Ketika aku membuka mata lagi, langit-langit putih pos medis adalah hal pertama yang kulihat.
Suara mesin pemanas berdengung pelan di sudut ruangan. Seluruh tubuhku terasa berat, sementara ujung jari dan kakiku masih seperti ditusuk ribuan jarum kecil. Seorang perawat sedang memeriksa infus ketika pintu terbuka.
Galang masuk.
Di belakangnya ada Citra.
Aku memalingkan wajah ke jendela.
“Alya,” panggil Galang.

Aku tidak menjawab.
Dia berjalan mendekati ranjang. “Dokter bilang kondisimu sudah stabil. Kamu cuma perlu istirahat beberapa jam.”
Cuma.
Kata itu membuatku tertawa kecil.
Galang mengerutkan kening. “Apa yang lucu?”
Aku menatapnya.
“Kalau petugas terlambat sedikit lagi, hipotermiaku bisa lebih parah. Tapi menurutmu aku cuma perlu istirahat?”
Wajahnya berubah.
Citra segera menyela. “Alya, aku benar-benar nggak tahu cuacanya akan seburuk itu. Kalau aku tahu, aku pasti nggak akan membiarkan Kak Galang melakukan ini.”
Aku menatapnya tajam.
“Membiarkan?”
Citra terdiam.
“Jadi kamu tahu?”
Galang langsung maju satu langkah. “Jangan memutarbalikkan kata-katanya.”
Aku hampir tidak percaya.
Bahkan setelah aku ditemukan setengah membeku, naluri pertamanya tetap melindungi Citra.
Aku mengulurkan tangan ke meja samping ranjang dan mengambil ponselku. Ada belasan panggilan tidak terjawab dari Papa, Mama, dan pelatih kepala akademi.
“Aku mau pulang.”
Galang menghela napas. “Nanti. Sebelum itu, selesaikan dulu masalahmu dengan Citra.”
Aku menatapnya lama.
“Masalah apa?”
“Kamu tahu masalah apa.”
“Nggak. Aku benar-benar ingin mendengarnya langsung darimu.”
Rahang Galang mengeras.
“Kamu mempermalukan Citra karena bantuan biaya yang dia terima.”
“Buktinya?”
Ruangan mendadak sunyi.
Galang tampak tidak menyangka aku akan bertanya begitu.
“Apa?”
“Buktinya aku mengatakan itu.”
Citra menggigit bibir.
“Alya, kamu nggak perlu membuat semuanya seperti sidang.”
“Karena memang nggak ada bukti, kan?”
Matanya langsung berkaca-kaca.
Galang menepuk meja di samping ranjang.
“Cukup!”
Perawat yang berada di dekat pintu menoleh.
Galang menurunkan suara.
“Citra nggak mungkin berbohong soal hal seperti ini.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada dingin di gondola.
Aku mengangguk perlahan.
“Baik.”
Galang tampak sedikit lega.
“Minta maaf, lalu kita pulang.”
Aku membuka ponsel.
“Bukan. Maksudku, baik. Kalau kamu percaya dia nggak mungkin berbohong, kita cari tahu siapa yang sebenarnya berbohong.”
Aku menelepon seseorang.
“Pak Arief? Saya Alya. Bisa tolong minta rekaman CCTV ruang perlengkapan kemarin sore jangan dihapus?”
Wajah Citra berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi aku melihatnya.
Galang juga melihatnya.
“Alya,” katanya pelan, “nggak perlu sejauh itu.”
“Kenapa?”
“Ini masalah pribadi.”
“Lima belas menit lalu kamu memaksaku meminta maaf di depan orang-orang. Sekarang setelah aku meminta bukti, tiba-tiba ini masalah pribadi?”
Citra menunduk.
Tangannya meremas ujung jaket Galang yang masih dia kenakan.
“Aku nggak mau memperpanjang masalah,” katanya lirih. “Mungkin aku salah dengar.”
Aku tertawa.
“Kamu tadi bisa mengingat kalimat yang katanya kuucapkan hampir kata per kata. Sekarang kamu salah dengar?”
Air mata mengalir di pipinya.
“Aku sedang tertekan.”
Galang langsung berdiri di depannya.
Gerakan refleks.
Gerakan yang dulu selalu dia lakukan untukku.
Saat kecil, kalau ada anak lain mengejekku karena takut ketinggian, Galang berdiri paling depan.
Sekarang dia berdiri di posisi yang sama.
Hanya saja orang yang dia lindungi bukan lagi aku.
Pintu terbuka.
Pelatih kepala kami, Pak Arief, masuk bersama seorang staf keamanan.
“Alya, bagaimana kondisimu?”
“Sudah lebih baik, Pak.”
Pak Arief mengangguk, kemudian menatap Galang dan Citra.
“Saya baru dengar apa yang terjadi.”
Galang segera berkata, “Pak, ini cuma kesalahpahaman keluarga.”
“Bukan hanya masalah keluarga.”
Nada Pak Arief berubah dingin.
“Gondola tidak boleh digunakan untuk menghukum anggota tim. Terlebih saat peringatan cuaca sudah dikeluarkan.”
Galang membeku.
Aku menoleh kepadanya.
“Peringatan cuaca?”
Pak Arief terlihat heran.
“Kamu tidak tahu?”
Aku menggeleng.
“Peringatan angin kencang sudah masuk ke grup tim hampir empat puluh menit sebelum Alya naik gondola.”
Aku membuka grup.
Benar.
Pesan itu ada di sana.
Pukul 14.17.
Semua atlet diminta menghindari perjalanan gondola sendirian karena kondisi angin diperkirakan memburuk.
Di bawah pesan itu terdapat tanda sudah dibaca.
Termasuk nama Galang.
Aku mengangkat layar ponsel.
“Kamu sudah tahu?”
Galang pucat.
“Aku pikir belum separah itu.”
“Jadi kamu tahu.”
“Alya, dengarkan dulu.”
“Jawab saja. Kamu tahu ada peringatan angin sebelum menyuruhku naik?”
Beberapa detik berlalu.
“Iya.”
Dadaku terasa sesak.
Bukan karena hipotermia.
Bukan karena ketakutan.
Melainkan karena sesuatu dalam diriku akhirnya benar-benar patah.
“Aku meneleponmu tiga kali.”
Galang tidak menjawab.
“Telepon kedua kamu tolak.”
“Aku sedang mengurus Citra.”
“Karena dia menangis?”
“Dia sesak napas!”
Citra langsung menyentuh lengannya.
“Kak, sudahlah.”
Aku menatap mereka berdua.
Kemudian Pak Arief menyerahkan tablet kepada staf keamanan.
“Kami juga sudah membuka rekaman ruang perlengkapan.”
Wajah Citra seketika kehilangan warna.
Video diputar.
Di layar terlihat aku memasuki ruangan sambil membawa pelindung tubuh. Citra sedang jongkok di depan lemari. Beberapa lembar kertas jatuh.
Aku mengambil satu lembar.
Aku melihat bagian depannya tidak lebih dari dua detik.
Kemudian aku membalik kertas itu dan menyerahkannya kepada Citra.
Tidak ada kerumunan.
Tidak ada ejekan.
Tidak ada satu pun gerakan yang menunjukkan aku sedang mempermalukannya.
Pak Arief memperbesar bagian audio.
Suara kami terdengar.
“Mau aku bantu jepit formulirnya supaya nggak tercecer?”
Lalu suara Citra.
“Nggak usah.”
Aku menjawab, “Oke.”
Selesai.
Ruangan kembali sunyi.
Galang menatap tablet seperti tidak memahami apa yang baru saja dilihatnya.
“Citra?”
Perempuan itu mulai menangis.
“Kak, aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
“Aku cuma takut.”
“Takut apa?”
Citra menutup wajah.
“Aku takut Alya akan cerita ke orang lain.”
Aku menggeleng.
“Jadi kamu cerita lebih dulu kepada semua orang bahwa aku menghinamu?”
“Aku nggak bermaksud begitu!”
“Lalu apa maksudmu?”
Citra terisak semakin keras.
“Aku cuma bilang ke Intan kalau Alya sudah melihat formulir itu. Intan yang bilang mungkin Alya akan membicarakannya. Aku panik. Aku cerita ke Kak Galang karena aku takut semua orang menganggapku miskin.”
Aku menatap Galang.
“Dan kamu langsung percaya.”
Dia tidak mampu menjawab.
Pak Arief mematikan tablet.
Namun staf keamanan di sebelahnya tampak ragu.
“Pak, ada satu rekaman lagi.”
Citra langsung mengangkat kepala.
“Apa?”
Staf itu membuka video berbeda.
Waktu pada layar menunjukkan pukul 14.22 hari ini.
Lima menit setelah peringatan cuaca dikirim.
Lokasinya di dekat stasiun gondola.
Galang berdiri bersama Citra.
Aku belum datang.
Suara mereka samar, tetapi cukup jelas.
Citra berkata, “Kalau Alya benar-benar mau minta maaf, dia harus tahu rasanya sendirian dulu.”
Galang menjawab, “Sepuluh menit saja.”
“Jangan ikut naik. Kalau kamu ada di sana, dia nggak akan belajar apa-apa.”
Galang terdiam.
Lalu mengangguk.
Aku merasa darah di tubuhku berhenti mengalir.
Jadi bukan hanya Galang yang merencanakannya.
Citra yang mengusulkan agar aku ditinggalkan sendirian.
Dan Galang setuju.
Citra mundur.
“Kak, waktu itu aku sedang emosi.”
Galang menatapnya seolah baru pertama kali melihat wajahnya.
“Kamu bilang cuma ingin Alya minta maaf.”
“Memang!”
“Kamu tahu dia takut ketinggian.”
Citra terdiam.
Aku tertawa pendek.
Ironis.
Sekarang dia marah karena Citra mengetahui ketakutanku.
Seolah dirinya sendiri tidak tahu.
Aku mencabut sensor kecil di jariku dan turun perlahan dari ranjang.
“Alya, kamu mau ke mana?” Galang mendekat.
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
Dia berhenti.
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar panik.
“Aku salah. Oke? Aku salah. Aku seharusnya mendengarkanmu dulu.”
Aku mengenakan jaket yang dibawakan perawat.
“Bukan itu masalahnya.”
“Aku bisa memperbaikinya.”
“Nggak.”
“Alya.”
“Kamu tahu apa yang paling menakutkan waktu aku terjebak di sana?”
Galang menatapku.
“Bukan gondolanya.”
Suaraku bergetar, tetapi kali ini aku tidak menahannya.
“Aku meneleponmu karena sejak kecil, setiap kali aku takut, orang pertama yang kucari selalu kamu. Bahkan saat telepon pertama nggak diangkat, aku masih berpikir kamu akan datang. Saat telepon kedua ditolak, aku masih membela kamu dalam pikiranku sendiri.”
Matanya mulai memerah.
“Alya…”
“Tapi di telepon ketiga aku mendengar Citra menangis. Dan kamu memilih menutup teleponku.”
Aku menggeleng perlahan.
“Di situlah aku sadar. Aku bisa mati sambil menunggu seseorang yang bahkan nggak merasa perlu mendengarkanku.”
Galang menunduk.
Citra mendekatinya.
“Kak…”
Galang menjauh dari tangannya.
Untuk pertama kalinya.
Namun anehnya, melihat itu tidak membuatku merasa menang.
Aku hanya merasa lelah.
Pak Arief memberitahuku bahwa Papa dan Mama sedang dalam perjalanan menuju resor. Dia juga mengatakan pihak akademi akan melakukan investigasi resmi.
Aku mengangguk.
Saat aku hampir keluar, Citra tiba-tiba berkata, “Alya.”
Aku berhenti.
“Aku minta maaf.”
Aku menoleh.
Wajahnya basah oleh air mata.
“Aku iri sama kamu,” katanya. “Sejak masuk akademi, semua orang mengenal keluargamu. Kamu punya perlengkapan terbaik, pelatih pribadi, semua hal yang aku harus perjuangkan mati-matian. Waktu kamu melihat formulir itu, aku merasa kamu sudah melihat bagian paling memalukan dalam hidupku.”
Aku menatapnya lama.
“Kamu tahu apa kesalahan terbesarmu?”
Dia menggeleng.
“Kamu mengira aku memandang rendah dirimu hanya karena kamu memandang rendah keadaanmu sendiri.”
Citra membeku.
“Menerima bantuan bukan sesuatu yang memalukan. Berbohong dan membahayakan orang lain demi menutupi rasa malu, itu yang memalukan.”
Aku keluar.
Tiga minggu kemudian, hasil investigasi akademi selesai.
Galang diskors dari kegiatan tim selama satu musim karena dengan sengaja melanggar prosedur keselamatan. Citra kehilangan posisi sebagai wakil kapten karena memberikan keterangan palsu dan terlibat dalam tindakan yang membahayakan anggota tim.
Aku pikir semuanya selesai di sana.
Ternyata belum.
Pada akhir bulan, Pak Arief memanggilku ke kantornya.
Di atas mejanya tergeletak sebuah amplop.
“Ada sesuatu yang perlu kamu tahu.”
Dia mengeluarkan salinan dokumen bantuan milik Citra.
Aku tidak mengerti.
Sampai mataku jatuh pada bagian nama pemberi dana.
Program beasiswa itu ternyata bukan berasal langsung dari akademi.
Dana tersebut berasal dari yayasan keluarga kami.
Aku menatap Pak Arief.
“Papa yang membiayai?”
Dia tersenyum tipis.
“Bukan.”
Dia membalik halaman terakhir.
Di sana ada tanda tanganku.
Aku langsung teringat.
Dua tahun sebelumnya, pada ulang tahunku yang kedelapan belas, Papa memberiku hak mengelola sebagian dana sosial keluarga. Aku memilih membuat program bantuan anonim bagi atlet muda yang kesulitan membeli perlengkapan dan membayar biaya latihan.
Aku tidak pernah meminta nama penerimanya.
Aku bahkan sengaja meminta identitasku sebagai donor dirahasiakan.
Citra adalah salah satu penerima pertama.
Perempuan yang berbohong bahwa aku mempermalukannya karena miskin ternyata selama hampir dua tahun bisa terus bermain ski karena program yang kubuat.
Aku tertawa kecil, tetapi mataku panas.
Pak Arief bertanya, “Kamu ingin bantuannya dihentikan?”
Aku menatap dokumen itu cukup lama.
Lalu aku menggeleng.
“Tidak.”
Dia tampak terkejut.
“Setelah semua yang dia lakukan?”
“Beasiswanya diberikan karena dia berbakat dan membutuhkannya. Kesalahannya harus punya konsekuensi, tapi kemiskinannya bukan sesuatu yang harus dihukum.”
Aku menandatangani perpanjangan pendanaan.
Namun kali ini aku menambahkan satu syarat baru untuk seluruh penerima program.
Mereka wajib mengikuti pelatihan keselamatan dan program pendampingan psikologis atlet.
Ketika keluar dari kantor, aku menemukan Galang berdiri di lorong.
Sudah hampir sebulan kami tidak berbicara.
“Alya.”
Aku berhenti.
“Aku dengar soal beasiswa Citra,” katanya. “Aku nggak tahu kalau selama ini kamu…”
“Aku juga nggak tahu penerimanya dia.”
Galang tertawa pahit.
“Aku menghabiskan bertahun-tahun mengajarimu supaya jangan takut pada ketinggian.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Ternyata orang yang paling perlu kamu takuti justru aku.”
Untuk pertama kalinya, dia tidak meminta dimaafkan.
Mungkin karena akhirnya dia mengerti bahwa beberapa permintaan maaf tidak berhak menuntut jawaban.
Aku berjalan melewatinya.
Beberapa bulan kemudian, aku kembali menaiki gondola yang sama.
Sendirian.
Saat kabin mulai meninggalkan peron, tanganku berkeringat. Ketika pepohonan di bawah semakin kecil, jantungku berdetak begitu keras sampai telingaku berdenging.
Aku hampir menekan tombol berhenti.
Namun kemudian aku memandang lurus ke depan.
Tidak ada syal Galang yang menutup mataku.
Tidak ada tangan siapa pun yang kugenggam.
Aku melihat lembah putih terbentang di bawah sana, puncak gunung diterpa cahaya matahari pagi, dan bayanganku sendiri terpantul di kaca.
Aku masih takut.
Tetapi kali ini aku tidak menutup mata.
Karena akhirnya aku mengerti sesuatu.
Keberanian bukan tentang menemukan seseorang yang akan selalu menggenggam tanganmu saat ketakutan datang.
Kadang keberanian dimulai ketika tangan yang selama ini kamu percaya melepaskanmu, dan kamu menemukan bahwa ternyata kamu masih mampu berdiri sendiri.
