Saya baru tahu bahwa sebuah pernikahan bisa berakhir bahkan sebelum bunga-bunga di pelaminan layu.
Malam itu saya duduk di kursi belakang mobil manajer saya, Rani, masih mengenakan gaun pengantin yang penuh noda cokelat dan sirup merah. Luka di pipi sudah ditutup kain kasa kecil oleh petugas medis hotel, tetapi rasa perihnya tidak seberapa dibandingkan dengan satu foto yang terpampang di layar ponsel saya.
Maya duduk di mobil Arga.
Memegang buket bunga saya.
Walau seluruh dunia marah, setidaknya masih ada satu orang yang selalu memilihku.

Saya menatap kalimat itu sampai layar ponsel meredup.
Rani yang duduk di samping saya mengambil ponsel dari tangan saya.
“Jangan lihat lagi.”
“Enam brand, Ran.”
“Saya tahu.”
“Dua minta ganti rugi.”
“Kita urus besok.”
Saya menoleh ke jendela. Lampu-lampu Jakarta bergerak seperti garis panjang di balik kaca.
“Delapan tahun saya membangun nama saya. Lima belas tahun saya membangun hubungan saya. Semuanya bisa rusak dalam lima menit.”
Rani terdiam beberapa saat.
“Hubunganmu mungkin rusak,” katanya akhirnya. “Tapi pekerjaanmu belum tentu.”
Saya tidak mengerti maksudnya sampai keesokan paginya.
Pukul delapan, saya tiba di kantor agensi dengan luka yang mulai membengkak. Saya tidak memakai makeup. Rambut saya hanya diikat seadanya.
Di ruang rapat sudah ada Rani, direktur agensi, dua orang dari bagian legal, dan perwakilan brand kosmetik terbesar yang bekerja sama dengan saya.
Saya sudah menyiapkan diri untuk kehilangan semuanya.
Direktur agensi, Pak Hendra, membuka laptop.
“Nadira, sebelum kita mulai, saya perlu memastikan sesuatu. Apakah kamu mengetahui rencana prank itu?”
“Tidak.”
“Apakah kamu menyetujuinya?”
“Tidak.”
“Apakah pihak wedding organizer terlibat?”
“Saya tidak tahu.”
Pak Hendra memutar rekaman.
Bukan rekaman livestream yang saya lihat kemarin.
Rekaman CCTV ballroom.
Terlihat Maya datang hampir empat puluh menit sebelum akad selesai. Dia berbicara dengan tiga teman Arga di dekat pintu servis.
Kemudian Arga muncul.
Jantung saya berdegup semakin cepat.
Dalam rekaman tanpa suara itu, Maya menunjuk dekorasi dessert. Salah seorang teman menunjukkan sesuatu dari ponselnya. Arga melihatnya, kemudian tertawa.
Mereka melakukan simulasi.
Bahkan posisi tempat saya harus berdiri sudah ditentukan.
Saya meremas tangan sendiri.
“Dari mana rekaman ini?”
“Hotel,” jawab Pak Hendra. “Tim legal meminta salinannya tadi malam.”
Video berikutnya berasal dari kamera staf katering.
Kali ini ada suara.
Maya terdengar berkata, “Pokoknya pas Nadira buka penutup mata, kameranya harus dekat. Mukanya harus kelihatan.”
Seseorang tertawa.
“Kalau ngamuk gimana?”
Suara Arga terdengar jelas.
“Paling ngambek sebentar. Gue yang urus.”
Ruangan terasa dingin.
Lalu Maya bertanya, “Kalau sampai kena mukanya?”
Arga menjawab sambil tertawa.
“Jangan keras-keras. Besok dia masih ada live.”
Saya menutup mata.
Jadi dia tahu.
Bukan sekadar mengetahui ada lelucon.
Dia tahu bagaimana lelucon itu akan dilakukan.
Dia tahu kamera akan diarahkan ke wajah saya.
Dia tahu saya mungkin terluka.
Dan dia tetap membiarkannya.
Perwakilan brand kosmetik yang duduk di depan saya kemudian mendorong sebuah dokumen.
“Kami tidak akan menuntut Anda.”
Saya menatapnya.
“Justru kami mempertimbangkan untuk melanjutkan kampanye.”
Saya mengernyit.
“Tapi semalam…”
“Semalam tim kami belum tahu kronologinya. Sekarang videonya sudah viral dan opini publik berubah.”
Rani menyerahkan ponsel.
Tagar tentang saya menduduki posisi teratas.
Namun bukan lagi orang yang menertawakan wajah saya.
Orang-orang mulai mempertanyakan Arga dan Maya.
Potongan video saat Arga berkata cuma bercanda tersebar di mana-mana.
Lebih buruk lagi, seseorang mengunggah rekaman saat Arga menarik Maya ke belakang tubuhnya dan mengatakan saya tidak boleh mempermalukannya.
Komentar yang paling banyak disukai berbunyi:
Istrinya berdarah, tapi perempuan lain yang dilindungi.
Saya mengembalikan ponsel.
Aneh sekali.
Kemarin saya takut seluruh dunia menertawakan saya.
Hari ini seluruh dunia membela saya.
Namun itu tidak membuat hati saya terasa lebih ringan.
Siang harinya Arga akhirnya menelepon.
Bukan sekali.
Dua puluh tiga kali.
Saya tidak menjawab.
Kemudian pesan masuk.
Kita perlu bicara.
Saya tetap diam.
Pesan kedua.
Jangan percaya semua yang kamu lihat di internet.
Pesan ketiga.
Maya sampai demam karena dihujat orang.
Saya tertawa ketika membacanya.
Bukan karena lucu.
Karena bahkan setelah semuanya terjadi, perempuan itu tetap menjadi pusat kekhawatirannya.
Saya mengetik satu kalimat.
Saya akan datang ke apartemen pukul empat untuk mengambil barang saya.
Balasannya datang cepat.
Kita selesaikan sebagai suami istri.
Saya mematikan ponsel.
Ketika tiba di apartemen, Arga sudah menunggu.
Dia masih memakai cincin nikah.
Untuk sesaat, melihatnya berdiri di ruang tamu membuat dada saya sakit.
Di ruangan itulah kami memilih warna dinding bersama.
Di sofa itulah kami menyusun daftar tamu.
Di meja makan itulah dia pernah menggenggam tangan saya dan berkata, “Sebentar lagi kamu resmi jadi keluarga saya.”
Sekarang saya bahkan tidak tahu apa arti keluarga baginya.
Arga mendekat.
“Nad.”
Saya mundur.
“Jangan sentuh saya.”
Dia berhenti.
Wajahnya tampak lelah.
“Saya salah.”
Saya tidak menjawab.
“Saya benar-benar enggak tahu dekorasinya bakal pecah dan melukai kamu.”
“Tapi kamu tahu prank-nya.”
Dia diam.
“Kamu tahu?”
“Iya.”
Satu kata itu menghancurkan sisa harapan yang bahkan tidak sadar masih saya miliki.
Saya berjalan ke kamar.
Arga mengikuti.
“Saya kira cuma dessert jatuh. Maya bilang bahannya lembut.”
“Dan menurut kamu menjatuhkan makanan ke pengantin perempuan di depan seratus ribu orang itu normal?”
“Enggak.”
“Lalu kenapa?”
Arga mengusap wajah.
“Karena Maya minta.”
Saya berhenti memasukkan pakaian ke koper.
Akhirnya.
Jawaban paling jujur setelah lima belas tahun.
Karena Maya minta.
Saya menatapnya.
“Kalau dia meminta kamu meninggalkan saya?”
Arga langsung menjawab, “Dia enggak akan begitu.”
Saya tersenyum tipis.
“Kamu bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan saya.”
“Nadira, hubungan saya dengan Maya tidak seperti yang kamu pikir.”
“Saya tidak peduli kalian tidur bersama atau tidak.”
Wajahnya berubah.
“Yang menghancurkan pernikahan kita bukan perselingkuhan fisik. Yang menghancurkannya adalah selama lima belas tahun, saya selalu berada di posisi kedua.”
“Itu enggak benar.”
“Ulang tahun saya yang ke dua puluh tujuh.”
Arga terdiam.
“Kita sedang makan malam. Maya menelepon karena katanya sesak napas. Kamu meninggalkan saya. Ternyata dia cuma panik karena cicak masuk kamar.”
“Nad…”
“Peluncuran produk pertama saya. Kamu berjanji datang. Maya bertengkar dengan pacarnya. Kamu menemaninya minum kopi sampai tengah malam.”
Dia tidak menjawab.
“Hari ayah saya masuk rumah sakit, kamu bilang ada rapat. Saya baru tahu tiga bulan kemudian kamu mengantar Maya ke Bandung.”
“Nadira…”
“Dan kemarin, bahkan saat wajah saya berdarah, kamu memeluk dia.”
Mata Arga mulai memerah.
Saya menutup koper.
“Tidak ada ruang untuk saya dalam pernikahan yang selalu dihuni tiga orang.”
Saat saya hendak pergi, bel apartemen berbunyi.
Arga membuka pintu.
Maya berdiri di sana.
Saya benar-benar tidak terkejut lagi.
Matanya sembap, wajahnya tanpa makeup.
Begitu melihat saya, dia langsung berkata, “Kak, aku mau minta maaf.”
Saya mengangkat koper.
“Tidak perlu.”
Dia menghalangi jalan.
“Please. Aku salah.”
“Minggir.”
“Tapi Kak Nadira juga harus tahu sesuatu.”
Arga langsung memotong.
“Maya, pulang.”
Maya menatapnya.
“Mas, dia harus tahu.”
Untuk pertama kalinya saya melihat kepanikan nyata di wajah Arga.
“Maya.”
Saya meletakkan koper.
“Apa?”
Maya menggigit bibir.
“Sebenarnya kemarin bukan pertama kali Mas Arga membantu aku membuat konten tentang Kak Nadira.”
Ruangan mendadak sunyi.
Saya menatap Arga.
“Apa maksudnya?”
Maya mulai menangis.
“Foto Kak Nadira tanpa makeup yang dulu viral itu… Mas Arga yang kirim.”
Saya merasa darah meninggalkan wajah saya.
Maya melanjutkan.
“Foto Kak Nadira ketiduran waktu perjalanan ke Bali juga dari Mas Arga.”
“Cukup!” bentak Arga.
Tetapi Maya justru semakin keras bicara.
“Waktu followers Kak Nadira marah karena ada chat yang bilang Kak Nadira posesif, screenshot itu juga dikasih Mas Arga.”
Saya menatap laki-laki di depan saya.
Selama bertahun-tahun saya mengira Maya adalah sumber masalah dan Arga hanya terlalu lemah untuk menghentikannya.
Ternyata saya salah.
Arga bukan penonton.
Dia ikut bermain.
“Kenapa?” suara saya hampir tidak terdengar.
Arga memandang lantai.
Maya menjawab lebih dulu.
“Karena konten tentang Kak Nadira selalu ramai.”
Saya tidak langsung memahami.
Kemudian sesuatu terlintas di kepala saya.
Akun gosip kecil yang selama bertahun-tahun selalu pertama kali mengunggah kejadian memalukan saya.
Akun bernama JakartaBersuara.
Saya menatap Maya.
“Kalian yang pegang akun itu?”
Maya pucat.
Jawabannya sudah jelas.
Arga mencoba mendekati saya.
“Nadira, dengarkan dulu.”
Saya mundur.
“Berapa lama?”
Dia diam.
“Berapa lama, Arga?”
“Tiga tahun.”
Saya hampir kehilangan keseimbangan.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun, suami saya sendiri memberikan potongan kehidupan pribadi saya kepada sebuah akun anonim.
“Kenapa?”
Arga akhirnya menatap saya.
“Awalnya cuma bercanda. Tapi akun itu tumbuh. Endorse masuk. Penghasilannya lumayan.”
Saya tertawa.
Suara saya terdengar asing.
“Jadi kalian menghasilkan uang dari mempermalukan saya?”
“Tidak sesederhana itu.”
“Berapa?”
Arga tidak menjawab.
Maya berbisik, “Hampir dua miliar selama tiga tahun.”
Saya memejamkan mata.
Tiba-tiba semua kejadian kecil memiliki bentuk.
Foto bocor.
Percakapan pribadi.
Rumor.
Potongan video.
Semua yang saya kira kebetulan ternyata berasal dari orang yang tidur di samping saya hampir setiap malam.
Saya membuka ponsel dan menelepon Rani.
“Ran.”
“Ada apa?”
“Saya punya informasi baru. Hubungi tim legal.”
Arga langsung merebut ponsel saya, tetapi saya mundur.
“Nadira, jangan gila.”
Saya menatapnya.
“Kamu takut?”
“Ini bisa menghancurkan hidup banyak orang.”
Saya hampir tidak percaya mendengarnya.
“Lucu. Kemarin kamu bilang cuma bercanda ketika hidup saya yang dihancurkan.”
Maya mulai panik.
“Kak, aku sudah minta maaf.”
“Permintaan maaf tidak menghapus tiga tahun.”
Saya mengambil koper dan berjalan keluar.
Kali ini Arga mengejar.
Dia berdiri di depan lift.
“Nadira.”
Saya menekan tombol.
“Kita sudah lima belas tahun bersama.”
Saya menatapnya.
“Justru itu yang paling menyakitkan.”
Pintu lift terbuka.
“Karena kamu punya lima belas tahun untuk belajar menghargai saya, tapi kamu memilih belajar bagaimana menghasilkan uang dari mempermalukan saya.”
Tiga hari kemudian, melalui kuasa hukum, saya mengajukan gugatan cerai sekaligus laporan terkait penyalahgunaan materi pribadi dan kerugian komersial.
Maya menyerahkan akses akun JakartaBersuara kepada tim hukum demi meringankan posisinya.
Dari sanalah kejutan terakhir muncul.
Di arsip pesan akun tersebut ditemukan sebuah percakapan yang dikirim dua malam sebelum pernikahan.
Maya menulis:
Kalau prank ini berhasil viral, kita bagi seperti biasa?
Arga menjawab:
Kali ini enggak usah bagi.
Maya bertanya:
Kenapa?
Balasan Arga hanya satu kalimat.
Anggap saja hadiah pernikahan buat gue. Setelah nikah, Nadira bakal susah dikontrol kalau kariernya makin besar.
Saya membaca kalimat itu berkali-kali.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan, saya tidak menangis.
Saya justru merasa bebas.
Enam bulan kemudian, saya kembali melakukan livestream.
Bukan untuk menjual kosmetik.
Bukan untuk membicarakan pernikahan saya.
Saya menjadi pembicara dalam kampanye digital tentang batas privasi dan kekerasan psikologis di media sosial.
Sebelum siaran dimulai, Rani bertanya, “Gugup?”
Saya tersenyum.
“Sedikit.”
Lampu kamera menyala.
Jumlah penonton naik cepat.
Sepuluh ribu.
Lima puluh ribu.
Seratus ribu.
Dulu angka itu membuat saya merasa telanjang.
Sekarang tidak lagi.
Saya melihat pantulan wajah sendiri di monitor.
Bekas luka kecil masih terlihat samar di pipi kiri.
Dokter pernah menawarkan prosedur untuk menghilangkannya.
Saya menolak.
Bukan karena saya ingin mengingat Arga.
Justru sebaliknya.
Saya ingin mengingat perempuan yang akhirnya memilih dirinya sendiri.
Beberapa menit sebelum siaran berakhir, sebuah komentar muncul.
Saya mengenali nama akunnya.
Arga Pratama.
Maaf.
Hanya satu kata.
Saya melihatnya beberapa detik.
Kemudian tersenyum ke kamera.
“Sebelum kita selesai, saya ingin mengatakan satu hal.”
Komentar berhenti seolah semua orang menunggu.
“Kadang-kadang kita mengira cinta yang bertahan lama pasti cinta yang sehat. Padahal waktu tidak selalu membuktikan ketulusan. Kadang waktu hanya menunjukkan seberapa lama kita sanggup memaklumi sesuatu yang sebenarnya tidak pantas kita terima.”
Saya menarik napas.
“Lima belas tahun bukan alasan untuk memberikan tahun keenam belas kepada orang yang salah.”
Saya mengakhiri livestream.
Layar menjadi gelap.
Di pantulannya saya melihat wajah saya sendiri.
Tidak ada gaun pengantin.
Tidak ada cincin.
Tidak ada Arga.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun, saya tidak merasa kehilangan siapa pun.
Saya akhirnya menemukan kembali orang yang paling lama saya tinggalkan.
Diri saya sendiri.
