Petugas pemakaman menatapku cukup lama ketika aku mengatakan ingin membeli satu lahan makam tepat di sebelah makam Ayah.
“Untuk siapa, Bu?” tanyanya sambil membuka formulir.
Aku memandang denah kecil di atas meja.
“Untuk saya sendiri.”
Ia terdiam.
Mungkin ia mengira aku sedang bercanda. Namun setelah melihat wajahku yang pucat dan pakaian yang masih lembap, ia tidak bertanya lagi.
Aku membayar seluruh biaya dengan sisa uang di rekeningku. Setelah menerima dokumen kepemilikan makam, aku meminta satu hal lagi.
“Kalau besok ada yang menemukan jenazah perempuan bernama Kirana Maheswari, tolong makamkan di sini.”
Petugas itu menatapku aneh.
Aku hanya tersenyum.

Aku tidak tahu di mana tubuhku yang sebenarnya akan ditemukan setelah tiga hari ini berakhir. Aku juga tidak tahu apakah tubuh yang sekarang kugunakan akan langsung membusuk, menghilang, atau kembali menjadi mayat seperti saat ombak menyeretku.
Yang kutahu, aku ingin beristirahat di samping Ayah.
Satu-satunya orang yang pernah membuatku merasa benar-benar memiliki rumah.
Aku berjalan menuju makamnya.
Hujan sudah berhenti, tetapi tanah masih basah. Aku berjongkok di depan batu nisan yang mulai ditumbuhi lumut.
“Ayah, ternyata Kirana tidak pintar memilih orang.”
Aku tersenyum sambil menyentuh namanya.
“Lima tahun mencintai seseorang yang membenciku. Dua puluh delapan tahun mempercayai keluarga yang menjualku.”
Tidak ada air mata.
Mungkin orang mati memang tidak bisa menangis.
Atau mungkin aku sudah terlalu lelah.
“Aku akan pulang besok.”
Angin bertiup pelan melewati pepohonan.
Untuk pertama kalinya sejak kembali dari kematian, aku merasa tenang.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Ponselku bergetar.
Nama Arga muncul di layar.
Aku menatapnya sampai panggilan itu berhenti.
Beberapa detik kemudian, ia menelepon lagi.
Aku akhirnya menjawab.
“Ya?”
Suara Arga terdengar lebih dingin daripada biasanya.
“Kamu di mana?”
“Ada urusan.”
“Pulang.”
Aku hampir tertawa.
Selama lima tahun, Arga tidak pernah menggunakan kata itu kepadaku.
Pulang.
Rumah keluarga Pradana tidak pernah menjadi rumahku.
“Aku tidak akan kembali.”
Di seberang sana mendadak sunyi.
“Apa maksudmu?”
“Aku sudah menyelesaikan semua yang harus kuselesaikan.”
“Kirana.”
Nada suaranya berubah.
“Kamu sedang membuat masalah apa lagi?”
Aku memandang batu nisan Ayah.
“Tidak ada. Justru kali ini aku berhenti membuat masalah untukmu.”
Aku memutus sambungan.
Arga menelepon beberapa kali lagi, tetapi tidak kujawab.
Sementara itu, di rumah keluarga Pradana, Arga menatap layar ponselnya dengan wajah muram.
Entah mengapa, sejak pagi ia merasa ada sesuatu yang tidak benar.
Kirana tidak pernah berbicara kepadanya seperti itu.
Perempuan itu biasanya selalu sabar. Bahkan ketika ia menghina, mengusir, atau sengaja menyulitkannya, Kirana hanya menundukkan kepala.
Lima tahun.
Ia mengira perempuan itu sedang berpura-pura.
Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, Arga merasa ketakutan melihat Kirana berhenti berpura-pura.
Ia memanggil salah seorang pelayan.
“Kapan Kirana keluar?”
“Sejak tadi malam, Tuan.”
“Tadi malam?”
Arga mengerutkan kening.
“Dia tidak tidur di rumah?”
Pelayan itu menggeleng.
Arga teringat pakaian Kirana yang basah kuyup ketika pulang dari pantai.
Tangannya penuh luka.
Wajahnya pucat.
Ia bahkan sempat jatuh ketika membantunya berpindah ke tempat tidur.
Mengapa saat itu ia tidak bertanya?
Arga meraih ponselnya dan menghubungi pengawal yang kemarin menemani Kirana ke pantai.
Jawaban yang diterimanya membuat wajahnya berubah.
“Bu Kirana pergi sendirian ke bebatuan setelah kami diminta menunggu di mobil, Tuan. Cuacanya sangat buruk. Kami sempat kehilangan kontak dengannya hampir tiga jam.”
“Tiga jam?”
“Benar.”
“Lalu?”
“Beliau muncul kembali menjelang malam.”
Arga menggenggam ponsel lebih kuat.
“Muncul dari mana?”
Pengawal itu terdiam.
“Itulah yang aneh, Tuan. Kami tidak tahu.”
Pada saat yang sama, Galang masuk sambil membawa beberapa kotak undangan pernikahan.
“Kak, pilih desain undangan untuk meja keluarga.”
Arga tidak menjawab.
Galang melihat ekspresinya.
“Ada apa?”
“Kirana pergi.”
Galang mengangkat bahu.
“Biarkan saja. Paling dia sedang mencari perhatian.”
Arga menatap adiknya.
“Kenapa kamu begitu yakin?”
Galang tertawa.
“Karena sejak dulu dia seperti itu.”
Kalimat tersebut membuat sesuatu dalam kepala Arga bergerak.
“Sejak dulu?”
Galang menyadari kesalahannya.
“Aku cuma bilang…”
“Bukankah kamu yang membawa Kirana masuk ke keluarga ini?”
Galang diam.
Enam tahun lalu, setelah kecelakaan menghancurkan kaki Arga dan Selina membatalkan pertunangan, kondisi mental Arga jatuh sangat buruk. Bu Dewi percaya pernikahan akan membuat putranya kembali memiliki alasan untuk hidup.
Galang kemudian memperkenalkan Kirana.
Ia mengatakan Kirana bersedia menikah dengan Arga.
Arga mempercayainya.
Bahkan ketika Kirana menangis pada malam pernikahan dan meminta pembatalan, Arga menganggap semuanya sebagai sandiwara.
Karena ia juga tahu Kirana pernah berpacaran dengan Galang.
Dalam pikirannya, semuanya sederhana.
Galang dan Kirana saling mencintai, tetapi keluarga membutuhkan seorang perempuan untuk merawat dirinya. Mereka membuat kesepakatan. Kirana menikah dengannya demi uang, sementara Galang mendapatkan Selina.
Selama lima tahun, Arga hidup dengan keyakinan itu.
Namun bagaimana jika sejak awal ada sesuatu yang tidak diketahuinya?
“Galang.”
Suara Arga rendah.
“Rp99 miliar itu sebenarnya untuk apa?”
Wajah Galang langsung pucat.
Sebelum ia menjawab, terdengar suara Bu Dewi dari pintu.
“Untuk membeli seorang istri untukmu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Arga menatap ibunya.
Bu Dewi berjalan masuk.
“Jangan membuat masalah menjelang pernikahan adikmu.”
“Jelaskan.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Keluarga Maheswari membutuhkan uang. Kita membutuhkan seseorang yang mau merawatmu. Mereka menerima Rp99 miliar dan menyerahkan Kirana.”
“Apakah Kirana tahu?”
Bu Dewi tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Wajah Arga perlahan kehilangan warna.
Ia teringat malam pernikahan.
Kirana berdiri di depan pintu dengan gaun pengantin, wajahnya pucat.
Ini bukan Galang.
Batalkan pernikahan ini.
Aku tidak pernah setuju menikah denganmu.
Saat itu Arga mengira perempuan itu sedang menghinanya karena cacat.
Ternyata ia benar-benar tidak tahu.
“Galang.”
Arga menatap adiknya.
“Kamu menipunya?”
Galang menghela napas.
“Kak, itu sudah lima tahun lalu.”
“Aku bertanya, kamu menipunya?”
Galang akhirnya menjawab pelan.
“Iya.”
Tangan Arga gemetar.
Lima tahun.
Selama lima tahun, perempuan yang ditipu keluarganya sendiri itu bangun lebih pagi untuk menyiapkan obatnya.
Menghangatkan air ketika persendiannya sakit.
Menghafal semua jadwal terapinya.
Tidur di sofa agar ia tidak merasa terganggu.
Bahkan kemarin, ia mempertaruhkan nyawa untuk mengambil cincin Selina.
Arga mendadak teringat sesuatu.
Ia memutar kursi rodanya menuju ruang kerja.
Laci kedua di sebelah kiri.
Ketika membukanya, sebuah amplop putih tergeletak di atas kotak cincin lama.
Tangannya gemetar ketika membaca surat itu.
Setelah beberapa baris, napasnya mulai tidak teratur.
Di bawah surat tersebut terdapat salinan dokumen perceraian.
Tanda tangan Kirana sudah ada.
Dan di bagian pasangan, terdapat tanda tangan dirinya.
Arga membeku.
Ia mengenali tanda tangan itu.
Beberapa hari sebelumnya, ibunya membawa sejumlah dokumen perusahaan dan memintanya menandatangani semuanya.
Tanpa membaca.
“Kirana…”
Untuk pertama kalinya selama lima tahun, Arga mencoba berdiri tanpa bantuan.
Kedua kakinya langsung kehilangan tenaga.
Tubuhnya jatuh keras ke lantai.
Galang berlari mendekat.
“Kak!”
“Jangan sentuh aku!”
Arga mendorong tangan adiknya.
Matanya merah.
“Cari Kirana.”
Sore itu aku kembali ke pantai.
Waktuku tinggal beberapa jam.
Langit Surabaya mulai berubah jingga ketika aku berdiri di tempat ombak menyeretku dua hari sebelumnya.
Penjaga alam kematian pernah berkata ikatan itu harus berakhir.
Aku sudah mendapatkan perceraian.
Namun ada sesuatu yang masih menggangguku.
Mengapa aku belum dipanggil kembali?
Saat itulah suara seseorang terdengar di belakang.
“Kirana!”
Aku berbalik.
Arga berada beberapa meter dariku.
Dua pengawal mendorong kursi rodanya melewati pasir.
Wajahnya kacau. Tidak ada lagi ketenangan dingin yang biasa ia tunjukkan.
Aku tersenyum kecil.
“Kamu akhirnya membaca suratnya.”
Arga memberi isyarat agar pengawal pergi.
Ketika kami hanya berdua, ia bertanya, “Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
“Memberitahumu apa?”
“Bahwa kamu tidak tahu soal pernikahan itu.”
Aku menatap laut.
“Aku memberitahumu pada malam pertama.”
Arga terdiam.
Benar.
Aku sudah mengatakan semuanya.
Hanya saja ia memilih tidak percaya.
“Aku juga baru tahu hari ini kalau Ibu dan Fikri memang menjualku.”
Arga menunduk.
“Maaf.”
Aku hampir tidak mengenali suara itu.
Selama lima tahun, aku tidak pernah mendengar Arga meminta maaf kepadaku.
“Tidak apa-apa.”
“Jangan bilang tidak apa-apa.”
Untuk pertama kalinya, suaranya meninggi.
“Aku membuatmu mencari cincin itu saat badai.”
Aku menatapnya.
“Arga, kamu tahu kenapa aku kembali membawa cincin itu?”
Ia tidak menjawab.
“Karena aku bodoh.”
Aku tertawa kecil.
“Aku pikir kalau aku melakukan cukup banyak hal untukmu, suatu hari kamu akan percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu.”
Arga menatap luka di tanganku.
“Aku percaya sekarang.”
“Terlambat.”
“Aku bisa memperbaikinya.”
“Tidak bisa.”
“Aku bisa.”
Aku menggeleng.
“Arga, aku sudah meninggal.”
Wajahnya membeku.
Aku menceritakan apa yang terjadi di laut.
Tentang ombak.
Tentang tempat gelap.
Tentang tiga hari yang diberikan kepadaku.
Arga menatapku seolah aku kehilangan akal.
Kemudian tangannya menyentuh pergelangan tanganku.
Tidak ada denyut nadi.
Ia memindahkan telapak tangannya ke dadaku.
Tidak ada detak jantung.
Wajahnya berubah putih.
“Tidak…”
“Waktuku hampir habis.”
Arga menggenggam tanganku.
“Tidak.”
Aku mencoba melepaskannya.
“Bukankah ini yang kamu inginkan selama lima tahun? Aku pergi dari hidupmu.”
“Aku tidak pernah ingin kamu mati!”
“Tapi kamu juga tidak pernah ingin aku hidup di sisimu.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Matahari semakin tenggelam.
Tubuhku mulai terasa ringan.
Jari-jariku perlahan menjadi transparan.
Arga melihatnya.
Untuk pertama kalinya, ketakutan memenuhi wajah lelaki yang selalu terlihat tidak peduli itu.
“Kirana, tunggu.”
“Aku tidak bisa.”
“Kamu bilang ikatan kita belum selesai.”
“Sekarang sudah.”
“Belum.”
Arga tiba-tiba menarik tubuhku mendekat dan menciumku.
Aku membeku.
Itu adalah ciuman pertama kami selama lima tahun pernikahan.
Namun tidak ada keajaiban.
Tubuhku tetap semakin transparan.
Aku tersenyum pahit.
“Bukan itu maksudnya.”
Arga menempelkan dahinya ke dahiku.
“Aku tidak tahu bagaimana cara mencintaimu.”
“Tidak perlu belajar sekarang.”
“Aku takut.”
Aku terdiam.
“Aku membencimu karena setiap kali melihatmu, aku merasa lemah. Kamu satu-satunya orang yang melihatku setelah kecelakaan tanpa rasa kasihan. Aku pikir semua itu sandiwara.”
Air mata jatuh dari matanya.
“Ternyata aku hanya terlalu pengecut untuk percaya bahwa seseorang bisa memilihku.”
Aku ingin menyentuh wajahnya, tetapi tanganku sudah hampir tidak terlihat.
“Kalau begitu, di kehidupan berikutnya, jangan terlalu terlambat.”
Cahaya terakhir matahari menghilang.
Dunia di sekelilingku berubah gelap.
Aku kembali melihat penjaga alam kematian.
Ia menatapku.
“Ikatanmu sudah selesai.”
Aku mengangguk.
“Sekarang aku boleh pergi?”
“Boleh.”
Aku melangkah menuju cahaya di kejauhan.
Namun sebelum mencapainya, penjaga itu berkata lagi.
“Apakah kamu tidak ingin tahu satu hal?”
Aku berhenti.
“Pria itu tidak lumpuh.”
Aku berbalik.
“Apa?”
“Kakinya memang pernah rusak. Tetapi tiga tahun lalu, sarafnya sudah pulih cukup untuk berjalan.”
Aku tidak memahami maksudnya.
Penjaga itu tersenyum tipis.
“Dia yang memilih tetap berada di kursi roda.”
Ketika kesadaranku menghilang, aku tidak pernah mengetahui apa yang terjadi setelahnya.
Arga tetap berada di pantai sampai tengah malam.
Ketika tubuh Kirana lenyap dari pelukannya, ia duduk sendirian menghadapi laut.
Lalu perlahan, kedua tangannya mencengkeram sandaran kursi roda.
Ia berdiri.
Kedua kakinya gemetar hebat.
Namun ia berdiri.
Selama tiga tahun terakhir, ia sebenarnya sudah mampu berjalan beberapa langkah. Hanya saja rasa takut membuatnya terus berpura-pura tidak bisa.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arga berjalan sendiri.
Bukan menuju Kirana.
Ia sudah terlambat untuk itu.
Ia berjalan menuju kehidupan yang selama ini terlalu takut ia jalani.
Keesokan harinya, pernikahan Galang dan Selina dibatalkan.
Arga menyerahkan bukti transaksi Rp99 miliar dan seluruh dokumen kesepakatan rahasia kepada pengacaranya. Keluarga Maheswari diwajibkan mengembalikan uang yang mereka terima, sementara Galang kehilangan seluruh haknya dalam perusahaan keluarga karena keterlibatannya dalam penipuan tersebut.
Namun Arga tidak mengejar balas dendam lebih jauh.
Ia menjual sebagian saham pribadinya dan mendirikan yayasan atas nama Kirana untuk membantu perempuan yang terjebak utang keluarga dan eksploitasi finansial.
Setiap tahun, pada tanggal kematian Kirana, ia datang ke makam di sebelah makam ayahnya.
Tidak membawa cincin Selina.
Cincin itu sudah ia lemparkan ke laut.
Ia hanya membawa setangkai bunga putih.
Lima tahun kemudian, Arga datang lagi.
Kini ia berjalan tanpa tongkat.
Ia berjongkok di depan batu nisan Kirana.
“Aku sudah belajar berjalan.”
Ia tersenyum kecil.
“Sayangnya, orang yang paling ingin kulihat menyaksikannya sudah tidak ada.”
Angin bergerak melewati pepohonan.
Sebuah kelopak bunga jatuh tepat di telapak tangannya.
Arga menatapnya lama.
Kemudian tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tawanya tidak terdengar pahit.
Di tempat yang tidak bisa dilihatnya, seorang perempuan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Aku menatap lelaki itu untuk terakhir kalinya.
Penjaga alam kematian ternyata pernah menyembunyikan satu hal dariku.
Tiga hari yang diberikan kepadaku bukan karena pernikahanku belum disempurnakan.
Itu hanya alasan agar aku kembali.
Alasan sebenarnya jauh lebih sederhana.
Aku meninggal dengan keyakinan bahwa tidak seorang pun pernah memilihku.
Karena itu, sebelum memasuki kehidupan berikutnya, aku diberi kesempatan untuk mengetahui kebenaran.
Ayah pernah memilihku sebagai anak yang paling ia percaya.
Aku pernah memilih Arga dengan tulus.
Dan pada akhirnya, meskipun terlambat, Arga memilih untuk menjalani hidup yang kuberikan kembali kepadanya.
Aku tersenyum.
Ternyata rumah bukan selalu tempat yang menerima kita.
Kadang-kadang, rumah adalah keberanian untuk berhenti mengetuk pintu orang-orang yang tidak menginginkan kita, lalu berjalan mencari kehidupan yang memang pantas kita miliki.
Kali ini, ketika cahaya itu muncul lagi, aku tidak menoleh ke belakang.
Aku melangkah masuk.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup maupun kematianku, aku pergi bukan karena dibuang.
Aku pergi karena aku sendiri yang memilihnya.
