Dengan tangan gemetar, aku mengangkat ujung selimut yang menutupi kakinya.
Di bawah cahaya lampu kamar yang redup, kulihat kaki kanan Raka berhenti tepat di bawah lutut. Sebuah kaki prostetik modern terpasang rapi di samping tempat tidur. Tidak ada luka yang mengerikan, tidak ada sesuatu yang membuatku takut. Yang kulihat justru seorang pria yang selama dua tahun terakhir hidup sambil menyembunyikan rasa malu yang bukan kesalahannya.
Aku menatap wajahnya.

Raka tidak berani menatap balik. Rahangnya mengeras seolah sudah bersiap menerima penolakan.
“Aku mengerti kalau kamu berubah pikiran,” katanya lirih. “Pernikahan ini bisa kita akhiri kapan pun kamu mau. Aku sudah menyiapkan semua dokumen. Tidak akan ada yang menyalahkanmu.”
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu aku duduk di sampingnya, mengangkat kaki prostetik itu dengan hati-hati dan meletakkannya lebih dekat.
“Apa yang kamu lakukan?” bisiknya.
“Kamu bilang ini bagian dari hidupmu.” Aku tersenyum pelan. “Kalau begitu, aku juga harus belajar mengenalnya.”
Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya jatuh.
“Aku bukan pria yang utuh, Sari.”
Aku menggenggam tangannya.
“Yang hilang hanya sebagian kakimu. Bukan hatimu.”
Raka menangis untuk pertama kalinya di hadapanku tanpa berusaha menyembunyikannya.
Malam pertama kami berlalu tanpa sentuhan romantis seperti pasangan pengantin baru lainnya. Kami justru saling bercerita hingga menjelang subuh. Tentang rasa takut, kehilangan, dan mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan.
Pagi berikutnya, aku bangun lebih dulu.
Secara refleks aku menuju dapur dan mulai memasak sarapan.
Tak lama kemudian, Raka muncul dengan langkah yang masih sedikit kaku menggunakan prostetiknya.
“Kamu tidak perlu melakukan semua ini.”
Aku tersenyum.
“Selama dua tahun aku memasak untuk keluarga Wijaya. Sekarang aku memasak untuk suamiku.”
Ia tertawa kecil.
Itu adalah tawa pertamanya yang benar-benar tulus sejak aku mengenalnya.
Hari-hari setelah pernikahan ternyata jauh dari mudah.
Meskipun keluarga Raka menerimaku, lingkungan mereka tidak.
Setiap kali menghadiri acara bisnis, aku selalu mendengar bisikan.
“Itu pembantunya, kan?”
“Hebat juga. Dari dapur langsung jadi nyonya.”
“Pasti ada maunya.”
Aku hanya diam.
Namun ada seseorang yang terang-terangan menunjukkan kebenciannya.
Namanya Vanessa.
Mantan tunangan Raka.
Ia adalah putri seorang pengusaha besar yang dulu hampir menjadi menantu keluarga Wijaya.
Saat melihatku di sebuah acara amal, ia tersenyum sinis.
“Jadi benar ya? Pembantu sekarang bisa naik kelas.”
Aku menatapnya tenang.
“Aku tidak pernah meminta posisi ini.”
“Tentu saja. Kamu hanya berpura-pura baik sampai orang tua Raka kasihan.”
Raka yang berdiri di sampingku langsung menyela.
“Cukup, Vanessa.”
Wanita itu tertawa.
“Kamu masih membelanya? Dulu aku pergi karena aku tidak mau menghabiskan hidup dengan pria cacat. Tapi ternyata sekarang kamu malah memilih pembantu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Semua mata tertuju pada kami.
Aku melihat tangan Raka mengepal.
Aku tahu kata-kata itu kembali membuka luka lamanya.
Aku melangkah maju.
“Bu Vanessa.”
Ia mengangkat dagunya.
“Apa?”
“Kalau seseorang meninggalkan orang yang dicintainya saat sedang jatuh, itu bukan karena pasangannya tidak layak dicintai.”
Aku berhenti sejenak.
“Itu karena cintanya memang tidak pernah cukup besar.”
Wajah Vanessa langsung berubah.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu membalas.
Sejak malam itu, hubungan kami justru semakin kuat.
Aku mulai membantu Raka keluar dari rumah lebih sering.
Kami berjalan di taman.
Pergi ke supermarket.
Menonton film.
Awalnya ia selalu khawatir orang memperhatikan cara berjalannya.
Namun aku selalu menggandeng tangannya.
“Lihat aku.”
“Apa?”
“Aku menikah denganmu, bukan dengan kakimu.”
Kalimat sederhana itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.
Beberapa bulan kemudian, aku menemukan sesuatu yang tidak sengaja.
Saat membersihkan ruang kerja, aku melihat map berisi laporan keuangan sebuah yayasan milik keluarga Wijaya.
Ada angka-angka yang tidak masuk akal.
Dana bantuan miliaran rupiah hilang tanpa jejak.
Awalnya aku mengira hanya salah hitung.
Namun semakin kubaca, semakin banyak transaksi mencurigakan.
Aku membawa dokumen itu kepada Raka.
Ia membaca dengan wajah serius.
“Ini tidak mungkin.”
“Kamu percaya padaku?”
“Tentu.”
“Kita harus menyelidikinya.”
Tanpa sepengetahuan siapa pun, kami mulai memeriksa dokumen lama.
Semakin dalam kami mencari, semakin mengejutkan hasilnya.
Selama bertahun-tahun, direktur keuangan perusahaan, Adrian, diam-diam menggelapkan dana yayasan.
Jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah.
Yang lebih mengejutkan lagi, Adrian adalah paman Vanessa.
Ia memanfaatkan kondisi Raka setelah kecelakaan.
Saat Raka mengalami depresi dan tidak lagi aktif mengurus perusahaan, tidak ada yang benar-benar mengawasi laporan keuangan.
Mereka mengira Raka tidak akan pernah kembali.
Namun mereka salah.
Raka membawa seluruh bukti kepada ayahnya.
Pak Hendra langsung mengadakan rapat darurat.
Adrian mencoba menyangkal.
“Itu fitnah!”
Aku mengeluarkan satu flashdisk.
“Rekaman CCTV ruang arsip.”
Video itu memperlihatkan Adrian mengganti dokumen asli pada tengah malam.
Wajahnya langsung pucat.
Beberapa hari kemudian, polisi menangkap Adrian atas kasus penggelapan dan pencucian uang.
Nama keluarga Wijaya terselamatkan.
Pak Hendra memelukku untuk pertama kalinya.
“Kalau bukan karena kamu, perusahaan ini mungkin sudah runtuh.”
Namun ternyata kejutan belum berakhir.
Beberapa minggu kemudian, aku dipanggil oleh Ibu Lestari.
Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat.
“Ada sesuatu yang selama ini kami sembunyikan.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat hasil penyelidikan pribadi tentang keluargaku.
Aku membaca dengan tangan gemetar.
Orang tuaku ternyata tidak meninggalkan kami karena tidak peduli.
Enam belas tahun lalu, mereka mengalami kecelakaan bus saat sedang bekerja di luar kota.
Mereka meninggal di hari yang sama.
Aku dan kedua adikku dibesarkan oleh bibi yang selama ini mengatakan bahwa orang tua kami sengaja kabur meninggalkan kami.
Aku tidak mampu berkata-kata.
Selama bertahun-tahun aku hidup dengan kebencian kepada orang yang ternyata sudah tiada.
“Kenapa baru sekarang?”
Ibu Lestari menghela napas.
“Ayahmu dulu pernah bekerja sebagai sopir di perusahaan kami.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Dia menyelamatkan nyawa suamiku saat mobil perusahaan mengalami rem blong. Pak Hendra selamat karena ayahmu mendorongnya keluar sebelum mobil jatuh ke jurang.”
Pak Hendra masuk ke ruangan.
Matanya memerah.
“Ayahmu meninggal sebagai pahlawan bagiku.”
Air mataku langsung mengalir.
“Lalu… kenapa saya tidak pernah tahu?”
“Kami mencarimu selama bertahun-tahun. Tapi keluargamu pindah-pindah. Baru dua tahun lalu kami menemukanmu.”
Aku teringat hari pertama bekerja di mansion mereka.
Bukan kebetulan.
Mereka memang sengaja menerimaku.
Namun bukan karena belas kasihan.
Melainkan karena rasa terima kasih yang tak pernah sempat mereka balas.
“Ayah dan ibu tidak pernah memaksamu menikah dengan Raka,” kata Pak Hendra pelan. “Kami hanya mempertemukan kalian. Selebihnya, keputusan itu milik kalian sendiri.”
Aku memandang Raka yang berdiri di pintu.
Ia juga baru mengetahui semua ini.
Kami saling tersenyum.
Setahun kemudian, hidup kami berubah sepenuhnya.
Raka kembali memimpin sebagian besar bisnis keluarga.
Ia bahkan mendirikan program pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas agar mereka memiliki kesempatan yang sama.
Aku mewujudkan mimpiku membuka usaha kecil.
Bukan warung sederhana seperti dulu, melainkan jaringan kafe yang mempekerjakan perempuan dari keluarga kurang mampu dan mantan pekerja rumah tangga.
Suatu sore, saat kami duduk di taman rumah sambil melihat matahari terbenam, Raka menggenggam tanganku.
“Kalau malam itu kamu menolak melihat kakiku, mungkin hidupku akan berhenti sampai di sana.”
Aku menggeleng sambil tersenyum.
“Bukan kakimu yang mengubah hidup kita.”
“Lalu apa?”
“Cara kita memilih untuk saling menerima.”
Beberapa bulan kemudian, dokter memberikan kabar yang membuat kami menangis bahagia.
Aku mengandung anak pertama kami.
Saat pulang dari rumah sakit, Raka berhenti di depan makam ayah dan ibuku.
Ia berjongkok perlahan, meletakkan bunga putih di atas pusara.
“Pak… Bu…” katanya pelan.
“Terima kasih karena telah membesarkan perempuan paling luar biasa yang pernah saya kenal.”
Aku berdiri di sampingnya sambil memegang perutku yang mulai membesar.
Di depan dua nisan sederhana itu, aku akhirnya memahami satu hal.
Kadang Tuhan tidak menghapus luka dari hidup seseorang.
Ia hanya mempertemukan dua hati yang sama-sama terluka, agar mereka saling menyembuhkan.
Dan malam ketika aku mengangkat selimut dengan tangan gemetar, ternyata bukanlah awal dari sebuah penyesalan.
Melainkan awal dari kehidupan paling indah yang tidak pernah berani kubayangkan.
