AYAHKU MERUSAK GAUN PENGANTINKU DUA MALAM SEBELUM PERNIKAHAN DEMI MEMAKSAKU MENIKAH DENGAN PRIA LAIN — TETAPI DUNIA MEREKA HANCUR SAAT MEREKA MENGETAHUI RAHASIA YANG SELAMA INI KUSEMBUNYIKAN!

“Sudah selesai?” tanyaku dengan tenang.

Senyum Marco perlahan menghilang. Ia tampak tidak menyangka bahwa aku tidak menangis atau memohon seperti biasanya. Ayahku, Don Roberto, menatapku dengan tatapan tajam, seolah sedang menunggu saat aku akhirnya menyerah.

“Jangan menatapku seperti itu,” katanya dingin. “Kau tidak punya pilihan.”

Aku membungkuk, mengambil sepotong kain putih yang baru saja ia hancurkan. Gaun itu bukan sekadar pakaian. Aku menjahitnya sendiri selama hampir enam bulan, mencuri waktu di antara pesanan pelanggan dan cibiran keluargaku. Setiap jahitan mengandung harapanku untuk hidup sederhana bersama Mateo.

Tetapi saat melihat potongan kain itu tergeletak di lantai, anehnya, aku tidak merasakan kesedihan yang mereka inginkan.

Aku hanya merasa lelah.

Lelah menjadi anak yang selalu diperalat.

Lelah menyaksikan bagaimana keluargaku menjual harga diri mereka demi uang.

“Aku tidak akan menikah dengan siapa pun selain Mateo,” kataku pelan.

Ayahku tertawa sinis.

“Kau masih keras kepala? Apa kau pikir guru kampungan itu bisa menyelamatkan hidupmu? Keluarga kita terlilit utang miliaran rupiah. Pak Wali Kota sudah setuju membantu, asalkan kau menjadi istrinya.”

“Bukan istrinya,” sahutku sambil menatap lurus ke matanya. “Aku hanya akan menjadi jaminan utangmu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah ayahku berubah.

“Kurang ajar!”

Tangannya terangkat, tetapi aku tidak bergeming.

Ibuku buru-buru memegang lengannya.

“Sudahlah, Roberto. Besok dia pasti sadar.”

Marco menyeringai.

“Kalau aku jadi kau, Elara, aku akan memilih hidup mewah daripada tinggal di rumah kontrakan bersama guru miskin.”

Aku menatap kakakku lama sekali.

Marco selalu menjadi kebanggaan keluarga. Ayahku membiayai bisnisnya berkali-kali meski semuanya bangkrut. Ia berjudi, berutang, dan menghamburkan uang, tetapi tetap dianggap sebagai pewaris keluarga.

Sementara aku, yang bekerja sejak remaja untuk membantu membayar tagihan rumah, selalu dipandang sebagai anak yang gagal.

Malam itu, setelah mereka pergi, aku mengunci pintu kamar. Tanganku gemetar ketika mengambil ponsel.

Mateo mengangkat panggilanku sebelum nada dering kedua.

“Elara?”

Aku tidak mampu menahan air mata lagi.

“Mereka menghancurkan gaunku.”

Beberapa detik hanya ada keheningan di ujung sana.

“Aku akan datang.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

Aku menatap jendela yang gelap.

“Karena ini bukan soal gaun.”

Mateo mengenalku lebih baik daripada siapa pun. Ia tahu ada sesuatu yang selama ini kusimpan rapat-rapat.

“Apa kau akan memberi tahu mereka sekarang?” tanyanya pelan.

Aku memejamkan mata.

“Kurasa sudah waktunya.”

Dua tahun sebelumnya, ketika bisnis keluarga kami mulai runtuh akibat skandal korupsi ayahku, aku diam-diam mengambil pekerjaan tambahan. Awalnya hanya menjahit gaun pengantin untuk pelanggan kecil di Jakarta.

Tak seorang pun tahu bahwa desain-desainku mulai dikenal di media sosial.

Tak seorang pun tahu bahwa butik-butik besar mulai memesan karyaku.

Dan yang paling penting, keluargaku tidak pernah tahu bahwa nama “Aruna Atelier”, rumah mode yang mendadak terkenal di kalangan selebritas Indonesia, sebenarnya adalah milikku.

Aku sengaja menyembunyikannya.

Bukan karena malu.

Tetapi karena aku tahu, jika mereka mengetahui kebenarannya, mereka akan mengambil semuanya dariku.

Keesokan paginya, rumah kami dipenuhi tamu.

Pak Wali Kota datang bersama beberapa asistennya. Usianya enam puluh tahun lebih, perutnya buncit, dan senyumnya membuatku muak.

Ayahku menyambutnya seperti seorang raja.

“Elara!” teriaknya dari ruang tamu. “Cepat turun!”

Aku turun mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam.

Pak Wali Kota menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

“Kau lebih cantik dari foto-fotomu.”

Aku menahan rasa jijik.

“Kita akan menikah lusa,” katanya sambil tersenyum. “Aku sudah menyiapkan rumah baru untukmu.”

“Aku tidak akan menikah dengan Anda.”

Senyum itu memudar.

Ayahku langsung membentak.

“Elara!”

Tetapi aku melangkah maju.

“Saya tidak akan menjual hidup saya demi utang orang lain.”

Wajah ayahku memerah.

“Cukup!”

Ia membanting meja hingga cangkir kopi bergetar.

“Kau pikir kau punya kuasa di rumah ini?”

Aku menarik napas panjang.

“Tidak. Tapi aku punya hak atas hidupku sendiri.”

Marco berdiri dan tertawa mengejek.

“Hak? Kau bahkan tidak punya uang untuk mengganti gaunmu.”

Aku menatapnya tenang.

“Benarkah?”

Ia mengerutkan dahi.

Aku mengeluarkan sebuah map dari tasku dan meletakkannya di atas meja.

“Ayah selalu penasaran bagaimana aku bisa bertahan hidup hanya dengan menjahit pakaian biasa, bukan?”

Tak seorang pun menjawab.

“Ayah selalu menganggapku gagal karena memilih menjadi penjahit.”

Ayahku mendengus.

“Memang begitu.”

Aku membuka map itu.

Di dalamnya terdapat dokumen perusahaan, laporan keuangan, dan foto-foto peragaan busana.

“Aku pemilik Aruna Atelier.”

Ruangan mendadak sunyi.

Marco tertawa keras.

“Omong kosong.”

Tetapi tawanya berhenti ketika aku melemparkan akta perusahaan ke hadapannya.

Ibuku mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar.

“Apa ini?”

“Aku mendirikan perusahaan itu empat tahun lalu.”

Ayahku merebut dokumen tersebut. Matanya membelalak saat melihat angka-angka yang tercantum.

“Itu tidak mungkin…”

“Pendapatan tahun lalu mencapai hampir lima puluh miliar rupiah.”

Pak Wali Kota yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.

“Aruna Atelier? Butik yang mendesain pakaian istri menteri itu?”

Aku mengangguk.

“Ya.”

Ibuku terduduk lemas.

“Astaga…”

Marco mendekat, wajahnya pucat.

“Kau berbohong.”

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka siaran langsung konferensi pers yang berlangsung di hotel mewah Jakarta pagi itu.

Di layar, direktur operasional Aruna Atelier sedang berbicara kepada wartawan.

“Kami menunggu kehadiran pendiri kami, Ibu Elara Wijaya.”

Nama itu terpampang jelas.

Ayahku terdiam.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ia menatapku bukan sebagai anak yang gagal.

Melainkan seseorang yang tidak lagi bisa ia kendalikan.

“Ayah…” kataku pelan. “Selama bertahun-tahun aku membantu membayar listrik rumah ini. Aku melunasi utang Marco tanpa sepengetahuan siapa pun. Aku membiayai pengobatan Ibu ketika sakit tahun lalu.”

Air mata mulai menggenang di mata ibuku.

“Aku melakukan semuanya tanpa meminta penghargaan. Tapi kalian tetap menganggapku beban.”

Ayahku mencoba berbicara.

“Elara, kita keluarga…”

Aku tertawa kecil.

“Keluarga?”

Aku menunjuk sisa-sisa gaun yang masih tergeletak di sudut ruangan.

“Keluarga tidak menghancurkan impian anaknya demi menyelamatkan dirinya sendiri.”

Pak Wali Kota berdiri perlahan.

Ia tampak sangat tidak nyaman.

“Pak Roberto, sepertinya kita perlu meninjau ulang rencana ini.”

“Tunggu…” kata ayahku panik.

Tetapi pria itu sudah mengambil jasnya.

“Saya tidak ingin terlibat dalam masalah keluarga Anda.”

Setelah rombongan itu pergi, rumah terasa sunyi.

Marco mendekat dengan senyum yang dipaksakan.

“Dengar, adik kecil…”

“Jangan panggil aku begitu.”

Ia terdiam.

“Kita bisa bekerja sama,” katanya cepat. “Bisnismu besar. Aku bisa membantu mengelolanya.”

Aku hampir tertawa.

“Kau bahkan tidak mampu mengelola hidupmu sendiri.”

Wajahnya memerah.

Ayahku mendekat dengan nada yang jauh lebih lembut daripada biasanya.

“Elara, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu.”

Aku memandang pria yang selama puluhan tahun menjadi sosok paling menakutkan dalam hidupku.

“Terlambat.”

Aku meletakkan kunci rumah di atas meja.

“Hari ini aku pergi.”

Ibuku menangis.

“Elara, jangan lakukan ini.”

Aku memeluknya sebentar.

“Aku mencintai Ibu. Tapi aku tidak bisa terus tinggal di tempat yang membuatku merasa tidak berharga.”

Aku melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Di depan rumah, Mateo sudah menungguku.

Ia berdiri di samping motor tuanya sambil membawa sebuah kotak panjang.

“Apa itu?” tanyaku.

Ia tersenyum.

“Buka saja.”

Tanganku gemetar saat membuka kotak itu.

Di dalamnya ada gaun pengantin baru.

Sederhana, anggun, dan dijahit dari potongan-potongan kain yang diam-diam berhasil ia selamatkan dari kamar kerjaku malam sebelumnya.

“Aku meminta bantuan murid-muridku,” katanya malu-malu. “Kami bekerja semalaman.”

Aku menahan tangis.

“Ini tidak sempurna.”

Mateo menggenggam tanganku.

“Tidak harus sempurna.”

Dua hari kemudian, kami menikah di sebuah gereja kecil di pinggiran Jakarta.

Tidak ada gedung mewah.

Tidak ada pejabat.

Tidak ada pesta besar.

Hanya keluarga Mateo, beberapa sahabat, dan murid-muridnya yang datang membawa bunga liar.

Aku berjalan menuju altar dengan gaun yang dibuat dari sisa-sisa kehancuran.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa utuh.

Kupikir kisahku berakhir di sana.

Aku salah.

Tiga bulan setelah pernikahan kami, berita besar mengguncang kota.

Ayahku ditangkap atas kasus korupsi dan pencucian uang yang telah lama diselidiki aparat. Banyak aset keluarga disita.

Marco menghilang setelah terlilit utang judi.

Ibuku pindah ke apartemen kecil yang diam-diam kubelikan atas namanya.

Suatu malam, ketika aku sedang menutup butik, seorang pria tua datang menghampiriku.

Itu ayahku.

Tubuhnya lebih kurus, rambutnya memutih.

“Aku hanya ingin bertanya satu hal,” katanya lirih.

Aku diam.

“Kenapa kau tetap membantu ibumu setelah semua yang terjadi?”

Aku menatap jalanan Jakarta yang basah oleh hujan.

Dulu, aku selalu membayangkan saat ini. Aku membayangkan akan merasa puas melihat semuanya hancur.

Namun kenyataannya tidak demikian.

“Ayah tahu apa perbedaan antara kekuasaan dan cinta?”

Ia menggeleng.

“Kekuasaan membuat orang takut kehilanganmu. Tapi cinta membuat orang tetap tinggal, bahkan setelah mereka terluka.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku gagal menjadi ayah.”

Aku tidak menjawab.

Karena beberapa luka memang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.

Ayahku pergi malam itu tanpa meminta apa pun.

Aku tidak pernah melihatnya lagi.

Bertahun-tahun kemudian, Aruna Atelier berkembang menjadi salah satu rumah mode terbesar di Indonesia. Namun, dari semua gaun yang pernah kudesain, ada satu yang selalu kusimpan di ruang kerjaku.

Gaun pengantin sederhana yang dijahit dari serpihan kain yang pernah dihancurkan ayahku.

Bukan karena gaun itu indah.

Melainkan karena gaun itu mengingatkanku bahwa terkadang, orang-orang yang berusaha menghancurkan masa depan kita justru tanpa sadar sedang mendorong kita menuju kehidupan yang memang pantas kita miliki.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang