Ibuku, Carmen, selalu berkata bahwa kekayaan paling besar bukanlah uang, melainkan hati yang tetap tahu cara bersyukur. Kalimat itu dulu terdengar sederhana ketika kami masih tinggal di sebuah rumah reyot di pinggiran Surabaya. Atapnya bocor setiap musim hujan, dindingnya lembap, dan setiap malam kami tidur sambil berharap tikus-tikus tidak menggerogoti makanan yang tersisa.
Saat itu aku hanyalah Gabriel, anak lelaki yang sering pulang sekolah dengan seragam lusuh. Ibuku bekerja apa saja demi membuatku tetap bisa belajar. Pagi menjual pakaian bekas di pasar, siang mencuci pakaian tetangga, malam menjahit sobekan kain dengan mata yang hampir tak sanggup terbuka. Berkali-kali aku memergokinya berpura-pura sudah makan agar aku menghabiskan porsi terakhir nasi yang ada.
“Aku kenyang, Nak.”
Baru bertahun-tahun kemudian aku sadar, setiap kali ia mengucapkan kalimat itu, sebenarnya ia belum makan seharian.

Semua pengorbanannya menjadi alasan mengapa aku belajar mati-matian. Aku memperoleh beasiswa, membangun perusahaan teknologi dari sebuah garasi kecil, lalu perlahan mengubahnya menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di Indonesia. Namaku mulai muncul di televisi, majalah bisnis, bahkan daftar orang terkaya.
Namun bagi ibuku, semua itu tidak berarti apa-apa.
Ia tetap memanggilku, “Gabriel, jangan lupa makan.”
Bukan “Pak Direktur.”
Bukan “Bos.”
Bukan “Miliarder.”
Hanya Gabriel.
Tiga bulan sebelum semuanya berubah, lutut ibuku mulai sering nyeri. Dokter mengatakan usianya sudah tidak cocok lagi tinggal sendirian. Aku pun mengajaknya pindah ke rumahku.
Istriku, Stella, menyambut kabar itu dengan senyum sempurna.
“Tentu saja. Beliau ibumu. Mulai sekarang biar aku yang mengurus semuanya.”
Aku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.
Aku salah.
Hari-hari pertama berjalan biasa. Stella mengatur makanan ibuku, obat-obatan, bahkan menyuruh kepala pelayan membuat jadwal khusus untuknya.
Tetapi perlahan aku melihat sesuatu yang menggangguku.
Pipi ibuku mulai cekung.
Tubuhnya semakin kurus.
Setiap kali aku mengajaknya berbicara, ia hanya tersenyum kecil.
“Aku baik-baik saja.”
Jawaban yang terlalu singkat untuk seorang ibu yang dulu selalu bercerita panjang.
Suatu malam aku mengajaknya makan malam berdua.
“Ibu tidak suka makanannya?”
Beliau menggeleng.
“Sudah kenyang.”
Aku menatap piringnya.
Nasinya bahkan belum disentuh.
Aku mulai memperhatikan lebih saksama.
Anehnya, setiap kali aku ada di rumah, Stella selalu bersikap sangat perhatian kepada ibuku. Ia menyuapi, membantu berjalan, bahkan memeluknya di depan para pelayan.
Namun setiap kali aku pulang lebih cepat tanpa memberi tahu siapa pun, suasana rumah terasa berbeda.
Para pelayan tampak gugup.
Mereka saling melempar pandang.
Begitu melihatku, mereka langsung berpura-pura sibuk.
Naluri bisnis yang selama bertahun-tahun membantuku membaca kebohongan mulai berbicara.
Ada sesuatu yang disembunyikan.
Aku tidak bertanya kepada Stella.
Aku memilih mencari jawaban sendiri.
Aku meminta kepala keamanan menggandakan rekaman kamera pengawas tanpa sepengetahuan siapa pun.
Malam itu aku duduk sendirian di ruang kerja.
Jam demi jam berlalu.
Sampai akhirnya aku melihat sesuatu yang membuat napasku tercekat.
Begitu aku berangkat ke kantor setiap pagi, Stella berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda.
Ia memerintahkan semua pelayan meninggalkan ruang makan.
Lalu meletakkan semangkuk bubur hambar di depan ibuku.
“Habisin.”
Ibuku berkata pelan, “Aku masih lapar.”
“Kalau masih mau tinggal di sini, makan saja itu.”
Beberapa menit kemudian Stella menuangkan cairan dari botol kecil ke dalam segelas air.
Ibuku tampak ragu.
“Ini obat apa?”
“Vitamin.”
Ibuku meminumnya.
Lima belas menit kemudian tubuhnya mulai lemas.
Rekaman berikutnya menunjukkan ibuku hampir pingsan saat berjalan menuju kamar.
Aku mengepalkan tangan sampai buku-buku jariku memutih.
Namun aku belum bertindak.
Aku membutuhkan bukti yang tidak bisa dibantah.
Keesokan paginya aku menghubungi dokter yang selama ini menangani ibuku secara diam-diam.
Dokter memeriksa darah dan sampel obat yang ditemukan di kamar Stella.
Hasilnya membuat semua orang terdiam.
Obat itu memang bukan racun.
Tetapi merupakan obat penenang dan penurun nafsu makan dengan dosis yang sama sekali tidak boleh diberikan setiap hari kepada lansia.
“Kalau diteruskan,” kata dokter serius, “pasien bisa mengalami malnutrisi berat, gangguan jantung, bahkan kehilangan kesadaran permanen.”
Aku merasa dunia berhenti berputar.
Aku masih tidak mengerti.
Mengapa?
Apa alasan Stella melakukan semua itu?
Jawabannya datang tanpa sengaja.
Sore itu aku membuka laptop Stella yang tertinggal di ruang keluarga.
Ia lupa keluar dari akun surelnya.
Di sana ada percakapan dengan seseorang bernama Adrian.
Isi pesannya membuat darahku membeku.
“Kalau wanita tua itu terus melemah, Gabriel pasti akan mempekerjakan perawat penuh waktu.”
“Lalu?”
“Kalau perawat datang, lebih mudah membuatnya terlihat meninggal karena usia.”
Aku membaca kalimat berikutnya berkali-kali.
“Setelah ibunya tidak ada, Gabriel akan jauh lebih mudah dikendalikan.”
Tanganku gemetar.
Masih ada pesan lain.
Adrian ternyata adalah mantan tunangan Stella.
Selama ini mereka masih berhubungan.
Mereka tidak hanya berselingkuh.
Mereka juga berencana mengambil alih sebagian saham perusahaan melalui Stella setelah kondisi mentalku hancur akibat kehilangan ibu.
Seluruh rencana itu disusun dengan sangat rapi.
Mereka tidak ingin membunuh.
Mereka ingin membuat semuanya terlihat alami.
Aku menutup laptop perlahan.
Amarahku sudah melewati batas.
Namun aku tetap tenang.
Aku ingin semuanya berakhir sekali untuk selamanya.
Dua hari kemudian aku mengadakan makan malam keluarga dengan alasan merayakan kontrak investasi baru.
Semua eksekutif perusahaan hadir.
Beberapa anggota dewan direksi.
Pengacara.
Notaris keluarga.
Dokter pribadi.
Kepala keamanan.
Bahkan beberapa wartawan yang kukenal juga menerima undangan tanpa mengetahui alasan sebenarnya.
Stella tampil anggun mengenakan gaun hitam.
Ia menggandeng lenganku sambil tersenyum.
“Kamu terlihat tegang.”
“Aku memang sedang menunggu momen yang tepat.”
Ia tertawa kecil.
Tidak tahu bahwa beberapa menit lagi hidupnya akan berubah.
Saat makan malam selesai, lampu ruangan diredupkan.
Semua orang mengira akan ada presentasi perusahaan.
Sebaliknya, layar besar menampilkan rekaman CCTV.
Ruangan langsung sunyi.
Video pertama memperlihatkan Stella memaksa ibuku meminum obat.
Video kedua menunjukkan percakapannya dengan Adrian.
Video ketiga berisi hasil pemeriksaan laboratorium.
Wajah Stella perlahan kehilangan warna.
“Itu… itu tidak seperti yang kalian pikirkan.”
Aku berdiri.
“Lalu seperti apa?”
Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Aku hanya mengikuti saran seseorang.”
“Siapa?”
Ia terdiam.
Aku mengangkat ponselku.
“Kalau begitu biar Adrian yang menjelaskan.”
Pintu ruang makan terbuka.
Dua petugas kepolisian masuk membawa Adrian yang baru saja diamankan berdasarkan laporan dugaan konspirasi penipuan dan penyalahgunaan obat.
Stella terduduk lemas.
“Gabriel… tolong dengarkan aku.”
“Aku sudah mendengarkan selama tiga bulan.”
Tangisku tidak keluar.
Yang tersisa hanya rasa kecewa.
Ibuku yang duduk di kursi roda memandang Stella cukup lama.
Semua orang mengira beliau akan marah.
Namun beliau hanya berkata lirih.
“Aku sudah menganggapmu seperti anakku.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Stella menangis sejadi-jadinya.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Proses hukum berjalan.
Polisi menemukan bukti transfer uang antara Adrian dan Stella.
Mereka juga menemukan rencana pemalsuan beberapa dokumen perusahaan.
Semua kebohongan yang selama ini disimpan akhirnya terbongkar.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Tidak ada drama.
Tidak ada balas dendam.
Aku hanya ingin mengakhiri semuanya.
Beberapa bulan kemudian hidup kami berubah.
Ibuku mulai pulih.
Aku memindahkan ruang kerjaku ke lantai bawah agar bisa lebih sering menemaninya.
Setiap pagi kami sarapan bersama.
Kadang beliau masih membuat teh sendiri meskipun aku melarangnya.
“Aku masih kuat.”
Kalimat itu selalu membuatku tersenyum.
Suatu sore kami duduk di taman belakang rumah.
Matahari mulai tenggelam.
“Ibu menyesal pernah tinggal di sini?” tanyaku.
Beliau menggeleng pelan.
“Kalau bukan karena semua ini, mungkin kamu tidak akan pernah benar-benar berhenti bekerja.”
Aku tertawa kecil.
“Ibu masih sempat memikirkan aku.”
Beliau menatapku penuh kasih.
“Seorang ibu tidak pernah berhenti memikirkan anaknya.”
Aku menggenggam tangannya.
Tangannya sudah penuh keriput.
Namun tetap menjadi tangan yang sama yang dulu menggandengku melewati banjir menuju sekolah.
Beberapa minggu setelah itu aku membuat keputusan yang mengejutkan banyak orang.
Aku mengundurkan diri sebagai CEO aktif dan menunjuk tim profesional untuk menjalankan perusahaan.
Media bertanya mengapa aku rela meninggalkan jabatan yang menjadi impian banyak orang.
Aku hanya memberikan satu jawaban.
“Perusahaan bisa mencari CEO baru. Seorang anak tidak akan pernah bisa mencari ibu yang baru.”
Wawancara itu menjadi viral.
Tetapi bagiku, penghargaan terbesar bukanlah jutaan orang yang memuji keputusanku.
Melainkan ketika suatu pagi aku melihat ibuku duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir teh, wajahnya kembali sehat, pipinya kembali berisi, dan senyumnya kembali seperti dulu.
Beliau memanggilku dari kejauhan.
“Gabriel, sarapan dulu. Nanti masuk angin.”
Aku tersenyum.
Di hadapan dunia, mungkin aku adalah seorang miliarder yang membangun kerajaan teknologi.
Namun di hadapan perempuan yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi masa depanku, aku akan selalu menjadi Gabriel kecil yang dulu ia peluk setiap malam ketika hujan menetes dari atap rumah kami.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menyadari bahwa kesuksesan terbesar dalam hidupku bukanlah perusahaan bernilai miliaran rupiah yang kubangun, melainkan karena aku masih memiliki kesempatan untuk membalas cinta seorang ibu sebelum semuanya benar-benar terlambat.
