Tak seorang pun di Desa San Miguel Bunga-Bunga pernah menyangka bahwa dua orang yang selama puluhan tahun menjadi lambang kerja keras dan kasih sayang akan menghabiskan masa tua mereka di sebuah rumah kosong yang nyaris roboh. Setiap kali hujan turun, air merembes dari atap yang berlubang. Saat malam tiba, angin dingin masuk melalui celah-celah dinding kayu yang lapuk. Namun, yang paling menyakitkan bukanlah rasa lapar ataupun dinginnya malam, melainkan kenyataan bahwa semua itu terjadi setelah mereka mengorbankan seluruh hidup demi anak-anak yang sangat mereka cintai.
Aurelio Mendoza duduk di beranda rumah yang telah lama ditinggalkan itu sambil menatap sawah di kejauhan. Tangan tuanya yang penuh kapalan masih menggenggam cangkul tua, seolah-olah benda itu adalah satu-satunya hal yang tersisa dari masa lalunya. Di sampingnya, Carmen Esperanza sedang menjahit pakaian robek miliknya sendiri dengan benang yang hampir habis.

“Besok aku akan mencoba mencari pekerjaan lagi,” ucap Aurelio pelan.
Carmen mengangkat wajahnya dan tersenyum, meski matanya menyimpan kelelahan yang tak mampu disembunyikan.
“Usiamu sudah tujuh puluh dua tahun. Tubuhmu tidak lagi sekuat dulu.”
“Aku masih bisa bekerja. Selama aku masih bisa berdiri, aku tidak ingin kita meminta-minta.”
Carmen menggenggam tangan suaminya.
“Kita sudah melalui banyak hal. Tuhan tidak akan meninggalkan kita.”
Aurelio mengangguk, tetapi jauh di dalam hatinya ia mulai kehilangan harapan.
Dulu, mereka memiliki rumah sederhana yang dibangun sedikit demi sedikit selama hampir tiga puluh tahun. Mereka menabung setiap sen hasil bekerja di sawah, menjual kue, menjahit pakaian, bahkan rela tidak membeli pakaian baru selama bertahun-tahun agar kelima anak mereka bisa bersekolah.
Roberto menjadi orang pertama yang lulus kuliah. Setelah mendapat pekerjaan di kota, ia berjanji akan mengangkat kehidupan keluarganya.
“Ayah, Ibu. Mulai sekarang biar aku yang membantu. Kalian sudah terlalu lama menderita.”
Beberapa tahun kemudian Miguel menyusul sukses sebagai kontraktor. Patricia menikah dengan seorang pengusaha. Esperanza bekerja di perusahaan besar, sedangkan Joaquin membuka usaha transportasi.
Penduduk desa sering berkata bahwa Aurelio dan Carmen adalah orang tua paling beruntung karena semua anak mereka berhasil.
Mereka sendiri percaya hal itu.
Hingga suatu hari Roberto datang membawa sebuah usulan.
“Ayah, rumah ini sudah tua. Lebih baik dijual saja. Uangnya kita gunakan membeli rumah baru yang lebih dekat dengan kota. Kami semua akan mengurusnya.”
Miguel langsung menambahkan, “Benar, Ayah. Biar sertifikat rumah dipindahkan dulu supaya proses administrasinya mudah.”
Aurelio tidak mengerti urusan hukum. Ia hanya memandang Carmen.
“Bagaimana menurutmu?”
Carmen tersenyum.
“Anak-anak kita pasti tidak mungkin mencelakai kita.”
Dengan penuh kepercayaan, mereka menandatangani semua dokumen yang diberikan.
Beberapa bulan berlalu tanpa kabar.
Rumah baru yang dijanjikan tak pernah ada.
Sebaliknya, datang surat pemberitahuan bahwa rumah mereka telah berpindah kepemilikan dan mereka diminta segera mengosongkan bangunan itu.
Saat Aurelio mendatangi Roberto, anak sulungnya bahkan tidak mau membuka pintu.
Melalui interkom, suara Roberto terdengar dingin.
“Ayah… semua sudah selesai secara hukum.”
“Apa maksudmu?”
“Rumah itu sekarang milik kami berlima.”
“Lalu Ayah dan Ibu tinggal di mana?”
“Itu bukan urusan kami lagi.”
Kalimat itu menghantam hati Aurelio lebih keras daripada pukulan apa pun.
Miguel bahkan berkata lebih kejam.
“Kalau sejak muda Ayah lebih pintar mengatur uang, sekarang tidak akan begini.”
Patricia hanya mengirim pesan singkat.
“Maaf, kami juga punya keluarga yang harus dipikirkan.”
Esperanza tidak pernah lagi mengangkat telepon.
Joaquin, anak bungsu yang dulu paling manja, bahkan memblokir semua nomor orang tuanya.
Dalam hitungan minggu, pasangan tua itu kehilangan rumah, tabungan, dan hampir seluruh barang berharga yang mereka miliki.
Satu-satunya tempat yang bisa mereka tempati hanyalah rumah kosong milik pemerintah desa yang sudah lama tidak dihuni.
Warga desa merasa iba.
Setiap ada yang memberi beras atau sayur, Aurelio selalu mengucapkan terima kasih sambil berkata bahwa suatu hari nanti ia akan membalas kebaikan mereka.
Padahal semua orang tahu, ia bahkan kesulitan membeli obat untuk dirinya sendiri.
Meski begitu, Aurelio tidak pernah membenci anak-anaknya.
Setiap malam ia tetap berdoa.
“Ya Tuhan… jangan hukum mereka karena apa yang mereka lakukan kepada kami. Bukalah hati mereka.”
Carmen sering menangis diam-diam ketika suaminya tertidur.
Bukan karena kehilangan rumah.
Melainkan karena ia merasa gagal menjadi seorang ibu.
Di sela kesunyian malam, sebuah kenangan lama kembali muncul.
Empat puluh lima tahun sebelumnya.
Saat itu Carmen baru berusia tujuh belas tahun.
Ia mengandung seorang bayi dari pemuda yang berjanji akan menikahinya.
Namun ketika mengetahui kehamilan itu, pria tersebut menghilang tanpa jejak.
Keluarga Carmen dipermalukan.
Desa mulai membicarakannya.
Ia nyaris mengakhiri hidupnya karena malu.
Pada saat paling gelap itulah Aurelio datang.
“Aku tahu semuanya,” katanya waktu itu.
Carmen menangis tanpa berani menatap wajahnya.
“Aku sudah tidak punya masa depan.”
Aurelio menggeleng pelan.
“Kalau kau bersedia, biarkan aku menjadi bagian dari hidupmu.”
“Tapi aku sedang mengandung anak orang lain.”
“Aku mencintaimu, bukan masa lalumu.”
Beberapa bulan kemudian bayi laki-laki itu lahir.
Mereka menatap wajah mungilnya dengan air mata bercampur bahagia dan sedih.
Aurelio bahkan sempat menggendong bayi itu sambil berkata, “Andai aku mampu membesarkanmu.”
Namun kenyataan terlalu kejam.
Mereka miskin.
Tekanan masyarakat semakin besar.
Akhirnya, dengan hati yang hancur, mereka menyerahkan bayi itu kepada sebuah yayasan adopsi yang bekerja sama dengan pasangan dari luar negeri.
Sebelum berpisah, Carmen mencium kening bayinya berkali-kali.
“Maafkan Ibu… semoga hidupmu jauh lebih baik daripada bersama kami.”
Sejak hari itu mereka berjanji tidak akan pernah lagi membicarakan anak tersebut.
Bukan karena melupakannya.
Tetapi karena luka itu terlalu dalam untuk disentuh kembali.
Kini, puluhan tahun kemudian, ketika semua anak yang mereka besarkan justru meninggalkan mereka, kenangan tentang bayi itu terus menghantui Carmen.
Suatu malam ia berkata lirih kepada Aurelio.
“Apakah menurutmu… dia masih hidup?”
Aurelio menatap langit yang dipenuhi bintang.
“Aku berharap begitu.”
“Bagaimana kalau dia membenci kita?”
“Kalau aku menjadi dia… mungkin aku juga akan marah.”
Carmen menundukkan kepala.
“Aku sering bermimpi melihat seorang pria berdiri di depan rumah sambil memanggilku Ibu.”
Aurelio tersenyum pahit.
“Mungkin Tuhan sedang menghiburmu.”
Tanpa mereka sadari, ribuan kilometer dari desa kecil itu, seorang pria berusia empat puluh enam tahun sedang berdiri di depan jendela kantor pencakar langit di New York.
Namanya kini bukan lagi nama yang diberikan saat lahir.
Ia dikenal dunia sebagai Daniel Reyes, pendiri perusahaan teknologi yang nilainya mencapai ratusan juta dolar.
Tidak ada seorang pun di ruang rapat itu yang mengetahui bahwa pria sukses tersebut sebenarnya lahir di sebuah desa miskin di Filipina sebelum diadopsi oleh pasangan Amerika ketika masih bayi.
Selama bertahun-tahun Daniel hidup bahagia bersama orang tua angkatnya.
Mereka memberinya pendidikan terbaik, kasih sayang tanpa syarat, dan kesempatan yang mengubah hidupnya.
Namun sebelum ayah angkatnya meninggal dunia, sebuah kotak kayu kecil diserahkan kepadanya.
“Ini milikmu. Kami menunggu sampai kau siap.”
Di dalamnya terdapat selembar surat adopsi yang telah menguning, sebuah gelang bayi, dan secarik kertas bertuliskan dua nama.
Aurelio Mendoza.
Carmen Esperanza.
Sejak malam itu, kehidupan Daniel berubah selamanya.
Ia mulai bertanya-tanya.
Siapa sebenarnya kedua orang itu?
Apakah mereka masih hidup?
Apakah mereka sengaja meninggalkannya, ataukah ada alasan yang tidak pernah ia ketahui?
Ia menyewa penyelidik terbaik untuk menelusuri asal-usulnya.
Enam bulan kemudian, laporan lengkap akhirnya tiba di mejanya.
Namun kalimat pertama dalam laporan itu membuat darahnya seolah berhenti mengalir.
“Orang tua kandung Anda masih hidup. Mereka kini tinggal di sebuah rumah terbengkalai setelah kehilangan seluruh harta mereka akibat ulah anak-anak mereka sendiri.”
Daniel membaca kalimat itu berulang-ulang.
Tangannya bergetar.
Matanya mulai dipenuhi air mata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada seluruh kekayaan yang telah ia kumpulkan.
Tanpa memberi tahu siapa pun, ia menutup laptopnya, membatalkan seluruh jadwal bisnis internasional selama satu bulan, lalu memesan tiket penerbangan menuju tanah kelahirannya.
Ia belum tahu bagaimana pertemuan itu akan terjadi.
Ia belum tahu apakah kedua orang tua kandungnya masih mengingat bayi yang pernah mereka lepaskan puluhan tahun silam.
Namun satu hal telah ia putuskan.
Apa pun yang menanti di ujung perjalanan itu, ia tidak akan membiarkan mereka menghabiskan sisa hidup dalam kesepian dan kemiskinan.
