IBA-IBAAN IBU MERTUA SELALU TERIAK BAHWA MENANTUNYA DI RUMAH SENDIRIAN, TETAPI DIBALAS MENANTU DENGAN BONGKAR RAHASIA UANGNYA DI DEPAN WARGA!

Pesan yang saya kirim kepada adik saya hanya terdiri dari satu kalimat.

Tolong cari tahu apakah rumah Ibu dan Bapak benar benar rusak karena banjir, dan kalau bisa, cek juga apa yang sedang dilakukan Mas Bagus belakangan ini.

Adik saya, Rina, tidak langsung bertanya macam macam. Dia hanya membalas singkat bahwa dia akan mencoba menghubungi teman lamanya yang kebetulan tinggal tidak jauh dari kampung mertua saya.

Sejak saat itu, saya memilih diam.

Saya tahu menghadapi ibu mertua dengan emosi hanya akan membuat keadaan semakin buruk. Apalagi saya sedang hamil muda. Dokter sudah mengingatkan agar saya tidak terlalu stres karena beberapa hari sebelumnya saya sempat mengalami flek ringan.

Namun sikap diam saya rupanya dianggap sebagai kelemahan.

Keesokan paginya, ibu mertua kembali berdiri di depan pagar.

Seperti biasa, taman kecil di depan rumah mulai ramai oleh ibu ibu yang baru selesai jalan pagi.

Beliau sengaja meninggikan suara.

Lan, Ibu mau keluar sebentar. Kamu sendirian di rumah, jangan buka pintu untuk siapa pun ya.

Saya sedang menyiram tanaman di teras.

Saya menoleh, lalu menjawab dengan suara tenang.

Iya, Bu. Ibu juga hati hati bawa gelang emas tiga buah itu. Jangan dipakai semua kalau cuma mau beli gorengan.

Wajah beliau langsung pucat.

Tangannya refleks menarik lengan baju panjang hingga menutupi pergelangan tangannya.

Beberapa ibu yang duduk di taman menoleh.

Ibu mertua saya langsung masuk kembali ke rumah sambil membanting pintu.

Begitu kami berada di dalam, beliau menunjuk wajah saya.

Kamu sengaja mempermalukan saya.

Saya meletakkan selang air dengan tenang.

Saya cuma melakukan hal yang sama seperti Ibu. Ibu mengumumkan keadaan saya kepada orang luar, saya mengingatkan keadaan Ibu kepada orang luar.

Kamu menantang saya sekarang?

Saya menatapnya lurus.

Saya cuma ingin Ibu berhenti memberitahu semua orang kalau saya sendirian di rumah.

Beliau tertawa sinis.

Memangnya siapa yang peduli sama kamu?

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat tengkuk saya meremang.

Saya tidak menjawab.

Sejak hari itu, saya mulai memperhatikan setiap gerak geriknya.

Ada hal lain yang terasa ganjil.

Ibu mertua saya sering menerima telepon pada malam hari. Beliau selalu masuk ke kamar mandi atau keluar ke belakang rumah sebelum menjawab.

Suatu malam, ketika Hendra sedang lembur, saya mendengar suara beliau dari dapur.

Bagus sudah bilang belum?

Saya berhenti melangkah.

Suara ibu mertua terdengar pelan.

Jangan lama lama. Kalau sampai Hendra tahu, semua bisa berantakan.

Saya menahan napas.

Lalu terdengar lagi.

Yang penting sertifikatnya dulu. Soal Lani, nanti Ibu atur.

Jantung saya berdegup lebih cepat.

Sertifikat apa?

Saya segera kembali ke kamar sebelum beliau menyadari keberadaan saya.

Malam itu saya tidak bisa tidur.

Rumah yang kami tempati bukan rumah keluarga Hendra.

Rumah itu dibeli oleh saya dan Hendra setelah menikah. Uang muka berasal dari tabungan saya sebelum menikah, sedangkan cicilan dibayar bersama.

Sertifikat masih berada di bank karena rumah tersebut masih dalam masa kredit.

Tetapi beberapa dokumen penting, termasuk salinan perjanjian kredit, bukti pembayaran uang muka, dan dokumen pribadi kami, tersimpan di lemari besi kecil di kamar.

Keesokan harinya, saya memeriksanya.

Amplop berisi fotokopi sertifikat dan surat perjanjian kredit sudah berpindah posisi.

Saya yakin.

Saya memiliki kebiasaan menyusun dokumen berdasarkan warna map. Tidak mungkin saya salah ingat.

Sore harinya Rina menelepon.

Mbak, aku sudah dapat kabar.

Saya langsung masuk kamar dan mengunci pintu.

Gimana?

Rumah mertua Mbak tidak rusak karena banjir.

Saya membeku.

Rina melanjutkan.

Memang ada banjir di desa sebelah dua bulan lalu, tapi rumah mereka aman. Temanku bahkan kirim foto tadi pagi. Rumahnya masih utuh.

Saya mencengkeram telepon.

Lalu kenapa mereka datang ke Jakarta?

Nah, ini yang aneh.

Suara Rina terdengar lebih serius.

Tetangga di kampung bilang Bapak dan Ibu mertua Mbak menjual sebagian tanah warisan sekitar dua bulan lalu.

Dijual?

Iya. Katanya uangnya buat bantu usaha Mas Bagus.

Saya langsung teringat tas kecil, gelang emas, dan percakapan tentang sertifikat.

Berapa?

Katanya hampir empat ratus juta.

Saya terdiam cukup lama.

Empat ratus juta bukan jumlah kecil.

Kalau uang itu benar benar diberikan kepada Mas Bagus, kenapa ibu mertua justru tinggal di rumah kami dan berpura pura tidak punya tempat tinggal?

Rina belum selesai.

Ada lagi.

Apa?

Mas Bagus punya masalah utang.

Tubuh saya menegang.

Usahanya rugi. Katanya dia pinjam uang dari beberapa orang buat bisnis distribusi alat elektronik. Sekarang ada orang yang sering datang menagih ke rumahnya.

Semua potongan akhirnya mulai tersusun.

Saya segera menghubungi Hendra.

Malam itu, setelah pulang kerja, Hendra duduk di kamar dengan wajah sangat serius.

Saya menceritakan semuanya.

Tentang rumah yang ternyata tidak rusak.

Tentang tanah yang dijual.

Tentang utang Mas Bagus.

Tentang percakapan ibu mertua yang menyebut sertifikat.

Hendra terdiam lama.

Wajahnya perlahan berubah.

Jadi selama ini mereka bohong?

Saya mengangguk.

Aku belum punya bukti lengkap, tapi kemungkinan besar begitu.

Hendra berdiri.

Aku tanya Ibu sekarang.

Saya langsung menahan tangannya.

Jangan.

Kenapa?

Kalau kita konfrontasi sekarang, mereka akan menghapus semua bukti.

Hendra menatap saya.

Kamu mau apa?

Saya mengambil napas.

Kita tunggu sampai mereka melakukan langkah berikutnya.

Tiga hari setelah itu, kesempatan datang.

Siang hari, ketika saya sedang berada di kamar, saya mendengar suara pintu depan.

Ada seseorang masuk.

Saya melihat melalui kamera kecil yang beberapa hari sebelumnya dipasang Hendra di ruang tamu.

Mas Bagus datang.

Ibu mertua menyambutnya.

Mereka duduk di meja makan.

Bagus terlihat gelisah.

Bu, orang orang itu kasih waktu sampai akhir bulan.

Ibu mertua menjawab.

Ibu tahu.

Kalau nggak dibayar, mereka bilang bakal datang ke kantor.

Jangan sampai.

Terus bagaimana?

Ibu mertua terdiam sebentar.

Rumah ini bisa jadi jalan keluar.

Dada saya terasa sesak.

Bagus menggeleng.

Tapi rumah ini atas nama Hendra dan Lani.

Makanya kita butuh suratnya.

Bagus terlihat ragu.

Hendra nggak mungkin mau.

Ibu mertua menurunkan suara.

Kalau Lani tidak ada di rumah, kita bisa cari dokumennya. Kemarin Ibu sudah lihat lemari di kamarnya.

Saya menutup mulut agar tidak bersuara.

Lalu Bagus mengatakan sesuatu yang membuat darah saya terasa dingin.

Makanya Ibu tiap keluar teriak teriak begitu?

Ibu mertua tertawa kecil.

Biar semua orang tahu dia sering sendirian.

Saya menatap layar tanpa berkedip.

Bagus berkata lagi.

Bu, jangan macam macam.

Ibu mertua menjawab santai.

Ibu cuma bikin dia takut. Kalau dia merasa rumah ini tidak aman, mungkin dia mau pindah sementara ke rumah orang tuanya. Hendra pasti ikut beberapa hari. Kita jadi punya kesempatan.

Saat itu seluruh tubuh saya gemetar.

Jadi benar.

Teriakan itu bukan sekadar kebiasaan.

Beliau sengaja menciptakan situasi agar saya merasa tidak aman.

Lebih buruk lagi, beliau sedang menyiapkan kesempatan untuk mengakses dokumen rumah kami.

Saya segera menyimpan rekaman kamera.

Malamnya, Hendra menonton video tersebut sampai selesai.

Rahangnya mengeras.

Untuk pertama kalinya saya melihat suami saya menangis karena marah.

Aku nggak nyangka Ibu bisa begini.

Saya menggenggam tangannya.

Kita selesaikan baik baik.

Hendra menggeleng.

Nggak ada lagi baik baik.

Besok pagi, Hendra menghubungi ketua RT dan meminta beberapa tetangga menjadi saksi.

Kami tidak ingin masalah ini menjadi keributan keluarga biasa.

Kami ingin semuanya jelas.

Namun rupanya ibu mertua bergerak lebih cepat.

Sore berikutnya, saat taman depan rumah penuh warga, beliau tiba tiba keluar membawa koper.

Wajahnya penuh air mata.

Beliau berdiri di depan pagar lalu berteriak.

Saya sudah tidak tahan tinggal di rumah ini.

Warga langsung berkumpul.

Ibu Diah mendekat.

Kenapa, Bu?

Ibu mertua menunjuk saya yang berdiri di teras.

Menantu saya mengusir saya. Saya cuma orang tua miskin yang numpang hidup.

Beberapa orang mulai berbisik.

Beliau melanjutkan dengan suara bergetar.

Sejak tinggal di sini saya dihina. Uang saya diumbar. Barang saya diumbar. Sekarang saya disuruh pergi.

Saya turun dari teras.

Bu, jangan bohong.

Beliau langsung menangis semakin keras.

Lihat sendiri. Dia berani melawan orang tua.

Saat itulah sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Hendra turun.

Bersamanya ada Pak RT dan Mas Bagus.

Wajah Mas Bagus pucat.

Hendra berjalan mendekat.

Bu, kalau memang mau bicara di depan warga, kita bicara semuanya.

Ibu mertua langsung terdiam.

Hendra mengeluarkan ponsel.

Saya sudah tahu rumah di kampung tidak rusak.

Warga mulai saling pandang.

Saya juga tahu tanah warisan dijual hampir empat ratus juta.

Mata ibu mertua membesar.

Hendra melanjutkan.

Dan uang itu diberikan ke Mas Bagus untuk nutup utang bisnis.

Mas Bagus menunduk.

Ibu mertua berusaha menyela.

Itu uang Ibu sendiri.

Benar.

Hendra mengangguk.

Tapi Ibu datang ke rumah saya dengan alasan tidak punya tempat tinggal.

Beliau terdiam.

Lalu Hendra membuka rekaman.

Suara ibu mertua terdengar jelas dari ponsel.

Rumah ini bisa jadi jalan keluar.

Makanya kita butuh suratnya.

Suasana taman mendadak sunyi.

Wajah ibu mertua kehilangan warna.

Saya bisa melihat tangan beliau mulai gemetar.

Hendra mematikan rekaman.

Ibu sengaja bikin Lani takut supaya dia keluar rumah dan Ibu bisa cari dokumen rumah kami?

Tidak.

Suara beliau melemah.

Itu cuma salah paham.

Mas Bagus tiba tiba berbicara.

Bukan salah paham, Bu.

Semua orang menoleh.

Ibu mertua menatap anak sulungnya dengan kaget.

Bagus.

Mas Bagus menarik napas panjang.

Aku sudah capek.

Lalu dia menatap Hendra.

Utang itu memang utangku. Tapi Ibu yang punya ide pakai rumah kalian sebagai jaminan.

Ibu mertua langsung berteriak.

Bagus.

Mas Bagus tidak berhenti.

Aku dari awal bilang jangan ganggu Lani.

Saya terkejut.

Saya selama ini mengira Mas Bagus adalah otak dari semuanya.

Ternyata tidak sepenuhnya.

Mas Bagus melanjutkan.

Ibu bilang Hendra pasti mau bantu kalau dipaksa. Katanya karena sejak kecil Hendra dibesarkan Kakek Nenek, dia harus membayar semua pengorbanan orang tua sekarang.

Hendra menatap ibunya.

Matanya merah.

Jadi selama ini begitu cara Ibu melihat saya?

Ibu mertua mulai menangis.

Ibu cuma mau menyelamatkan kakakmu.

Hendra tersenyum pahit.

Dengan menghancurkan rumah tangga saya?

Beliau tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya, warga yang selama ini hanya melihat permukaan akhirnya mengetahui semuanya.

Pak RT maju.

Bu, masalah keluarga sebaiknya memang diselesaikan keluarga. Tapi kalau sudah menyangkut usaha mengambil dokumen dan membuat penghuni rumah merasa tidak aman, itu bukan perkara kecil.

Ibu mertua menunduk.

Saya mendekatinya.

Saya tidak membenci Ibu.

Beliau menatap saya.

Saya melanjutkan.

Tapi mulai hari ini, Ibu tidak bisa tinggal di rumah kami lagi.

Beliau langsung marah.

Ini rumah anak saya.

Saya menggeleng.

Ini rumah saya dan Hendra.

Suasana kembali sunyi.

Saya berkata pelan.

Dan anak Ibu bukan milik Ibu selamanya.

Hendra akhirnya menyewa sebuah kontrakan kecil untuk kedua orang tuanya selama tiga bulan.

Bukan karena kami merasa bersalah, tetapi karena Hendra tidak ingin meninggalkan mereka tanpa tempat tinggal.

Setelah tiga bulan, mereka harus menentukan sendiri hidup mereka.

Mas Bagus menjual mobilnya dan beberapa aset usaha untuk membayar sebagian utang.

Yang mengejutkan, beberapa minggu kemudian dia datang menemui saya sendirian.

Maaf, Lan.

Saya menatapnya.

Untuk apa?

Karena selama ini aku diam.

Dia menunduk.

Aku selalu tahu Ibu lebih memanjakan aku daripada Hendra. Dan aku menikmatinya.

Saya tidak menjawab.

Mas Bagus tersenyum getir.

Ternyata dimanjakan berlebihan juga bisa bikin orang tumbuh jadi pengecut.

Sebelum pulang, dia berjanji akan menyelesaikan utangnya sendiri.

Tidak meminta rumah siapa pun.

Tidak menjual milik siapa pun.

Beberapa bulan berlalu.

Kehamilan saya masuk bulan ketujuh.

Suatu sore, saya duduk di taman depan rumah bersama Ibu Diah.

Rumah terasa jauh lebih tenang.

Tidak ada lagi teriakan setiap seseorang keluar pagar.

Tidak ada lagi suara yang mengumumkan kepada dunia bahwa saya sedang sendirian.

Tiba tiba sebuah motor berhenti.

Ibu mertua turun.

Saya refleks berdiri.

Beliau membawa kantong buah.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa bulan lalu.

Saya kira beliau akan masuk begitu saja.

Namun beliau berhenti di depan pagar.

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak keras.

Lan.

Saya menatapnya.

Boleh Ibu masuk?

Saya terdiam beberapa detik.

Lalu membuka pagar.

Beliau masuk dan duduk di ruang tamu.

Tangannya gemetar ketika memberikan kantong buah kepada saya.

Ibu minta maaf.

Saya tidak langsung menjawab.

Beliau menunduk.

Ibu terlalu takut kehilangan Bagus sampai lupa bahwa Ibu sudah lama kehilangan Hendra.

Kalimat itu membuat saya terdiam.

Air mata mengalir di wajahnya.

Sejak kecil Ibu selalu merasa Bagus yang paling membutuhkan Ibu. Hendra kelihatan kuat, pintar, bisa hidup sendiri. Jadi Ibu pikir dia tidak perlu diperhatikan.

Beliau menarik napas.

Ternyata anak yang kelihatan paling kuat justru anak yang paling lama belajar hidup tanpa orang tuanya.

Saya merasakan mata saya memanas.

Beliau menatap perut saya.

Ibu tidak minta kamu melupakan semuanya.

Saya mengangguk pelan.

Saya memang tidak akan lupa, Bu.

Wajahnya berubah.

Tetapi saya bisa memaafkan.

Beliau menatap saya.

Saya melanjutkan.

Memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.

Beliau mengangguk.

Ibu mengerti.

Saat Hendra pulang malam itu, dia menemukan ibunya duduk di ruang tamu.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada tangisan berlebihan.

Hanya keheningan panjang antara seorang ibu dan anak yang selama bertahun tahun tidak pernah benar benar saling mengenal.

Kemudian Hendra berkata pelan.

Bu, mau makan malam?

Ibu mertua mengangguk sambil menangis.

Malam itu kami makan bersama.

Tidak ada makanan khusus untuk Hendra.

Tidak ada nasi dingin untuk saya.

Semua orang makan lauk yang sama.

Beberapa bulan kemudian, ketika anak kami lahir, ibu mertua datang ke rumah sakit.

Beliau berdiri cukup jauh dari ranjang, seolah takut kehadirannya tidak diinginkan.

Hendra menggendong bayi kami lalu berjalan menghampirinya.

Bu.

Beliau mengangkat wajah.

Mau gendong cucu Ibu?

Tangannya langsung menutup mulut.

Beliau menangis.

Saat bayi kecil itu berada di pelukannya, saya melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah saya lihat di wajah ibu mertua saya.

Bukan kesombongan.

Bukan kemarahan.

Melainkan rasa takut kehilangan kesempatan kedua.

Sejak hari itu beliau berubah perlahan.

Tidak sempurna.

Kadang masih suka mengatur.

Kadang masih sulit mengakui kesalahan.

Namun satu kebiasaan benar benar hilang.

Setiap kali hendak meninggalkan rumah kami, beliau tidak pernah lagi berteriak kepada seluruh kompleks bahwa saya sedang sendirian.

Beliau hanya berdiri di depan pintu dan berkata pelan.

Lan, Ibu pergi dulu.

Lalu saya menjawab.

Iya, Bu. Hati hati.

Karena pada akhirnya saya belajar satu hal.

Keluarga bukan tentang siapa yang paling tua sehingga boleh mengatur semuanya, dan bukan tentang siapa yang paling muda sehingga harus selalu mengalah.

Keluarga adalah tempat di mana rasa aman seharusnya dijaga.

Dan ketika seseorang menggunakan cinta sebagai alasan untuk melukai, terkadang satu satunya cara menyelamatkan hubungan bukan dengan terus diam.

Melainkan dengan berani membuka kebenaran, memasang batas, lalu memberi kesempatan kepada orang lain untuk berubah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang