Tangan Ibu Corazon gemetar begitu hebat ketika jemarinya menyentuh amplop cokelat itu.
Amarah yang beberapa detik sebelumnya membara di wajahnya mendadak lenyap. Kulit wajahnya memucat, sementara matanya terpaku pada lambang kecil berwarna emas di sudut amplop.
Rosa yang masih bersimpuh di lantai langsung menyadari perubahan itu.
Selama tujuh tahun bekerja di rumah tersebut, ia belum pernah melihat Ibu Corazon ketakutan seperti ini.
Bahkan ketika perusahaan keluarganya pernah mengalami kerugian puluhan miliar rupiah, perempuan itu masih bisa duduk tenang sambil meminum kopi.

Namun sekarang, hanya karena sebuah amplop, tangannya sampai gemetar.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?” tanyanya pelan.
“Dari dalam vas, Bu.”
Corazon menoleh tajam.
“Jangan bohong.”
“Saya bersumpah, Bu. Waktu vasnya pecah, amplop itu keluar dari rongga bagian bawah.”
Corazon menatap pecahan keramik di lantai, lalu kembali menatap amplop tersebut.
Ia segera merobek plastik pelindungnya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen, sebuah foto lama, dan sebuah flashdisk kecil.
Begitu melihat foto itu, Corazon seperti kehilangan tenaga.
Ia terduduk di sofa.
Rosa sempat melihat sekilas foto tersebut.
Seorang laki-laki muda berdiri di depan sebuah rumah sederhana bersama seorang perempuan yang menggendong bayi.
Laki-laki itu adalah Enrico.
Wajahnya memang jauh lebih muda, tetapi Rosa mengenalinya.
Yang membuat Rosa terkejut adalah perempuan di samping Enrico.
Wajah perempuan itu terasa sangat familiar.
Corazon buru-buru membalik foto.
“Keluar.”
Rosa terdiam.
“Bu?”
“Saya bilang keluar dari ruangan ini!”
Rosa segera berdiri. Namun sebelum sempat melangkah jauh, Corazon memanggilnya lagi.
“Rosa.”
Rosa menoleh.
“Jangan ceritakan tentang amplop ini kepada siapa pun. Termasuk pekerja lain.”
“Baik, Bu.”
“Dan soal vas itu…”
Rosa menahan napas.
“Saya tidak akan memotong gajimu.”
Rosa terperangah.
“Tapi, Bu, vas itu dua miliar…”
“Lupakan vasnya.”
Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun, Rosa mendengar majikannya mengatakan sesuatu yang lebih aneh daripada ancaman pemecatan.
“Lupakan semuanya yang kamu lihat hari ini.”
Malam itu, suasana mansyon berubah.
Corazon mengunci diri di ruang kerja. Makanan yang disiapkan Rosa tidak disentuh.
Sekitar pukul sebelas malam, ketika Rosa hendak pulang ke kamar pekerja, ia mendengar suara Corazon berbicara melalui telepon.
“Kamu bilang benda itu sudah dihancurkan.”
Rosa berhenti tanpa sengaja.
Suara Corazon terdengar tegang.
“Aku tidak peduli berapa harganya. Enrico menyembunyikan dokumen itu di dalam vas selama bertahun-tahun.”
Hening beberapa detik.
Kemudian Corazon berkata sesuatu yang membuat Rosa merinding.
“Kalau perempuan itu ternyata masih hidup, seluruh keluarga kita bisa hancur.”
Rosa buru-buru pergi.
Ia tidak ingin mencampuri urusan keluarga majikannya.
Namun keesokan paginya, semuanya menjadi semakin aneh.
Corazon memanggil Rosa ke ruang kerjanya.
Di atas meja terdapat foto yang ditemukan dari dalam vas.
“Kenal perempuan ini?”
Rosa memperhatikannya lebih dekat.
Jantungnya seperti berhenti.
Ia memang mengenal perempuan itu.
“Itu… kakak saya.”
Corazon berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.
“Apa?”
“Namanya Maria, Bu. Kakak kandung saya.”
Rosa mengambil foto dengan tangan gemetar.
Maria meninggal dua puluh empat tahun lalu akibat kecelakaan mobil di Bogor. Saat itu Rosa masih berusia sembilan belas tahun.
Namun ada satu bagian kehidupan Maria yang tidak pernah benar-benar diketahui keluarga mereka.
Maria pernah memiliki seorang bayi.
Setelah Maria meninggal, bayi itu menghilang.
Keluarga diberi tahu bahwa anak tersebut telah dibawa oleh ayah kandungnya, tetapi tak seorang pun mengetahui siapa laki-laki itu.
Corazon menatap Rosa tanpa berkedip.
“Siapa nama bayi itu?”
Rosa menggeleng.
“Kak Maria tidak pernah memberi tahu kami. Dia hanya bilang ayah anaknya berasal dari keluarga kaya yang tidak merestui hubungan mereka.”
Wajah Corazon semakin pucat.
Ia mengambil dokumen pertama dari amplop.
Rosa dapat melihat judulnya.
Hasil pemeriksaan DNA.
Nama Enrico tercetak jelas.
Nama bayi itu juga tercantum.
Leonardo Pratama.
Rosa membeku.
Leonardo.
Leo.
Anaknya sendiri.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Corazon menatapnya.
“Nama lengkap anakmu?”
Bibir Rosa gemetar.
“Leonardo Pratama.”
Ruangan itu seakan kehilangan udara.
Rosa langsung menggeleng keras.
“Tapi Leo anak saya.”
“Benarkah?”
Pertanyaan itu menusuk Rosa.
Ia memejamkan mata.
Dua puluh empat tahun lalu, setelah Maria meninggal, ibu mereka membawa pulang bayi berusia beberapa bulan.
Ibu mengatakan bayi itu harus mereka rawat.
Setahun kemudian, ibu mereka meninggal akibat sakit.
Rosa yang masih muda memutuskan membesarkan bayi tersebut sebagai anaknya sendiri.
Sejak saat itu, Leo memanggilnya Mama.
Rosa tidak pernah memberitahu siapa pun bahwa secara biologis Leo adalah keponakannya.
Ia takut anak itu merasa tidak diinginkan.
Air mata mengalir di pipi Rosa.
“Leo anak Kak Maria…”
Corazon terduduk kembali.
Berarti Leonardo adalah anak kandung Enrico.
Suaminya.
Dan selama tujuh tahun terakhir, ibu yang membesarkan anak kandung Enrico justru bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah mereka.
Sore itu, Corazon memeriksa isi flashdisk.
Di dalamnya terdapat rekaman video lama.
Enrico muncul di layar dalam usia sekitar tiga puluhan.
“Aku membuat rekaman ini karena aku tidak tahu apakah suatu hari aku masih punya kesempatan mengatakan kebenaran.”
Suara Enrico terdengar berat.
“Aku mencintai Maria. Kami berencana menikah, tetapi keluargaku menentangnya karena Maria berasal dari keluarga sederhana.”
Rosa menutup mulut sambil menangis.
Enrico melanjutkan.
“Setelah Leonardo lahir, ayahku mengancam akan menghancurkan kehidupan Maria jika aku tidak meninggalkannya. Aku pengecut. Aku memilih perusahaan dan keluargaku.”
Kemudian suara Enrico bergetar.
“Beberapa bulan kemudian Maria meninggal dalam kecelakaan.”
Corazon menghentikan video.
“Ada yang salah.”
Rosa menatapnya.
“Apa maksud Ibu?”
“Enrico selalu bilang perempuan yang pernah dicintainya meninggal karena kecelakaan biasa. Tapi dokumen lain ini…”
Corazon menunjukkan laporan penyelidikan.
Rem mobil Maria telah dirusak.
Kecelakaan itu bukan kecelakaan.
Seseorang sengaja ingin membunuhnya.
Pada bagian akhir laporan terdapat nama orang yang memerintahkan sabotase.
Gregorius Halim.
Ayah kandung Enrico.
Rosa terdiam lama.
Orang yang selama ini ia kira sebagai seorang pengusaha besar terhormat ternyata bertanggung jawab atas kematian kakaknya.
Namun misteri belum selesai.
Mengapa Enrico menyembunyikan semua bukti itu di dalam vas?
Malam berikutnya, Enrico tiba-tiba pulang lebih cepat dari perjalanan bisnis.
Begitu memasuki ruang tamu dan melihat alas kayu kosong, wajahnya berubah.
“Vasnya mana?”
Corazon sudah menunggunya.
“Sudah pecah.”
Enrico menjatuhkan tasnya.
“Apa?”
“Dan aku menemukan isinya.”
Enrico menatap istrinya.
Kemudian pandangannya beralih kepada Rosa yang berdiri beberapa meter di belakang Corazon.
Ketika melihat foto Maria berada di atas meja, wajah Enrico seketika kehilangan warna.
“Rosa…” bisiknya.
Rosa menatap laki-laki itu dengan mata penuh air mata.
“Leo adalah anak Bapak?”
Enrico tidak menjawab.
Namun air mata yang jatuh dari matanya sudah memberikan jawaban.
Rosa mendekatinya.
“Selama tujuh tahun saya bekerja di rumah ini. Bapak tahu siapa saya?”
Enrico menunduk.
“Tahu.”
Jawaban itu menghancurkan Rosa lebih dari apa pun.
“Jadi Bapak tahu Leo?”
“Aku tahu.”
Rosa menamparnya.
Corazon tidak menghentikannya.
“Kalau tahu, kenapa Bapak diam?!”
Enrico menangis.
“Aku mengawasi kalian dari jauh. Aku yang memastikan Leo mendapatkan beasiswa sejak SMA. Aku juga yang meminta yayasan kampus memberikan bantuan pendidikan kepadanya.”
Rosa teringat beberapa bantuan misterius yang diterima Leo.
Selama ini ia mengira semua itu karena prestasi anaknya.
“Kenapa tidak datang saja dan mengatakan kebenaran?”
“Karena aku takut.”
“Takut apa?”
Enrico menatap dokumen di meja.
“Ayahku belum mati.”
Corazon terkejut.
Selama ini semua orang mengetahui Gregorius Halim meninggal delapan tahun lalu di Singapura.
Enrico menggeleng.
“Kematian itu direkayasa. Dia hidup dengan identitas lain di luar negeri. Selama dia masih hidup, aku takut Leo akan mengalami nasib seperti Maria.”
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu.
Semua orang menoleh.
Seorang pria tua berjas abu-abu berdiri di sana bersama dua orang pengawal.
Enrico membeku.
“Ayah…”
Gregorius tersenyum.
“Seharusnya kamu menghancurkan vas itu sejak dulu.”
Corazon langsung meraih telepon.
Namun Gregorius tertawa.
“Silakan telepon polisi. Aku hanya datang mengambil sesuatu yang menjadi milikku.”
Ia menunjuk dokumen di meja.
Rosa berdiri di depannya.
“Anda membunuh kakak saya.”
Gregorius memandangnya tanpa rasa bersalah.
“Maria adalah kesalahan yang hampir menghancurkan keluarga kami.”
Enrico maju.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Dan anaknya adalah kesalahan berikutnya.”
Gregorius belum selesai bicara ketika suara lain terdengar dari belakang.
“Kalau begitu saya kesalahan yang selama ini Anda takutkan?”
Seorang pemuda berdiri di pintu.
Leo.
Rosa terkejut.
“Leo, kenapa kamu di sini?”
Leo mengangkat ponselnya.
“Tante Corazon menghubungi saya.”
Ternyata sebelum Enrico tiba, Corazon sudah menghubungi Leo dan polisi.
Lebih penting lagi, seluruh percakapan sejak Gregorius memasuki rumah telah direkam oleh kamera keamanan dan ponsel Leo.
Gregorius menyadari jebakan itu terlambat.
Beberapa menit kemudian, suara sirene terdengar dari luar mansyon.
Kasus kematian Maria dibuka kembali berdasarkan bukti yang selama puluhan tahun disembunyikan Enrico.
Gregorius akhirnya ditangkap.
Namun kejutan terbesar justru terjadi setelah semuanya selesai.
Enrico meminta Leo menerima pengakuan hukum sebagai anaknya sekaligus ahli waris.
Leo menolak.
“Saya tidak membutuhkan warisan.”
Enrico terpukul.
“Saya hanya ingin memperbaiki kesalahan saya.”
Leo memandang Rosa.
“Kalau Bapak benar-benar ingin memperbaikinya, jangan mulai dari uang.”
Ia menggenggam tangan Rosa.
“Perempuan ini mengorbankan hidupnya untuk membesarkan saya. Saat saya sakit, dia yang begadang. Saat uang kuliah kurang, dia bekerja sampai malam. Saya mungkin anak kandung Bapak, tetapi Mama Rosa tetap ibu saya.”
Rosa menangis dan memeluk Leo.
Untuk pertama kalinya, Corazon juga tidak mampu menahan air mata.
Beberapa bulan kemudian, Leo lulus sebagai insinyur.
Enrico datang ke wisuda, tetapi memilih duduk di barisan belakang.
Corazon duduk di samping Rosa.
Hubungan mereka tidak pernah kembali seperti majikan dan pekerja.
Rosa bahkan sudah berhenti bekerja di mansyon tersebut setelah Corazon memberinya modal untuk membuka usaha katering kecil.
Sebelum acara wisuda dimulai, Corazon berbisik kepadanya.
“Rosa, dulu aku menganggap vas itu benda paling mahal di rumahku.”
Rosa tersenyum.
“Dua miliar memang mahal, Bu.”
Corazon menggeleng.
“Ternyata tidak.”
Ia memandang Leo yang sedang mengenakan toga.
“Kalau vas itu tidak pecah, mungkin kebohongan itu akan tetap utuh selamanya.”
Rosa terdiam.
Ia akhirnya memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun ia takut kehilangan pekerjaan karena memecahkan barang milik orang kaya.
Padahal benda yang ia pecahkan secara tidak sengaja justru membebaskan sebuah keluarga dari kebohongan yang jauh lebih mahal.
Ketika nama Leonardo Pratama dipanggil, Rosa berdiri paling cepat dan bertepuk tangan sambil menangis.
Leo menoleh ke arah kerumunan.
Bukan Enrico yang pertama ia cari.
Bukan pula Corazon.
Matanya mencari perempuan sederhana yang selama puluhan tahun dipanggilnya Mama.
Dan saat pandangan mereka bertemu, Leo tersenyum.
Senyum seorang anak yang akhirnya mengetahui dari mana darahnya berasal, tetapi juga memahami satu kebenaran yang jauh lebih penting.
Keluarga tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memberikan kita kehidupan.
Kadang, keluarga adalah orang yang memilih tetap tinggal, ketika seluruh dunia memilih pergi.
