Ruangan eksekutif yang tadinya terasa megah kini mendadak mencekam. Kehadiran Don Emilio Arceo seperti membawa badai es yang membekukan atmosfer di sana. Rafael, yang beberapa menit lalu berdiri tegak dengan keangkuhan seorang CEO, kini mematung. Wajahnya memucat, matanya menatap kakekku dengan ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan.

“D-Don Emilio…” suara Rafael bergetar. “Apa maksud Anda? Pemilik sebenarnya? Leona… Leona hanyalah anak dari pengusaha kecil di Cebu!”
Don Emilio tidak langsung menjawab. Pria tua yang memimpin salah satu konglomerat paling disegani di Asia Tenggara itu melangkah maju. Sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang menuntut kepatuhan. Dua pengawal pribadi Don Emilio langsung masuk dan mengunci pintu dari dalam.
“Pengusaha kecil?” Don Emilio mendengus remeh. Beliau melemparkan amplop cokelat di tangannya tepat ke atas meja kerja Rafael. Dokumen di dalamnya berhamburan.
Itu adalah akta kepemilikan saham.
“Tiga tahun lalu, saat perusahaanmu hampir bangkrut karena kesalahan investasimu di Singapura, sebuah perusahaan cangkang bernama Apex Alpha Ltd. menyuntikkan dana segar sebesar 500 miliar rupiah. Kamu pikir itu mukjizat?” Don Emilio menatap Rafael dengan pandangan menghina. “Apex Alpha adalah anak perusahaan dari Arceo Pacific Holdings. Dan 60% saham Montemayor Global yang mereka pegang… semuanya atas nama cucuku, Leona Arceo.”
Rafael mundur selangkah hingga menabrak kursi kerjanya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap dokumen itu, lalu beralih menatapku.
“Leona… kamu…”
Aku hanya berdiri di dekat pintu, menyeka sisa darah di sudut bibirku dengan tisu yang kubawa. Rasa sakit di pipiku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepuasan melihat runtuhnya harga diri pria egois ini.
“Aku sengaja menyembunyikannya, Rafael,” kataku, suaraku terdengar dingin dan bergema di ruangan yang sunyi itu. “Aku ingin dicintai sebagai Leona, bukan sebagai pewaris Arceo. Aku ingin mendukungmu dari bawah, membiarkanmu bersinar. Tapi ternyata, begitu kamu berada di atas, kamu lupa siapa yang membangun tanggamu.”
Bagian 3: Tikus yang Terjebak
Bianca, yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Rafael, mulai menangis histeris. Namun kali ini, itu bukan air mata buatan untuk menarik simpati. Itu adalah air mata ketakutan yang murni.
“Pak Rafael, tolong saya… Manajemen apartemen bilang barang-barang saya sudah dikeluarkan ke lobi. Rekening bank saya juga dibekukan!” isak Bianca, mencengkeram lengan kemeja Rafael.
Namun Rafael tidak lagi memedulikannya. Dengan kasar, dia mengibaskan tangan Bianca hingga wanita itu tersungkur ke lantai. Fokus Rafael sepenuhnya tertuju padaku.
“Leona, maafkan aku! Aku khilaf, aku dijebak olehnya!” Rafael tiba-tiba melangkah maju dan menjatuhkan lututnya di hadapanku. Pria yang tadi memerintahkan pengawalnya untuk menamparku kini bersujud di lantai, mencoba meraih ujung sepatuku. “Aku bersumpah aku tidak tahu! Bianca yang merayuku, dia yang memfitnahmu! Tolong, hentikan Rencana B. Jangan hancurkan Montemayor Global, ini adalah hidupku!”
“Hidupmu?” Aku melangkah mundur, menghindari sentuhannya yang menjijikkan. “Lalu bagaimana dengan harga diriku yang kamu injak-injak sepuluh kali malam ini?”
Kakekku, Don Emilio, memberi isyarat kepada pengawalnya. Kedua pria berbadan tegap itu langsung meringkus kedua pengawal Rafael yang tadi menamparku.
“Siapa pun yang menyentuh darah daging Arceo tidak akan pernah melihat matahari dengan tenang di negara ini,” kata Don Emilio dingin. “Bawa mereka keluar. Pastikan mereka menerima ‘balasan’ yang setimpal.” Kedua pengawal Rafael itu diseret keluar sambil memohon ampun, namun pintu segera tertutup kembali.
Sekarang, giliran Rafael dan Bianca yang gemetar di dalam ruangan.
Bagian 4: Sebelum Matahari Terbit
Ponsel Rafael kembali berdering, layarnya menyala tanpa henti. Berita di televisi yang terpasang di dinding kantor tiba-tiba memotong siaran reguler dengan berita utama:
“BREAKING NEWS: Saham Montemayor Global (MMG) Anjlok Terjun Bebas 35% dalam Satu Jam Akibat Penarikan Dana Massal Asing dan Isu Kebangkrutan. BEI Bersiap Menghentikan Sementara Perdagangan Saham.”
“Belum selesai, Rafael,” kataku sambil melihat jam tangan. “Ini masih jam 9 malam. Kita punya waktu beberapa jam lagi sebelum matahari terbit, persis seperti permintaanku kepada Paman Dario.”
Aku mendekati meja kerjanya, mengambil sebuah dokumen kosong, lalu menuliskan beberapa baris kalimat di atasnya dengan pena emas milik Rafael.
Surat Pernyataan Cerai dan Pelepasan Seluruh Aset kepemilikan Rafael Montemayor kepada Leona Arceo.
Aku melemparkan pena itu ke hadapannya.
“Tanda tangani ini. Kamu keluar dari gedung ini tanpa membawa sepeser pun. Rumah di Forbes Park, mobil-mobil mewah, saham tersisamu di perusahaan ini, semuanya menjadi milikku sebagai ganti rugi sepuluh tamparan tadi,” kataku dengan nada mutlak.
“Jika aku tidak mau?!” Rafael mendongak, matanya merah penuh amarah dan keputusasaan. “Kamu tidak bisa merampas segalanya dariku!”
Don Emilio maju satu langkah, auranya begitu menekan hingga Rafael mengkerut kembali. “Jika kamu tidak menandatanganinya, besok pagi kejaksaan akan menerima dokumen lengkap mengenai penggelapan pajak dan pencucian uang yang dilakukan Montemayor Global selama dua tahun terakhir. Kamu tidak hanya akan miskin, Rafael. Kamu akan membusuk di penjara seumur hidupmu.”
Mendengar kata ‘penjara’, seluruh sisa keberanian Rafael lenyap. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia mengambil pena tersebut dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas. Begitu selesai, dia ambruk ke lantai, menyadari bahwa kerajaannya telah musnah dalam sekejap.
Bagian 5: Ratu yang Sebenarnya
Aku mengambil kertas itu, memeriksanya sekilas, lalu melipatnya dengan rapi. Aku menoleh ke arah Bianca yang masih menangis di sudut ruangan.
“Bianca,” panggilku tenang. Wanita itu tersentak dan menatapku dengan wajah pucat pasi. “Kamu bilang kamu adalah ratu di tempat ini, kan? Sekarang, tempat ini sudah menjadi milikku sepenuhnya. Selamat menikmati sisa malammu di jalanan.”
Aku berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, diikuti oleh kakekku dan para pengawal. Di luar pintu kaca, puluhan karyawan Montemayor Global berdiri dengan wajah tegang dan ketakutan. Mereka melihatku—bukan lagi sebagai istri pendiam yang bisa mereka abaikan, melainkan sebagai sosok yang baru saja membalikkan dunia mereka dalam hitungan menit.
Sebelum melangkah ke lift khusus eksekutif, aku berhenti sejenak dan menatap sekretaris utama yang berdiri di dekat meja resepsionis.
“Beritahu seluruh karyawan,” kataku dengan suara yang cukup lantang hingga terdengar ke seluruh lantai. “Besok pagi, Montemayor Global akan berganti nama menjadi Arceo Prime Dynamics. Siapa pun yang setia pada manajemen lama, silakan kemas barang kalian malam ini juga.”
Pintu lift terbuka. Aku masuk ke dalam bersama Don Emilio. Begitu pintu tertutup, memisahkan kami dari kekacauan di luar, kakekku menatap pipiku yang membengkak dengan mata yang berkaca-kaca karena amarah yang tertahan.
“Kamu terlalu baik, Leona. Seharusnya kakek membiarkan mereka membusuk di penjara sejak awal,” kata Don Emilio sambil mengelus rambutku dengan lembut.
Aku tersenyum kecil, mengabaikan rasa perih di wajahku.
“Tidak apa-apa, Kakek. Jatuh dari tempat tertinggi selalu terasa lebih menyakitkan daripada langsung dijebloskan ke penjara. Biarkan mereka merasakan bagaimana rasanya merangkak di lumpur yang dulu mereka ciptakan.”
Saat lift tiba di lantai dasar Bonifacio Global City, angin malam menyambutku. Aku mendongak, menatap langit Manila yang luas. Malam ini, pernikahan tiga tahunku resmi berakhir. Namun malam ini juga, Leona Arceo yang sesungguhnya telah kembali untuk mengambil takhtanya.
