Tujuh hari setelah perceraian itu, tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil kurir berhenti di depan rumah besar di Menteng yang selama puluhan tahun disebut Ayah sebagai rumah dinas perusahaan.
Saat itu aku sedang berada di apartemen Ibu di kawasan Tebet. Setelah perceraian, Ibu menolak tinggal bersamaku. Dia menyewa apartemen kecil dengan dua kamar, perabot sederhana, dan balkon sempit yang dipenuhi tanaman.
Ponselku tiba-tiba berdering.
Nama Ayah muncul di layar.

Aku hampir mengabaikannya, tetapi entah kenapa akhirnya kuangkat.
“Celina!”
Suara Ayah terdengar panik.
Bukan marah. Bukan sombong.
Panik.
“Kamu tahu apa yang dilakukan ibumu?”
“Ada apa?”
“Suruh dia datang ke Menteng sekarang!”
Sebelum aku sempat menjawab, terdengar suara benda jatuh, lalu sambungan terputus.
Aku langsung menatap Ibu.
Dia sedang menyiram tanaman seolah tidak terjadi apa-apa.
“Paketnya sudah sampai, ya?” tanyanya.
Aku tercekat.
“Mama tahu?”
Ibu meletakkan penyiram tanaman.
“Tentu.”
Empat puluh menit kemudian, kami tiba di Menteng.
Pintu rumah terbuka lebar.
Ayah berdiri di ruang keluarga dengan wajah pucat. Di meja marmer di depannya tergeletak sebuah kotak cokelat, beberapa map, sebuah buku rekening lama, salinan akta, dan setumpuk kuitansi yang sebagian kertasnya sudah menguning.
Di sofa duduk seorang wanita bergaun mahal yang langsung kukenal sebagai Laras, mantan direktur administrasi di perusahaan Ayah.
Wanita yang hendak dinikahi Ayah.
Begitu melihat Ibu, Ayah berjalan cepat menghampirinya.
“Apa maksud semua ini?”
Ibu tidak menjawab. Dia duduk dengan tenang.
Aku mengambil salah satu dokumen.
Di bagian atas tertulis nama sebuah perusahaan lama yang tidak pernah kudengar.
PT Bintang Timur Angkasa.
“Perusahaan apa ini?”
Ayah merampas dokumen itu dari tanganku.
“Perusahaan gagal. Sudah tutup puluhan tahun lalu!”
Ibu akhirnya bicara.
“Perusahaan pertama ayahmu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Empat puluh lima tahun lalu, ternyata Ayah bukanlah eksekutif sukses seperti cerita yang selalu dibanggakannya.
Dia hanyalah seorang pemuda yang memiliki perusahaan angkutan kecil dengan tiga truk bekas.
Setahun setelah menikah, perusahaan itu hampir bangkrut.
Dua truk disita.
Ayah memiliki utang kepada bank dan pemasok.
Saat itulah Ibu menjual sebidang tanah warisan dari kakeknya di Bekasi.
Nilainya pada masa itu cukup besar.
Uang tersebut digunakan untuk melunasi sebagian utang Ayah dan membeli dua truk.
“Aku mengembalikannya!” bentak Ayah.
“Belum,” jawab Ibu.
Ayah terdiam.
Ibu mengeluarkan sebuah buku catatan tua.
“Kamu bilang akan mengembalikannya ketika perusahaan sudah menghasilkan keuntungan. Tapi ketika keadaan membaik, kamu bilang uang dalam pernikahan tidak perlu dihitung.”
Ibu tersenyum pahit.
“Lucu sekali. Setelah kamu menjadi kaya, justru semua harus dihitung.”
Ayah membuka mulut, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Belum selesai.
Dokumen berikutnya menunjukkan bahwa ketika perusahaan Ayah kembali mengalami krisis pada akhir tahun sembilan puluhan, Ibu mengambil pinjaman dengan jaminan rumah kecil peninggalan orang tuanya.
Kemudian pada 2001, Ibu menjual perhiasan pernikahannya untuk membantu membayar gaji puluhan sopir yang tertunggak.
Aku menatap Ibu tidak percaya.
“Mama tidak pernah cerita.”
“Tidak perlu.”
“Tapi kenapa?”
“Karena waktu itu kami keluarga.”
Kalimat sederhana itu membuat tenggorokanku terasa tercekat.
Namun Ayah malah tertawa sinis.
“Semua itu sudah puluhan tahun lalu! Kamu mengirim sampah ini hanya untuk membuatku merasa bersalah?”
Ibu menggeleng.
“Buka map biru.”
Tangan Ayah berhenti.
Laras yang sejak tadi diam mulai terlihat gelisah.
Ayah membuka map tersebut.
Wajahnya berubah.
“Apa ini?”
“Bacalah.”
Di dalamnya terdapat salinan dokumen kepemilikan saham lama.
Pada masa perusahaan Ayah hampir bangkrut, seorang investor bernama Rahman Santoso membeli sebagian saham perusahaan dan menyuntikkan modal.
Nama itu terasa familier.
Lalu aku tersadar.
Rahman Santoso adalah nama ayah Ibu.
Kakekku.
Sebelum meninggal, Kakek ternyata tidak memberikan uang tersebut sebagai hadiah kepada Ayah. Investasi itu dicatat secara sah dan sahamnya diwariskan kepada Ibu.
Ketika perusahaan lama Ayah kemudian diakuisisi dan menjadi bagian dari Nusantara Logistik Holdings, kepemilikan saham tersebut ikut dikonversi.
Ayah membanting dokumen ke meja.
“Mustahil! Aku sudah memeriksa semua daftar pemegang saham!”
“Karena saham itu tidak tercatat atas nama saya secara langsung,” jawab Ibu.
Ayah menatapnya tajam.
Ibu menyebut nama sebuah perusahaan investasi keluarga.
Aku tidak memahami detailnya sampai Ibu menjelaskan.
Selama puluhan tahun, dividen dari saham tersebut tidak pernah digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Kakek menunjuk seorang pengelola profesional untuk mengurusnya, dan setelah Kakek meninggal, Ibu melanjutkan investasi itu.
Nilainya terus bertambah.
Ayah duduk perlahan.
“Berapa?”
Ibu diam.
“Berapa nilainya sekarang, Siti?”
“Terakhir saya periksa, sekitar seratus dua puluh tujuh miliar rupiah.”
Aku sampai kehilangan kata-kata.
Laras spontan berdiri.
“Seratus dua puluh tujuh miliar?”
Tatapan Ayah langsung beralih kepadanya.
Ada sesuatu dalam ekspresi Laras yang membuat suasana berubah.
Bukan keterkejutan seorang pasangan.
Melainkan ketertarikan seseorang yang baru saja mencium aroma uang.
Ibu memandang Laras beberapa detik, kemudian mengeluarkan amplop lain.
“Ini untuk kamu.”
“Apa?” Laras terlihat gugup.
“Buka.”
Di dalamnya terdapat beberapa foto dan salinan percakapan.
Wajah Laras seketika kehilangan warna.
Ayah mengambilnya.
Semakin lama membaca, tangannya semakin gemetar.
Percakapan itu antara Laras dan seorang pria bernama Andre.
Aku tidak mengenalnya.
Tetapi isi percakapannya jelas.
Laras ternyata berencana menikahi Ayah hanya sampai dia mendapatkan akses terhadap pesangon dan saham pensiunnya.
Dalam salah satu pesan, Laras menulis bahwa lelaki tua yang sedang jatuh cinta mudah dikendalikan.
Dalam pesan lainnya, dia membicarakan rencana membeli vila di Bali bersama Andre setelah berhasil memindahkan sebagian aset Ayah.
“Kamu bisa jelaskan ini?” suara Ayah serak.
“Pak Budi, dengarkan saya dulu.”
“Siapa Andre?”
Laras mundur.
“Teman lama.”
“Teman lama?”
Ayah membanting ponselnya ke meja.
“Jawab!”
Laras akhirnya menangis.
Namun berbeda dari Ibu, tangisnya tidak membuatku iba.
“Aku memang mengenal Andre, tapi hubungan kami sudah selesai.”
“Lalu kenapa tiga minggu lalu kamu mengirim pesan bahwa setelah menikah denganku, kamu akan memastikan aku mengubah penerima manfaat asuransi?”
Laras terdiam.
Ayah menunjuk pintu.
“Keluar.”
“Pak Budi.”
“KELUAR!”
Laras mengambil tasnya dan pergi tanpa menoleh lagi.
Untuk pertama kalinya aku melihat Ayah benar-benar kehilangan kendali.
Dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
Tetapi Ibu belum selesai.
“Masih ada satu surat.”
Ayah menatapnya dengan mata merah.
“Apalagi?”
Ibu menyerahkan amplop putih.
Ayah membukanya.
Itu surat resmi dari Nusantara Logistik Holdings.
Ternyata rumah Menteng yang selama ini ditempati Ayah memang aset perusahaan. Sesuai ketentuan, fasilitas tersebut harus dikembalikan maksimal tiga puluh hari setelah masa jabatan berakhir.
Mobil juga demikian.
Ayah memang telah mengajukan pembelian kendaraan tersebut, tetapi transaksi belum pernah disetujui komisaris.
Ayah mendadak berdiri.
“Tidak mungkin. Aku sudah bicara dengan bagian aset!”
“Mungkin mereka berubah pikiran setelah audit internal,” jawab Ibu.
“Audit apa?”
Ibu tidak menjawab.
Aku melihat dokumen berikutnya.
Ada pemberitahuan bahwa beberapa transaksi selama kepemimpinan Ayah sedang diperiksa oleh komite audit.
Bukan tuduhan pidana.
Belum.
Namun sejumlah pengeluaran yang selama ini dianggap sebagai fasilitas direksi ternyata membutuhkan pertanggungjawaban lebih lanjut.
Keanggotaan klub.
Perjalanan pribadi yang dibebankan sebagai perjalanan bisnis.
Renovasi rumah dinas.
Beberapa transaksi kendaraan.
Wajah Ayah semakin pucat.
“Ini semua gara-gara kamu!”
Ibu menatapnya lama.
“Bukan.”
“Jangan bohong!”
“Saya tidak melaporkanmu.”
Ayah terdiam.
“Lalu siapa?”
Ibu menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Laras.
Aku langsung mengerti.
Sebagai direktur administrasi, Laras memiliki akses terhadap banyak dokumen perusahaan.
Rupanya ketika hubungan mereka mulai memburuk beberapa hari sebelum perceraian selesai, Laras telah mengirim sejumlah dokumen kepada komite audit sebagai perlindungan jika Ayah membatalkan rencana menikahinya.
Perempuan yang membuat Ayah meninggalkan istrinya ternyata sekaligus orang yang membuka pintu menuju kehancurannya.
Ayah terduduk.
Tangannya menutupi wajah.
Untuk beberapa saat hanya terdengar suara pendingin ruangan.
Kemudian bahunya mulai bergetar.
Aku belum pernah melihat Ayah menangis.
Bahkan ketika Kakek meninggal.
Bahkan ketika perusahaan pernah mengalami kerugian besar.
Namun pagi itu, lelaki yang selama hidupnya selalu berdiri tegak dan berbicara seperti semua orang berada di bawah kekuasaannya menangis seperti anak kecil.
“Siti.”
Ibu berdiri.
Ayah tiba-tiba turun dari sofa.
Lalu sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi.
Dia berlutut di depan Ibu.
“Siti, maafkan aku.”
Aku terpaku.
Ayah memegang kedua tangan Ibu.
“Aku bodoh.”
Ibu perlahan menarik tangannya.
“Aku pikir semua yang kumiliki adalah hasil kerja kerasku sendiri. Aku pikir aku hebat. Aku pikir selama ini kamulah yang bergantung kepadaku.”
Air mata mengalir di pipi Ayah.
“Ternyata aku yang hidup karena kamu.”
Ibu memandangnya tanpa kemarahan.
Justru itulah yang terasa paling menyakitkan.
Tidak ada lagi cinta yang menuntut.
Tidak ada kecemburuan.
Tidak ada harapan.
Hanya ketenangan seseorang yang sudah selesai.
“Ayo kita mulai lagi,” pinta Ayah. “Aku akan berubah. Kita bisa pindah dari sini. Kita beli rumah baru. Aku akan mengembalikan semua uangmu.”
Ibu tersenyum.
“Budi, kamu masih belum mengerti.”
“Apa?”
“Saya tidak mengirim paket itu agar kamu kembali kepada saya.”
Ayah membeku.
“Saya mengirimnya supaya untuk pertama kalinya dalam hidupmu, kamu tahu berapa harga yang dibayar orang lain untuk membangun kehidupan yang selama ini kamu klaim sebagai milikmu sendiri.”
Ayah menundukkan kepala.
Ibu kemudian mengambil satu dokumen terakhir.
Itu surat dari sebuah yayasan pendidikan.
Ternyata beberapa bulan sebelum perceraian, Ibu sudah membuat keputusan tentang kekayaannya.
Sebagian besar investasinya akan dialihkan secara bertahap ke sebuah yayasan yang memberikan beasiswa kepada anak-anak sopir, pekerja gudang, guru honorer, dan keluarga berpenghasilan rendah.
Aku menatapnya terkejut.
“Mama?”
Ibu tersenyum kepadaku.
“Kamu sudah punya kehidupan sendiri, Celina. Mama memberimu pendidikan. Itu warisan terpenting yang bisa Mama berikan.”
“Tapi uang sebanyak itu…”
“Dulu uang Kakekmu menyelamatkan perusahaan kecil milik ayahmu. Sekarang biarkan uang itu menyelamatkan masa depan orang lain.”
Ayah mengangkat wajah.
“Kenapa anak sopir?”
Ibu menatapnya.
“Karena kamu lupa siapa yang dulu membuat perusahaanmu bisa berjalan.”
Kalimat itu membuat Ayah menangis lagi.
Selama puluhan tahun dia selalu menceritakan bagaimana kecerdasan dan keberaniannya membangun kerajaan logistik.
Namun dia lupa pada sopir yang tidur di dalam truk.
Dia lupa pada pegawai yang bekerja lembur.
Dia lupa pada mertua yang memberikan modal.
Dan terutama, dia lupa pada perempuan yang setiap pagi naik angkot untuk mengajar anak-anak, lalu pulang memasak untuknya, sambil diam-diam mempertaruhkan seluruh warisan demi menyelamatkan mimpinya.
Ibu berjalan menuju pintu.
Aku mengikutinya.
“Siti!”
Kami berhenti.
Ayah masih berlutut.
“Apakah benar-benar tidak ada kesempatan lagi?”
Ibu menoleh.
“Ada.”
Mata Ayah seketika berbinar.
Namun Ibu melanjutkan.
“Kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.”
Wajah Ayah kembali runtuh.
“Tapi bukan sebagai suami saya.”
Kami meninggalkan rumah itu.
Tiga bulan kemudian, Ayah pindah ke sebuah apartemen sederhana di Jakarta Selatan.
Pemeriksaan internal perusahaan membuatnya harus mengembalikan sejumlah fasilitas yang penggunaannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dia tidak jatuh miskin. Tabungan dan dana pensiunnya masih cukup untuk hidup nyaman.
Namun untuk pertama kalinya, dia harus belajar hidup tanpa sekretaris, sopir, rumah dinas, dan seorang istri yang selama empat puluh lima tahun memastikan semua kebutuhannya tersedia.
Sedangkan Ibu melakukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
Dia tidak membeli rumah mewah.
Tidak membeli mobil mahal.
Tidak pergi berkeliling Eropa.
Ibu tetap mengajar.
Setiap pagi dia masih bangun sebelum pukul lima.
Bedanya, sekarang dia tidak lagi berganti dua angkot.
Aku membelikannya sebuah mobil kecil, dan setelah protes selama hampir sebulan, akhirnya dia mau menerimanya.
Setahun kemudian, Yayasan Rahmani Santoso memberikan beasiswa pertamanya kepada dua puluh lima anak.
Pada acara penyerahan beasiswa, aku melihat seseorang berdiri sendirian di barisan belakang.
Ayah.
Rambutnya jauh lebih putih.
Tidak ada jam tangan mahal di pergelangan tangannya.
Setelah acara selesai, dia menghampiri Ibu.
“Aku tidak datang untuk meminta kamu kembali,” katanya.
Ibu menatapnya.
“Aku hanya ingin bilang, aku akhirnya mengerti.”
Dia menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada bukti transfer.
Ayah menyumbangkan sebagian besar bonus pensiunnya kepada yayasan.
“Untuk anak-anak sopir,” katanya.
Ibu menatap bukti transfer itu cukup lama.
Kemudian untuk pertama kalinya sejak perceraian, dia tersenyum tulus kepada Ayah.
“Terima kasih, Budi.”
Hanya itu.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada rekonsiliasi dramatis.
Mereka berjalan pulang ke arah berbeda.
Saat melihat punggung keduanya menjauh, akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak kupahami pada hari perceraian mereka.
Paket yang dikirim Ibu tujuh hari setelah perceraian sebenarnya tidak pernah dimaksudkan untuk menghancurkan Ayah.
Paket itu adalah hadiah terakhir seorang istri kepada suaminya.
Bukan uang.
Bukan rumah.
Bukan kesempatan kedua untuk mendapatkan cintanya.
Melainkan kesempatan terakhir untuk melihat dirinya sendiri dengan jujur.
Dan mungkin, setelah empat puluh lima tahun hidup bersama, itulah hadiah paling mahal yang pernah Ibu berikan kepadanya.
