“Di, bukan berarti kamu memandikan aku. Aku bukan anak kecil, aku pria dewasa.””Terus? Memangnya yang bilang kamu anak kecil siapa?”

Adira menutup sambungan telepon dengan tangan yang masih gemetar. Nada suara Raya barusan terdengar biasa, bahkan terlalu biasa untuk seseorang yang mengaku sedang sakit. Tidak ada suara rumah sakit, tidak ada suara alat medis, hanya hembusan angin dan samar-samar suara ombak yang membuat kecurigaannya semakin kuat.

“Ra, sebenarnya kamu ada di mana?” gumamnya pelan.

Mobil yang dikendarainya melaju perlahan meninggalkan kafe. Masalah cabang memang sudah selesai untuk sementara, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang. Seumur hidupnya mengenal Raya, baru kali ini wanita itu menyembunyikan begitu banyak hal. Kebohongan demi kebohongan mulai tersusun seperti potongan puzzle yang perlahan membentuk gambar yang mengerikan.

Sesampainya di rumah Arka, matahari hampir tenggelam.

Kevin sudah bersiap pulang ketika membuka pintu.

“Mbak Dira, Mas Arka dari tadi nungguin Mbak.”

“Gimana kondisinya?”

“Lebih baik. Tapi sepertinya lagi banyak pikiran.”

Adira mengangguk.

“Terima kasih ya, Vin.”

Setelah Kevin pergi, suasana rumah kembali sunyi. Adira membawa beberapa kantong makanan ke ruang makan sebelum berjalan menuju kamar Arka.

Pria itu sedang duduk di tepi ranjang sambil memandangi halaman melalui jendela.

“Kamu pulang juga,” ucap Arka tanpa menoleh.

“Aku bawa makan malam.”

“Aku nggak lapar.”

Adira menghela napas. “Dari pagi kamu belum makan banyak.”

Arka akhirnya menoleh. Wajahnya terlihat lelah.

“Kamu sendiri?”

“Aku juga belum sempat.”

“Kenapa?”

Adira terdiam beberapa detik. Ia tahu cepat atau lambat Arka harus mengetahui sesuatu.

“Kafe cabang ditutup pengawas makanan pagi tadi.”

Arka langsung menegakkan badan.

“Apa?”

“Aku sudah urus. Sekarang sudah buka lagi.”

“Kenapa baru bilang?”

“Kamu lagi pemulihan.”

Arka menatap wanita itu cukup lama.

“Kamu kelihatan capek.”

“Aku memang capek.”

“Bukan cuma karena kafe.”

Tatapan mereka bertemu.

Adira memalingkan wajah.

“Ada sesuatu tentang Raya?”

Pertanyaan itu membuat dadanya sesak.

“Aku belum punya bukti.”

“Jadi memang ada.”

Adira akhirnya duduk di kursi dekat ranjang.

“Aku menghubungi sekretaris Raya.”

“Lalu?”

“Katanya Raya tidak dinas ke Malaysia.”

Wajah Arka perlahan berubah.

“Maksudmu?”

“Raya mengajukan cuti satu minggu.”

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Arka tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar pahit.

“Mungkin sekretarisnya salah.”

“Aku juga berharap begitu.”

“Tapi?”

“Tapi ini bukan kebohongan pertama.”

Adira menceritakan semua yang selama ini ia simpan. Tentang pesan dari kontak bernama Sayang, tentang alasan perjalanan dinas yang selalu berubah, tentang telepon yang tidak pernah aktif.

Semakin lama Arka mendengarkan, wajahnya semakin pucat.

“Kenapa baru sekarang kamu cerita?”

“Aku nggak mau menghancurkan rumah tangga sahabatku hanya karena prasangka.”

Arka menundukkan kepala.

“Ternyata… selama ini aku yang bodoh.”

“Tolong jangan langsung menyimpulkan.”

“Aku kenal istriku, Di.”

Nada suaranya sangat pelan.

“Kalau dia memang sedang berbohong, berarti ada sesuatu yang besar.”

Malam itu tidak ada lagi percakapan.

Adira membantu Arka makan malam sebelum pulang ke apartemennya.

Namun tepat pukul sebelas malam, teleponnya berbunyi.

Nama Arka muncul di layar.

“Di…”

Suara pria itu terdengar panik.

“Ada apa?”

“Aku nemu sesuatu.”

“Apa?”

“Di laptop Raya.”

Adira langsung bangkit dari tempat tidur.

“Aku ke sana sekarang.”

Dua puluh menit kemudian ia sudah berada di rumah Arka.

Di meja kerja terdapat sebuah laptop yang masih menyala.

Arka menunjuk layar.

“Aku mau cari data laporan kafe.”

Di layar terbuka folder yang tidak sengaja tersinkronisasi dengan penyimpanan awan.

Isinya puluhan foto.

Foto Raya.

Namun bukan bersama Arka.

Di setiap foto itu Raya tampak bersama seorang pria asing.

Mereka sedang makan malam.

Berjalan bergandengan tangan.

Berlibur di pantai.

Bahkan ada foto saat pria itu memeluk Raya dari belakang.

Adira menutup mulutnya.

“Ya Tuhan…”

Arka tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Tatapannya kosong.

Lalu ia membuka sebuah video.

Di dalam video itu, pria yang sama mencium kening Raya.

“Aku janji setelah semua selesai kita akan hidup bersama.”

Suara pria itu terdengar jelas.

Raya tersenyum.

“Aku juga capek hidup bohong terus.”

Video berhenti.

Ruangan menjadi sunyi.

Air mata pertama akhirnya jatuh dari mata Arka.

Bukan tangisan keras.

Hanya satu tetes yang perlahan mengalir.

“Jadi benar.”

Adira ikut menangis.

Selama ini ia berharap semua hanya kesalahpahaman.

Ternyata kenyataannya jauh lebih menyakitkan.

Keesokan paginya Arka meminta sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Adira.

“Temani aku ke Malaysia.”

“Kamu serius?”

“Aku mau lihat sendiri.”

“Keadaan tanganmu belum pulih.”

“Aku nggak peduli.”

Dua hari kemudian mereka berangkat.

Berbekal alamat hotel yang ditemukan dari bukti reservasi di email Raya.

Sesampainya di Kuala Lumpur, mereka langsung menuju hotel tersebut.

Resepsionis awalnya menolak memberikan informasi.

Namun setelah Arka menunjukkan identitas sebagai suami sah, manajer hotel akhirnya bersedia membantu.

“Ibu Raya masih menginap.”

Jantung Arka berdegup kencang.

“Kamar?”

“Lantai dua belas.”

Arka dan Adira saling berpandangan.

Mereka naik lift.

Setiap angka yang berganti terasa begitu lambat.

Sesampainya di depan kamar, Arka mengangkat tangan kirinya untuk mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

Pintu akhirnya terbuka perlahan.

Yang berdiri di sana memang Raya.

Namun wajah wanita itu terlihat sangat berbeda.

Pucat.

Kurus.

Kepalanya tertutup penutup kain tipis.

Melihat Arka, Raya langsung membeku.

“Ka…”

Belum sempat berbicara, seorang dokter keluar dari ruangan.

“Maaf, waktu pemeriksaan sudah selesai.”

Dokter itu menghentikan langkah saat melihat Arka.

“Keluarga pasien?”

Arka mengangguk pelan.

Dokter memandang Raya.

“Kenapa suami Anda baru datang sekarang?”

Kalimat itu membuat semua orang terdiam.

Arka memandang Raya dengan bingung.

“Sebenarnya ada apa?”

Raya akhirnya menangis.

Tangisan yang selama ini ditahannya pecah begitu saja.

“Aku bohong.”

“Aku tahu.”

“Bukan soal itu.”

Wanita itu duduk perlahan.

Tangannya gemetar.

“Aku memang tidak dinas.”

“Lalu?”

“Aku menjalani pengobatan.”

“Apa penyakitmu?”

Raya tidak mampu menjawab.

Dokter akhirnya berbicara.

“Istri Anda menderita leukemia stadium awal.”

Arka membeku.

“Apa?”

“Masih memiliki peluang sembuh, tetapi harus menjalani terapi intensif.”

Air mata Adira langsung mengalir.

Dokter melanjutkan.

“Beliau sengaja datang sendiri karena tidak ingin suaminya menghentikan semua pekerjaan hanya untuk mengurusnya.”

Arka memandang istrinya.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku takut kamu sedih.”

“Lalu foto-foto itu?”

Raya menangis semakin keras.

“Itu kakakku.”

Arka terdiam.

“Apa?”

“Dia tinggal di Malaysia. Selama aku terapi, dia yang mengurus semuanya.”

Raya membuka album lain.

Semua foto yang sebelumnya tampak romantis ternyata diambil dari sudut yang menyesatkan.

Foto pelukan itu diambil setelah Raya pingsan.

Video ciuman di kening ternyata dilakukan sang kakak sebelum operasi kecil.

Kalimat “hidup bersama” yang terdengar romantis ternyata lanjutan lengkapnya adalah, “…di rumah Mama setelah pengobatanmu selesai.”

Potongan video yang tersimpan hanya beberapa detik sehingga menimbulkan salah paham.

Arka terduduk lemas.

Ia merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia.

Namun Raya kembali menangis.

“Maaf… satu kebohongan memang benar.”

“Apa?”

“Aku menyuruh sekretaris bilang aku cuti karena sakit.”

“Lalu?”

“Aku takut semua orang tahu penyakitku.”

Ruangan kembali sunyi.

Arka perlahan mendekati istrinya.

Dengan satu tangan yang masih sehat, ia memeluk Raya seerat mungkin.

“Kenapa kamu menanggung semuanya sendirian?”

“Aku nggak mau jadi beban.”

“Kamu istriku.”

Tangisan mereka pecah bersamaan.

Di sudut ruangan, Adira memalingkan wajah sambil menghapus air matanya.

Selama beberapa hari berikutnya ia membantu mengurus administrasi rumah sakit dan pekerjaan Raya dari jarak jauh.

Ia baru menyadari satu hal.

Selama ini bukan hanya Arka yang salah paham.

Dirinya pun diam-diam telah membiarkan perasaan tumbuh kepada suami sahabatnya.

Perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.

Sebelum kembali ke Indonesia, Adira menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Raya.

“Aku ingin mulai hidup yang baru.”

Raya menatapnya heran.

“Kamu marah?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

Adira tersenyum tipis.

“Aku terlalu lama hidup untuk orang lain. Sekarang aku ingin hidup untuk diriku sendiri.”

Raya memeluk sahabatnya erat.

“Terima kasih sudah menjaga suamiku.”

Adira menggeleng.

“Mulai sekarang, jaga dia sendiri.”

Beberapa bulan kemudian, terapi Raya menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kondisinya terus membaik, sementara Arka perlahan pulih dari cedera di tangannya. Mereka belajar bahwa kepercayaan bukan dibangun dari asumsi, melainkan dari keberanian untuk berkata jujur, bahkan ketika kebenaran terasa paling menyakitkan.

Adira membuka sebuah kedai kopi kecil hasil tabungannya sendiri. Pada hari pembukaan, Arka dan Raya datang membawa sebuket bunga.

Di kartu kecil yang mereka tinggalkan tertulis satu kalimat.

“Terima kasih karena pernah menjadi rumah saat kami hampir kehilangan arah.”

Adira tersenyum sambil menatap langit sore.

Ia akhirnya mengerti bahwa tidak semua cinta harus dimiliki. Ada cinta yang tugasnya hanya menjaga, lalu melepaskan dengan ikhlas. Dan terkadang, kebohongan yang paling berbahaya bukanlah yang diucapkan dengan niat jahat, melainkan yang lahir dari keinginan melindungi orang yang paling kita cintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang