Empat Hari Aku Menitipkan Istriku yang Baru Melahirkan kepada Ibuku. Saat Aku Pulang… Bayiku Demam Tinggi dan Istriku Hampir Pingsan. Ketika Ia Berbisik, “Mereka Tidak Mengizinkanku Menghubungimu,” Saat Itulah Aku Melihat Betapa Mengerikannya Keluargaku Sendiri.

Aku menatap Clara dengan dada yang seperti diremas. Bibirnya pecah-pecah, napasnya berat, sementara Leo terus merengek lemah di pelukanku. Tidak ada lagi waktu untuk bertanya.

“Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!”

Aku menggendong Leo dengan satu tangan dan membantu Clara berdiri dengan tangan lainnya. Langkahnya begitu goyah hingga hampir jatuh. Saat itu juga suara pintu depan terbuka.

Mama dan Beatrice masuk sambil tertawa, masing-masing membawa beberapa tas belanja bermerek. Wajah mereka langsung berubah ketika melihatku.

“Mateo? Bukannya kamu pulang besok?” tanya Beatrice gugup.

Aku menoleh perlahan. Amarah yang kurasakan begitu besar hingga suaraku justru terdengar sangat tenang.

“Kenapa AC dimatikan?”

Tak seorang pun menjawab.

“Kenapa kamar mereka seperti oven?”

Mama mencoba tersenyum.

“Clara baru melahirkan. Orang tua zaman dulu bilang ibu yang baru melahirkan tidak boleh kena angin.”

Aku menatap Leo yang wajahnya memerah karena demam.

“Lalu ini?”

“Itu cuma demam biasa.”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah berteriak.

“Demam biasa? Bayi dua minggu demam hampir empat puluh derajat kalian bilang biasa?”

Rumah yang biasanya megah mendadak terasa sempit oleh kemarahanku.

Aku tidak mau membuang waktu lagi. Aku membawa Clara dan Leo ke mobil. Mama masih berusaha menghentikanku.

“Mateo, jangan lebay. Nanti juga sembuh sendiri.”

Aku bahkan tidak menoleh.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti selamanya.

Di ruang IGD, dokter langsung membawa Leo ke ruang perawatan bayi. Clara juga segera diperiksa karena mengalami demam tinggi dan dehidrasi berat.

Aku duduk di lorong rumah sakit dengan tangan gemetar.

Setelah hampir satu jam, seorang dokter keluar.

“Siapa keluarga pasien Leo?”

“Saya ayahnya.”

Dokter menarik napas panjang.

“Untung Anda datang tepat waktu. Bayinya mengalami infeksi yang diperparah oleh suhu ruangan yang terlalu panas dan kurangnya cairan. Kalau terlambat beberapa jam lagi, kondisinya bisa jauh lebih berbahaya.”

Dunia serasa berhenti berputar.

“Bagaimana dengan istri saya?”

“Ibu Clara mengalami infeksi pascapersalinan yang tidak ditangani dengan baik. Selain itu, produksi ASI terganggu karena kurang makan, kurang minum, dan kelelahan.”

Kurang makan?

Aku langsung berdiri.

“Dokter yakin?”

Dokter mengangguk.

“Kondisinya menunjukkan bahwa beliau tidak mendapatkan asupan yang cukup selama beberapa hari.”

Aku membeku.

Di rumah kami, lemari es selalu penuh.

Uang bukan masalah.

Lalu bagaimana mungkin Clara bisa kekurangan makan?

Saat dokter pergi, aku masuk ke ruang rawat Clara.

Ia masih sangat lemah.

Aku menggenggam tangannya.

“Sayang… ceritakan semuanya.”

Air mata Clara mengalir tanpa suara.

“Begitu kamu pergi, Mama bilang aku harus belajar menjadi menantu yang baik.”

Aku mengernyit.

“Maksudnya?”

“Setiap pagi aku dipaksa bangun untuk membuat sarapan.”

“Apa?”

“Kalau aku bilang jahitanku sakit, Mama bilang perempuan zaman sekarang terlalu manja.”

Dadaku mulai sesak.

“Beatrice mengambil ponselku dengan alasan radiasinya tidak baik untuk bayi.”

“Lalu?”

“Setiap kali aku minta meneleponmu, mereka bilang kamu sedang sibuk dan tidak boleh diganggu.”

Clara berhenti sejenak menahan tangis.

“Mereka juga bilang kamu menitipkan semua keputusan kepada Mama.”

Aku mengepalkan tangan.

“Masih ada lagi?”

Clara mengangguk pelan.

“Mereka bilang aku terlalu sering menyusui Leo. Kadang mereka membawanya keluar kamar berjam-jam. Saat aku menangis minta anakku dikembalikan, Mama bilang aku ibu yang berlebihan.”

Aku tidak sanggup membayangkannya.

Wanita yang baru dua minggu melahirkan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.

Malam itu aku pulang sebentar ke rumah untuk mengambil beberapa barang.

Mama duduk santai di ruang keluarga.

“Oh, bagaimana mereka?”

Aku menatapnya lama.

“Lumayan. Hampir kehilangan nyawa.”

Wajahnya langsung berubah.

“Jangan menyalahkan Mama. Mama cuma mengikuti cara orang tua dulu.”

Aku melemparkan ponsel Clara ke atas meja.

Ponsel itu kutemukan terkunci di laci kamar Beatrice.

“Kalau ini juga tradisi?”

Mama terdiam.

Beatrice keluar dari kamarnya.

“Kak, dengar dulu…”

“Aku sudah cukup mendengar.”

Beatrice menunduk.

“Aku cuma mengikuti perintah Mama.”

Aku tertawa pahit.

“Hebat. Kalian hampir membunuh istri dan anakku hanya karena merasa paling benar.”

Mama mulai menangis.

“Kamu berubah sejak menikah dengan Clara.”

Aku menatap wanita yang telah membesarkanku itu.

“Bukan aku yang berubah. Baru sekarang aku melihat siapa sebenarnya Mama.”

Keesokan harinya aku memasang kamera CCTV yang ternyata belum sempat kuaktifkan sebelum berangkat ke Surabaya.

Semua rekaman tersimpan di cloud.

Aku membuka rekaman empat hari terakhir.

Tanganku langsung dingin.

Hari pertama.

Clara berjalan pelan sambil memegangi perutnya.

Mama menyuruhnya mencuci botol susu.

Hari kedua.

Beatrice mengambil piring makan Clara.

“Kamu jangan makan terlalu banyak. Nanti badanmu susah kembali langsing.”

Hari ketiga.

Leo menangis keras.

Clara hendak menggendongnya.

Mama malah berkata, “Biarkan saja. Nanti juga diam sendiri.”

Hari keempat.

Clara berusaha mengambil ponselnya.

Beatrice lebih dulu merebutnya.

“Kak Mateo sedang kerja. Jangan ganggu.”

Clara menangis sendirian di kamar.

Tak ada seorang pun yang memedulikannya.

Aku menutup laptop.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena lemah.

Melainkan karena rasa bersalah yang tak sanggup kutanggung.

Aku telah meninggalkan dua orang yang paling kucintai bersama orang-orang yang salah.

Seminggu kemudian Clara dan Leo diperbolehkan pulang.

Aku sudah mengambil keputusan.

Mama dan Beatrice datang ke rumah sakit membawa bunga.

“Apa kami boleh bertemu Leo?”

Aku berdiri di depan pintu kamar.

“Tidak.”

Mama terkejut.

“Mateo, Mama ini neneknya.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu kenapa?”

“Karena nenek seharusnya melindungi cucunya, bukan membahayakannya.”

Mama menangis.

“Kamu tega mengusir keluarga sendiri?”

Aku mengangguk.

“Sejak hari kalian mengambil hak Clara untuk meminta pertolongan, kalian sendiri yang memilih menjauh dari keluarga ini.”

Aku menyerahkan sebuah map.

Di dalamnya terdapat salinan rekaman CCTV dan surat dari pengacaraku.

“Rumah ini atas nama aku dan Clara. Mulai hari ini kalian tidak memiliki akses lagi.”

Beatrice menangis sambil meminta maaf.

Namun permintaan maaf yang datang setelah semuanya hampir terlambat tidak lagi mampu menghapus luka.

Beberapa bulan berlalu.

Clara perlahan pulih.

Leo tumbuh sehat, ceria, dan selalu tersenyum setiap kali melihatku pulang kerja.

Aku mengurangi jam kerja, menolak beberapa proyek besar, dan lebih banyak bekerja dari rumah.

Setiap sore kami bertiga berjalan-jalan di taman dekat rumah.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku benar-benar memahami arti menjadi seorang suami dan ayah.

Suatu hari aku menerima telepon dari rumah sakit.

Mama dirawat karena serangan ringan akibat tekanan darah tinggi.

Aku tetap datang.

Bagaimanapun, ia adalah ibuku.

Saat melihatku, matanya langsung berkaca-kaca.

“Mateo… maafkan Mama.”

Aku duduk di samping ranjangnya.

“Aku sudah memaafkan Mama.”

Wajahnya sedikit lega.

“Tapi memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”

Mama mengangguk pelan.

“Aku mengerti.”

Sebelum pulang, ia berkata lirih, “Tolong jaga Clara. Mama baru sadar… perempuan itu benar-benar mencintaimu.”

Aku hanya mengangguk.

Mungkin penyesalan memang selalu datang paling akhir.

Malam itu, saat tiba di rumah, Clara sedang menidurkan Leo di ruang keluarga.

Ia menoleh dan tersenyum.

Senyum yang hampir hilang selamanya karena kelalaianku.

Aku memeluk mereka berdua erat.

“Ada apa?” tanya Clara pelan.

“Aku cuma bersyukur.”

“Bersyukur karena?”

“Karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang hampir menghancurkan keluarga kita.”

Leo tertawa kecil dalam gendongan Clara.

Suara itu memenuhi rumah dengan kehangatan yang dulu sempat hilang.

Saat itulah aku menyadari satu hal yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup.

Musuh terbesar sebuah keluarga tidak selalu datang dari orang asing.

Kadang mereka datang dengan wajah yang paling kita kenal, membawa alasan atas nama kasih sayang, tradisi, atau pengalaman. Dan jika seorang suami memilih menutup mata hanya karena mereka adalah keluarganya sendiri, orang pertama yang akan menanggung akibatnya adalah perempuan yang telah mempercayakan seluruh hidupnya kepadanya.

Sejak hari itu, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa tidak akan pernah ada lagi siapa pun yang boleh mengambil suara Clara, merampas haknya untuk meminta pertolongan, atau membuatnya merasa sendirian di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya. Karena keluarga sejati bukan ditentukan oleh hubungan darah, melainkan oleh siapa yang benar-benar menjaga kita ketika kita sedang berada di titik paling rapuh dalam hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang