Baru dua puluh menit keluarga calon menantuku duduk di restoran milikku, Ratna Wiratama sudah meminta aku menyiapkan Rp16,8 miliar untuk pernikahan putriku.
Namun angka itu mendadak terasa tidak penting ketika Kirana diam-diam mendorong ponselnya ke arahku.
Ayah, Arman bukan calonku. Laras yang sebenarnya.
Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu aku mengangkat kepala.
Arman duduk di sebelah Kirana dengan wajah tegang. Sejak datang, dia hampir tidak menyentuh makanannya. Di seberang meja, Ratna masih menjelaskan tentang hotel di Bali, enam ratus tamu, tiket pesawat keluarga, busana, dekorasi, dan berbagai tradisi yang menurutnya wajib ditanggung keluarga pihak perempuan.
Aku tidak langsung bertanya tentang Laras.
Bukan karena aku tidak terkejut.
Aku hanya tahu, ada saatnya seorang ayah harus menahan emosinya agar anaknya merasa cukup aman untuk mengatakan seluruh kebenaran.
Ketika aku bertanya di mana Laras, wajah Ratna berubah.
Beberapa detik kemudian ponselku bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Pak Bima, saya Arman. Tolong dengarkan ini sebelum Ibu saya mengambil uang Anda.
Aku memasukkan ponsel kembali ke saku.
Lalu tersenyum kepada Ratna.
“Tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja pembicaraan soal uangnya.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, Arman terlihat bisa bernapas lagi.
Ratna segera kembali membuka proposalnya.
“Seperti yang saya jelaskan, uang muka lima puluh persen sebaiknya masuk paling lambat akhir bulan.”
“Berarti Rp8,4 miliar?”
“Betul.”
“Ke rekening Wiratama Heritage Management?”
“Iya.”
Aku mengangguk.
“Baik. Besok tim keuangan saya akan menghubungi Ibu.”
Ratna tersenyum puas.
Kirana menatapku dengan mata membesar.
Aku hanya menggeleng sangat tipis.
Jangan bicara sekarang.
Setelah makan siang selesai, keluarga Wiratama pergi lebih dahulu. Ratna bahkan sempat menggenggam tanganku di pintu.
“Senang akhirnya kita akan menjadi keluarga.”
Aku tersenyum.
“Kita lihat nanti.”
Begitu mobil mereka meninggalkan halaman restoran, aku kembali ke ruang privat.
Kirana masih di sana.
Dia berdiri ketika aku masuk.
“Ayah, aku bisa jelaskan.”
Aku menutup pintu.
“Laras di mana?”
Bibir Kirana bergetar.
“Bandung.”
“Kenapa dia tidak datang?”
“Karena Tante Ratna mengancamnya.”
Aku terdiam.
Kirana mulai menangis.
Bukan tangisan keras. Justru itu yang membuat dadaku lebih sakit. Air matanya jatuh sementara dia berusaha tetap bicara seperti seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan ketakutan.
“Aku kenal Laras hampir tiga tahun lalu. Kami mulai pacaran sekitar dua tahun lalu. Arman tahu. Dia bahkan sering membantu kami bertemu.”
“Lalu kenapa Arman menjadi calon suamimu?”
“Karena Tante Ratna mengetahui hubungan kami enam bulan lalu.”
Aku menarik kursi dan duduk.
“Teruskan.”
“Dia bilang kalau Laras tidak mengakhiri hubungan denganku, dia akan menghancurkan hidup Laras. Dia mengancam mengambil apartemen Laras, memutus akses rekeningnya, bahkan menyebarkan cerita ke keluarga besar.”
Kirana mengusap air mata.
“Laras akhirnya pergi ke Bandung. Tapi kami masih berhubungan diam-diam.”
“Dan pernikahan dengan Arman?”
“Itu ide Tante Ratna.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Arman setuju?”
“Awalnya tidak.”
Suara lain muncul dari belakangku.
“Dan sampai sekarang saya sebenarnya tidak pernah setuju.”
Aku menoleh.
Arman berdiri di pintu.
Dia ternyata belum pergi.
Wajahnya pucat.
“Saya minta maaf, Pak.”
Aku berdiri.
“Masuk.”
Arman menutup pintu.
“Apa isi rekaman yang kamu kirim?”
Dia menelan ludah.
“Dengarkan.”
Aku mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman itu.
Suara Ratna terdengar jelas.
“Begitu uang Bima masuk, setengah langsung pindahkan. Jangan pakai rekening pribadi.”
Kemudian suara Surya.
“Kalau mereka minta invoice?”
“Kita buat seperti sebelumnya.”
“Enam belas miliar terlalu besar.”
“Justru karena restorannya banyak. Dia mampu.”
Lalu suara Ratna kembali terdengar.
“Setelah uang masuk, pernikahan bisa dibatalkan pelan-pelan. Kita bilang Kirana yang berubah pikiran. Yang penting uang vendor sudah keluar.”
Rekaman berhenti.
Ruangan terasa membeku.
Aku memandang Arman.
“Seperti sebelumnya?”
Arman mengangguk pelan.
“Saya baru mengetahui semuanya dua minggu lalu.”
Dia mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya.
“Wiratama Heritage Management bukan perusahaan wedding organizer sungguhan. Perusahaan itu milik teman Papa, tapi Ibu yang mengendalikan transaksinya.”
“Sudah berapa keluarga?”
“Yang saya temukan, tiga.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Kenapa kamu baru bicara sekarang?”
Mata Arman memerah.
“Karena selama ini saya pengecut.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
“Saya melihat Ibu mengendalikan Laras sejak kecil. Saya selalu bilang pada diri sendiri bahwa saya melindungi adik saya dengan menuruti Ibu. Ternyata saya cuma membantu Ibu membuat Laras takut.”
Dia menatap Kirana.
“Ketika Ibu menyuruh saya pura-pura bertunangan dengan Kirana, saya setuju karena dia berjanji akan membiarkan Laras pergi.”
“Dan ternyata?”
“Dia tetap mengejar Laras.”
Aku memandang dua anak muda di depanku.
Kirana takut kehilangan perempuan yang dicintainya.
Arman takut melawan ibunya.
Dan seseorang sedang menggunakan ketakutan mereka untuk mendapatkan Rp16,8 miliar.
Aku mengambil flashdisk itu.
“Mulai sekarang, jangan lakukan apa pun tanpa bicara denganku.”
Keesokan harinya aku memanggil kepala keuangan dan pengacara perusahaan.
Kami memeriksa Wiratama Heritage Management.
Hasilnya lebih buruk dari dugaan.
Alamat kantornya adalah sebuah ruko kosong di Tangerang. Tidak ada pegawai tetap. Beberapa vendor dalam proposal ternyata tidak pernah menerima pemesanan apa pun.
Lebih menarik lagi, perusahaan itu pernah menerima transfer besar dari tiga keluarga berbeda selama lima tahun terakhir.
Dua pernikahan batal.
Satu lagi tidak pernah terjadi.
Aku menghubungi salah satu keluarga tersebut.
Seorang pria bernama Harjono datang menemuiku malam itu.
Ketika melihat nama Ratna Wiratama, wajahnya langsung berubah.
“Jangan transfer satu rupiah pun.”
Putrinya pernah hampir menikah dengan sepupu Arman empat tahun sebelumnya. Keluarga mereka membayar hampir Rp6 miliar untuk berbagai persiapan.
Tiga minggu kemudian pertunangan dibatalkan.
Uang tidak pernah kembali.
“Mereka bilang semua sudah dibayarkan kepada vendor,” kata Harjono. “Tapi ketika kami periksa, sebagian besar vendor tidak pernah menerima uang.”
“Kenapa tidak dilaporkan?”
Harjono tertawa pahit.
“Anak saya sedang hancur waktu itu. Kami hanya ingin semuanya selesai.”
Aku pulang hampir tengah malam.
Kirana menungguku di ruang keluarga.
“Ayah marah?”
Aku duduk di sebelahnya.
“Marah.”
Dia menunduk.
“Tapi bukan karena Laras.”
Kirana menatapku.
“Ayah marah karena kamu merasa harus menyembunyikan hidupmu sampai sejauh ini.”
Air matanya langsung menggenang.
“Aku takut Ayah kecewa.”
Aku menghela napas.
“Sebagai ayah, mungkin ada banyak hal yang perlu kupahami. Tapi ada satu hal yang lebih membuatku kecewa.”
“Apa?”
“Kamu menghadapi semua ini sendirian.”
Kirana menangis dan memelukku.
Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal tujuh tahun lalu, aku merasakan putriku kembali menjadi anak kecil yang hanya membutuhkan tempat aman untuk pulang.
Tiga hari kemudian, Ratna menelepon.
“Pak Bima, bagaimana transfernya?”
“Sudah saya siapkan.”
Nada suaranya langsung berubah cerah.
“Bagus sekali.”
“Tapi saya ingin penandatanganan dilakukan bersama seluruh keluarga.”
“Tidak perlu.”
“Saya ingin Laras hadir.”
Hening.
“Kenapa Laras?”
“Karena sebentar lagi kita keluarga, bukan?”
Ratna akhirnya setuju.
Pertemuan kedua dilakukan di restoran yang sama.
Kali ini Laras datang.
Perempuan berusia dua puluh enam tahun itu masuk bersama Arman. Wajahnya pucat ketika melihat ibunya.
Ratna berdiri.
“Kamu ngapain datang?”
“Aku diundang Pak Bima.”
“Pulang.”
“Tidak.”
Satu kata itu membuat semua orang diam.
Ratna menatap putrinya seolah baru pertama kali mendengar Laras membantah.
Aku mempersilakan semua duduk.
Di meja sudah tersedia sebuah map.
Ratna langsung melihatnya.
“Dokumen transfer?”
“Kurang lebih.”
Aku membuka map.
“Ini laporan transaksi Wiratama Heritage Management selama lima tahun terakhir.”
Wajah Ratna berubah.
Surya menegakkan tubuh.
“Apa maksud Anda?”
Aku meletakkan salinan rekening, invoice palsu, dan pernyataan dua mantan calon besan mereka.
Ratna tidak menyentuh satu pun.
“Pak Bima, Anda sudah terlalu jauh.”
“Belum.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Kemudian memutar rekaman suara Arman.
Begitu suara Ratna memenuhi ruangan, wajah Surya kehilangan warna.
Ratna menoleh tajam kepada putranya.
“Kamu merekam Mama?”
Arman menatap ibunya.
“Iya.”
Plak.
Ratna menampar Arman.
Laras langsung berdiri.
“Jangan sentuh Kak Arman!”
Ratna menunjuknya.
“Semua ini gara-gara kamu!”
“Bukan.”
Kirana akhirnya bicara.
Semua mata beralih kepadanya.
Dia menggenggam tangan Laras di atas meja.
“Semua ini terjadi karena Tante tidak bisa menerima bahwa anak-anak Tante punya hidup sendiri.”
Ratna menatap tangan mereka.
Wajahnya berubah merah.
“Kamu pikir saya akan membiarkan anak saya hidup seperti ini?”
Laras gemetar.
Namun dia tidak melepaskan tangan Kirana.
“Aku sudah hidup bertahun-tahun untuk membuat Mama senang. Sekolah yang Mama pilih. Jurusan yang Mama pilih. Pekerjaan yang Mama pilih. Bahkan orang yang boleh aku cintai juga Mama mau pilih.”
Air matanya jatuh.
“Tapi ternyata tidak pernah cukup.”
Ratna berdiri.
“Kamu ikut Mama pulang.”
“Tidak.”
“Apartemenmu Mama ambil.”
“Ambil.”
“Kartu kreditmu saya blokir.”
“Blokir.”
“Kamu tidak akan mendapat warisan apa pun.”
Laras tersenyum kecil di antara air matanya.
“Kalau harga warisan itu hidupku sendiri, aku tidak mau.”
Ratna terdiam.
Aku hampir berpikir semuanya selesai.
Ternyata Surya tiba-tiba tertawa.
Pelan.
Aneh.
Kemudian dia mengambil satu lembar laporan dari meja.
“Ratna,” katanya.
Istrinya menoleh.
“Kamu pikir selama ini saya tidak tahu?”
Ratna membeku.
Surya membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal.
“Saya tahu tentang perusahaan itu sejak transaksi kedua.”
“Papa?” Arman menatapnya.
Surya mendorong amplop ke arahku.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen rekening lain.
“Uangnya tidak semuanya masuk ke Ratna,” katanya.
Ratna langsung berteriak.
“Surya!”
“Sebagian masuk ke rekening saya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatap Surya.
“Kenapa Anda memberikan ini?”
Dia menatap kedua anaknya.
“Saya sudah dua puluh sembilan tahun menggunakan alasan yang sama seperti Arman. Saya bilang saya diam demi menjaga keluarga.”
Dia tersenyum getir.
“Ternyata diam juga bisa menjadi bentuk kejahatan.”
Ratna menatap suaminya seperti melihat orang asing.
“Kamu mau menghancurkan keluarga sendiri?”
Surya menggeleng.
“Tidak. Kita sudah menghancurkannya sejak lama.”
Dia berdiri.
“Saya sudah menyerahkan dokumen aslinya kepada pengacara.”
Ratna mengambil tasnya dan bergegas menuju pintu.
Namun sebelum keluar, dia berhenti di depan Laras.
“Kalau kamu pergi bersama perempuan itu, jangan pernah panggil saya Mama lagi.”
Laras menangis.
Aku melihat jemarinya mencengkeram tangan Kirana.
Kemudian dia menjawab pelan.
“Aku tetap akan memanggil Mama sebagai Mama. Tapi aku tidak akan lagi hidup sebagai milik Mama.”
Ratna pergi.
Enam bulan kemudian, kasus Wiratama Heritage Management memasuki proses hukum. Beberapa keluarga lain akhirnya berani memberikan kesaksian.
Arman pindah dari rumah orang tuanya dan memulai hidup sendiri.
Surya mengajukan perceraian sekaligus menyerahkan seluruh bukti transaksi yang dimilikinya.
Sedangkan Laras?
Dia tidak menikah dengan Kirana.
Setidaknya belum.
Suatu Minggu pagi, aku menemukan mereka berdua sedang memasak di dapur rumahku. Laras membuat nasi goreng terlalu asin sementara Kirana terus menertawakannya.
“Ayah,” kata Kirana, “Laras mau ngomong.”
Laras langsung gugup.
Dia berdiri di depanku.
“Pak Bima, saya belum bisa menjanjikan kapan kami menikah. Kami ingin memperbaiki hidup masing-masing dulu. Saya juga ingin punya pekerjaan dan tabungan sendiri.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
“Tapi ada satu hal yang ingin saya tanyakan.”
Dia menarik napas panjang.
“Kalau suatu hari saya ingin menikahi Kirana, apakah Bapak akan meminta Rp16,8 miliar?”
Aku menatapnya beberapa detik.
Kemudian aku melihat Kirana menahan tawa.
Aku mengambil secangkir kopi.
“Tidak.”
Laras tersenyum lega.
“Tapi ada tradisi keluarga yang tidak biasa saya jelaskan kepada orang luar.”
Wajah Laras langsung pucat.
Kirana tertawa terbahak-bahak.
Aku akhirnya ikut tertawa.
“Tradisinya sederhana,” kataku. “Kalau mau menjadi keluarga saya, jangan pernah membuat anak saya merasa harus menyembunyikan siapa dirinya di rumah sendiri.”
Laras tidak menjawab.
Matanya berkaca-kaca.
Dia hanya mengangguk.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku mengira tugas seorang ayah adalah menyediakan rumah, pendidikan, uang, dan masa depan.
Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada semua itu.
Membuat anak tahu bahwa ketika seluruh dunia memaksanya menjadi orang lain, rumah tetap menjadi tempat di mana dia boleh datang sebagai dirinya sendiri.
