“Bu… anak Ibu masih hidup! Dia ada di rumah kami!”
Kalimat itu menghantamku seperti petir yang membelah langit malam.
Tanganku langsung gemetar. Telepon nyaris terlepas dari genggaman.
Aku tidak bisa bernapas. Tidak bisa berpikir.
“Maaf… siapa ini?” tanyaku dengan suara yang bahkan hampir tidak terdengar.
“Saya Rina, Bu. Suami saya menemukan anak kecil di dekat terminal tiga hari lalu. Dia demam tinggi dan terus menangis. Tadi pagi dia sadar, lalu terus menyebut nama ‘Mama Maya’ dan ‘Papa Marco’. Kami mencari di media sosial dan menemukan berita tentang anak Ibu yang meninggal. Wajahnya… wajahnya sama persis.”
Aku menutup mulutku.

Itu mustahil.
Karena empat hari yang lalu kami sudah memakamkan Daniel.
Aku sendiri yang mencium dahinya sebelum peti ditutup.
Aku sendiri yang menyaksikan tanah merah menimbunnya.
Tidak mungkin.
Benar-benar tidak mungkin.
Keesokan paginya, aku dan Marco tetap pergi ke pemakaman. Kami ingin memastikan bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman.
Di sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.
Sesampainya di gerbang pemakaman, langkahku terasa berat.
Lalu aku melihat seorang anak laki-laki kecil sedang menyapu daun-daun kering.
Saat mata kami bertemu, anak itu tidak berkedip sedikit pun.
Ia hanya menatapku.
Tatapan itu…
sangat kukenal.
Tatapan Daniel ketika ia ingin mengatakan sesuatu tetapi takut dimarahi.
Aku berhenti.
“Marco…”
“Ada apa?”
“Lihat matanya.”
Marco menoleh sebentar.
“Itu hanya anak kecil.”
Namun sebelum kami melanjutkan langkah, anak itu tiba-tiba berkata pelan.
“Jangan ke sana.”
Aku dan Marco saling berpandangan.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
Anak itu menunjuk ke arah makam Daniel.
“Itu bukan adik.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Siapa namamu?”
“Fajar.”
“Kenapa kamu bilang begitu?”
Fajar menggigit bibirnya.
“Malam waktu orang-orang mengubur anak itu, aku melihat dua orang datang setelah semua pulang. Mereka membuka makam sebentar.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Marco langsung berlutut di depan Fajar.
“Kamu yakin?”
Anak itu mengangguk.
“Aku tidur di pos penjaga. Aku lihat semuanya.”
Tanpa berpikir panjang, Marco berlari menuju kantor pengelola pemakaman.
Dalam waktu kurang dari satu jam, polisi datang bersama petugas.
Atas izin keluarga, makam Daniel dibuka kembali.
Aku hampir pingsan ketika peti itu diangkat.
Tanganku terus gemetar.
Aku berdoa semoga semua ini hanya mimpi buruk.
Ketika peti dibuka…
semua orang terdiam.
Isinya memang jasad seorang anak.
Tetapi…
itu bukan Daniel.
Wajahnya berbeda.
Tubuhnya juga lebih besar.
Aku menjerit sekeras-kerasnya.
Marco memelukku sambil menangis.
Polisi langsung memasang garis pengaman.
Penyelidikan dimulai hari itu juga.
Rumah sakit tempat Daniel dinyatakan meninggal menjadi lokasi pertama yang diperiksa.
Rekaman CCTV di ruang jenazah ternyata menghilang selama hampir tiga puluh menit.
Seseorang sengaja menghapusnya.
Direktur rumah sakit terkejut.
Mereka membentuk tim investigasi internal.
Sementara itu, kami pergi ke rumah Rina.
Sepanjang perjalanan, aku tidak berhenti menangis.
Bagaimana jika benar Daniel masih hidup?
Bagaimana jika ia selama ini memanggilku tetapi aku justru mengantarnya ke pemakaman?
Pintu rumah sederhana itu terbuka perlahan.
Seorang wanita muda menyambut kami.
Matanya sembab.
“Silakan masuk.”
Aku hampir tidak sanggup melangkah.
Lalu…
seorang anak kecil keluar dari kamar.
Rambutnya sedikit lebih panjang.
Tubuhnya tampak kurus.
Ada luka kecil di pelipisnya.
Namun…
mata itu.
Senyum malu-malu itu.
Cara ia memiringkan kepala saat melihatku.
“D… Daniel?”
Anak itu menatapku beberapa detik.
Lalu air matanya jatuh.
“Mama…”
Aku langsung berlari memeluknya.
Tangisku pecah.
Aku memeluknya begitu erat hingga takut ia menghilang lagi.
Marco ikut berlutut.
Kami bertiga menangis tanpa mampu berkata apa-apa.
Beberapa menit kemudian, Daniel mulai bercerita dengan terbata-bata.
Ia mengatakan bahwa setelah kecelakaan mobil, ia memang dibawa ke rumah sakit.
Ia ingat seseorang menyuntiknya.
Setelah itu semuanya gelap.
Saat bangun, ia berada di dalam sebuah mobil.
Ada dua pria yang membawanya.
Mereka mengatakan bahwa ia akan bertemu orang tuanya.
Namun mobil itu berhenti di sebuah SPBU.
Salah satu pria turun.
Saat itulah Daniel membuka pintu dan berlari.
Ia terus berlari sampai pingsan di dekat terminal.
Rina dan suaminya menemukannya di sana.
Polisi segera menyusun semua potongan cerita.
Ternyata beberapa bulan sebelumnya mereka memang sedang menyelidiki jaringan perdagangan organ ilegal.
Namun tidak pernah menyangka bahwa sindikat itu telah menyusup ke rumah sakit besar.
Mereka membutuhkan anak-anak yang dinyatakan meninggal secara administratif agar keberadaan korban tidak lagi dicari.
Daniel dipilih karena kondisinya kritis setelah kecelakaan.
Seseorang memalsukan data medis.
Mereka menyatakan Daniel meninggal meskipun denyut nadinya masih sangat lemah.
Ketika proses pemindahan dilakukan, Daniel justru sadar lebih cepat dari perkiraan.
Karena panik, para pelaku membawanya pergi.
Lalu mereka mengganti jasad di peti dengan anak lain yang identitasnya juga dipalsukan.
Kasus itu mengguncang seluruh negeri.
Puluhan tenaga medis diperiksa.
Beberapa dokter ditahan.
Seorang kepala administrasi rumah sakit ternyata menerima uang dalam jumlah besar.
Namun ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Siapa yang menghapus rekaman CCTV?
Jawabannya datang seminggu kemudian.
Pelakunya bukan petugas keamanan.
Bukan pula teknisi.
Melainkan seorang dokter anak yang selama ini sangat kami percaya.
Namanya bahkan yang pertama kali mengatakan kepada kami bahwa Daniel telah meninggal.
Ia mengaku dipaksa bekerja sama setelah keluarganya diancam.
Namun bukti menunjukkan bahwa ia juga menerima keuntungan finansial.
Tangisku berubah menjadi kemarahan.
Bagaimana mungkin seseorang yang bersumpah menyelamatkan nyawa justru menjual harapan keluarga lain?
Persidangan berlangsung berbulan-bulan.
Sindikat itu akhirnya dibongkar.
Belasan anak berhasil ditemukan dalam berbagai operasi.
Sebagian berhasil kembali kepada keluarganya.
Sebagian lainnya sudah terlambat.
Aku tidak pernah bisa melupakan tangisan para ibu yang kutemui di ruang sidang.
Aku sadar bahwa aku termasuk sedikit orang yang diberi keajaiban.
Enam bulan berlalu.
Daniel perlahan pulih.
Ia kembali bersekolah.
Masih sering terbangun karena mimpi buruk, tetapi kini ia selalu menemukan aku dan Marco di samping tempat tidurnya.
Suatu sore kami mengunjungi pemakaman lagi.
Bukan untuk Daniel.
Melainkan untuk anak tak dikenal yang sempat dimakamkan menggunakan namanya.
Setelah penyelidikan selesai, identitas anak itu akhirnya ditemukan.
Ia berasal dari keluarga sederhana yang selama ini juga mencarinya.
Kami ikut menghadiri pemakaman ulang yang layak.
Di depan makam kecil itu, aku meletakkan bunga putih.
Aku berbisik pelan.
“Maafkan kami. Semoga kamu tenang.”
Saat hendak pulang, aku melihat Fajar, anak penyapu makam itu.
Aku menghampirinya.
“Kalau hari itu kamu diam, mungkin kami tidak akan pernah menemukan Daniel.”
Fajar hanya tersenyum kecil.
“Ibu saya selalu bilang, kalau melihat sesuatu yang salah, jangan takut berkata jujur.”
Aku mengusap kepalanya.
Beberapa bulan kemudian, kami memutuskan membantu biaya sekolah Fajar hingga ia lulus.
Rina dan suaminya pun menjadi bagian dari keluarga kami.
Tanpa keberanian mereka, Daniel mungkin tidak akan pernah kembali.
Kadang aku masih terbangun di tengah malam karena mimpi tentang pemakaman itu.
Namun setiap kali rasa takut datang, aku berjalan ke kamar Daniel.
Kulihat ia tidur dengan tenang.
Dada kecilnya naik turun perlahan.
Aku selalu tersenyum sambil mengusap rambutnya.
Karena kini aku tahu, keajaiban memang tidak sering datang.
Tetapi terkadang, keajaiban memilih hadir melalui keberanian orang-orang biasa yang memutuskan untuk tidak menutup mata terhadap kebenaran.
Dan setiap kali Daniel memanggil, “Mama,” aku selalu menjawab secepat mungkin.
Sebab tidak ada satu pun suara di dunia yang pernah lebih indah daripada suara seorang anak yang sempat kami yakini telah kami kuburkan.
