Firman sudah meninggal. Sekarang kamu bukan menantuku lagi. Besok kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Serahkan juga semua harta peninggalannya, termasuk mobil dan motornya.
Kalimat itu masih terngiang jelas di telingaku ketika tanah merah di makam Firman bahkan belum benar-benar mengering. Orang-orang yang baru saja mengucapkan belasungkawa belum semuanya pulang, tetapi ibu mertuaku sudah sibuk menghitung apa saja yang bisa ia ambil dariku.
Mereka mengira aku akan menangis, memohon, atau menyerahkan semuanya karena terlalu lemah menghadapi kenyataan.
Mereka tidak tahu bahwa sebelum Firman meninggal, suamiku sudah menyiapkan segalanya.

Dan yang paling tidak mereka ketahui adalah, rumah yang mereka injak saat ini bukanlah rumah warisan Firman.
Rumah itu sepenuhnya milikku.
Empat hari menjelang acara tahlilan terakhir, aku membiarkan mereka tinggal. Bukan karena aku takut pada omongan tetangga, melainkan karena aku ingin mengetahui seberapa jauh keserakahan mereka akan membawa mereka jatuh.
Malam pertama, setelah mendengar rencana mereka melalui CCTV, aku langsung menghubungi seseorang.
“Pak Surya, besok pagi semua dokumen asli dipindahkan ke tempat yang sudah kita sepakati.”
“Baik, Bu Ririn.”
“Lalu ganti semua map di brankas dengan salinan.”
“Apakah Ibu yakin?”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau mereka memang berniat mencuri, biarkan mereka merasa berhasil.”
Keesokan paginya, rumah dipenuhi tamu yang datang membaca doa. Ibu mertuaku tampil seolah menjadi perempuan paling berduka di dunia. Air matanya mengalir setiap kali ada tamu mendekat.
“Kasihan Firman… meninggalkan ibu sendirian…”
Beberapa orang ikut terharu.
Aku hanya diam.
Aku tahu air mata itu hanya muncul ketika ada penonton.
Begitu tamu berkurang, ekspresinya langsung berubah.
“Ririn.”
Aku menoleh.
“Mana mobil Firman? Ibu mau pakai ke makam besok.”
“Itu mobil saya.”
“Itu dibeli saat Firman masih hidup.”
“Dengan uang saya.”
Wajahnya mengeras.
“Kamu pelit sekali.”
Aku tidak menjawab.
Perdebatan tidak akan mengubah sifat orang yang sudah dikuasai keserakahan.
Hari kedua, aku sengaja berpura-pura pergi ke kantor selama beberapa jam.
Padahal aku hanya duduk di dalam mobil di halaman belakang sambil memperhatikan CCTV.
Benar saja.
Begitu merasa rumah sepi, Mbak Mega masuk ke ruang kerja.
Ia membuka laci demi laci.
Kemudian menelepon ibunya.
“Bu… brankasnya ketemu.”
“Bagus. Cepat buka.”
“Tapi pakai sidik jari.”
“Tunggu Ririn pulang nanti. Cari kesempatan.”
Malamnya mereka mulai menjalankan rencana.
Saat aku sedang membantu para tamu di dapur, Mbak Mega berpura-pura pusing.
“Aduh… kepalaku sakit…”
Aku mengantar obat ke kamar tamu.
Ketika aku kembali ke ruang makan, ibu mertuaku sengaja menjatuhkan gelas hingga pecah.
“Ya Allah… maaf… maaf…”
Semua orang langsung membantu membersihkan.
Sementara itu, Mbak Mega diam-diam masuk ke kamarku.
Sayangnya, mereka lupa satu hal.
Seluruh rumah ini memiliki kamera tersembunyi.
Aku melihat semuanya melalui ponsel.
Ia membuka lemari.
Mengobrak-abrik laci.
Mencari kartu ATM.
Mencari sertifikat.
Mencari buku tabungan.
Ketika menemukan map biru di dalam brankas, wajahnya langsung berbinar.
“Dapat…”
Ia memotretnya satu per satu lalu memasukkan beberapa lembar ke tas.
Aku tetap diam.
Aku ingin mereka mengambil semuanya.
Karena yang mereka ambil hanyalah salinan.
Hari ketiga, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.
Aku menerima telepon dari notaris keluarga.
“Bu Ririn.”
“Iya, Pak.”
“Ada seseorang datang membawa surat kuasa atas nama almarhum Firman.”
Aku langsung terdiam.
“Siapa?”
“Ibu kandung beliau.”
“Apakah suratnya asli?”
“Tidak. Tanda tangannya dipalsukan.”
Aku menggenggam ponsel erat.
Jadi mereka bukan sekadar ingin mencuri.
Mereka bahkan sudah memalsukan dokumen.
“Pak, jangan ditolak dulu.”
“Maksud Ibu?”
“Pura-pura percaya.”
“Baik.”
Malam itu aku mengumpulkan semua rekaman CCTV.
Rekaman mereka membuka brankas.
Rekaman percakapan tentang mencuri sertifikat.
Rekaman saat mereka memalsukan tanda tangan.
Semua kusimpan di cloud dan kukirim kepada pengacaraku.
Hari keempat, acara tahlilan terakhir selesai.
Begitu tamu terakhir pulang, ibu mertuaku berdiri di ruang tengah.
“Waktunya bicara soal warisan.”
Aku tersenyum.
“Silakan.”
“Demi keadilan, rumah ini harus dijual.”
“Kenapa?”
“Karena Firman anak Ibu.”
“Rumah ini milik saya.”
“Masa bodoh.”
Mbak Mega ikut maju.
“Kami sudah punya bukti kalau semua aset ini dibeli saat Firman masih hidup.”
Aku mengangguk pelan.
“Lalu?”
“Kami juga sudah pegang salinan sertifikat.”
Aku sengaja memperlihatkan wajah terkejut.
“Oh begitu?”
“Iya.”
“Kalau begitu ayo kita ke kantor notaris.”
Mereka saling berpandangan.
Mungkin mereka mengira aku mulai takut.
Padahal justru itulah yang kutunggu.
Di kantor notaris, ibu mertuaku langsung menyerahkan semua berkas.
“Inilah bukti bahwa rumah ini milik anak saya.”
Notaris membuka map itu perlahan.
Beberapa detik kemudian ia mengangkat wajah.
“Bu…”
“Ya?”
“Ini semuanya fotokopi.”
Wajah ibu mertuaku berubah.
“Tidak mungkin.”
“Dan nomor sertifikatnya juga berbeda.”
Mbak Mega langsung panik.
“Tapi kami mengambilnya dari brankas.”
Notaris menatap mereka heran.
“Mengambil?”
Ruangan langsung sunyi.
Mereka sadar baru saja mengakui sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan.
Aku menatap mereka sambil tersenyum tipis.
“Saya rasa sekarang saatnya kita melihat sesuatu.”
Aku mengangguk kepada pengacaraku.
Layar televisi besar di ruang rapat langsung menyala.
Video pertama muncul.
Mbak Mega membuka brankas.
Video kedua.
Percakapan mereka merencanakan pencurian.
Video ketiga.
Pemalsuan tanda tangan.
Video keempat.
Pembicaraan tentang menggadaikan seluruh asetku.
Wajah ibu mertuaku memucat.
“A-aku…”
“Itu bukan…”
Belum sempat mereka mencari alasan, dua polisi masuk ke ruangan.
“Selamat siang.”
Pengacaraku berdiri.
“Kami melaporkan dugaan pencurian dokumen, percobaan penipuan, dan pemalsuan tanda tangan.”
Ibu mertuaku langsung berlutut.
“Ririn… tolong… Ibu khilaf.”
Aku menatap perempuan yang dulu memanggilku anak.
“Ketika Firman meninggal, Ibu bahkan tidak sempat memeluk saya.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Yang Ibu pikirkan hanya mobil, rumah, dan uang.”
Ia menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan Ibu…”
Aku menggeleng.
“Maaf bisa diberikan.”
“Lalu?”
“Tetapi setiap perbuatan tetap memiliki konsekuensi.”
Polisi membawa mereka keluar.
Beberapa wartawan yang entah bagaimana sudah mengetahui kasus itu langsung mengerubungi mereka.
Berita tentang percobaan perebutan harta menantu menjadi pembicaraan di seluruh kota.
Namun kejutan terbesar belum selesai.
Seminggu kemudian aku dipanggil kembali oleh notaris.
“Bu Ririn.”
“Iya?”
“Ada surat yang dititipkan almarhum Firman kepada saya enam bulan sebelum meninggal.”
Tanganku bergetar saat menerima amplop itu.
Aku mengenali tulisan tangan suamiku.
Ririn.
Kalau kamu membaca surat ini, berarti kemungkinan besar aku sudah tidak bisa menemanimu lagi.
Aku mengenal ibuku lebih lama daripada siapa pun.
Aku tahu dia mencintai uang melebihi apa pun.
Karena itu aku memindahkan seluruh aset yang kubeli atas namamu.
Bukan karena aku tidak percaya kepada keluargaku.
Aku hanya ingin memastikan perempuan yang paling mencintaiku tidak akan kehilangan tempat tinggal hanya karena aku pergi lebih dulu.
Kalau suatu hari mereka menyakitimu, jangan balas dengan kebencian.
Balaslah dengan kebenaran.
Karena kebohongan selalu memiliki batas waktu.
Aku menutup surat itu sambil menangis.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku benar-benar merasa kehilangan Firman.
Bukan karena rumah.
Bukan karena harta.
Melainkan karena lelaki itu bahkan sudah melindungiku setelah kematiannya.
Beberapa bulan berlalu.
Rumah kembali tenang.
Aku mendirikan sebuah yayasan kecil atas nama Firman yang membantu para janda dan keluarga yang kehilangan tulang punggung mereka.
Sebagian keuntungan dari perusahaan yang dulu kami bangun bersama kualokasikan untuk beasiswa anak-anak yatim.
Suatu sore, ketika aku sedang menyiram bunga di halaman, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Seorang perempuan tua turun perlahan.
Tubuhnya jauh lebih kurus daripada terakhir kali kulihat.
Itu ibu mertuaku.
Ia baru saja bebas setelah menjalani hukuman.
Tangannya gemetar membawa sebuah kantong plastik.
“Aku… tidak datang meminta apa pun.”
Aku diam.
Ia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto Firman kecil sedang tersenyum sambil memeluknya.
“Aku kehilangan anakku.”
Air matanya mengalir.
“Lalu karena keserakahanku… aku juga kehilangan diriku sendiri.”
Aku memandang wajahnya cukup lama.
Dendam yang dulu terasa begitu besar kini perlahan berubah menjadi rasa iba.
Aku tidak mengundangnya masuk.
Tetapi aku juga tidak mengusirnya.
Aku hanya berkata pelan, “Firman pasti ingin kita berhenti saling menyakiti.”
Perempuan tua itu menangis tanpa suara.
Hari itu aku menyadari satu hal.
Warisan terbesar yang ditinggalkan Firman bukanlah rumah, mobil, atau rekening bank.
Melainkan keberanian untuk tetap memilih kejujuran, bahkan ketika dikhianati oleh orang yang pernah dianggap keluarga.
