Dilarang Datang Muka Karena Dianggap “Pecundang”, Ternyata Aku Adalah Bos dari Pacar Adikku

Tante Berta adalah satu-satunya orang di keluarga besar kami yang mengetahui rahasia kesuksesanku. Dia adalah orang yang meminjamkan modal awal sebesar 50.000 peso dari tabungan pensiunnya saat aku pertama kali mendirikan Verde Tek di garasi kecil. Di saat ibuku mencibir bahwa aku hanya membuang-buang waktu, Tante Berta-lah yang membawakanku makanan kotak saat aku lembur hingga subuh.

“—Luisa, sayang. Ada apa? Suaramu sengau sekali,” ucap Tante Berta di seberang telepon, nada suaranya penuh kekhawatiran yang tulus.

Aku menarik napas dalam-dalam, menahan rasa panas yang menjalar di mataku. “Tante, mereka melarangku datang ke acara Noche Buena. Rina takut pacar barunya yang seorang ‘CFO hebat’ itu merasa canggung melihat pecundang sepertiku.”

Hening sejenak di ujung telepon, sebelum terdengar suara tawa renyah Tante Berta yang sedikit sinis.

“—CFO? Maksudmu Esteban? Pria parlente yang fotonya dipamerkan ibumu di grup WhatsApp keluarga itu?” Tante Berta mendengus. “Luisa, apakah ibumu tidak memberitahumu? Esteban baru saja mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan multinasional besar minggu lalu. Dia pamer ke semua orang bahwa dia sekarang adalah seorang eksekutif kelas atas.”

Jantungku berdegup kencang, bukan karena terkejut, melainkan karena sebuah realisasi yang luar biasa konyol baru saja menghantamku.

“Tante… apa nama perusahaan baru Esteban?”

“—Tunggu, biarsingat… Ah, Verde Tek. Ibumu bilang Esteban direkrut langsung oleh dewan komisaris dari Singapura karena kejeniusannya.”

Aku tertegun di atas tempat tidurku. Flu yang menyiksa tubuhku seolah menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang adrenalin yang dingin.

Esteban. Esteban Valenza.

Dua hari yang lalu, direktur HRD-ku mengirimkan berkas final untuk posisi Chief Financial Officer yang baru setelah proses seleksi yang ketat selama tiga bulan. Di atas mejaku di kantor, atau lebih tepatnya di dalam laptop yang ada di hadapanku sekarang, ada dokumen kontrak kerja digital yang sudah ditandatangani oleh Esteban. Dokumen itu hanya membutuhkan satu hal lagi agar sah secara hukum: tanda tangan digital milikku sebagai Pendiri dan CEO Verde Tek.

Gaji pokok yang fantastis, tunjangan mobil mewah, saham opsi, dan bonus akhir tahun yang dia banggakan kepada keluarga pacarnya… semuanya berada di bawah kuasaku.

“Luisa? Kamu masih di sana?” tanya Tante Berta.

Aku tersenyum, sebuah senyuman yang sudah lama tidak muncul di wajahku. “Ya, Tante. Aku masih di sini. Dan kurasa… aku akan menikmati malam Natal tahun ini dengan sangat baik.”

Sembilan Hari Menuju Noche Buena

Aku tidak membalas satu pun pesan dari ibu atau Rina. Aku membiarkan mereka tenggelam dalam kesibukan mempersiapkan pesta untuk menyambut sang “menantu idaman”. Namun, aku tidak tinggal diam.

Sebagai langkah awal, aku menelepon manajer bank pribadi yang mengurus rekening korporat dan pribadi milikku.

“Batalkan semua transfer otomatis untuk pembayaran KPR rumah Quezon City per bulan ini,” perintahku tegas. “Dan nonaktifkan kartu kredit tambahan atas nama Ophelia Santos. Putus juga subsidi sewa kondominium di Makati atas nama Rina Santos. Mulai hari ini.”

“Baik, Ibu CEO. Apakah ada pesan yang ingin disampaikan jika mereka menghubungi pihak bank?”

“Katakan saja terjadi kegagalan sistem pada rekening penyokong. Biarkan mereka panik sedikit.”

Selanjutnya, aku membuka laptopku. Dokumen kontrak Esteban terpampang di layar. Sesuai dengan draf awal, dia dijadwalkan untuk mulai bekerja pada tanggal 4 Januari. Namun, ada satu klausul standar dalam kontrak Verde Tek: Semua hak istimewa, termasuk pencairan bonus penandatanganan kontrak (signing bonus) sebesar 500.000 peso, baru akan aktif setelah CEO menandatangani kontrak akhir secara fisik atau digital.

Aku membiarkan dokumen itu tetap tidak ditandatangani. Aku ingin melihat seberapa tinggi pria ini bisa terbang sebelum aku menarik talinya.

Malam Natal (Noche Buena)

Rumah orang tuaku di Quezon City tampak benderang dari luar. Lampu-lampu Natal berkedip mewah, dan aroma babi panggang (lechon) tercium sampai ke jalanan. Di garasi, terparkir sebuah mobil sedan mewah yang kutahu pasti adalah mobil sewaan atau mobil hasil utang, karena Esteban belum menerima gaji pertamanya.

Aku turun dari taksi. Malam ini, aku tidak mengenakan pakaian kantorku yang longgar. Aku mengenakan gaun beludru berwarna hijau zamrud potongan elegan, rambutku disanggul rapi, dan sepasang anting berlian—yang kubeli dengan uangku sendiri—berkilau di telingaku. Di tanganku, aku membawa sebuah map kulit hitam.

Aku berjalan menuju pintu depan tepat jam 8 malam.

Pintu terbuka, dan ibuku, Ophelia, membeku di tempat saat melihatku. “Luisa? Bukankah Ibu sudah bilang…”

“Selamat Natal, Ibu,” kataku dengan suara tenang dan melangkah masuk tanpa menunggu diizinkan.

Di ruang tamu, suasana langsung hening. Ayahku menghentikan gelas anggurnya di udara. Rina, yang mengenakan gaun desainer baru (yang kemungkinan besar digesek menggunakan kartu kreditku sebelum diblokir), langsung berdiri dengan wajah merah padam.

“Luisa! Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu sengaja ingin mempermalukan aku di depan Esteban?!” pekik Rina berbisik.

Di sofa beludru, seorang pria dengan setelan jas rapi berambut klimis perlahan berdiri. Wajahnya tampan, namun tatapannya penuh keangkuhan yang langsung kukenali dari foto-foto korporat yang kulihat minggu lalu.

“Rina, siapa ini?” tanya Esteban dengan nada meremehkan, melirik penampilanku dari atas ke bawah. “Apakah ini kakakmu yang… ‘pegawai biasa’ itu?”

“Iya, Esteban. Maaf ya, dia memang tidak tahu sopan santun,” kata Rina ketus, lalu menoleh padaku. “Luisa, pergi dari sini. Kamu tidak selevel dengan kami malam ini. Esteban ini CFO Verde Tek, perusahaan internasional! Kamu tahu berapa gajinya? Kamu bahkan tidak akan bisa memandangnya jika bukan karena aku!”

Esteban membusungkan dadanya, tersenyum sombong. “Sudahlah, Rina. Orang-orang kelas pekerja seperti kakakmu memang sering kali ingin merasakan bagaimana rasanya berada di lingkungan ekspatriat dan eksekutif. Biarkan saja dia mencicipi makanan kita sedikit, setelah itu dia bisa pergi.”

Ibuku tampak gelisah, sementara ayahku hanya menunduk, tampaknya menyadari sesuatu yang aneh karena sore tadi dia baru saja menerima pesan dari bank bahwa KPR mereka menunggak.

Aku tidak marah. Aku justru berjalan mendekati meja makan, mengambil segelas anggur merah, lalu berbalik menghadapi Esteban.

“CFO Verde Tek?” tanyaku dengan nada polos yang dibuat-buat. “Luar biasa. Setahu saya, Verde Tek adalah perusahaan yang sangat ketat dalam menyaring eksekutifnya. Apakah kamu sudah menerima signing bonus-mu, Esteban?”

Esteban mengenyitkan dahi, merasa terganggu karena seorang ‘pecundang’ mengetahui istilah itu. “Itu bukan urusanmu. Tapi jika kamu ingin tahu, kontrakku sudah selesai. Uangnya akan masuk minggu depan.”

“Oh ya?” Aku membuka map kulit hitam yang kubawa dan mengeluarkan tiga lembar kertas dari sana. Aku meletakkannya di atas meja makan, tepat di samping piring lechon.

“Apa ini?” Rina menyambar kertas itu, berniat membuangnya, namun matanya langsung tertuju pada logo di bagian atas kertas. Logo daun hijau geometris. Verde Tek.

Esteban mendekat, bersungut-sungut, “Jangan lancang menyentuh dokumen perusahaan—” kalimatnya terhenti seketika.

Wajah Esteban mendadak berubah pucat pasi, seputih kertas yang dipegang Rina. Matanya membelalak menatap baris paling bawah dari dokumen kontrak tersebut. Di sana, pada kolom tanda tangan pihak pertama, tertera nama jelas:

LUISA SANTOS

Founder & Chief Executive Officer, Verde Tek.

Kolom itu masih kosong. Belum ditandatangani.

“I-ini… ini tidak mungkin…” bisik Esteban, suaranya gemetar hebat hingga gelas di tangannya berdentang. “Kamu… kamu Luisa Santos? L. Santos yang ada di email dewan komisaris?!”

“Apa maksudmu, Esteban? Ini cuma Luisa, kakakku yang membosankan itu!” Rina tertawa gugup, menatap pacar hebatnya yang tiba-tiba berkeringat dingin di ruangan ber-AC.

“Diam kamu, Rina!” bentak Esteban tiba-tiba, membuat seluruh ruangan tersentak. Pria yang tadinya begitu angkuh itu kini menatapku dengan tatapan memohon yang sangat menyedihkan. “M-Maafkan saya, Ibu Santos. Saya… saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak tahu Anda adalah pemilik Verde Tek. Tolong, ini pasti ada kesalahpahaman…”

Ibuku menatapku dengan mulut ternganga. “Luisa… kamu… pemilik perusahaan tempat Esteban bekerja?”

“Bukan hanya tempat dia bekerja, Ibu,” kataku sambil menyesap anggurku dengan santai. “Aku yang mendirikan perusahaan itu. Dan saat ini, aku adalah orang yang menentukan apakah pria di sebelah Rina ini punya pekerjaan atau menjadi pengangguran di tahun baru nanti.”

Aku menatap Esteban, yang kini sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya gemetar. Keangkuhannya runtuh total dalam hitungan detik.

“Esteban Valenza,” panggilku dengan suara dingin yang biasa kugunakan di ruang sidang direksi. “Di Verde Tek, kami menilai integritas dan rasa hormat di atas segalanya. Seseorang yang menghina orang lain berdasarkan ‘status sosial’ tidak mencerminkan nilai-nilai perusahaan saya. Kontrak ini…” aku menunjuk kertas di meja, “…bergantung pada tanda tanganku. Dan gajimu yang besar itu? Itu berasal dari rekeningku.”

“Tolong, Ibu Luisa… saya mohon. Keluarga saya sudah mengadakan pesta besar untuk merayakan posisi ini. Saya sudah mencicil mobil baru…” Esteban hampir berlutut di lantai ruang tamu.

Rina menatap pacarnya dengan rasa jijik dan syok yang bercampur aduk. “Esteban… kamu memohon pada pecundang ini?”

“TUTUP MULUTMU, RINA! DIA BOSKU!” raung Esteban frustrasi.

Aku berjalan mendekati ibuku yang terduduk lemas di sofa. “Oh, by the way, Ibu. Kartu kredit yang Ibu gunakan untuk membeli gaun Rina dan makanan malam ini sudah kublokir sore tadi. Begitu juga dengan cicilan rumah ini dan kondominium Rina. Mulai bulan depan, silakan minta Esteban yang membayarnya… itu pun jika dia masih punya pekerjaan.”

Ibuku memegang dadanya, wajahnya pucat. “Luisa… Nak… Ibu tidak bermaksud begitu kemarin… Kami hanya…”

“Kalian hanya malu memilikiku karena mengira aku tidak punya apa-apa untuk dipamerkan,” potongku tegap. “Selama bertahun-tahun aku membiayai hidup kalian, tapi bagi kalian, aku hanyalah keset kaki yang bisa disembunyikan saat tamu penting datang.”

Aku mengambil kembali dokumen kontrak dari meja, memasukkannya ke dalam map, dan berbalik menuju pintu. Sebelum melangkah keluar, aku menoleh pada Esteban yang menatapku dengan mata penuh keputusasaan.

“Datanglah ke kantorku tanggal 4 Januari jam 8 pagi, Esteban. Kita akan mengadakan evaluasi ulang apakah kamu layak berada di perusahaanku. Dan untuk malam ini… selamat menikmati Noche Buena tanpa uangku.”

Aku melangkah keluar ke malam Natal yang sejuk, merasakan kebebasan yang luar biasa untuk pertama kalinya dalam hidupku. Di dalam rumah, aku bisa mendengar suara pertengkaran hebat mulai pecah antara Rina, Esteban, dan ibuku.

Aku mengeluarkan ponselku dan mengirim pesan kepada Tante Berta: “Tante, aku sedang jalan ke rumahmu. Tolong sisakan aku sedikit makanan hangat.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang