DIA BARU PULANG DARI JEPANG MEMBAWA HADIAH, TAPI MENEMUKAN ANAKNYA MAKAN DI LANTAI SEMENTARA IBU MERTUANYA MEMELUK ANAK SELINGKUHAN SUAMINYA!
“Jangan kasih dia piring. Anak itu sudah terbiasa makan dari lantai.”
Kalimat itu membuat langkah Citra terhenti tepat di ambang pintu.
Tangan kanannya menggenggam koper yang penuh dengan mainan.
Tangan kirinya masih memegang paspor.
Citra baru saja pulang ke Jakarta setelah dua tahun bekerja di Tokyo.

Selama di sana, dia bekerja tanpa mengenal siang dan malam.
Semua itu demi membuka pasar Asia untuk Mahardika Group.
Perusahaan keluarga yang selama ini ia bangun bersama suaminya, Raditya.
Sepanjang penerbangan pulang, Citra terus membayangkan Elan berlari memeluknya.
Saat ia berangkat ke Jepang, Elan baru berusia dua tahun.
Anaknya baru bisa mengucapkan beberapa kata dan selalu tidur sambil memeluk boneka dinosaurus kesayangannya.
Sekarang Elan sudah berusia empat tahun.
Namun, bocah kecil yang berada di ruang tamu rumah mewah mereka di kawasan Pondok Indah itu sama sekali tidak berlari menghampirinya.
Elan justru merangkak di atas lantai marmer dengan kedua tangan dan lututnya.
Kakinya telanjang tanpa alas.
Kaos yang dikenakannya kusam dan penuh noda.
Kedua lututnya hitam dipenuhi bekas kotoran.
Bocah itu sedang mengejar sepotong biskuit yang sengaja dilempar seseorang ke dekat sofa.
Rambutnya kusut tak terurus.
Tubuhnya terlihat sangat kurus.
Saat Elan mengangkat wajahnya, Citra tidak menemukan sedikit pun cahaya kebahagiaan di matanya.
Tidak ada tanda bahwa anak itu mengenali ibunya.
Yang ada hanyalah ketakutan yang begitu dalam.
Di sofa utama, Bu Kartika, ibu mertuanya, sedang memangku seorang anak laki-laki lain.
Usianya sekitar tiga tahun.
Bersih, sehat, dan mengenakan pakaian bermerek mahal.
“Nenek… aku mau kue lagi.”
“Tentu, Bimo. Kamu memang kebanggaan keluarga ini,” jawab Bu Kartika dengan penuh kasih.
Raditya berdiri tepat di samping mereka.
Di sebelahnya ada Paula yang dengan santai menyandarkan tangannya di bahu Raditya.
Paula adalah mantan asisten eksekutif yang dulu direkrut Citra sebelum berangkat ke Jepang.
Paula melirik Elan lalu tersenyum sinis.
“Lihat, Sayang. Hewan peliharaanmu cari perhatian lagi.”
Raditya bahkan tidak mengangkat wajahnya dari layar ponsel.
“Jangan biarkan dia mendekati Bimo. Nanti Bimo ketakutan.”
Koper di tangan Citra terlepas dan jatuh menghantam lantai dengan suara keras.
Raditya langsung menoleh.
Wajahnya seketika pucat.
“Citra… bukannya kamu baru pulang bulan depan?”
Dengan kaki gemetar, Citra berjalan menghampiri putranya.
“Elan, Sayang… ini Mama. Mama sudah pulang.”
Bukannya berlari memeluk ibunya, Elan justru menjerit ketakutan.
Bocah itu merangkak mundur secepat mungkin lalu bersembunyi di bawah meja makan.
Kedua tangannya menutupi kepala, seolah sudah terbiasa menunggu pukulan datang.
Citra langsung berlutut di lantai.
“Apa yang kalian lakukan pada anakku?”
Raditya menghela napas dengan wajah datar.
“Tidak ada. Anak itu memang bermasalah sejak lahir. Kami bahkan sedang mempertimbangkan mengirimnya ke panti asuhan.”
Paula memeluk Bimo semakin erat.
“Kami sudah cukup sabar membiarkannya tinggal di sini. Bimo berhak tumbuh di lingkungan yang sehat.”
Pandangan Citra perlahan menyapu seluruh ruangan.
Wanita selingkuhan suaminya kini tinggal di rumahnya sendiri.
Suaminya telah berubah menjadi pria yang begitu pengecut.
Ibu mertuanya dengan penuh kasih menyuapi anak perempuan lain, sementara Elan dipaksa mencari sisa makanan di lantai.
Lalu Bu Kartika mendekat ke telinga Raditya.
Ia berbisik pelan, mengira Citra tidak akan mendengarnya.
“Beritahu dia sekarang juga kalau rumah ini sudah dibaliknamakan atas nama Bimo. Besok kita tinggal tanda tangani surat penyerahan anak itu ke panti asuhan.”
Citra perlahan mengangkat kepalanya.
Dia tidak menangis.
Sebaliknya, bibirnya membentuk sebuah senyum tipis.
Senyum itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Raditya mengernyit.
“Kamu… kenapa tersenyum?”
Citra berdiri perlahan, merapikan jaketnya yang kusut akibat berlutut di lantai.
“Aku hanya baru sadar… ternyata selama dua tahun terakhir, kalian benar-benar bekerja keras menghancurkan hidup kalian sendiri.”
Paula tertawa mengejek.
“Masih bisa sok tenang? Rumah ini sudah bukan milikmu.”
Bu Kartika mengangguk penuh kemenangan.
“Kamu sudah terlalu lama pergi. Semua keputusan sekarang ada di tangan keluarga kami.”
Citra menatap ibu mertuanya tanpa berkedip.
“Benarkah?”
Ia mengeluarkan ponselnya.
Satu sentuhan.
Kurang dari tiga puluh detik kemudian, bel rumah berbunyi.
Raditya terlihat bingung.
“Ada siapa?”
Pintu terbuka.
Masuklah empat pria dan seorang wanita berpakaian rapi.
Di belakang mereka berdiri dua petugas kepolisian.
“Selamat sore. Saya Adrian Santoso, kuasa hukum Ibu Citra Mahardika.”
Wajah Raditya langsung berubah.
“Apa maksud kalian masuk ke rumah saya?”
Pengacara itu tersenyum tipis.
“Rumah Anda?”
Ia mengeluarkan sebuah map biru.
“Sertifikat rumah ini masih atas nama Ibu Citra. Dokumen balik nama yang Anda bicarakan belum pernah terdaftar di Badan Pertanahan Nasional.”
Bu Kartika membeku.
“Itu… tidak mungkin.”
Adrian menyerahkan salinan dokumen.
“Dokumen yang kalian pegang ternyata palsu.”
Paula mulai kehilangan senyumnya.
Raditya mencoba merebut map itu.
“Itu bohong!”
Adrian menggeleng.
“Bukan hanya bohong. Kami juga sudah melaporkan dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan aset perusahaan.”
Citra tidak berkata apa-apa.
Ia hanya berjalan menuju meja makan.
Perlahan ia berjongkok.
“Elan…”
Anak kecil itu masih gemetar.
“Ayo pulang sama Mama.”
Elan memandang wajah Citra cukup lama.
Matanya penuh keraguan.
Dengan suara lirih, ia bertanya,
“Mama… Elan boleh makan pakai piring?”
Kalimat sederhana itu menghancurkan hati semua orang yang mendengarnya.
Bahkan salah satu polisi tampak menundukkan kepala.
Air mata Citra akhirnya jatuh.
“Iya, Sayang. Mulai hari ini, Elan akan makan di meja bersama Mama.”
Anak itu perlahan merangkak keluar.
Namun bukannya langsung memeluk, ia bertanya lagi.
“Kalau Elan salah… Mama pukul?”
Citra memeluk tubuh kurus putranya seerat mungkin.
“Tidak akan pernah.”
Elan menangis sejadi-jadinya.
Tangis yang selama dua tahun tertahan.
Tangis seorang anak yang akhirnya menemukan tempat paling aman di dunia.
Di sisi lain ruangan, polisi mulai meminta identitas Raditya dan Paula.
Raditya mencoba membela diri.
“Ini urusan keluarga.”
Salah satu polisi menjawab tegas.
“Sudah bukan lagi.”
Adrian kemudian membuka beberapa dokumen lain.
“Terdapat transaksi mencurigakan selama dua tahun terakhir. Dana perusahaan sebesar puluhan miliar rupiah dipindahkan ke rekening pribadi Paula.”
Paula langsung pucat.
“Itu hadiah dari Raditya.”
“Hadiah menggunakan uang perusahaan termasuk tindak pidana.”
Wajah Raditya berubah menjadi panik.
“Tunggu… Paula juga menikmati uang itu.”
Paula menoleh tajam.
“Kamu yang menyuruhku!”
“Kamu juga mau!”
Dalam hitungan detik, keduanya saling menyalahkan.
Bu Kartika terduduk lemas.
“Radit… bilang kalau semua ini salah paham.”
Namun Raditya justru berteriak kepada ibunya.
“Kalau Mama tidak memaksa mengusir Elan, semua ini tidak akan terjadi.”
Citra menatap mereka dengan tatapan kosong.
Dulu ia pernah berjuang mempertahankan keluarga itu.
Kini ia bahkan tidak lagi memiliki tenaga untuk membenci mereka.
Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan medis terhadap Elan keluar.
Dokter anak menjelaskan bahwa Elan mengalami malnutrisi ringan, trauma psikologis berat, serta keterlambatan bicara akibat tekanan emosional yang terus-menerus.
Citra berhenti bekerja sementara.
Ia menolak semua rapat internasional.
Setiap pagi ia memasak sendiri untuk Elan.
Hari pertama, Elan menyembunyikan roti di bawah bantal.
Hari kedua, ia memasukkan nasi ke dalam kantong celana.
Hari ketiga, Citra bertanya pelan.
“Kenapa disimpan?”
Elan menunduk.
“Takut besok nggak boleh makan.”
Citra kembali menangis.
Ia sadar luka terdalam bukanlah memar di tubuh anaknya, melainkan rasa takut kehilangan makanan.
Berbulan-bulan Citra menjalani terapi bersama Elan.
Sedikit demi sedikit, anak itu mulai tersenyum.
Ia mulai berani tidur tanpa meringkuk.
Ia mulai memanggil, “Mama.”
Suatu sore, saat hujan turun di Jakarta, Elan menggambar sebuah rumah.
Di dalam gambar itu hanya ada dua orang.
“Ayah nggak ada?” tanya Citra hati-hati.
Elan menggeleng.
“Ayah bilang Elan bukan anak yang diinginkan.”
Citra memeluknya lagi.
“Kamu adalah hadiah terbesar yang pernah Mama miliki.”
Sementara itu, penyelidikan perusahaan semakin berkembang.
Audit forensik menemukan fakta mengejutkan.
Selama Citra berada di Jepang, Raditya bukan hanya berselingkuh.
Ia sengaja mengirim laporan palsu agar Citra terus memperpanjang masa tugasnya di luar negeri.
Setiap kali proyek hampir selesai, Raditya menciptakan alasan baru supaya istrinya tetap berada di Jepang.
Tujuannya hanya satu.
Menguasai seluruh aset perusahaan tanpa gangguan.
Bahkan Paula ternyata telah menggunakan identitas perusahaan untuk membeli apartemen, mobil mewah, dan perhiasan.
Seluruh aset itu akhirnya disita.
Persidangan berlangsung hampir satu tahun.
Media memberitakan kasus tersebut setiap minggu.
Namun ada satu hal yang paling mengejutkan semua orang.
Saat tes DNA dilakukan atas permintaan pengadilan mengenai hak waris Bimo, hasilnya menunjukkan bahwa Bimo memang anak kandung Raditya.
Tetapi beberapa hari kemudian muncul hasil tes kedua yang diminta secara terpisah oleh Citra.
Hasil itu membuktikan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dibayangkan siapa pun.
Elan juga bukan anak kandung Raditya.
Ruangan sidang mendadak hening.
Raditya tertawa sinis.
“Lihat? Ternyata kamu juga selingkuh.”
Namun Citra hanya mengeluarkan sebuah amplop tua.
“Itu hasil tes yang dilakukan saat Elan lahir.”
Ia menyerahkannya kepada hakim.
“Raditya mengetahuinya sejak empat tahun lalu.”
Semua orang terpaku.
Hakim membaca isi surat itu.
Ternyata Raditya mengalami infertilitas permanen akibat kecelakaan bertahun-tahun sebelum menikah.
Mustahil baginya memiliki anak secara alami.
Citra kemudian menjelaskan dengan suara tenang.
“Kami mengikuti program bayi tabung menggunakan donor sperma. Semua dilakukan dengan persetujuan dan tanda tangan Raditya.”
Ia mengeluarkan dokumen persetujuan asli lengkap dengan tanda tangan suaminya.
“Tetapi setelah bertemu Paula dan memiliki hubungan dengan perempuan lain, dia mulai menyangkal semua keputusan yang pernah dia buat.”
Wajah Raditya benar-benar kehilangan warna.
Rahasia yang selama ini ia sembunyikan terbongkar di depan publik.
Ia bukan hanya mengkhianati istrinya.
Ia juga mengkhianati anak yang sejak lahir telah ia setujui untuk dibesarkan sebagai putranya sendiri.
Hakim akhirnya memutuskan hak asuh penuh berada di tangan Citra.
Raditya dijatuhi hukuman atas penggelapan aset perusahaan, pemalsuan dokumen, dan sejumlah pelanggaran lain yang terungkap selama persidangan.
Beberapa bulan setelah semuanya berakhir, Citra mengajak Elan kembali ke rumah yang telah direnovasi.
Tidak ada lagi lantai dingin tempat anak itu dipaksa mencari makanan.
Tidak ada lagi suara bentakan.
Di ruang makan, sebuah piring bergambar dinosaurus diletakkan di depan Elan.
Anak kecil itu memandang piring itu lama sekali.
Lalu ia tersenyum.
“Mama…”
“Iya, Sayang?”
“Kalau nanti Mama pergi kerja lagi…”
Citra menggenggam tangan kecilnya.
“Mama akan selalu pulang.”
Elan mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia makan dengan tenang di atas kursi, menggunakan piring miliknya sendiri.
Bagi orang lain, itu hanyalah makan malam biasa.
Bagi Citra, itu adalah kemenangan terbesar dalam hidupnya.
Karena ia akhirnya berhasil mengembalikan bukan hanya rumahnya, bukan hanya perusahaannya, tetapi juga masa kecil putranya yang hampir direnggut oleh orang-orang yang seharusnya menjadi keluarga.
