, Mira memanfaatkan kondisi itu untuk mendapatkan uang, hadiah, bahkan investasi.
Davin tidak percaya.
“Ini asli?”
“Semuanya.”
“Lalu kenapa polisi?”
Raka tersenyum pahit.
“Belum ada bukti penipuan. Mereka memberi semuanya dengan sukarela.”
Davin menggenggam flashdisk itu erat.
“Saya kenal Nindy.”
“Saya juga tahu.”
“Itu sebabnya saya mencari Anda.”
Keesokan harinya, Davin menemui Nindy.
Mereka bertemu di sebuah taman kota.
Nindy tampak sangat lelah.
Matanya sembab.
“Aku cuma lima menit,” katanya.
Davin mengangguk.
Ia menyerahkan flashdisk itu.
“Lihat isinya.”
“Apa?”
“Bukti.”
Malam itu juga Nindy membuka semua file.
Satu per satu foto membuat tubuhnya bergetar.
Percakapan Mira dengan temannya jauh lebih menyakitkan.
Suami kayak Juna paling gampang dibohongin. Tinggal bilang istrinya selingkuh, dia langsung percaya.
Yang penting dia makin jauh dari istrinya.
Kalau sudah cerai, dia pasti makin bergantung sama aku.
Nindy menutup mulutnya.
Air matanya kembali jatuh.
Bukan karena lega.
Melainkan karena semua dugaannya ternyata benar.
Ia tidak pernah mengkhianati Juna.
Yang mengkhianati justru suaminya sendiri.
Namun, Nindy tidak langsung menunjukkan bukti itu.
Ia memilih diam.
Ia ingin melihat sampai sejauh mana kebohongan mereka.
Tiga hari kemudian, Juna pulang lebih awal.
“Aku mau bicara.”
Nindy mengangguk.
“Kebetulan.”
Juna duduk.
“Aku pikir… mungkin kita memang sudah nggak cocok.”
Nindy tersenyum tipis.
“Jadi kamu mau cerai?”
Juna tidak langsung menjawab.
“Aku rasa itu yang terbaik.”
“Karena Mira?”
Juna terdiam.
“Itu bukan urusanmu.”
Nindy berdiri.
“Lima tahun aku jadi istri kamu.”
“Lima tahun aku percaya sama kamu.”
“Lima tahun aku bertahan meski sering disalahkan.”
Ia mengambil laptop.
“Lihat ini.”
Video pertama diputar.
Wajah Mira muncul.
Ia sedang tertawa bersama temannya.
“Laki-laki itu gampang banget dibego-begoin.”
Video kedua.
Mira menerima transfer uang dari pria lain.
Video ketiga.
Percakapan yang menyebut nama Juna.
Kalau Juna resmi cerai, apartemen yang dia beli pasti jatuh ke aku nanti.
Wajah Juna berubah pucat.
“Tidak….”
Nindy tidak menghentikan videonya.
Masih ada rekaman suara.
Suara Mira terdengar jelas.
Aku nggak cinta sama Juna. Dia cuma batu loncatan.
Tubuh Juna melemas.
Ia terduduk.
Semua keyakinannya selama ini runtuh dalam hitungan menit.
“Nin….”
Nindy memandangnya tanpa ekspresi.
“Masih percaya aku yang selingkuh?”
Juna menutup wajahnya.
“Aku….”
“Aku salah.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Juna menangis.
“Aku minta maaf.”
Tangisnya pecah.
“Aku bodoh.”
Nindy tidak ikut menangis.
Air matanya sudah habis.
“Maaf nggak bisa menghapus semua yang sudah terjadi.”
Beberapa hari kemudian, Juna menemui Mira.
Tanpa memberi tahu siapa pun.
Ia ingin mendengar pengakuan langsung.
Begitu memasuki apartemen wanita itu, Juna mendengar suara tawa.
Pintu sedikit terbuka.
Di dalam, Mira sedang bersama pria lain.
“Kamu yakin yang namanya Juna itu bakal cerai?”
“Tinggal sedikit lagi.”
“Dia masih percaya?”
“Percaya banget.”
Mereka tertawa.
“Kalau berhasil, mobilnya juga bakal jadi punyaku.”
Juna membeku.
Semua yang didengarnya benar-benar menghancurkan harga dirinya.
Ia masuk begitu saja.
Mira terkejut.
“Mas….”
“Cukup.”
Juna melempar cincin yang pernah ia belikan.
“Kamu nggak akan pernah lihat aku lagi.”
Ia pergi tanpa menoleh.
Sebulan kemudian, proses perceraian tetap berjalan.
Semua orang heran.
Bahkan Wulandari memohon agar Nindy memaafkan putranya.
“Nak… Juna sudah sadar.”
Nindy tersenyum sopan.
“Aku memaafkannya, Ma.”
“Kalau begitu kenapa tetap bercerai?”
“Karena memaafkan tidak selalu berarti kembali.”
Wulandari tidak mampu berkata apa-apa.
Ia baru menyadari selama ini terlalu mudah menyalahkan menantunya.
Ia menangis sambil meminta maaf.
Nindy memeluk wanita itu.
“Aku nggak pernah benci Mama.”
“Tapi aku juga harus menyayangi diriku sendiri.”
Enam bulan berlalu.
Nindy mendapat promosi besar di kantornya.
Ia dipercaya memimpin divisi baru.
Kariernya berkembang jauh lebih cepat.
Sementara itu, Juna memilih pindah ke kota lain.
Ia mengundurkan diri dari perusahaan lama dan memulai hidup dari nol.
Suatu sore, tanpa sengaja mereka bertemu di bandara.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada tangisan.
Hanya dua orang yang pernah saling mencintai, tetapi gagal menjaga kepercayaan.
“Selamat ya,” kata Juna pelan.
“Nggak nyangka kamu jadi direktur proyek.”
“Makasih.”
Juna tersenyum tipis.
“Aku benar-benar kehilangan perempuan terbaik dalam hidupku.”
Nindy mengangguk pelan.
“Dulu aku juga kehilangan suami terbaik yang pernah kubayangkan.”
Mereka saling tersenyum.
Kemudian berjalan ke gerbang keberangkatan masing-masing.
Tidak ada yang menoleh ke belakang.
Karena mereka akhirnya mengerti satu hal.
Perselingkuhan mungkin menghancurkan sebuah rumah tangga, tetapi yang benar-benar merobohkannya adalah ketika kepercayaan dikalahkan oleh prasangka. Dan ketika kepercayaan telah mati, cinta yang paling besar sekalipun belum tentu mampu menghidupkannya kembali.
