BAGIAN 2: Telepon yang Membalikkan Segalanya
Tidak ada satu orang pun yang langsung berbicara.
Bahkan suara musik lembut dari restoran seolah menghilang dari telinga semua orang.
Kalimat yang baru saja keluar dari pengeras suara membuat seluruh ruangan seperti kehilangan udara.
“Dewan direksi SilverBridge masih menunggu keputusan final Anda.”
Dan sekarang—
“Pak Ramon, batalkan seluruh negosiasi dengan Alcantara Group.”
Suara napas beberapa orang terdengar jelas.
Sepupu Adrian yang tadi tertawa bahkan tersedak minumannya sendiri.
Di ujung telepon, pria bernama Ramon itu terdiam sesaat.

Lalu ia bertanya dengan hati-hati.
— Maaf, Nona Mara. Apakah saya mendengar dengan benar?
— Ya.
Aku menjawab tenang.
— Batalkan semuanya.
— Tetapi kerja sama akuisisi itu bernilai hampir delapan miliar peso. Bukankah Anda mengatakan ingin memberi kesempatan kepada pihak Alcantara?
— Saya berubah pikiran.
Ramon langsung menjawab.
— Baik, Nona. Saya akan memberi tahu Ketua Dewan.
— Terima kasih.
— Dan, Nona…
Pria itu terdengar ragu.
— Apakah Anda baik-baik saja?
Aku melirik ibuku yang masih memegang tisu di wajahnya.
— Sekarang saya akan baik-baik saja.
Panggilan berakhir.
Sunyi.
Sunyi yang sangat menyesakkan.
Felisa adalah orang pertama yang tertawa.
Namun tawanya terdengar dipaksakan.
— Delapan miliar peso?
Ia memutar matanya.
— Anak muda zaman sekarang memang terlalu banyak menonton drama Korea.
Beberapa kerabat ikut tertawa kecil.
Tetapi Adrian tidak.
Wajahnya berubah.
Sangat berubah.
Karena ia mengenal nama itu.
Ramon Villanueva.
Chief Legal Officer SilverBridge Holdings.
Salah satu konglomerasi teknologi terbesar di Filipina.
Dan perusahaan tempat Adrian bekerja selama dua tahun terakhir sebagai direktur operasional anak perusahaan mereka.
Adrian berdiri perlahan.
— Ramon… Villanueva?
Aku tidak menjawab.
Felisa mengernyit.
— Kenapa?
Adrian menelan ludah.
— Mama…
Suara putranya mulai gemetar.
— Orang itu… memang benar bekerja di SilverBridge.
Felisa langsung memandang Adrian.
— Lalu?
— SilverBridge sedang mempertimbangkan mengakuisisi Alcantara Group.
Senyum di wajah Felisa menghilang sedikit.
— Memangnya kenapa?
Adrian menatapku.
Matanya penuh ketidakpercayaan.
— Karena… keputusan akhir memang ada di tangan salah satu anggota dewan utama.
Dan selama tiga bulan terakhir…
Ia berhenti.
Seolah bahkan lidahnya sendiri menolak mempercayai kenyataan yang baru saja tersusun di kepalanya.
— Tidak mungkin…
Felisa mulai kehilangan kesabarannya.
— Adrian, bicara yang jelas!
Adrian memandangku.
— Mara…
— Siapa sebenarnya Sir Ramon bagimu?
Aku menarik kursiku.
Lalu duduk kembali.
Tenang.
Sangat tenang.
— Bawahan.
Suara beberapa orang langsung tercekat.
Adrian membeku.
Felisa tertawa keras.
— Hentikan lelucon murahan ini!
— Bawahan?
— Kamu?
— Gadis dari Tondo?
— Anak penjual bubur?
Aku memandang wanita itu tanpa sedikit pun kemarahan.
— Ya.
— Anak penjual bubur.
— Dan saya sangat bangga dengan itu.
Felisa masih hendak berbicara ketika ponsel Adrian bergetar.
Namaku masih tertera di layar panggilan terakhirnya.
Tetapi sekarang yang muncul adalah nama atasannya.
PRESIDENT – ALCANTARA GROUP
Adrian segera mengangkat.
— Halo, Ayah?
Namun wajahnya langsung pucat.
Suara pria di seberang terdengar sangat keras hingga semua orang yang duduk di dekatnya bisa mendengar.
— DI MANA KAMU?!
— Saya sedang makan malam keluarga—
— KEMBALI KE KANTOR SEKARANG!
— Ayah?
— SILVERBRIDGE BARU SAJA MENARIK SEMUA PENAWARAN AKUISISI!
— APA YANG TERJADI?!
Adrian membelalakkan mata.
— Apa?
— KAMU TAHU BERAPA BANYAK BANK YANG MENUNGGU KEPUTUSAN INI?!
— KALAU KESEPAKATAN INI GAGAL, KITA BISA HANCUR!
— SIAPA YANG MEMBUAT MEREKA BERUBAH PIKIR?!
Adrian perlahan mengangkat wajah.
Dan menatapku.
Matanya dipenuhi ketakutan.
Bukan kemarahan.
Ketakutan.
— Ayah…
Suara Adrian nyaris hilang.
— Saya rasa…
— Saya tahu alasannya.
Di seberang telepon, ayahnya terdiam.
— Apa maksudmu?
Adrian memandangku seperti sedang melihat orang asing.
— Orang yang membatalkan kerja sama itu…
— Ada di depan saya.
Hening.
Lalu suara berat pria tua itu berubah.
— Apa?
— Siapa?
Adrian tidak sanggup menjawab.
Karena pada saat itu—
Ponselku kembali bergetar.
Aku melihat nama yang muncul.
Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai…
Wajahku sedikit melunak.
Aku berdiri.
— Maaf.
— Saya harus menjawab telepon ini.
Felisa mendengus.
— Siapa lagi sekarang?
Aku menekan tombol speaker.
Suara seorang pria tua terdengar.
Lembut.
Hangat.
Dan penuh kekhawatiran.
— Anak kecil…
— Kenapa baru sekarang menelepon Kakek?
— Ramon bilang kau menangis.
— Siapa yang membuat cucu kesayangan Kakek sedih?
Detik berikutnya…
Ponsel Adrian terlepas dari tangannya.
Karena ia mengenali suara itu.
Suara yang selama ini hanya ia dengar dalam rapat tahunan.
Suara pendiri SilverBridge Holdings.
Pria yang selama ini disebut seluruh dunia bisnis Filipina sebagai:
Eduardo Sebastian.
Dan orang yang baru saja memanggilku…
“Cucu kesayangan Kakek.”
Sementara itu—
Sendok di tangan Felisa jatuh ke lantai.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Wanita yang selalu membanggakan status sosial itu terlihat benar-benar ketakutan.
