Di atas kursi itu tergeletak secangkir teh jahe yang masih mengepul, selembar roti panggang yang dipotong rapi, dan sebotol air mineral. Minh menatap saya dengan tatapan yang sulit diartikan—tatapan yang biasanya ia tujukan pada laporan keuangan yang bermasalah, namun kali ini ada bias kelembutan yang aneh di sana.
“Semalam, kamu meneleponku,” suaranya tenang, hampir seperti sedang memberikan instruksi proyek. “Bukan untuk urusan kantor. Kamu menangis, meracau tentang pengkhianatan, tentang harga diri yang diinjak-injak, dan kamu salah sambung saat mencoba menghubungi mantanmu. Aku melacak lokasimu melalui GPS ponsel kantor yang tertaut di sistem perusahaan karena kamu tidak berhenti bicara tentang ingin terjun ke laut.”
Dunia saya seolah berhenti berputar. Bos saya yang sedingin es, yang selalu menuntut kesempurnaan, ternyata melacak keberadaan saya di tengah malam hanya untuk memastikan karyawannya tidak melakukan hal bodoh?

“Lalu… apa yang terjadi?” saya bertanya dengan gemetar, meremas ujung selimut.
Minh mendesah panjang, sebuah gerakan yang sangat manusiawi untuk seseorang yang biasanya terlihat seperti robot. “Kamu pingsan di depan bar setelah aku tiba. Aku tidak bisa meninggalkanmu di sana, dan hotel ini adalah yang terdekat. Aku tidak menyentuhmu. Aku hanya duduk di kursi itu semalaman untuk menjaga agar kamu tidak jatuh atau tersedak jika kamu muntah.”
Dia berdiri, merapikan kemejanya yang kusut. “Sekarang, makanlah. Kita harus kembali ke kantor. Hari ini ada rapat besar mengenai strategi Q4.”
Saya merasa lega sekaligus… kecewa? Entahlah, emosi saya kacau. Saya bergegas mandi dan bersiap. Sepanjang perjalanan kembali ke kota dalam mobil mewahnya, suasana terasa mencekam. Namun, saat kami sampai di lobi kantor, sebuah kenyataan pahit menyambut kami. Mantan saya, pria yang memutuskan saya dua hari lalu, sedang berdiri di sana bersama wanita lain—rekan kerja saya sendiri, yang ternyata adalah putri dari direktur utama perusahaan kami.
Mantan saya menatap saya dengan tatapan meremehkan. “Oh, lihat siapa yang datang. Pantas saja kamu berani putus, ternyata kamu sudah punya ‘cadangan’ yang lebih senior, ya?”
Seluruh staf di lobi terdiam. Suasana menjadi panas. Saya merasakan tangan saya gemetar hebat. Namun, sebelum saya bisa mengucapkan sepatah kata pun, Minh melangkah maju. Dia tidak terlihat marah; dia justru tersenyum—senyum yang paling menakutkan yang pernah saya lihat.
“Cadangan?” tanya Minh dengan nada bicara yang sangat formal, seolah sedang melakukan negosiasi bisnis. “Saya rasa Anda salah besar. Saya tidak membawanya karena urusan pribadi, saya membawanya karena dia adalah satu-satunya staf yang memiliki akses ke data rahasia yang baru saja saya serahkan padanya semalam.”
Minh menoleh ke arah saya, lalu berkata dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang, “Dan untuk informasi Anda, dia adalah tunangan saya. Kami hanya belum sempat mengumumkannya secara resmi karena saya tidak ingin mencampuradukkan urusan profesional dengan pribadi.”
Dunia saya benar-benar runtuh—untuk kedua kalinya dalam 24 jam. Namun, kali ini dengan cara yang sangat berbeda.
Mantan saya terbelalak, wajahnya pucat pasi. Dia tahu siapa Minh. Minh bukan hanya kepala departemen; dia adalah pemegang saham utama di perusahaan ini yang selama ini menyembunyikan identitasnya.
Setelah mantan saya pergi dengan perasaan malu yang luar biasa, Minh menarik saya ke sudut ruangan yang sepi. Dia menatap saya tajam. “Maafkan saya. Saya hanya ingin memberinya pelajaran karena dia telah mempermalukanmu.”
“Tapi… tunangan?” saya terbata-bata.
Minh terdiam sejenak. Dia mendekat, suaranya kini berbisik sangat pelan, “Apakah itu harus menjadi kebohongan? Saya sudah lama memperhatikanmu. Dan semalam, saat kamu menangis di pelukanku karena pria bodoh itu, aku menyadari bahwa aku tidak ingin membiarkanmu menangis untuk orang lain lagi.”
Saya terpaku. Pria yang selama ini saya anggap sebagai mesin kerja, ternyata memiliki hati yang telah lama tertambat pada saya.
Tiga bulan kemudian, perusahaan mengadakan perayaan besar. Ternyata, Minh tidak berbohong. Dia benar-benar melamar saya dengan cara yang sangat elegan di depan seluruh staf. Namun, saat saya sedang menikmati kebahagiaan itu, saya menemukan sebuah dokumen di atas meja kerja Minh yang tertinggal.
Itu adalah dokumen penyelidikan latar belakang. Di sana tertera foto saya, data mantan saya, dan sebuah kesimpulan: Target: Menghancurkan karier mantan tunangan target dan memastikan target berpindah ke tangan kita.
Jantung saya berhenti berdetak. Apakah ini cinta? Atau apakah selama ini saya hanyalah proyek strategis yang dirancang oleh pria paling cerdas di kantor?
Saya menatap Minh yang sedang berjalan ke arah saya dengan senyum manisnya. Saya menyadari, di balik semua kelembutan dan perlindungannya, Minh tidak pernah melakukan apa pun tanpa rencana. Apakah dia yang sengaja membuat mantan saya selingkuh agar saya putus? Apakah dia yang membuat saya pingsan di bar itu untuk masuk ke dalam skenarionya?
Saya tersenyum tipis saat dia memegang tangan saya. Jika ini adalah permainan, maka saya akan menjadi pemain yang lebih baik daripada dia. Karena di dalam saku baju saya, saya telah menyimpan bukti rekaman yang akan menghancurkan reputasi Minh jika dia berani mempermainkan saya sedikit saja.
“Apa yang kamu pikirkan, sayang?” tanya Minh lembut.
“Hanya tentang bagaimana kita akan memulai hidup baru,” jawab saya dengan senyum yang sama manisnya.
Di dunia Minh, tidak ada tempat untuk kesalahan. Tapi dia lupa satu hal: dia yang mengajari saya bagaimana cara menjadi teliti, bagaimana cara memperbaiki setiap koma, dan bagaimana cara memenangkan setiap permainan. Akhir dari cerita ini bukan tentang siapa yang mencintai siapa, melainkan tentang siapa yang akhirnya berhasil mengendalikan siapa. Dan untuk saat ini, kami berdua sedang berakting dengan sangat sempurna.
