Ada satu kalimat yang tidak pernah bisa kulupakan sepanjang hidupku.
“Kalau masih muda saja sudah memilih memungut anak jalanan, jangan menangis kalau masa depanmu hancur.”
Kalimat itu diucapkan bibiku sendiri tepat di depan kantor Dinas Sosial ketika aku menggenggam tangan dua anak laki-laki kurus yang berdiri ketakutan di sampingku.
Joshua dan Jericho.
Mereka baru berusia tujuh tahun saat itu.

Tubuh mereka penuh bekas gigitan nyamuk. Rambut mereka kusut. Kaki mereka dipenuhi luka karena bertahun-tahun berjalan tanpa alas kaki di jalanan.
Mereka bahkan tidak berani menatap mataku.
Petugas bertanya pelan, “Kalian yakin ingin ikut Ibu Clara?”
Joshua langsung memeluk adiknya.
Jericho hanya mengangguk kecil.
Lalu Joshua berkata lirih, “Kalau Ibu berubah pikiran, kami akan pergi sendiri.”
Dadaku terasa sesak.
Anak sekecil itu sudah terbiasa ditinggalkan.
Hari itu aku menandatangani semua dokumen adopsi dengan tangan gemetar.
Aku pulang bukan hanya membawa dua anak.
Aku membawa tanggung jawab seumur hidup.
…
Hidup kami sama sekali tidak mudah.
Gajiku sebagai guru sekolah negeri hanya cukup untuk membayar kontrakan kecil dan kebutuhan paling dasar.
Aku mulai mengajar les pada malam hari.
Sabtu dan Minggu aku menerima pekerjaan menerjemahkan dokumen demi tambahan penghasilan.
Sering kali aku baru tidur lewat tengah malam.
Namun setiap kali membuka pintu rumah, aku selalu disambut dua suara kecil.
“Ibu pulang…”
Mereka memanggilku Ibu sejak minggu pertama.
Tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu.
Suatu malam aku menemukan Joshua pura-pura tidur.
Di bawah bantalnya ada sepotong roti.
“Aku simpan buat besok,” katanya.
“Kenapa tidak dimakan?”
Ia tersenyum malu.
“Aku takut besok kita tidak punya makanan.”
Aku memeluknya erat.
Sejak malam itu aku berjanji pada diriku sendiri.
Selama aku masih bernapas, mereka tidak akan pernah lagi tidur dalam keadaan lapar.
…
Orang-orang tetap tidak berhenti mencibir.
Tetangga sering berbisik ketika aku lewat.
“Itu guru yang membawa anak pengemis.”
“Kasihan. Hidupnya habis.”
Bahkan orang tua murid pernah meminta kepala sekolah memindahkan kelasku.
Mereka takut anak-anak mereka “terpengaruh.”
Kepala sekolah memanggilku.
“Apa kamu yakin sanggup menjalani semua ini?”
Aku tersenyum.
“Saya hanya mengajar mereka membaca. Di rumah saya mengajari dua anak untuk percaya bahwa mereka layak dicintai.”
Kepala sekolah terdiam cukup lama.
Sejak hari itu beliau justru menjadi orang pertama yang selalu membelaku.
…
Cobaan terbesar datang ketika tunanganku, Adrian, mengajakku bertemu.
Ia meletakkan cincin pertunangan di atas meja.
“Aku tidak bisa menikahi perempuan yang memilih hidup seperti ini.”
Aku menatapnya tenang.
“Bukan karena kamu tidak mencintaiku lagi.”
Adrian menghela napas.
“Aku ingin keluarga yang sederhana.”
“Ini juga keluarga.”
“Bukan keluarga yang kuinginkan.”
Aku mengangguk pelan.
“Lalu pergilah.”
Ia tampak terkejut.
“Kamu tidak akan menahanku?”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau cintamu kalah oleh dua anak yang bahkan tidak pernah meminta dilahirkan, berarti sejak awal kamu tidak benar-benar mencintaiku.”
Itulah terakhir kali kami bertemu.
Malam itu aku menangis sendirian setelah Joshua dan Jericho tertidur.
Namun keesokan paginya aku kembali mengenakan seragam guru seperti biasa.
Karena hidup tidak pernah berhenti hanya karena hati sedang patah.
…
Tahun demi tahun berlalu.
Joshua ternyata sangat berbakat di bidang matematika.
Ia bisa mengerjakan soal-soal rumit tanpa bantuan.
Jericho justru jatuh cinta pada dunia sastra.
Ia menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku di perpustakaan.
Masalahnya, kami tidak mampu membeli buku.
Suatu sore aku melihat Jericho memandangi etalase toko buku.
Ia tidak masuk.
Ia hanya berdiri dari luar.
Aku menghampirinya.
“Mau buku itu?”
Ia menggeleng.
“Mahal.”
Aku masuk tanpa berkata apa pun.
Malam itu kami makan hanya dengan telur dan kecap.
Tetapi Jericho memeluk buku pertamanya sambil tertidur.
Aku tidak pernah menyesal.
…
Saat mereka duduk di bangku SMA, masa lalu kembali menghampiri.
Seorang teman sekelas mengetahui bahwa mereka dulu hidup di bawah jembatan.
Keesokan harinya hampir seluruh sekolah membicarakannya.
“Anak pengemis.”
“Itu bukan keluarga sungguhan.”
Joshua pulang dengan wajah lebam.
Ia baru saja berkelahi.
Aku membersihkan lukanya.
“Mereka menghina Ibu.”
“Apa yang mereka bilang?”
“Mereka bilang Ibu bodoh karena membesarkan kami.”
Aku menatap matanya.
“Lalu menurutmu?”
Joshua menggenggam tanganku.
“Kalau suatu hari aku sukses, orang pertama yang akan kubuat bangga adalah Ibu.”
Jericho mengangguk di sampingnya.
“Kami berdua.”
Hari itu kami bertiga menangis bersama.
…
Setelah lulus SMA, mereka diterima di universitas terbaik di Indonesia.
Joshua mendapatkan beasiswa penuh jurusan Teknik.
Jericho diterima di Fakultas Hukum.
Seluruh lingkungan tempat kami tinggal mendadak berubah sikap.
Orang-orang yang dulu mencibir kini datang membawa hadiah.
Ada yang berkata, “Kami dari dulu yakin anak-anak itu pasti berhasil.”
Aku hanya tersenyum.
Aku tidak membenci mereka.
Karena kebencian hanya membuat hati semakin berat.
…
Kuliah ternyata tidak lebih mudah.
Joshua bekerja malam sebagai asisten laboratorium.
Jericho menjadi penerjemah lepas.
Mereka bersikeras tidak ingin lagi membebani keuanganku.
Suatu malam aku diam-diam melihat saldo tabunganku.
Ada transfer masuk setiap bulan.
Pengirimnya tidak diketahui.
Jumlahnya tidak besar.
Namun selalu konsisten.
Setelah hampir setahun, aku akhirnya tahu.
Joshua dan Jericho diam-diam menabung untukku.
“Apa ini?”
Joshua tertawa.
“Iuran pensiun Ibu.”
Aku memukul pelan lengannya.
“Kalian ini.”
Jericho tersenyum.
“Dulu Ibu bekerja supaya kami bisa sekolah.”
“Sekarang giliran kami.”
…
Waktu terus berjalan.
Dua puluh dua tahun berlalu begitu cepat.
Rambutku mulai dipenuhi uban.
Langkahku tidak lagi secepat dulu.
Namun hari kelulusan mereka akhirnya tiba.
Universitas mengumumkan bahwa dua lulusan terbaik tahun itu adalah Joshua dan Jericho.
Media mulai berdatangan karena kisah mereka dianggap inspiratif.
Aku duduk di barisan paling belakang.
Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Bagiku, melihat mereka memakai toga saja sudah cukup.
Rektor mempersilakan Joshua memberikan pidato mewakili wisudawan.
Joshua berdiri di podium.
Ruangan besar itu mendadak sunyi.
Ia memandang ribuan orang.
Lalu menggeleng pelan.
“Hari ini semua orang mengatakan kami adalah lulusan terbaik.”
“Tetapi dua puluh dua tahun yang lalu, kami hanyalah dua anak kecil yang tidur di bawah jembatan.”
Ruangan langsung hening.
Joshua melanjutkan.
“Kami pernah mengira hidup kami selesai sebelum benar-benar dimulai.”
“Orang-orang berjalan melewati kami setiap hari.”
“Ada yang memberi uang.”
“Ada yang memberi sisa makanan.”
“Tetapi hanya satu orang yang memberikan masa depan.”
Ia berhenti sejenak.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Perempuan itu tidak kaya.”
“Tidak punya rumah mewah.”
“Tidak memiliki kekuasaan.”
“Yang ia miliki hanya hati yang terlalu besar.”
Seluruh ruangan mulai terdiam.
Joshua memanggilku.
“Ibu Clara…”
Aku terkejut.
Lampu sorot mengarah ke tempat dudukku.
Semua orang menoleh.
Aku berdiri perlahan.
Joshua turun dari panggung.
Jericho ikut menyusul.
Mereka berjalan ke arahku.
Di depan ribuan orang, keduanya berlutut.
“Ibu…”
Suara Joshua bergetar.
“Dulu Ibu berkata tidak akan membiarkan kami lapar.”
“Hari ini kami berjanji…”
“Kami tidak akan pernah membiarkan Ibu berjalan sendirian lagi.”
Jericho mengeluarkan sebuah map.
Semua orang mengira itu surat ucapan.
Ternyata bukan.
“Itu sertifikat rumah,” katanya.
Aku terpaku.
Joshua tersenyum.
“Rumah kecil dengan halaman yang selalu Ibu impikan.”
Air mataku langsung jatuh.
“Aku tidak membutuhkan rumah.”
Joshua menggeleng.
“Tapi kami membutuhkannya.”
“Karena akhirnya kami bisa berkata…”
“Selamat datang di rumah, Bu.”
Tangis pecah di seluruh aula.
Namun kejutan belum selesai.
Jericho kembali mengambil mikrofon.
“Dua puluh dua tahun lalu, semua orang bertanya bagaimana kami akan membalas Ibu.”
“Hari ini jawabannya.”
“Kami tidak akan pernah bisa.”
“Karena kasih sayang seorang ibu tidak memiliki harga.”
“Yang bisa kami lakukan hanyalah meneruskannya.”
Layar besar di belakang panggung tiba-tiba menyala.
Muncul sebuah logo yayasan.
Yayasan Clara.
Program beasiswa bagi anak-anak yatim dan anak jalanan di seluruh Indonesia.
Target pertama mereka adalah seribu anak.
Pendanaan awal seluruhnya berasal dari penghasilan Joshua, Jericho, dan beberapa alumni yang terinspirasi oleh kisah mereka.
Aku tidak pernah mengetahui rencana itu.
Semua disiapkan diam-diam selama tiga tahun.
Joshua menggenggam tanganku.
“Ibu pernah menyelamatkan dua anak.”
“Sekarang izinkan kami membantu menyelamatkan ribuan anak lainnya.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar merasa semua air mata, semua rasa lelah, semua hinaan, dan semua pengorbanan yang pernah kulewati akhirnya menemukan maknanya.
Saat acara selesai, seorang perempuan tua menghampiriku.
Aku mengenalinya.
Dialah tetangga yang dulu paling sering berkata bahwa aku sedang menghancurkan masa depanku.
Dengan mata berkaca-kaca ia menggenggam kedua tanganku.
“Aku salah.”
Aku hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Ia menangis.
“Aku berharap dulu aku memiliki keberanian seperti yang kamu miliki.”
Aku memandang Joshua dan Jericho yang sedang memeluk anak-anak kecil penerima beasiswa pertama Yayasan Clara.
Barulah aku menyadari satu hal.
Orang mungkin bisa menertawakan sebuah keputusan yang lahir dari kasih sayang.
Mereka mungkin menganggapnya bodoh, sia-sia, bahkan menghancurkan masa depan.
Namun cinta yang diberikan tanpa syarat memiliki cara yang tak pernah gagal untuk kembali.
Bukan dalam bentuk kekayaan.
Bukan dalam bentuk ketenaran.
Melainkan dalam bentuk kehidupan-kehidupan baru yang ikut berubah karena satu keputusan sederhana: memilih menjadi keluarga bagi seseorang yang tidak lagi memiliki siapa pun.
