DITINGGALKAN DALAM KONDISI KRITIS DI TENGAH HUJAN, LIMA TAHUN KEMUDIAN AKU NAIK KE PANGGUNG DAN SUAMIKU MENJATUHKAN GELAS DI DEPAN SEMUA ORANG

Aku belum tahu saat itu bahwa nama Rika akan membuka semua rahasia yang hampir menghancurkan hidupku.

Yang kutahu hanya satu. Malam itu, di warung kecil dekat Purwakarta, tubuhku masih menggigil meski hujan sudah berhenti, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan, aku mulai mempertanyakan semua hal yang selama ini kupercaya.

Dimas tiba menjelang pagi bersama Mama.

Begitu melihatku, Mama langsung memelukku tanpa bicara. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar.

Dimas berbeda. Wajahnya pucat, tetapi rahangnya mengeras.

“Kita ke rumah sakit sekarang,” katanya.

Dr. Rina sudah mengatur pemeriksaan di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Darahku diambil. Urine diperiksa. Tablet yang ditemukan di saku jaketku juga dikirim ke laboratorium.

Hasil awal keluar sore harinya.

Dr. Rina memanggil kami ke ruang konsultasi.

“Ada kandungan obat penenang dalam tubuh Nadya dalam kadar yang tidak wajar untuk pemakaian rutin.”

Aku menatapnya.

“Penenang?”

Dia mengangguk.

“Dan tablet yang dibawa Bu Sari termasuk jenis obat keras. Obat ini bisa membuat seseorang mengantuk berat, bingung, mengalami gangguan ingatan, bahkan kesulitan mengambil keputusan jika digunakan secara terus-menerus tanpa pengawasan.”

Aku merasa seperti jatuh untuk kedua kalinya.

“Jadi selama ini aku bukan sakit?”

“Kamu mungkin memang mengalami stres dan gangguan lambung,” jawab dr. Rina hati-hati. “Tapi gejala yang jauh lebih berat kemungkinan besar diperparah oleh obat yang kamu konsumsi.”

Dimas mengepalkan tangan.

“Arman yang kasih obat itu.”

Mama menutup wajahnya.

Aku tidak menangis.

Anehnya, aku terlalu kosong untuk menangis.

Aku hanya teringat pada malam-malam saat Arman duduk di tepi tempat tidur sambil memberiku tablet.

Minum.

Jangan banyak tanya.

Dokter tahu apa yang kamu butuhkan.

Ternyata bukan dokter yang tahu.

Arman yang tahu.

Dan mungkin sejak awal dia tahu persis apa yang sedang dia lakukan.

Hari itu juga Dimas menyuruhku tidak menghubungi Arman.

Namun Arman lebih dulu menelepon.

Nomornya muncul di layar ponsel Dimas.

Dimas menyerahkannya kepadaku.

“Biar dia bicara.”

Aku menyalakan pengeras suara.

Suara Arman terdengar panik.

“Nadya, kamu di mana?”

Aku terdiam.

“Kamu bikin semua orang khawatir. Aku cari kamu dari tadi malam.”

Aku hampir tertawa.

“Cari aku?”

“Iya. Kamu tiba-tiba keluar dari mobil saat panik. Aku cuma pergi beberapa menit cari bantuan.”

Dimas memejamkan mata menahan marah.

Aku berkata pelan, “Aku ingat kamu pergi.”

Arman terdiam sesaat.

“Kamu sedang sakit. Ingatanmu kacau.”

Kalimat itu biasanya membuatku ragu.

Kali ini tidak.

“Rumah Papa kenapa dijadikan jaminan?”

Keheningan di ujung telepon terasa panjang.

Lalu suara Arman berubah.

“Nadya, dengarkan aku. Itu untuk bisnis kita.”

“Bisnis kita?”

“Kamu sudah setuju.”

“Aku tidak ingat.”

“Karena kamu sering lupa.”

Aku menatap tablet di dalam plastik bukti di meja.

“Rika tahu?”

Arman langsung diam.

Hanya dua detik.

Tetapi dua detik itu cukup.

“Kenapa bawa-bawa Rika?”

Aku mematikan telepon.

Untuk pertama kalinya aku melihat wajah Dimas berubah dari marah menjadi takut.

“Kamu tahu sesuatu soal Rika?”

Aku memejamkan mata.

Potongan ingatan muncul perlahan.

Suara perempuan di ruang kerja Arman.

Parfum manis.

Pintu kamar yang sedikit terbuka.

Suatu malam, sekitar tiga bulan sebelumnya, aku bangun karena haus. Kepalaku berat setelah minum obat.

Aku melewati ruang kerja dan mendengar suara Rika.

“Kalau rumah itu cair, kita bisa tutup semua utang.”

Lalu suara Arman.

“Pelan. Nadya bisa bangun.”

Rika tertawa kecil.

“Dia bahkan nggak sadar waktu tanda tangan.”

Saat itu aku mengira aku sedang bermimpi.

Sekarang aku tahu tidak.

Dimas langsung menghubungi pengacara keluarga kami, Pak Yudi.

Selama dua minggu berikutnya, hidupku berubah menjadi rangkaian pemeriksaan, laporan, rekening koran, dokumen pinjaman, rekaman CCTV, dan wawancara.

Semakin kami menggali, semakin gelap semuanya.

Perusahaan Arman ternyata berada di ambang kebangkrutan.

Dia memiliki utang besar kepada beberapa investor dan kreditur informal.

Lebih buruk lagi, rekening pribadiku telah digunakan untuk memindahkan sejumlah uang tanpa sepengetahuanku.

Ada tanda tangan yang memang mirip milikku.

Namun sebagian dibuat ketika kondisi tubuhku sedang sangat lemah.

Satu rekaman CCTV dari kantor notaris menjadi titik balik.

Dalam rekaman itu, aku terlihat duduk di kursi dengan mata setengah terpejam. Arman memegang bahuku sambil menunjukkan halaman yang harus kutandatangani.

Aku bahkan tidak membaca dokumennya.

Aku hanya menandatangani.

Lalu kepalaku jatuh ke sandaran kursi.

Dimas tidak sanggup menonton sampai selesai.

Tetapi kejutan terbesar datang dari Rika sendiri.

Tiga minggu setelah malam hujan itu, Rika menemui pengacara kami secara diam-diam.

Dia membawa sebuah flashdisk.

“Aku mau bicara dengan Nadya,” katanya.

Aku hampir menolak.

Namun aku akhirnya menemuinya di sebuah ruang rapat kecil.

Rika datang tanpa riasan tebal seperti biasanya. Wajahnya terlihat lelah.

“Aku tahu kamu benci aku,” katanya.

“Aku bahkan belum memutuskan apakah aku membencimu.”

Dia menunduk.

“Aku memang punya hubungan dengan Arman.”

Dadaku terasa nyeri, tetapi bukan seperti yang kubayangkan.

Mungkin karena setelah hampir dibunuh perlahan oleh orang yang sama, perselingkuhan terasa seperti luka yang lebih kecil.

Rika melanjutkan.

“Awalnya aku pikir dia akan menceraikan kamu. Dia bilang kamu sakit parah dan keluargamu memperlakukan dia buruk.”

Aku tertawa hambar.

“Tentu saja.”

“Tapi enam bulan lalu aku sadar ada yang salah.”

Dia mengeluarkan flashdisk.

“Arman pernah menyuruh aku membeli obat pakai resep dari dokter kenalannya. Jumlahnya terlalu banyak. Aku tanya untuk siapa. Dia bilang buat kamu.”

Tanganku langsung dingin.

“Aku mulai simpan chat kami.”

Di dalam flashdisk itu ada percakapan, rekaman suara, dan bukti transfer.

Salah satu rekaman membuat seluruh ruangan sunyi.

Suara Arman terdengar jelas.

“Kalau Nadya terus dianggap tidak stabil, semua orang akan percaya tanda tangannya sah. Kalau nanti dia protes, kita tinggal bilang penyakitnya kambuh.”

Aku tidak bisa bernapas selama beberapa detik.

Rika menangis.

“Aku pikir dia cuma mau ambil aset. Aku nggak tahu dia akan ninggalin kamu di jalan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa sekarang kamu membantu aku?”

Rika mengusap air matanya.

“Karena malam setelah kamu hilang, dia datang ke apartemenku.”

Aku menunggu.

“Dia bilang sekarang cuma aku yang tahu terlalu banyak.”

Aku langsung memahami.

Rika takut.

Bukan karena rasa bersalah.

Karena dia sadar suatu hari dirinya bisa menjadi orang berikutnya yang harus disingkirkan.

Kasus itu akhirnya masuk ke jalur hukum.

Arman ditahan beberapa bulan kemudian setelah penyidik menemukan cukup bukti terkait pemalsuan dokumen, penyalahgunaan obat, dan penipuan keuangan.

Dokter yang memberinya akses obat juga diperiksa.

Rumah peninggalan Papa berhasil diselamatkan sebelum proses lelang berjalan.

Tetapi kemenangan itu tidak langsung membuat hidupku kembali normal.

Selama hampir satu tahun, aku takut minum obat apa pun.

Aku tidak bisa tidur jika mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Setiap hujan deras membuat tanganku dingin.

Yang paling berat justru bukan kehilangan Arman.

Yang paling berat adalah belajar mempercayai diriku sendiri lagi.

Aku selalu bertanya apakah ingatanku benar.

Apakah pikiranku bisa dipercaya.

Apakah keputusanku benar-benar milikku.

Dr. Rina yang akhirnya membantuku memahami sesuatu.

“Kamu tidak harus kembali menjadi Nadya yang dulu.”

Aku menatapnya.

“Lalu aku harus jadi siapa?”

“Jadi Nadya yang tahu bahwa hidupnya tidak boleh diserahkan kepada orang lain.”

Kalimat itu tinggal di kepalaku bertahun-tahun.

Aku mulai perlahan.

Pertama membantu Mama mengurus rumah.

Lalu mengambil kelas singkat tentang administrasi bisnis.

Kemudian aku bergabung dengan komunitas pendamping perempuan yang mengalami kekerasan finansial dan manipulasi dalam rumah tangga.

Aku tidak pernah bermimpi menjadi pembicara.

Tetapi suatu hari seseorang memintaku menceritakan pengalamanku kepada dua puluh orang.

Dua puluh berubah menjadi seratus.

Seratus menjadi ribuan.

Lima tahun setelah malam di Tol Cipularang, aku berdiri di belakang panggung sebuah hotel besar di Jakarta.

Di luar ruangan ada lebih dari enam ratus tamu dari perusahaan, lembaga hukum, organisasi sosial, dan media.

Aku diundang menerima penghargaan karena program yang kubangun bersama Dimas dan dr. Rina telah membantu ratusan perempuan mendapat akses konsultasi hukum serta pemeriksaan medis independen.

Namanya Ruang Kembali.

Karena menurutku, orang yang hidupnya direbut orang lain tidak selalu membutuhkan hidup baru.

Kadang mereka hanya perlu mendapatkan hidup mereka kembali.

Ketika namaku dipanggil, aku naik ke panggung.

Lampu sorot menyilaukan.

Aku menerima penghargaan, lalu berdiri di depan mikrofon.

Aku melihat ke arah para tamu.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Arman.

Dia duduk di meja belakang.

Tubuhnya lebih kurus. Rambutnya mulai beruban. Setelah menjalani hukuman dan keluar dari penjara, rupanya dia bekerja sebagai konsultan kecil untuk salah satu vendor yang hadir malam itu.

Kami saling menatap.

Tangannya membeku di udara.

Gelas yang sedang dia pegang jatuh ke lantai.

Suara pecahannya terdengar sampai ke panggung.

Beberapa orang menoleh.

Aku tidak.

Aku melanjutkan pidatoku.

“Lima tahun lalu, seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa aku terlalu sakit untuk menentukan hidupku sendiri.”

Ruangan langsung hening.

“Aku mempercayainya. Sampai satu malam, dia meninggalkanku sendirian di tengah hujan.”

Aku melihat Arman berdiri perlahan.

Wajahnya pucat.

“Dulu aku mengira malam itu adalah malam terburuk dalam hidupku.”

Aku berhenti sejenak.

“Ternyata tidak.”

Aku tersenyum.

“Itu malam pertama aku akhirnya selamat darinya.”

Tepuk tangan terdengar.

Aku melihat Arman berjalan menuju pintu.

Namun sebelum dia keluar, seorang perempuan tua berdiri dari meja dekat panggung.

Bu Sari.

Di sampingnya ada Pak Hendra.

Aku sengaja mengundang mereka.

Bu Sari menatap Arman.

Lalu perempuan yang dulu mengompres dahiku di sebuah warung kecil itu berkata cukup keras hingga beberapa orang mendengar.

“Mas, kalau malam itu kamu tidak meninggalkan dia, mungkin kami tidak pernah menemukan perempuan hebat ini.”

Arman berhenti.

Aku menahan air mata.

Bu Sari kemudian menatapku dan tersenyum.

Aku turun dari panggung.

Orang pertama yang kupeluk bukan Mama.

Bukan Dimas.

Bukan dr. Rina.

Aku memeluk Bu Sari dan Pak Hendra.

Karena lima tahun sebelumnya, di jalan gelap yang dipenuhi hujan, dua orang asing memilih berhenti ketika orang yang seharusnya mencintaiku memilih pergi.

Arman keluar dari ruangan tanpa mengatakan apa pun.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, kepergiannya tidak membuatku takut.

Malam itu aku pulang melewati Tol Cipularang.

Hujan turun lagi.

Dimas yang mengemudi bertanya apakah aku ingin mengambil jalur lain.

Aku melihat titik-titik air bergerak di kaca.

Lima tahun lalu, hujan membuatku merasa dunia sedang menelanku.

Sekarang aku hanya mendengar suara air.

Aku menggeleng.

“Tidak usah.”

Ketika mobil melewati kawasan tempat aku dulu ditinggalkan, aku meminta Dimas memperlambat kendaraan.

Aku memandang bahu jalan itu beberapa detik.

Tidak ada apa-apa di sana.

Tidak ada bayangan diriku.

Tidak ada Arman.

Tidak ada rasa takut.

Hanya jalan yang basah dan lampu kendaraan yang terus bergerak menuju depan.

Aku tersenyum kecil.

Lalu berkata, “Ayo pulang.”

Dan baru saat itu aku benar-benar memahami sesuatu.

Orang yang menyelamatkan hidupku memang Pak Hendra malam itu.

Tetapi orang yang mengembalikannya kepadaku, sedikit demi sedikit, adalah diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang