EMPAT JAM SEBELUM AKAD NIKAH, AKU MENDENGAR CALON MENANTUKU BERBISIK BAHWA PUTRIKU HANYA PINTU MASUK UNTUK MEREBUT KEBUN TEH WARISAN KELUARGA KAMI!

Pukul 04.43 pagi, Arum masih mengenakan piyama abu-abu ketika ia memutuskan bahwa pernikahannya tidak akan dibatalkan.

Setidaknya, belum.

Pak Broto berdiri di depan meja kerjanya dengan wajah tegang. Di antara mereka tergeletak map perkara dua puluh tahun lalu, akta pendirian PT Cakrawala Prima, dan sebuah flashdisk yang berisi rencana pengambilalihan kebun keluarga mereka.

“Rum, Bapak tidak suka ini,” katanya akhirnya. “Kalau sesuatu terjadi sama kamu bagaimana?”

Arum menatap ayahnya.

“Justru kalau kita berhenti sekarang, kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang terlibat.”

Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

“Pak Damar? Maaf mengganggu sepagi ini. Saya butuh bantuan.”

Damar Prasetyo adalah pengacara keluarga yang selama bertahun-tahun mengurus kontrak distribusi dan legalitas perkebunan. Rumahnya hanya sekitar tiga puluh menit dari Pangalengan.

Arum menjelaskan semuanya dengan singkat.

Di ujung telepon, Damar sempat diam cukup lama.

“Jangan tanda tangani dokumen apa pun,” katanya tegas. “Salin semua file. Jangan mengubah apa pun dari perangkat asli. Saya berangkat sekarang.”

Setelah sambungan berakhir, Arum menghubungi satu orang lagi.

Komisaris polisi bernama Aditya, teman lama almarhumah ibunya.

Pak Broto akhirnya mengerti rencana putrinya.

Mereka tidak sekadar ingin mempermalukan Rendy.

Mereka ingin membuatnya membuka seluruh permainannya sendiri.

Pukul 06.20, rumah keluarga Broto mulai ramai.

Mobil keluarga berdatangan. Para pekerja katering mondar-mandir membawa kotak makanan. Beberapa kerabat perempuan masuk ke kamar Arum untuk membantu persiapan.

Sementara itu, Rendy keluar dari paviliun dengan wajah cerah.

Ia mengenakan kaus putih dan celana hitam. Rambutnya masih basah setelah mandi.

Ketika bertemu Pak Broto di halaman, ia langsung tersenyum.

“Bapak sudah bangun dari tadi?”

Pak Broto menatapnya beberapa detik.

Pria di hadapannya terlihat sama seperti sebelas bulan terakhir.

Sopan.

Tenang.

Meyakinkan.

Sulit dipercaya bahwa beberapa jam sebelumnya, mulut yang sama menyebut Arum hanya sebagai pintu masuk.

“Namanya juga orang tua yang mau menikahkan anak satu-satunya,” jawab Pak Broto.

Rendy tertawa kecil.

“Nanti setelah menikah, Bapak tidak kehilangan Arum. Bapak malah dapat anak laki-laki.”

Pak Broto hampir tidak sanggup menahan amarahnya.

Namun ia hanya menepuk bahu Rendy.

“Semoga kamu benar.”

Sekitar pukul 07.10, sebuah Toyota Alphard hitam memasuki halaman.

Seorang pria berusia hampir enam puluh tahun turun dari kursi belakang.

Pak Broto langsung mengenalinya.

Surya Kusuma.

Dua puluh tahun telah mengubah rambutnya menjadi abu-abu dan membuat tubuhnya sedikit lebih gemuk. Namun tatapan matanya masih sama.

Dingin.

Menghitung.

Surya berjalan mendekat seolah mereka adalah dua sahabat lama.

“Pak Broto.”

“Pak Surya.”

Mata Surya berubah sepersekian detik.

Jelas ia terkejut karena Pak Broto masih mengingatnya.

Namun ia segera tersenyum.

“Sudah lama sekali.”

“Dua puluh tahun.”

Rendy yang berdiri beberapa langkah dari mereka langsung mendekat.

“Bapak sudah kenal Ayah?”

Surya tertawa.

“Pangalengan kecil, Ren. Orang-orang lama pasti saling kenal.”

Pak Broto menatap Rendy.

“Betul. Apalagi kalau pernah berurusan cukup lama.”

Senyum Surya mengeras.

Hanya sesaat.

Lalu ia mengalihkan pembicaraan.

Pukul 08.35, rombongan tiba di Masjid Agung Pangalengan.

Udara pagi mulai menghangat, tetapi kabut tipis masih terlihat di kejauhan.

Ruang utama masjid sudah dipenuhi keluarga dan tamu undangan. Karpet hijau terbentang rapi. Meja akad diletakkan di depan penghulu.

Rendy duduk di sana dengan jas berwarna gelap.

Surya berada tidak jauh di belakangnya.

Sementara Arum menunggu di ruangan terpisah.

Ia mengenakan kebaya putih modern yang sederhana. Wajahnya dirias lembut, tetapi kedua matanya tidak menunjukkan kegembiraan seorang pengantin.

Di dalam tas kecilnya terdapat flashdisk.

Damar duduk bersama tamu lain.

Kompol Aditya berada di bagian belakang masjid bersama dua anggota berpakaian sipil.

Pukul 08.57, penghulu mulai mempersiapkan dokumen.

Rendy beberapa kali melihat jam.

Tiga menit menuju pukul sembilan.

Kemudian ia membungkuk kepada Surya.

Ayah dan anak itu berbisik singkat.

Pak Broto memperhatikan mereka.

Surya mengeluarkan sebuah map hitam dari tas kerjanya lalu menyerahkannya kepada Rendy.

Persis seperti dugaan Arum.

Dokumen itu akan diberikan setelah akad.

Pukul 09.03, acara dimulai.

Suasana mendadak hening.

Penghulu membuka prosesi dengan doa singkat.

Pak Broto duduk berhadapan dengan Rendy.

Tangannya terasa dingin.

Bukan karena takut kehilangan tanah.

Melainkan karena beberapa menit lagi ia harus menghancurkan hari yang selama berbulan-bulan dinantikan putrinya sendiri.

Penghulu mulai menjelaskan tanggung jawab pernikahan.

Rendy terlihat tenang.

Bahkan sesekali tersenyum.

Kemudian tibalah saat ijab kabul.

Pak Broto menarik napas.

Rendy mengulurkan tangan.

Keduanya berjabat.

Namun sebelum Pak Broto mengucapkan kalimat ijab, terdengar suara dari belakang.

“Tunggu.”

Semua kepala menoleh.

Arum berdiri di pintu.

Ruangan mendadak sunyi.

Rendy tersenyum gugup.

“Rum? Kenapa keluar sekarang?”

Arum berjalan perlahan menuju meja akad.

Setiap langkahnya terdengar jelas.

Ia berhenti di samping ayahnya.

“Maaf, Pak Penghulu. Sebelum akad dilanjutkan, saya ingin menanyakan sesuatu kepada calon suami saya.”

Penghulu terlihat bingung.

Namun Pak Broto mengangguk.

Rendy mulai gelisah.

“Bisa nanti saja, Rum?”

“Tidak.”

Arum menatapnya lurus.

“Saya ingin bertanya sekarang.”

Beberapa tamu mulai berbisik.

Arum mengeluarkan sebuah kertas.

“PT Cakrawala Prima itu perusahaan apa?”

Wajah Rendy berubah.

Hanya sedikit.

Tetapi Arum melihatnya.

Surya juga langsung menegakkan tubuh.

“Perusahaan konsultasi,” jawab Rendy cepat.

“Direktur utamanya siapa?”

Rendy terdiam.

“Kenapa kamu tanya beginian sekarang?”

Arum meletakkan salinan akta perusahaan di atas meja akad.

“Direktur utamanya Rendy Kusuma.”

Suasana langsung berubah.

Surya berdiri.

“Ini urusan bisnis. Tidak ada hubungannya dengan pernikahan.”

Arum menoleh kepadanya.

“Ada.”

Ia mengeluarkan dokumen berikutnya.

“Karena perusahaan ini mengajukan kredit dengan rencana menjadikan kebun keluarga saya sebagai jaminan.”

Rendy langsung berdiri.

“Itu tidak benar.”

“Tidak benar?”

Arum mengambil ponselnya.

Kemudian suara Rendy terdengar dari pengeras suara kecil yang telah disiapkan.

“Arum cuma pintu masuk.”

Ruangan membeku.

Wajah Rendy pucat.

Rekaman berlanjut.

“Dalam enam bulan, cicilannya akan dibuat macet. Setelah itu PT Cakrawala bisa mengambil alih seluruh 45 hektare melalui skema lelang tertutup.”

Beberapa kerabat Arum berdiri dari tempat duduk mereka.

Surya bergerak cepat menuju pintu.

Namun dua pria berpakaian sipil sudah berdiri di sana.

Kompol Aditya menunjukkan identitasnya.

“Pak Surya, mohon tetap di tempat.”

Rendy menatap Arum.

Matanya merah.

“Kamu menggeledah laptop saya?”

“Saya menemukan dokumen yang kamu minta saya cetak.”

“Kamu tidak mengerti konteksnya!”

“Kalau begitu jelaskan.”

Arum mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Kenapa ada surat kuasa yang memberi kamu kewenangan menjaminkan aset perkebunan?”

Rendy kehilangan kata-kata.

Arum melanjutkan.

“Kenapa nilai tanah sengaja diturunkan hampir empat puluh persen dalam laporan internal?”

Tidak ada jawaban.

“Dan kenapa perusahaanmu didirikan satu bulan sebelum kamu menyatakan cinta kepada saya?”

Bisik-bisik para tamu semakin keras.

Rendy akhirnya menatap ayahnya.

Tatapan itu cukup untuk menjelaskan semuanya.

Surya mendadak berteriak.

“Karena tanah itu milik keluarga kami!”

Suasana langsung hening.

Pak Broto berdiri.

“Pengadilan sudah memutuskan perkara itu dua puluh tahun lalu.”

“Pengadilan salah!”

Surya menunjuk Pak Broto dengan tangan gemetar.

“Keluargamu menghancurkan hidup saya!”

Pak Broto mengambil map cokelat tua.

“Yang menghancurkan hidupmu adalah surat palsu yang kamu gunakan sendiri.”

Surya tertawa pahit.

“Kamu pikir sesederhana itu?”

Lalu ia menatap Rendy.

“Anak saya mendekati anakmu karena kami hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kami.”

Arum memandang Rendy.

“Jadi benar?”

Rendy tidak menjawab.

“Sebelas bulan itu semuanya bohong?”

Rendy menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, wajahnya tidak lagi menunjukkan kesombongan.

“Awalnya iya.”

Arum terpaku.

Rendy mengangkat wajah.

“Ayah yang menyuruh saya mendekati kamu.”

Surya langsung menoleh tajam.

“Rendy!”

Namun Rendy tidak berhenti.

“Saya tahu siapa kamu bahkan sebelum pertama kali kita bertemu.”

Air mata mulai memenuhi mata Arum.

“Jadi waktu kamu membantu petani, waktu kamu datang ke rumah, waktu kamu bilang mencintai saya…”

“Awalnya bagian dari rencana.”

Arum menarik napas dengan susah payah.

Satu kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada seluruh rencana pencurian kebun.

“Awalnya?”

Rendy memandangnya.

“Saya benar-benar jatuh cinta sama kamu, Rum.”

Arum tersenyum pahit.

“Orang yang mencintai saya tidak menyiapkan surat untuk merampas rumah ayah saya.”

“Saya mau menghentikannya.”

“Kapan?”

Rendy terdiam.

“Kemarin?”

Tidak ada jawaban.

“Minggu lalu?”

Rendy menunduk.

Arum akhirnya mengerti.

“Kamu tidak pernah menghentikannya.”

Rendy mendekat.

“Saya terjebak.”

“Tidak.”

Arum mundur satu langkah.

“Kamu memilih.”

Kalimat itu membuat Rendy diam.

Arum melepaskan cincin pertunangannya.

Ia meletakkannya di atas meja akad.

“Pernikahan ini batal.”

Surya langsung mencoba pergi.

Namun Kompol Aditya menghentikannya.

Damar kemudian berdiri dan menyerahkan salinan sejumlah dokumen kepada polisi.

Ternyata setelah memeriksa file yang diberikan Arum, ia menemukan sesuatu yang lebih besar.

PT Cakrawala Prima bukan hanya menargetkan kebun Pak Broto.

Perusahaan itu memiliki dokumen penilaian terhadap tujuh lahan pertanian lain di kawasan Bandung Selatan.

Modusnya hampir sama.

Masuk melalui kerja sama usaha.

Mendorong pemilik menggunakan tanah sebagai jaminan.

Kemudian menciptakan gagal bayar melalui perusahaan perantara.

Dua di antara lahan tersebut bahkan sudah berpindah tangan.

Surya menatap Damar dengan wajah pucat.

“Ini fitnah!”

“Silakan jelaskan di kantor,” jawab Aditya.

Ketika petugas hendak membawa Surya keluar, Rendy tiba-tiba berkata, “Saya punya bukti.”

Semua orang menoleh.

Surya membentaknya.

“Diam!”

Namun Rendy berjalan menuju map hitam yang tadi dibawanya.

Dari dalamnya ia mengambil sebuah kartu memori.

“Ayah menyimpan catatan transaksi melalui rekening perusahaan lain.”

Surya menerjang anaknya.

Petugas segera menahannya.

“Kamu anak durhaka!”

Rendy menatap ayahnya.

“Cukup, Yah.”

Suara Rendy bergetar.

“Dua puluh tahun hidup kita cuma diisi dendam.”

Ia menyerahkan kartu memori kepada Aditya.

“Semua ada di sini.”

Surya dibawa keluar.

Rendy tidak langsung ditahan pagi itu karena status dan keterlibatannya masih harus diperiksa lebih lanjut. Namun polisi meminta seluruh pihak hadir untuk memberikan keterangan.

Sebelum meninggalkan masjid, Rendy berdiri beberapa meter dari Arum.

“Rum.”

Arum tidak menoleh.

“Saya tidak minta kamu memaafkan saya.”

Arum akhirnya memandangnya.

Rendy menarik napas.

“Tapi satu hal yang saya bilang bukan kebohongan.”

“Apa?”

“Saya mencintai kamu.”

Arum menatapnya lama.

Kemudian berkata pelan, “Mungkin.”

Rendy terlihat terkejut.

“Tapi cinta yang datang bersama kebohongan tetap bisa menghancurkan seseorang.”

Ia berbalik.

“Dan saya tidak akan mempertaruhkan hidup saya hanya untuk membuktikan apakah perasaanmu tulus atau tidak.”

Enam bulan kemudian, penyelidikan terhadap jaringan PT Cakrawala Prima berkembang menjadi perkara besar.

Sejumlah transaksi mencurigakan ditemukan.

Surya akhirnya ditetapkan sebagai tersangka bersama dua rekan bisnisnya.

Rendy menjadi saksi sekaligus pihak yang turut diperiksa karena keterlibatannya dalam penyusunan sejumlah dokumen. Kesaksiannya membantu membongkar pola pengambilalihan aset yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Namun Arum tidak pernah kembali kepadanya.

Kebun teh keluarga Broto tetap berdiri.

Arum bahkan melakukan sesuatu yang tidak pernah diduga ayahnya.

Ia membentuk koperasi bersama puluhan petani kecil di sekitar Pangalengan dan membantu mereka menata sertifikat, kontrak, serta pembukuan agar tidak mudah menjadi korban permainan serupa.

Suatu sore, Pak Broto berdiri di beranda rumah sambil memandang hamparan teh yang berkilau terkena matahari.

Arum datang membawa dua cangkir teh hangat.

“Bapak pernah menyesal?” tanyanya.

“Menyesal apa?”

“Tidak langsung membatalkan semuanya pagi itu.”

Pak Broto menerima cangkir dari tangan putrinya.

Ia berpikir sejenak.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Kalau kita membatalkannya sebelum dia datang ke masjid, kita mungkin cuma menyelamatkan kebun kita.”

Pak Broto memandang hamparan hijau di hadapan mereka.

“Tapi karena kamu memilih menghadapi mereka sampai akhir, tujuh keluarga lain juga ikut terselamatkan.”

Arum tersenyum tipis.

Angin sore membawa aroma daun teh dari lereng.

Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam.

Kemudian Pak Broto masuk ke ruang kerja dan kembali membawa map perkara tahun 2004.

Ia menyerahkannya kepada Arum.

“Bapak mau kamu simpan ini.”

Arum membuka map tersebut.

Namun kali ini ia melihat sesuatu yang sebelumnya terlewat.

Di balik foto lama Surya terdapat tulisan tangan almarhumah ibunya.

Tulisan itu dibuat dua puluh tahun lalu.

Arum membacanya perlahan.

Tanah bisa diwariskan, tetapi dendam jangan.

Matanya langsung berkaca-kaca.

Pak Broto menatap tulisan istrinya cukup lama.

Baru saat itulah ia menyadari sesuatu.

Selama ini ia mengira warisan terbesar yang harus dijaga untuk putrinya adalah kebun seluas 45 hektare.

Ternyata ia salah.

Tanah bisa hilang.

Perusahaan bisa bangkrut.

Uang bisa dicuri.

Tetapi keberanian untuk mengetahui kapan harus percaya, kapan harus melawan, dan kapan harus berhenti mewariskan kebencian jauh lebih berharga daripada semua sertifikat yang tersimpan di dalam brankas.

Arum menutup map itu.

Di kejauhan, para pekerja mulai pulang dari kebun.

Matahari tenggelam perlahan di balik perbukitan Pangalengan.

Pernikahan yang gagal pagi itu memang telah menghancurkan satu rencana masa depan.

Namun tanpa mereka sadari, kegagalan tersebut justru menyelamatkan jauh lebih banyak kehidupan daripada yang pernah mereka bayangkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang