
Monitor CCTV di pos satpam tiba-tiba terasa lebih menarik daripada televisi delapan puluh inci di ruang keluarga.
Pak Darno berdiri di depan layar dengan wajah tegang. Tangannya masih memegang mouse, sementara semua orang berdesakan di belakangnya.
Aku berdiri di samping meja plastik, masih menggenggam dua butir kacang.
“Pak Darno,” kataku, “kalau rekamannya ternyata cuma kucing lewat, saya akan kecewa.”
Tak ada yang tertawa.
Terutama Keisha.
Wajahnya yang tadi pucat kini berubah semakin putih.
Pak Darno membuka rekaman sekitar satu jam sebelumnya.
Kamera itu sebenarnya menghadap gerbang utama, tetapi sudut kirinya menangkap sebagian taman samping, termasuk jendela kaca besar yang memantulkan area tangga dalam rumah.
Gambarnya tidak sempurna.
Namun cukup jelas.
Di layar terlihat aku dan Keisha berbicara di dekat tangga.
Lalu bel berbunyi.
Aku meninggalkan Keisha dan berjalan menuju pintu depan.
Beberapa detik kemudian, aku muncul lagi di luar bersama Rio sambil mengangkat kardus.
Pak Darno mempercepat rekaman.
Aku dan Rio menghilang menuju gudang belakang.
Keisha masih terlihat dalam pantulan kaca.
Sendirian.
Arga mendekat ke monitor.
“Putar pelan.”
Pak Darno menurunkan kecepatannya.
Kami semua melihat Keisha berdiri di anak tangga kedua.
Dia menoleh ke arah lorong.
Lalu naik tiga anak tangga.
Berhenti.
Menaruh gelas jus di dekat pegangan tangga.
Kemudian dia duduk.
Ya.
Duduk.
Bukan jatuh.
Dia duduk di anak tangga, memegang pergelangan kakinya sendiri, lalu mendorong tubuhnya turun sekitar dua anak tangga.
Gelas jus yang tadi diletakkan sengaja disikutnya.
Pecah.
Setelah itu, dia berteriak.
Pos satpam menjadi sunyi.
Bahkan suara kipas angin tua di sudut ruangan terasa seperti mesin pesawat.
Aku memasukkan satu kacang ke mulut.
Kriuk.
Semua orang menoleh kepadaku.
Aku berhenti mengunyah.
“Maaf.”
Keisha mulai menangis.
“Kamera itu tidak menunjukkan semuanya.”
Aku menatap layar.
“Benar.”
Dia langsung melihatku, seperti mendapatkan bantuan tak terduga.
Aku melanjutkan,
“Kamera juga tidak menunjukkan kenapa kamu berpikir menjatuhkan diri sendiri dari tangga adalah ide bagus.”
Wajahnya berubah.
Arga menoleh kepada adiknya.
“Keisha.”
“Mas, dengarkan aku dulu.”
“Apa yang harus kudengarkan?”
“Aku cuma takut.”
“Takut apa?”
Keisha menggenggam tepi kursi roda.
“Takut semuanya berubah sejak dia datang.”
Dia menunjukku.
Aku otomatis menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
“Oh, saya?”
“Nadira!”
Ratih membentak, tapi suaranya terdengar lelah.
Keisha menangis semakin keras.
“Sejak Mama bilang menemukan Nadira, semua orang hanya membicarakan dia. Mama pergi ke Yogyakarta berkali-kali. Papa mulai bertemu pengacara. Mas Arga juga terus bertanya soal hasil DNA. Aku tahu apa yang akan terjadi.”
Surya mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Keisha menggeleng cepat.
“Aku bukan anak kandung Mama. Nadira anak kandung Mama. Kalau dia kembali, aku akan jadi orang asing di rumah ini.”
Ratih terlihat terkejut.
“Keisha, siapa yang mengatakan itu?”
“Tidak perlu ada yang bilang.”
“Perlu,” sahutku.
Semua orang menatapku lagi.
Aku menghela napas.
“Maaf, tapi ini penting. Orang jarang tiba-tiba punya ketakutan sedetail itu tanpa ada sumbernya.”
Keisha terdiam.
Aku berjalan mendekat.
“Siapa yang bilang kalau aku pulang, kamu akan kehilangan sesuatu?”
Matanya bergerak sekilas.
Ke arah Surya.
Sangat cepat.
Tapi aku melihatnya.
Surya pun melihatku melihatnya.
Wajahnya mengeras.
“Jangan membuat tuduhan sembarangan.”
“Saya belum menuduh siapa-siapa.”
Aku menunjuk Keisha.
“Saya bertanya.”
Arga membungkuk di depan kursi roda adiknya.
“Keisha, jawab.”
Air mata Keisha jatuh.
“Papa pernah bilang…”
Surya langsung memotong.
“Keisha.”
Semua orang membeku.
Aku mengangkat alis.
Wah.
Nada itu.
Nada orang yang baru sadar pintu kandang sudah terbuka tapi harimaunya masih duduk di dalam.
Keisha menatap ayahnya, lalu Ratih.
“Papa pernah bilang kalau Nadira benar-benar anak Mama, semua aset keluarga bisa berubah.”
Ratih perlahan menoleh kepada suaminya.
“Aset?”
Surya berdiri tegak.
“Itu percakapan pribadi.”
“Percakapan pribadi dengan anakmu sampai dia takut kehilangan rumah?”
“Ratih, kita bicarakan di dalam.”
“Tidak.”
Suara Ratih tiba-tiba berbeda.
Tidak tinggi.
Tidak emosional.
Justru dingin.
“Kita bicarakan sekarang.”
Aku melihat sekeliling.
Pak Darno masih memegang mouse.
Satpam lain berdiri seperti patung.
Rio mulai mundur perlahan.
Aku menyentuh lengannya.
“Mau ke mana?”
“Mbak, paket saya sebenarnya sudah selesai.”
“Tapi dramanya belum.”
“Saya takut nanti masuk berita acara.”
“Benar juga.”
Rio mengangguk dan mundur lagi.
Tiba-tiba ponsel Pak Darno berbunyi.
Dia melihat layar.
“Lho.”
Aku menoleh.
“Perempuan Facebook?”
Pak Darno mengangguk.
Situasi keluarga sedang hampir meledak, tetapi rasa ingin tahuku punya prinsip sendiri.
“Dia bilang apa?”
Pak Darno membaca.
“Katanya ibunya masuk rumah sakit.”
Aku menutup mata.
“Dua juta?”
Pak Darno menatapku seperti melihat dukun.
“Dua juta lima ratus.”
Satpam lain berbisik,
“Hebat juga.”
Aku mengambil ponselnya.
“Pak, blokir.”
“Tapi kalau benar ibunya sakit?”
“Pak Darno.”
Aku memperbesar foto profil perempuan itu.
“Ini foto orang lain.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Karena saya pernah lihat wajah ini.”
Semua orang menoleh.
Aku membuka browser ponsel Pak Darno dan melakukan pencarian gambar.
Tak sampai semenit, muncul beberapa hasil.
Perempuan di foto itu ternyata seorang influencer kecantikan asal Surabaya dengan ratusan ribu pengikut.
Namanya bahkan bukan Anita seperti yang dikatakan kepada Pak Darno.
Pak Darno menatap layar dengan wajah hancur.
“Jadi… dia bohong?”
Aku mengembalikan ponselnya.
“Yang mengobrol dengan Bapak mungkin laki-laki, perempuan, mahasiswa, bapak-bapak, atau satu tim penipu di kamar kontrakan.”
Pak Darno duduk lemas.
“Tapi dia pernah bilang saya ganteng.”
Aku terdiam.
Aku menepuk bahunya.
“Bagian itu mungkin saja benar.”
Pak Darno menatapku.
“Serius?”
“Tidak ada gunanya menghancurkan semua harapan dalam satu malam.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, Ratih tertawa kecil.
Hanya sepersekian detik.
Kemudian wajahnya kembali tegang saat menatap Surya.
“Aku ingin tahu kenapa kamu membicarakan aset dengan Keisha.”
Surya mengembuskan napas.
“Karena memang harus dibicarakan.”
“Aset apa?”
Surya menatapku.
Tatapan yang sejak pertama kali bertemu sudah terasa aneh.
Bukan tatapan seseorang yang tidak suka kepadaku.
Lebih mirip seseorang yang sedang menghitung risiko.
Dia akhirnya berkata,
“Rumah ini.”
Ratih membeku.
“Rumah ini kenapa?”
“Secara hukum, rumah ini bukan milikku.”
Arga mengerutkan dahi.
“Bukannya rumah ini dibeli Papa?”
Ratih tertawa pendek tanpa humor.
“Tidak.”
Surya menatap istrinya.
Ratih melanjutkan,
“Tanah ini milik keluargaku. Rumah dibangun menggunakan warisan ayahku.”
Keisha menunduk.
Surya berkata,
“Dan beberapa aset perusahaan juga menggunakan modal Ratih.”
Aku mengangkat tangan.
Ratih langsung menatapku.
“Nadira, jangan sekarang.”
Aku menurunkan tangan.
Dua detik.
Lalu kuangkat lagi.
“Maaf, benar-benar penting.”
“Apa?”
“Kenapa saya memengaruhi pembagian aset?”
Surya diam.
Ratih yang menjawab.
“Karena bertahun-tahun lalu, sebelum kamu hilang, ayahku membuat surat wasiat.”
Ada sesuatu dalam dadaku yang terasa berubah.
Bukan karena kata aset.
Bukan karena warisan.
Karena satu kata.
Hilang.
“Sebentar.”
Aku menatap Ratih.
“Tadi di panti Ibu bilang ada keadaan rumit.”
Ratih tampak gelisah.
Aku melanjutkan,
“Sekarang Ibu bilang saya hilang.”
Tak ada yang menjawab.
Aku tidak tersenyum lagi.
“Mana yang benar?”
Ratih memegang tasnya erat-erat.
“Nadira…”
“Saya ditinggalkan?”
“Nadira.”
“Atau hilang?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu hilang.”
Dunia seperti mengecil menjadi pos satpam itu.
Suara kendaraan dari jalan luar terdengar jauh.
Aku menelan ludah.
“Umur saya berapa?”
“Sebelas bulan.”
“Bagaimana?”
Ratih menutup mulut sebentar, lalu berkata,
“Ada pengasuh yang membawamu keluar. Katanya mau mengajakmu ke taman. Dia tidak pernah kembali.”
Aku menatap Bu Ratih tanpa berkedip.
“Polisi?”
“Kami lapor.”
“Media?”
“Semua.”
“Lalu kenapa saya berada di panti Yogyakarta?”
Ratih menggeleng.
“Aku tidak tahu. Bu Lestari bilang kamu ditinggalkan di depan panti oleh seseorang ketika berumur sekitar satu tahun. Tidak ada identitas.”
Aku merasa ujung jariku dingin.
Selama sembilan belas tahun, aku mengira orang tua kandungku meninggalkanku.
Aneh.
Aku sudah berdamai dengan itu.
Lebih mudah menerima bahwa seseorang memang tidak menginginkanmu daripada tiba-tiba mengetahui mungkin seseorang pernah mencarimu.
Aku tertawa kecil.
Tidak lucu.
Tapi entah kenapa aku tertawa.
“Jadi selama ini…”
Ratih mendekat.
Aku mundur satu langkah.
“Jangan dulu.”
Dia berhenti.
Aku memandang lantai.
Pak Darno menyodorkan mangkuk kacang.
“Mau, Mbak?”
Aku melihatnya.
Lalu mengambil satu.
“Terima kasih, Pak.”
Arga tiba-tiba berkata,
“Kalau Nadira diculik, siapa pengasuhnya?”
Ratih mengusap air mata.
“Namanya Marni.”
Pak Darno yang sedang minum kopi mendadak batuk.
Semua orang menoleh.
Aku paling cepat.
“Pak?”
Pak Darno meletakkan gelas.
“Marni?”
“Iya,” jawab Ratih. “Kenapa?”
Pak Darno terlihat ragu.
“Nama lengkapnya siapa?”
Ratih berpikir.
“Marni Wulandari.”
Gelas di tangan Pak Darno hampir jatuh.
“Saya kenal.”
Surya langsung melangkah maju.
“Kenal dari mana?”
Pak Darno menatap kami satu per satu.
“Dia kakak sepupu saya.”
Aku berhenti mengunyah.
Nah.
Malam ini rupanya belum selesai.
Pak Darno menjelaskan bahwa Marni pulang ke kampung sekitar delapan belas tahun lalu dalam keadaan panik. Dia hanya tinggal beberapa hari, kemudian pergi ke Jawa Tengah dan tak pernah kembali.
“Waktu itu keluarga bilang dia punya masalah sama majikannya di Jakarta,” ujar Pak Darno. “Saya masih kerja di Semarang. Saya tidak tahu masalah apa.”
Ratih mencengkeram meja.
“Di mana dia sekarang?”
Pak Darno menggeleng.
“Sudah meninggal enam tahun lalu.”
Ratih menutup mata.
Harapan yang baru muncul seolah langsung dihantam.
Namun Pak Darno belum selesai.
“Sebelum meninggal, dia pernah menitipkan satu kotak ke ibu saya.”
Aku mendongak.
“Kotak?”
“Iya. Katanya jangan dibuka kecuali suatu hari ada orang dari keluarga Wicaksana mencarinya.”
Surya langsung berkata,
“Besok kita ambil.”
Aku menatapnya.
Cepat sekali.
Terlalu cepat.
“Kenapa Bapak terlihat lebih tertarik daripada Ibu?”
Surya menatap tajam.
“Kamu sedang menuduh saya lagi?”
“Saya cuma bertanya.”
Arga tiba-tiba menatap ayahnya.
“Papa mengenal Marni?”
Surya diam.
Itu hanya dua detik.
Tapi dua detik kadang lebih keras daripada pengakuan.
Ratih berbisik,
“Surya?”
“Aku pernah melihatnya bekerja di rumah.”
“Bukan itu yang kutanya.”
Ratih mendekat.
“Kamu mengenalnya?”
Surya menggeleng.
“Tidak.”
Aku melihat tangannya.
Sedikit gemetar.
Lalu aku teringat sesuatu.
Saat pertama kali masuk rumah tadi, Surya menatapku dari kepala sampai kaki.
Bukan seperti orang asing.
Seperti orang yang sedang memastikan sesuatu.
Aku menoleh kepada Pak Darno.
“Pak, kotaknya masih ada?”
Pak Darno mengangguk.
“Harusnya masih. Ibu saya meninggal tahun lalu, barangnya saya pindahkan ke rumah saya. Rumah saya cuma lima belas menit dari sini.”
Surya segera berkata,
“Kita ke sana sekarang.”
Aku tersenyum tipis.
“Setuju.”
Surya menatapku, mungkin mengira aku mendukungnya.
Aku melanjutkan,
“Tapi Bapak tidak ikut.”
Wajahnya mengeras.
“Apa?”
“Pak Darno, saya, Ibu Ratih, dan kalau perlu Mas Arga. Keisha istirahat. Rio pulang karena besok masih kerja.”
Rio mengangguk cepat.
“Terima kasih, Mbak.”
Surya membentak,
“Kamu tidak berhak mengatur!”
Aku menatapnya.
“Benar.”
Lalu aku menunjuk monitor CCTV.
“Tapi tiga jam lalu saya juga tidak punya hak tinggal di rumah ini, dan entah bagaimana malam ini saya sudah dituduh mendorong orang, membongkar penipuan cinta, menemukan rekaman CCTV, dan baru tahu saya pernah diculik.”
Aku mengambil kacang terakhir dari mangkuk.
“Jadi saya pikir aturan keluarga ini memang cukup fleksibel.”
Arga menundukkan kepala, entah menahan marah atau tawa.
Ratih menatap Surya lama.
“Nadira benar. Kamu tinggal di sini.”
Surya pucat.
Empat puluh menit kemudian, kami kembali dari rumah Pak Darno membawa sebuah kotak besi kecil.
Pak Darno membukanya di ruang keluarga.
Di dalamnya ada beberapa foto lama, sebuah gelang bayi, dan amplop cokelat yang sudah menguning.
Ratih langsung mengenali gelang itu.
Tangannya gemetar.
“Itu milik Nadira.”
Aku mengambil amplop.
Di depannya tertulis satu kalimat.
Untuk Ibu Ratih, kalau suatu hari saya tidak sempat mengatakan yang sebenarnya.
Aku membuka surat itu.
Tulisan tangannya mulai pudar, tapi masih terbaca.
Semakin lama kubaca, semakin sunyi ruangan.
Marni tidak menculikku karena uang.
Dia membawa aku atas perintah seseorang.
Seseorang yang mengatakan bahwa bayi Ratih harus disingkirkan agar Ratih tidak mendapat bagian terbesar warisan keluarga.
Marni menyesal.
Dia tidak sanggup membunuh atau menjualku seperti yang diperintahkan.
Dia membawaku ke Yogyakarta dan meninggalkanku di panti dengan harapan aku akan selamat.
Di bagian terakhir surat tertulis nama orang yang memberinya uang.
Aku membaca sekali.
Lalu dua kali.
Ratih merampas surat itu dari tanganku.
Wajahnya berubah.
Arga membacanya dari belakang bahunya.
Kemudian dia menoleh perlahan.
Bukan kepada Surya.
Kepada seseorang yang sejak tadi nyaris tidak bicara.
Dokter keluarga.
Pria tua itu berdiri di dekat pintu.
Wajahnya pucat.
Namanya Dokter Hendrawan.
Ratih berbisik,
“Om?”
Aku menatapnya.
Ternyata dia bukan sekadar dokter keluarga.
Dia adik kandung ayah Ratih.
Orang yang selama puluhan tahun dianggap seperti paman sendiri.
Dokter Hendrawan menutup mata.
“Ayahmu tidak adil,” katanya pelan. “Semua diberikan kepadamu. Perusahaan. Tanah. Saham. Bahkan ketika kamu menikah, dia masih menjadikan anakmu pewaris berikutnya.”
Ratih mulai menangis.
“Jadi Om menculik anakku?”
“Aku tidak pernah menyuruh Marni membunuhnya.”
“Tapi Om menyuruh dia membuangnya!”
Suara Ratih pecah.
Keisha yang sejak tadi diam menutup mulut.
Surya terlihat sama terkejutnya seperti yang lain.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku yakin ketakutannya tentang warisan ternyata tidak ada hubungannya dengan hilangnya aku.
Dia memang serakah.
Tapi bukan penculik.
Aneh sekali rasanya lega mengetahui ayah tirimu cuma mata duitan.
Dokter Hendrawan duduk lemas.
“Aku pikir setelah anak itu hilang, surat wasiat akan diubah.”
“Dan ternyata tidak,” kataku.
Dia menatapku.
Aku melanjutkan,
“Kakek saya tidak mengubahnya, kan?”
Ratih menggeleng sambil menangis.
“Tidak. Ayah selalu percaya kamu masih hidup.”
Dadaku kembali terasa sesak.
Aku tidak pernah mengenal laki-laki itu.
Tapi ternyata seseorang yang tidak pernah kuingat menghabiskan sisa hidupnya dengan percaya aku akan pulang.
Aku menunduk.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak punya pertanyaan.
Ratih perlahan mendekat.
Kali ini aku tidak mundur.
Dia memelukku.
Awalnya tubuhku kaku.
Aku tidak tahu cara memeluk seorang ibu yang baru kukenal beberapa jam.
Lalu tangannya bergetar di punggungku.
Dan entah kenapa, aku teringat Bu Lestari.
Panti.
Kamar kecilku.
Semua ulang tahun ketika diam-diam aku bertanya wajah ibuku seperti apa.
Aku akhirnya mengangkat tangan dan memeluk Ratih kembali.
Keisha menangis di kursi rodanya.
Beberapa menit kemudian dia berkata pelan,
“Kak Nadira…”
Aku melepaskan pelukan.
Dia menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Aku minta maaf.”
Aku berjalan mendekat.
“Aku benar-benar takut Kakak akan mengambil semuanya.”
Aku duduk di kursi di depannya.
“Keisha.”
“Iya?”
“Kamu tadi menjatuhkan diri dari tangga hanya karena takut kehilangan rumah?”
Dia menunduk.
Aku menghela napas.
“Besok kita perlu bicara panjang.”
Dia terlihat takut.
Aku melanjutkan,
“Tapi sebelum itu, satu hal.”
“Apa?”
“Aku tetap belum tahu kamu suka sambal atau tidak.”
Keisha menatapku.
Lalu tertawa sambil menangis.
“Suka.”
“Level?”
“Tiga.”
Aku mengernyit.
“Lemah.”
Arga tiba-tiba tertawa.
Ratih ikut tertawa di tengah air matanya.
Bahkan Surya menutup wajah sambil menggeleng.
Di tengah keluarga paling kacau yang pernah kutemui, untuk pertama kalinya aku merasa mungkin aku tidak sedang berdiri di rumah orang lain.
Tiga jam sebelumnya aku datang sebagai anak panti yang membawa satu koper.
Malam itu aku menemukan ibu kandungku, adik tiri yang sempat memfitnahku, seorang paman yang menyimpan dosa delapan belas tahun, dan warisan yang sama sekali belum ingin kupikirkan.
Aku juga menyelamatkan Pak Darno dari kehilangan dua juta lima ratus ribu rupiah.
Menurutku, bagian terakhir tetap layak dicatat.
Saat polisi datang membawa Dokter Hendrawan untuk dimintai keterangan, aku kembali ke pos keamanan.
Pak Darno sedang mengganti foto profil Facebook-nya.
Aku duduk di sebelahnya.
“Pak.”
“Iya, Mbak?”
“Jangan cari pacar dulu seminggu.”
Pak Darno mengangguk serius.
“Siap.”
Lima detik kemudian dia bertanya,
“Kalau dua minggu?”
Aku menatapnya.
“Pak Darno.”
“Iya, iya.”
Aku mengambil kacang.
Dari rumah terdengar Ratih memanggil namaku.
“Nadira!”
Aku berdiri.
Pak Darno tersenyum.
“Dipanggil ibu, Mbak.”
Aku berhenti sebentar.
Kalimat sederhana itu terasa aneh di telingaku.
Dipanggil ibu.
Aku menoleh ke arah rumah besar yang beberapa jam lalu terasa seperti tempat asing.
Lalu aku tersenyum.
“Iya.”
Aku berjalan menuju pintu.
Untuk pertama kalinya dalam sembilan belas tahun, ada seseorang di dalam sebuah rumah yang memanggilku pulang.
Dan kali ini, aku tahu persis ke mana aku harus kembali.
