SEBUAH BEKAS LUKA YANG MENGHANCURKAN PERSAHABATAN 10 TAHUN…
Hujan belum turun. Namun angin dari arah laut mulai bertiup lebih kencang, membuat lonceng tua di menara gereja bergoyang pelan. […]
Hujan belum turun. Namun angin dari arah laut mulai bertiup lebih kencang, membuat lonceng tua di menara gereja bergoyang pelan. […]
Suasana yang tadinya penuh dengan gumaman musik jazz kini berubah menjadi sunyi senyap, seolah oksigen di ruangan itu mendadak ditarik
Itu adalah secarik kertas kecil yang lusuh, dengan tulisan tangan dokter dan cap sebuah rumah sakit swasta di pinggiran Jakarta.
Hening menyelimuti rumah itu. Setelah deru mesin mobil Raihan menghilang di balik tikungan jalan, yang tersisa hanyalah aroma parfum maskulin
Bagian II: Malam yang Merayap di Griya Valderama Langkah kaki saya terasa asing di atas aspal jalanan Manila. Udara kota
Aku melepaskan cengkeraman dari ritsleting koper, mengambil napas dalam-dalam, lalu mulai memasukkan pakaianku satu per satu. Tidak ada air mata.
Julian menyodorkan ponsel itu ke hadapanku. Layarnya menyala, menampilkan sebuah foto yang diambil dari jarak jauh, namun dengan lensa yang
“Berhenti! Jangan bergerak satu inci pun atau saya pastikan ini adalah hari terakhirmu di dunia!” bentak Chief Roldan, seraya menodongkan
Suasana di dalam “Royal Paws Veterinary Hospital” yang semula tenang dan berbau disinfektan mahal mendadak mencekam. Sheila, sang resepsionis, yang
Hari itu, aku tidak menangis. Aneh, bukan? Padahal hatiku baru saja dihancurkan berkeping-keping. Aku berdiri, mengusap perut buncitku dengan gerakan