DI HARI PERNIKAHANKU YANG PALING BAHAGIA, SUAMIKU TIBA-TIBA MENDORONGKU KE KOLAM RENANG DENGAN GAUN PENGANTIN BERAT, TAPI AYAHKU YANG BERUSIA ENAM PULUH DUA TAHUN MELOMPAT DENGAN BESKAP LENGKAP DAN MENYELAMATKANKU DI DEPAN RATUSAN TAMU YANG MENANGIS

Di ambang pintu vila itu, aku berdiri membeku. Suara Raka yang terus memanggil namaku terdengar semakin lirih, seolah tertelan oleh angin sore Puncak yang mulai dingin. Air masih menetes dari ujung gaunku, meninggalkan jejak panjang di lantai marmer. Tanganku menggigil, tetapi bukan karena udara. Aku baru saja melihat wajah kematian dari jarak yang begitu dekat, dan orang yang mendorongku ke sana adalah pria yang beberapa jam lalu mengucapkan janji untuk menjagaku seumur hidup.

Ayah tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam tanganku erat, seolah takut aku akan jatuh lagi. Aku bisa merasakan telapak tangannya yang dingin karena air kolam, tetapi genggamannya tetap hangat.

Di dalam kamar pengantin, ibu membantu melepas gaunku yang berat. Renda-renda putih yang tadi pagi tampak begitu indah kini robek di beberapa bagian. Air mata ibu kembali jatuh ketika melihat bekas memar di lenganku akibat benturan dengan bibir kolam.

“Lihat ini…” bisiknya lirih.

Aku menunduk. Baru kusadari ada bekas merah kebiruan di lengan kiriku.

Ayah berdiri di dekat jendela tanpa berkata sepatah kata pun. Wajahnya tenang, tetapi aku mengenal ayahku. Semakin diam ia, semakin besar amarah yang sedang ia tahan.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.

Raka.

“Laras… tolong buka. Aku ingin bicara.”

Aku memejamkan mata.

Ibu menoleh kepadaku.

“Mau bertemu?”

Aku menggeleng pelan.

Ayah membuka pintu beberapa sentimeter.

“Apa?”

Suara ayah datar.

“Pak… saya mau minta maaf.”

“Kamu minta maaf kepada siapa? Kepadaku? Atau kepada anakku yang hampir mati?”

Raka menundukkan kepala.

“Saya benar-benar tidak bermaksud begitu.”

Ayah menghela napas panjang.

“Kalau seseorang mengendarai mobil sambil bercanda lalu menabrak orang, apakah karena tidak sengaja maka akibatnya hilang?”

Raka terdiam.

“Pergilah dulu.”

Pintu kembali ditutup.

Aku mendengar langkah kaki Raka menjauh.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya tiga tahun lalu, aku tidak merasa kasihan melihatnya.

Yang kurasakan hanyalah kosong.

Malam itu resepsi tidak benar-benar berakhir. Musik dihentikan. Banyak tamu pulang lebih awal. Tidak sedikit yang datang menghampiri ayah dan memujinya karena keberaniannya.

“Apa Bapak dulu atlet renang?”

Seorang tamu bertanya.

Ayah hanya tersenyum tipis.

“Dulu saya anggota Basarnas selama hampir tiga puluh tahun.”

Semua orang terdiam.

Aku baru tahu beberapa tamu bahkan merekam saat ayah melompat ke kolam. Video itu mulai beredar di media sosial malam itu juga.

Judulnya sederhana.

“Ayah Menyelamatkan Putrinya di Hari Pernikahan.”

Video itu ditonton jutaan orang hanya dalam dua hari.

Namun tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi setelah kamera berhenti merekam.

Malam pertama sebagai suami istri, aku memilih tidur di kamar bersama ibu.

Raka tidur sendirian.

Pagi harinya ia datang membawa bunga.

“Laras… beri aku kesempatan.”

Aku menatap bunga itu sebentar.

“Dulu waktu kita pacaran, kamu pernah mendorongku ke laut saat liburan di Anyer.”

Ia terdiam.

“Kamu bilang bercanda.”

Aku melanjutkan.

“Lalu waktu ulang tahunku, kamu menyembunyikan ponselku sampai aku panik dua jam. Kamu bilang bercanda.”

Ia mulai pucat.

“Waktu aku presentasi di kantor, kamu sengaja mematikan proyektor dari belakang ruangan. Semua orang tertawa. Kamu bilang bercanda.”

Aku menarik napas.

“Kemarin kamu hampir membunuhku. Kamu juga bilang bercanda.”

Ruangan menjadi sunyi.

Baru saat itulah aku menyadari sesuatu yang selama ini kuabaikan.

Semua tanda sudah ada.

Aku hanya memilih tidak melihatnya.

Raka menangis.

“Aku akan berubah.”

Aku menggeleng.

“Orang bisa berubah kalau dia sadar sebelum menyakiti orang lain. Kamu baru sadar setelah hampir kehilangan aku.”

Ia berlutut.

Aku tidak lagi tersentuh.

Beberapa hari kemudian aku kembali ke Jakarta bersama orang tuaku.

Aku belum memutuskan apa pun.

Semua orang menyuruhku memberi kesempatan.

“Kecelakaan saja.”

“Namanya juga laki-laki.”

“Cuma bercanda.”

Kalimat-kalimat itu terus berdatangan.

Sampai suatu sore, seorang perempuan menghubungiku lewat media sosial.

Namanya Dinda.

“Aku mantan pacar Raka.”

Dadaku langsung berdebar.

Kami bertemu di sebuah kafe.

Ia membawa sebuah map.

“Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur.”

“Tapi setelah melihat videomu, aku tidak bisa diam.”

Ia membuka map itu.

Di dalamnya ada foto-foto lama.

Salah satunya memperlihatkan Dinda mengenakan gips di kaki.

“Itu gara-gara Raka?”

Ia mengangguk.

“Waktu itu dia mendorongku dari tangga kolam renang karena katanya lucu melihat aku panik.”

Aku membeku.

“Lalu?”

“Kakiku patah.”

Air matanya mulai mengalir.

“Dia menangis. Dia minta maaf. Semua orang menyuruhku memaafkannya.”

Aku merasa napasku tercekat.

“Aku memaafkan.”

“Lalu enam bulan kemudian dia sengaja mengerjai motorku dengan melepas sedikit baut rem karena ingin membuatku takut.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Apa?”

“Aku mengalami kecelakaan.”

Aku tidak sanggup berkata-kata.

“Dia selalu menyebut semuanya sebagai prank.”

Dinda mengeluarkan satu foto lagi.

“Itu sebabnya aku putus.”

Saat pulang dari pertemuan itu, tanganku gemetar.

Aku baru sadar ayah bukan sedang terlalu khawatir.

Ayah hanya melihat sesuatu yang tidak kulihat.

Malam itu aku menunjukkan semua bukti kepada ayah.

Ayah tidak tampak terkejut.

“Sebenarnya ayah pernah mendengar cerita dari teman lama.”

Aku menoleh.

“Tapi tidak ada bukti.”

“Kenapa Ayah tidak bilang?”

“Ayah pernah mencoba.”

Aku mengingat-ingat.

Tiga bulan sebelum menikah, ayah memang pernah berkata,

“Kenali seseorang dari cara dia bercanda.”

Saat itu aku menganggap ayah terlalu konservatif.

Kini aku mengerti maksudnya.

Seminggu kemudian Raka datang lagi.

Ia membawa kedua orang tuanya.

Ibunya langsung menangis.

“Maafkan anak kami.”

Ayah mempersilakan mereka duduk.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada emosi.

Hanya percakapan yang sangat tenang.

Ayah memandang Raka.

“Saya hanya ingin bertanya satu hal.”

“Kalau kemarin yang tenggelam itu adik perempuanmu, apakah kamu tetap menganggapnya lucu?”

Air mata Raka jatuh.

Ia tidak mampu menjawab.

Keheningan itu menjadi jawaban yang paling jelas.

Aku berdiri.

“Mas…”

Ia langsung menatapku penuh harapan.

“Aku sudah memikirkan semuanya.”

Tanganku dingin.

“Aku tidak bisa membangun rumah tangga dengan seseorang yang menganggap rasa takut orang lain sebagai hiburan.”

Raka menangis semakin keras.

“Aku akan terapi.”

“Aku akan berubah.”

Aku mengangguk pelan.

“Aku berharap kamu benar-benar berubah.”

“Tapi bukan bersamaku.”

Kalimat itu mengakhiri semuanya.

Beberapa bulan kemudian proses pembatalan pernikahan secara hukum selesai.

Banyak orang menyayangkan keputusanku.

Namun jauh lebih banyak yang diam-diam mengirim pesan.

Ada yang mengaku pernah menjadi korban pasangan yang suka mempermalukan, mengerjai, atau membuat mereka ketakutan atas nama cinta.

Saat itulah aku sadar, kekerasan tidak selalu dimulai dengan pukulan.

Kadang ia datang sambil tertawa.

Kadang dibungkus kata “bercanda”.

Enam bulan berlalu.

Aku kembali bekerja.

Hidup perlahan pulih.

Suatu Minggu pagi aku mengajak ayah sarapan di warung soto favoritnya.

Aku memperhatikan rambutnya yang semakin banyak memutih.

Bekas luka kecil di tangannya masih terlihat.

“Itu luka waktu menyelamatkanku?”

Ayah tersenyum.

“Sedikit tergores saja.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kalau waktu itu Ayah terlambat beberapa detik…”

Ayah memotong ucapanku.

“Orang tua tidak pernah menghitung detik ketika anaknya dalam bahaya.”

Mataku kembali basah.

“Ayah tidak takut tenggelam?”

Ayah tertawa pelan.

“Ayah lebih takut kehilangan kamu.”

Aku tidak mampu lagi menahan air mata.

Di luar, hujan kecil mulai turun.

Orang-orang berlari mencari tempat berteduh.

Aku memandang ayah yang sedang menikmati semangkuk sotonya dengan tenang.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

Selama hidup, aku selalu mencari laki-laki yang bisa mencintaiku.

Padahal tanpa kusadari, standar cinta itu sudah berdiri di rumahku sendiri selama enam puluh dua tahun.

Cinta yang tidak membutuhkan kamera.

Tidak membutuhkan tepuk tangan.

Tidak membutuhkan pujian.

Cinta yang langsung melompat ke dalam bahaya tanpa sempat berpikir tentang dirinya sendiri.

Beberapa minggu kemudian video penyelamatan itu kembali viral karena diputar dalam sebuah seminar tentang keselamatan dan kekerasan dalam hubungan.

Namun setiap kali orang memujiku karena berhasil selamat, aku selalu mengoreksi mereka.

“Aku bukan selamat karena beruntung.”

“Aku selamat karena hari itu seorang ayah memilih mempertaruhkan hidupnya sendiri agar putrinya masih memiliki masa depan.”

Dan setiap kali melihat rekaman itu, mataku tidak pernah tertuju pada diriku yang tenggelam.

Aku selalu melihat seorang pria berusia enam puluh dua tahun yang berlari tanpa ragu, melompat dengan beskap lengkap ke dalam kolam, lalu membuktikan bahwa cinta sejati tidak diukur dari janji yang diucapkan di pelaminan, melainkan dari siapa yang tetap memilih menyelamatkanmu ketika seluruh dunia masih sibuk menonton.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang