ISTRIKU HAMIL DELAPAN BULAN DIPAKSA MENCUCI TUMPUKAN PIRING SAMPAI MALAM—KEESOKAN PAGINYA, KEPUTUSANKU MEMBUAT KEDUA KAKAKKU TERDIAM DAN IBUKU MEMBUKA RAHASIA KELUARGA YANG LAMA DISIMPAN

Pagi itu, bahkan sebelum azan Subuh selesai berkumandang, aku sudah berdiri di depan lemari tua milik Bapak dengan tangan gemetar.

Nisa masih beristirahat di klinik bersama Ibu. Dokter menyarankan agar dia tidur beberapa jam sebelum kami membawanya pulang. Aku sengaja kembali ke rumah sendirian.

Rumah begitu sunyi.

Di ruang tengah masih tercium aroma makanan sisa acara semalam. Beberapa kardus belum dibereskan. Gelas plastik tergeletak di sudut meja.

Aku masuk ke kamar Bapak.

Sudah hampir tiga tahun sejak beliau meninggal, tetapi Ibu tidak banyak mengubah ruangan ini. Kemeja-kemejanya masih tergantung rapi. Tas kulit cokelat yang biasa dibawanya ke koperasi masih tersimpan di atas lemari.

Aku membuka pintu lemari.

Map merah itu berada di bawah tumpukan sarung.

Aku menariknya keluar.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar sertifikat tanah, fotokopi akta notaris, bukti transfer bank, dan sebuah amplop putih dengan tulisan tangan Bapak.

Untuk Dimas.

Dadaku terasa berat.

Aku membuka surat itu.

Tulisan Bapak sudah sedikit memudar.

Dimas, kalau kamu membaca surat ini, mungkin Bapak sudah tidak punya kesempatan menjelaskan semuanya sendiri.

Aku duduk di tepi ranjang.

Kalimat berikutnya membuatku berhenti bernapas beberapa detik.

Rumah yang sekarang ditempati Ibu, sawah di sebelah utara desa, dan dua ruko di jalan raya bukan warisan keluarga seperti yang selama ini diketahui Tika dan Rani.

Semua itu dibeli menggunakan uang peninggalan kakek kandungmu.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Kakek kandungmu.

Tanganku semakin dingin.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Tika berdiri di sana.

Wajahnya yang tadinya mengantuk langsung berubah ketika melihat map di tanganku.

“Kamu ngapain di kamar Bapak?”

Aku tidak menjawab.

Tatapannya turun ke amplop.

“Siapa yang kasih kamu izin buka itu?”

Pertanyaan itu justru membuatku semakin curiga.

“Kakak tahu isi map ini?”

Tika terdiam.

Beberapa detik kemudian Rani muncul di belakangnya.

“Ada apa pagi-pagi?”

Begitu melihat map merah, wajah Rani ikut berubah.

Aku berdiri.

“Kalian tahu?”

“Taruh kembali, Dim,” kata Tika.

Aku tertawa pendek.

“Kenapa?”

“Itu urusan orang tua.”

“Namaku tertulis di surat ini.”

Rani langsung menatap Tika.

Aku menangkap tatapan mereka.

Jadi mereka memang tahu sesuatu.

“Apa maksudnya kakek kandungku?” tanyaku.

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengangkat surat itu.

“Bapak menulis rumah ini, sawah, dan dua ruko dibeli pakai uang dari kakek kandungku. Kakek kandungku siapa?”

Tika berjalan mendekat.

“Dimas, jangan bikin keributan.”

Aku mundur satu langkah.

“Jangan sentuh.”

Suasana berubah tegang.

Suami Tika dan suami Rani ikut keluar dari kamar. Beberapa sepupu yang menginap mulai memperhatikan dari ruang tengah.

Tika menurunkan suaranya.

“Kita bicarakan nanti.”

“Kenapa nanti? Semalam kalian bisa menyuruh istriku yang hamil delapan bulan bekerja sampai hampir tengah malam. Sekarang aku bertanya soal keluargaku sendiri, malah harus nanti?”

Wajah Tika memerah.

“Jangan campur dua masalah.”

“Justru sekarang semuanya mulai kelihatan saling berhubungan.”

Aku mengambil ponsel.

Kubuka percakapan dengan Nisa.

“Dua juta yang Nisa transfer ke Kak Tika untuk membayar orang yang bantu acara ke mana?”

Rani langsung memalingkan wajah.

Tika menjawab cepat.

“Orangnya batal.”

“Uangnya?”

“Nanti dikembalikan.”

“Kapan?”

“Ya nanti.”

Aku membuka grup keluarga dan menunjukkan foto yang dikirim Tika semalam.

“Kalau memang orangnya mendadak batal, kenapa Kakak malah memotret Nisa mencuci piring dan menjadikannya bahan tertawaan?”

Tika diam.

Aku menatap Rani.

“Dan Kak Rani ikut tertawa.”

Rani mendecakkan lidah.

“Cuma bercanda.”

“Istriku dibawa ke klinik karena kelelahan.”

Ruangan langsung sunyi.

Rani tampak terkejut.

“Apa?”

“Perutnya kencang hampir satu jam. Kakinya bengkak. Dia kurang cairan.”

Tika masih berusaha bertahan.

“Dia sendiri yang bilang masih kuat.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku akhirnya putus.

“Karena sejak pertama masuk keluarga ini, kalian membuat dia merasa kalau menolak berarti tidak menghormati kakak suaminya.”

“Jaga bicaramu, Dimas.”

“Kenapa harus dijaga?”

Suara Ibu terdengar dari pintu depan.

“Karena selama ini memang begitu.”

Semua orang menoleh.

Ibu berdiri di sana bersama Nisa.

Aku langsung menghampiri istriku.

“Kok pulang?”

“Dokter sudah mengizinkan,” jawab Nisa pelan.

Aku memegang lengannya dan membawanya duduk.

Ibu berjalan ke tengah ruangan.

Wajahnya terlihat sangat lelah.

“Tika. Rani. Duduk.”

“Bu, Dimas buka map Bapak,” kata Tika.

“Ibu yang suruh.”

Wajah kedua kakakku langsung pucat.

Ibu menarik kursi.

“Ada hal yang seharusnya Ibu katakan sejak dulu.”

Aku menatapnya.

Ibu menarik napas panjang.

“Dimas bukan anak kandung Bapak.”

Ruangan seketika membeku.

Aku merasa suara di sekitarku menghilang.

“Apa?”

Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu anak Ibu. Tapi bukan anak kandung Bapak.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Ibu mulai bercerita.

Sebelum menikah dengan Bapak, Ibu pernah bertunangan dengan seorang lelaki bernama Surya Pranoto. Dia bekerja di perusahaan konstruksi di Jakarta.

Ibu hamil sebelum rencana pernikahan mereka terlaksana.

Namun ketika kandungan Ibu memasuki bulan kelima, Surya meninggal dalam kecelakaan proyek.

Keluarga Surya ingin bertanggung jawab.

Kakek kandungku memberikan sejumlah aset dan tabungan atas namaku.

Lalu Bapak datang.

Bapak tahu semuanya.

Tetapi dia tetap menikahi Ibu.

“Dia yang memberimu nama Dimas,” kata Ibu sambil menangis. “Dia juga yang pertama menggendongmu setelah kamu lahir.”

Aku menunduk.

Entah mengapa, yang terlintas justru kenangan kecil.

Bapak mengajariku naik sepeda.

Bapak menunggu di luar sekolah saat hujan.

Bapak menjual motor kesayangannya ketika aku diterima kuliah di Semarang.

Darah mungkin berbeda.

Tapi lelaki itu tetap Bapakku.

“Terus Kak Tika dan Kak Rani?”

“Mereka anak kandung Bapak dari pernikahan sebelumnya.”

Aku mengangkat kepala.

Aku baru mengerti.

Tika dan Rani memang selalu mengatakan mereka lebih tua jauh dariku karena Ibu menikah ketika Bapak sudah memiliki dua anak.

Tetapi tak pernah ada yang menjelaskan lebih jauh.

“Bapak mengelola harta dari keluarga kandungmu,” lanjut Ibu. “Sebagian hasilnya dipakai membeli rumah, sawah, dan ruko. Tapi semuanya dicatat dengan jelas.”

Aku melihat dokumen dalam map.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Karena Bapak tidak mau kalian tumbuh dengan perasaan berbeda.”

Ibu menatap Tika dan Rani.

“Sayangnya, beberapa tahun sebelum Bapak meninggal, mereka menemukan dokumennya.”

Aku langsung memahami kelanjutannya.

“Kalian sudah tahu.”

Rani menangis.

“Dim, dengar dulu.”

“Sejak kapan?”

Tika menjawab pelan.

“Lima tahun lalu.”

Lima tahun.

Mereka tahu selama lima tahun.

Tiba-tiba banyak hal terasa masuk akal.

Kenapa setiap kali aku membayar renovasi rumah Ibu, Tika mengatakan itu kewajibanku.

Kenapa ketika Nisa dan aku membeli mobil, Rani menyindir kami hidup berlebihan.

Kenapa mereka terus bertanya berapa tabunganku.

Dan kenapa belakangan ini mereka begitu sering mendesak Ibu membagi warisan.

“Mereka takut kalau kamu tahu,” kata Ibu, “kamu akan mengambil semuanya.”

Tika berdiri.

“Memangnya salah?”

“Tika!”

“Bu, kami juga anak Bapak!”

“Tidak ada yang bilang kalian bukan anak Bapak.”

“Tapi rumah ini ternyata bukan punya Bapak!”

Suara Tika pecah.

“Seumur hidup kami tinggal di sini. Kami pikir ini warisan ayah kami. Lalu ternyata semuanya berasal dari keluarga Dimas!”

Aku memandangnya.

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di balik kesombongannya.

Ketakutan.

Bukan sekadar serakah.

Dia takut kehilangan tempat yang selama ini dianggap miliknya.

Namun itu tidak membenarkan apa yang mereka lakukan.

“Jadi kalian melampiaskannya ke Nisa?”

Tika diam.

Rani mengusap air mata.

“Kami cuma kesal.”

“Kesal kepada siapa?”

“Kamu.”

Aku mengernyit.

Rani akhirnya mengaku.

Setelah aku menikah dengan Nisa, mereka merasa aku berubah. Aku lebih jarang mengirim uang kepada Ibu karena ternyata kebutuhan Ibu sudah cukup dari pendapatan sewa ruko.

Mereka menganggap Nisa yang memengaruhiku.

Padahal justru Nisa yang sering mengingatkanku menelepon Ibu.

“Dua juta itu?” tanyaku.

Tika menunduk.

“Tidak pernah ada orang yang disewa.”

Nisa yang sejak tadi diam akhirnya menatapnya.

“Apa?”

Tika tidak berani membalas tatapannya.

“Uangnya kupakai membayar cicilan.”

Aku mengepalkan tangan.

Nisa menyentuh tanganku.

Gerakan kecil itu menghentikanku.

Aku menatap istriku.

Wajahnya pucat, tetapi matanya tenang.

“Mas,” katanya, “jangan lakukan sesuatu yang nanti kamu sesali.”

Aku menarik napas panjang.

Lalu aku mengambil semua dokumen dari map merah.

“Aku sudah memutuskan.”

Tika menatapku panik.

“Mau apa kamu?”

“Rumah ini tetap untuk Ibu selama Ibu hidup.”

Tika terdiam.

“Pendapatan dua ruko tetap masuk ke rekening Ibu untuk kebutuhan Ibu. Sawah tetap dikelola Paklik seperti sekarang.”

Rani menatapku bingung.

“Kamu tidak akan mengambilnya?”

“Tidak.”

Wajah mereka sedikit berubah.

Tapi aku belum selesai.

“Namun mulai hari ini, Kak Tika dan Kak Rani tidak boleh mengatur uang Ibu.”

Tika langsung berdiri.

“Kamu enggak punya hak mengatur kami!”

“Aku tidak mengatur kalian. Aku melindungi aset yang secara hukum ternyata memang atas namaku.”

Aku menunjukkan akta notaris.

Tika membeku.

“Dan satu lagi. Aku akan meminta notaris melakukan audit seluruh pemasukan ruko selama lima tahun terakhir.”

Wajah Rani seketika pucat.

Ibu menutup mata.

Reaksi itu cukup menjawab pertanyaanku.

“Ada uang lain yang kalian ambil?”

Tidak ada jawaban.

Aku menatap mereka bergantian.

“Berapa?”

Rani mulai menangis.

Tika akhirnya duduk.

“Sekitar seratus delapan puluh juta.”

Nisa menutup mulut.

Aku bahkan tidak marah lagi.

Aku hanya merasa lelah.

“Untuk apa?”

“Cicilan. Sekolah anak. Utang usaha.”

“Dan Ibu tahu?”

“Ibu baru tahu beberapa bulan lalu,” jawab Ibu.

Aku menatap Ibu.

“Kenapa Ibu diam?”

“Karena mereka anak-anak Ibu juga.”

Aku memahami rasa takut Ibu.

Tapi diam ternyata tidak menyelamatkan keluarga kami.

Diam hanya membuat kesalahan tumbuh semakin besar.

Aku memasukkan kembali dokumen ke map.

“Aku tidak akan melaporkan kalian.”

Tika menatapku.

“Tapi uang itu harus dikembalikan. Tidak sekaligus. Kita buat perjanjian resmi. Sesuai kemampuan kalian.”

Rani menangis semakin keras.

“Dim…”

“Dan kalian minta maaf kepada Nisa.”

Tika menggigit bibir.

Aku tidak memaksanya.

Aku hanya menggenggam tangan istriku dan berdiri.

“Kita pulang.”

Nisa ikut bangkit perlahan.

Ketika kami hampir mencapai pintu, terdengar suara Tika.

“Nisa.”

Kami berhenti.

Tika berdiri beberapa meter di belakang.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, kakakku yang selalu bicara paling keras itu tampak kehilangan seluruh keberaniannya.

“Maaf.”

Nisa memandangnya.

Tika menunduk.

“Aku seharusnya enggak melakukan itu.”

Rani ikut berdiri.

“Maaf, Nis.”

Nisa tidak langsung menjawab.

“Aku maafkan,” katanya akhirnya. “Tapi setelah anakku lahir, aku tidak mau dia tumbuh melihat orang dewasa memperlakukan keluarga seperti kemarin.”

Tidak ada yang membantah.

Kami pulang ke Semarang pagi itu.

Tiga minggu kemudian, Nisa melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat.

Aku memberinya nama Arga Surya.

Surya untuk lelaki yang memberiku darah.

Arga karena nama itu pernah menjadi pilihan Bapak ketika aku kecil untuk anak laki-lakiku kelak.

Beberapa hari setelah kelahiran Arga, Ibu datang membawa sebuah kotak kayu kecil.

Di dalamnya ada jam tangan tua milik Bapak.

Di bagian belakangnya terdapat ukiran yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Menjadi ayah bukan soal siapa yang memberi darah, tetapi siapa yang memilih untuk tetap tinggal.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Ibu tersenyum sambil mengusap kepala cucunya.

“Bapakmu membuat ukiran itu setelah kamu lahir.”

Aku menatap bayi di pelukan Nisa.

Selama bertahun-tahun keluargaku menyimpan rahasia karena takut kebenaran akan memecah kami.

Ternyata bukan kebenaran yang menghancurkan keluarga.

Keserakahan, rasa iri, dan kebiasaan membiarkan ketidakadilanlah yang hampir melakukannya.

Dan semuanya baru terbuka karena satu malam ketika aku terlambat menyadari bahwa istriku sedang mencuci tumpukan piring sendirian.

Sejak malam itu aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.

Menjadi suami bukan berarti memilih istri atau keluarga.

Menjadi suami berarti berani berdiri di tempat yang benar, bahkan ketika orang yang harus kita hadapi adalah darah daging sendiri.

Karena keluarga seharusnya menjadi tempat seseorang merasa aman.

Bukan tempat di mana orang yang paling sabar selalu dipaksa mengalah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang