Dua Hari Setelah Menerima Surat Cerai, Aku Menghentikan Uang Bulanan Rp70 Juta untuk Mantan Ibu Mertua yang Suka Menindas—Dan di Depan Seluruh Penghuni Apartemen, Terbongkar Siapa yang Selama Ini Berbohong, Merebut, dan Hidup dari Uang Wanita yang Mereka Anggap Lemah

Di halaman pertama map merah itu bukan hanya ada salinan akta perceraian.

Ada fotokopi sertifikat rumah.

Nama pemiliknya tercetak jelas.

Serena Wijaya.

Bukan Marco Santoso.

Bukan Corina Santoso.

Tanganku bergerak pelan membalik halaman berikutnya. Ada bukti transfer selama sepuluh tahun, laporan pembayaran pajak rumah, cicilan kendaraan, tagihan listrik, biaya rumah tangga, bahkan seluruh pembayaran asuransi kesehatan keluarga Santoso.

Semua berasal dari satu rekening.

Rekening milikku.

Marco mencoba merebut map itu.

“Jangan bikin malu keluarga di depan orang-orang!”

Aku menahannya dengan tenang.

“Lucu. Selama ini kalian tidak pernah malu hidup dari uangku.”

Bisik-bisik penghuni apartemen berubah menjadi suara yang semakin jelas.

“Serius? Selama ini istrinya yang membayar?”

“Pantas saja dia berani menghentikan uang bulanan.”

Bianca yang sejak tadi diam mulai memegang lengan Marco.

“Sayang… ayo pulang saja.”

Namun Marco tidak bergeming.

Wajahnya merah padam.

“Kamu sengaja mempermalukan kami.”

Aku tersenyum tipis.

“Bukan aku yang mempermalukan kalian.”

“Kalian sendiri yang datang ke sini.”

Bu Corina masih menangis.

“Semua itu memang uangmu. Tapi kamu kan bagian dari keluarga kami.”

“Keluarga?” ulangku pelan.

“Ketika aku mengalami keguguran empat tahun lalu, siapa yang mengatakan Tuhan menghukumku?”

Tubuh Bu Corina langsung membeku.

Marco menoleh kepadaku.

“Kamu…”

“Ya.”

Aku menatapnya lurus.

“Aku memang pernah hamil.”

Lorong apartemen seketika sunyi.

Marco terlihat kehilangan napas.

“Kamu bilang…”

“Aku mandul?”

Aku mengangguk.

“Itu yang kamu percayai karena lebih mudah menyalahkanku daripada menemani istrimu yang sedang kehilangan anak.”

Matanya membesar.

Selama bertahun-tahun aku tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapa pun.

Hari itu, semuanya keluar begitu saja.

“Waktu itu dokter mengatakan janinku tidak bisa diselamatkan.”

“Kamu sedang di Surabaya menghadiri peluncuran proyek.”

“Aku meneleponmu tiga belas kali.”

“Kamu tidak pernah mengangkat.”

Marco memucat.

Bianca menggigit bibir.

“Akhirnya yang menandatangani persetujuan operasi adalah ayahku.”

Air mata mulai memenuhi mata Marco.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku tersenyum pahit.

“Aku bilang.”

“Hanya saja kamu terlalu sibuk bersama wanita lain.”

Tak ada lagi yang bisa ia bantah.

Salah seorang tetangga menggeleng pelan.

“Kasihan sekali.”

Bu Corina buru-buru memotong.

“Itu sudah lama. Sekarang yang penting rumah…”

Aku mengangkat satu dokumen lagi.

“Rumah ini juga sudah terjual.”

“Apa?”

Suara Marco pecah.

“Pembelinya akan melakukan serah terima minggu depan.”

“Mustahil!”

“Kamu tidak bisa menjual rumah keluarga!”

“Rumah keluarga?”

Aku menunjuk sertifikat.

“Rumah milik pribadi.”

“Tidak ada satu pun tanda tanganmu.”

Marco seperti baru sadar bahwa selama bertahun-tahun ia bahkan tidak pernah tahu siapa pemilik aset yang mereka tinggali.

Ia hanya menikmati semuanya.

Tiba-tiba ponselku berdering.

“Selamat pagi, Bu Serena.”

Suara notaris terdengar jelas karena ponselku masih menggunakan speaker.

“Pembeli sudah mentransfer sisa pelunasan. Dana sebesar dua puluh enam miliar rupiah sudah masuk.”

Aku menjawab singkat.

“Terima kasih.”

Marco menatapku tidak percaya.

“Dua puluh enam miliar?”

Aku mengangguk.

“Nilai properti di kawasan itu naik cukup tinggi.”

Bu Corina langsung memegang dadanya.

“Kamu menjual rumah itu tanpa memberi tahu kami?”

“Aku sudah memberi pemberitahuan melalui pengacara tiga minggu lalu.”

“Kalian yang tidak pernah membaca surat karena mengira aku akan terus mengalah.”

Marco langsung mengeluarkan ponselnya.

Ia membuka email.

Wajahnya berubah semakin pucat.

Ternyata benar.

Semua pemberitahuan sudah dikirim.

Namun ia tidak pernah membacanya.

Karena selama ini ia yakin aku tidak akan berani melakukan apa pun.

Bianca mulai terlihat gelisah.

“Marco… kita harus pergi.”

Namun sebelum mereka sempat masuk ke lift, dua pria berpakaian rapi keluar.

Mereka memperkenalkan diri sebagai petugas dari kantor pajak.

“Selamat pagi.”

“Kami mencari Bapak Marco Santoso.”

Marco mengerutkan kening.

“Ada apa?”

“Kami ingin meminta klarifikasi mengenai laporan penghasilan perusahaan Santoso Development.”

Wajah Marco berubah.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Petugas itu melanjutkan.

“Kami menemukan beberapa pembayaran operasional perusahaan berasal dari rekening pribadi mantan istri Bapak.”

“Kami memerlukan penjelasan mengenai sumber dana tersebut.”

Para penghuni apartemen saling berpandangan.

Marco mulai berkeringat.

“Itu… itu urusan pribadi.”

Petugas menggeleng.

“Jika dana perusahaan dan dana pribadi bercampur tanpa pelaporan yang benar, itu bukan lagi urusan pribadi.”

Bianca perlahan melepaskan genggaman tangannya dari lengan Marco.

Untuk pertama kalinya aku melihat rasa takut di wajah perempuan itu.

Marco menoleh kepadaku.

“Kamu yang melaporkan?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Aku hanya berhenti menutupi kesalahanmu.”

Ia terdiam.

Benar.

Selama bertahun-tahun, setiap kali auditor bertanya, aku selalu membantu menjelaskan.

Setiap kali ada pembayaran yang tidak jelas, aku yang diam-diam menutup kekurangannya.

Bukan karena aku bodoh.

Aku hanya ingin menjaga nama suamiku.

Sekarang aku tidak lagi memiliki alasan untuk melindunginya.

Seminggu kemudian berita itu mulai menyebar.

Salah satu pemasok besar menghentikan kerja sama.

Bank membekukan fasilitas kredit perusahaan Marco sampai pemeriksaan selesai.

Investor mulai menarik dana.

Harga saham perusahaan keluarganya turun tajam.

Yang paling cepat berubah justru Bianca.

Perempuan itu tiba-tiba menghapus semua foto bersama Marco dari media sosial.

Seminggu setelah itu, ia menghilang.

Nomor teleponnya tidak aktif.

Apartemen yang disewa Marco untuknya sudah kosong.

Yang tersisa hanya secarik surat.

“Aku tidak sanggup hidup miskin.”

Ketika membaca salinan surat itu dari seorang teman lama, aku hanya menghela napas.

Marco akhirnya merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan saat semuanya runtuh.

Sebulan kemudian aku menerima telepon dari rumah sakit.

Bu Corina dirawat karena tekanan darahnya melonjak.

Aku datang.

Bukan karena masih menganggapnya keluarga.

Tetapi karena aku tidak ingin menjadi manusia yang kehilangan belas kasih.

Begitu melihatku, Bu Corina menangis.

“Aku salah.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalku, wanita itu meminta maaf tanpa menyalahkan siapa pun.

“Aku terlalu membanggakan anakku.”

“Aku pikir laki-laki selalu menjadi penopang keluarga.”

“Ternyata selama ini kamu yang memikul semuanya.”

Aku duduk di samping tempat tidurnya.

“Aku memaafkan Ibu.”

Matanya berbinar.

“Tapi memaafkan bukan berarti mengulang masa lalu.”

Ia mengangguk sambil terisak.

Beberapa hari kemudian aku mendengar Marco menjual mobil sportnya.

Jam tangan mewahnya juga dilelang.

Rumah yang tersisa disita bank.

Perusahaan yang dulu dibanggakannya resmi dinyatakan pailit.

Semua terjadi bukan karena aku membalas dendam.

Melainkan karena kebohongan yang selama ini disembunyikan akhirnya berdiri di bawah cahaya.

Enam bulan kemudian aku membuka kantor baru yang lebih besar.

Di ruang resepsionis tergantung sebuah bingkai sederhana.

Bukan penghargaan.

Bukan sertifikat.

Melainkan secarik kertas yang kutulis sendiri.

“Jangan pernah mengecilkan seseorang hanya karena ia memilih diam. Sebab sering kali, orang yang paling tenang adalah orang yang sedang menopang seluruh beban yang tidak pernah kau lihat.”

Suatu sore, ketika aku hendak pulang, resepsionis menyerahkan sebuah amplop tanpa nama.

Di dalamnya hanya ada satu lembar cek.

Nominalnya tujuh puluh juta rupiah.

Persis jumlah uang yang selama bertahun-tahun kukirim setiap bulan.

Di balik cek itu tertulis tulisan tangan yang langsung kukenal.

“Ini cicilan pertama. Mungkin butuh seumur hidup untuk mengembalikan semuanya. Tapi untuk pertama kalinya, aku ingin hidup dari hasil kerjaku sendiri. Terima kasih karena akhirnya menghentikanku bergantung padamu.”

Tidak ada nama.

Tidak ada alamat.

Hanya satu tanda tangan kecil di sudut kanan bawah.

Marco.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang