JANGAN NAIK KE ATAS PANGGUNG, PAKAIANMU MEMALUKAN

… Senyumnya terkembang lebar sekali saat dia menyapa para petinggi. Namun, senyum itu semakin lebar ketika seorang wanita dengan gaun merah menyala yang sangat ketat dan terbuka menghampirinya.

Itu Clarissa, sekretaris pribadinya. Wanita yang menurut laporan dari detektif swastaku, telah menghabiskan separuh dari uang tunjangan operasional yang Markus klaim dari perusahaan. Markus merangkul pinggang Clarissa tanpa ragu, memperkenalkannya kepada para investor seolah-olah Clarissa-lah sang nyonya rumah malam ini.

Para staf di mejaku berbisik-bisik, tidak menyadari bahwa wanita yang duduk di sebelah mereka dengan gaun hitam polos—yang mereka kira baju murah—adalah istri sah Markus.

“Lihat itu, Pak Markus serasi sekali dengan Bu Clarissa,” bisik seorang pemagang di sebelahku. “Kudengar istri Pak Markus cuma ibu rumah tangga yang kuper dan tidak bisa dandan. Makanya tidak pernah dibawa ke acara penting.”

Aku hanya tersenyum tipis, menyesap air putihku dengan tenang. Nikmatilah malam ini, Markus. Karena ini adalah malam terakhirmu sebagai siapa pun.

Detik-Detik Kehancuran

Acara inti pun dimulai. Lampu ballroom meredup, dan sorot lampu panggung tertuju pada podium utama. Pembawa acara naik ke atas panggung dengan mikrofon di tangan.

“Selamat malam hadirin sekalian! Malam ini, dalam rangka 10th Anniversary Gala dari Apex Global Solutions, kami tidak hanya merayakan pencapaian masa lalu, tetapi juga menyambut masa depan. Dan malam ini, pendiri sekaligus pemilik saham mayoritas tunggal Apex Global Solutions, sang CEO yang selama ini bergerak di balik layar, akhirnya hadir di tengah-tengah kita!”

Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan. Markus langsung berdiri, merapikan jas tuksedonya dengan senyum penuh kemenangan. Dia sudah melangkah satu kaki ke arah koridor panggung, yakin bahwa dialah yang dimaksud. Clarissa bahkan sudah bersiap untuk memeluknya.

“Mari kita sambut dengan meriah… Pendiri dan CEO Apex Global Solutions, Celestine Alexander!

Suasana seketika hening selama satu detik. Markus membeku di tempatnya. “Siapa?” gumamnya lirih, matanya berkedip panik. “Salah sebut nama?”

Di Meja 10, aku meletakkan gelasku. Aku berdiri tegak. Seluruh lampu sorot di ballroom langsung berputar, membelah kegelapan, dan berhenti tepat di atas kepalaku. Gaun hitam polosku, di bawah cahaya spotlight, memancarkan kilau sutra berkualitas tinggi dan detail jahitan tangan haute couture yang tidak bisa ditiru. Tas tangan kecil yang kupegang adalah koleksi terbatas yang hanya bisa dibeli oleh segelintir miliarder di dunia.

Aku melangkah maju dengan anggun. Para staf di mejaku terperangah sampai mulut mereka terbuka lebar.

Konfrontasi di Depan Publik

Saat aku berjalan melewati meja VIP, Markus menghadang langkahku. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan kemarahan dan kepanikan yang luar biasa. Dia mencengkeram lenganku, berbisik dengan nada mendesis penuh ancaman.

“Celestine! Apa-apaan kamu?! Jangan naik ke atas panggung, pakaianmu memalukan! Turun sekarang juga sebelum kamu merusak malam penghargaanku!”

Aku menghentikan langkahku. Perlahan, aku melepaskan tangannya dari lenganku dengan satu sentuhan jari yang tegas. Aku menatapnya lurus-lurus, senyum dingin tersungging di bibirku.

“Markus,” suaraku cukup keras hingga terdengar oleh beberapa investor asing di sekitar kami. “Aku tidak sedang merusak malam penghargaanmu. Aku sedang menghadiri malam penghargaanku. Minggir.”

Dua orang bodyguard berbadan tegap yang mengenakan pin emas logo Apex langsung maju dan berdiridi antaraku dan Markus, menghalangi suamiku yang mulai histeris.

“Maaf, Pak Markus. Mohon jangan mengganggu Ibu CEO,” ucap salah satu bodyguard dengan tegas, mendorong Markus mundur hingga dia tersandung dan jatuh terduduk di kursinya, tepat di sebelah Clarissa yang wajahnya kini sudah sepucat kertas.

Kebenaran yang Terungkap

Aku melangkah naik ke atas panggung. Pembawa acara membungkuk hormat dan menyerahkan mikrofon kepadaku. Dari atas panggung, aku bisa melihat ratusan pasang mata menatapku dengan takjub, dan di sudut sana, Markus menatapku seolah melihat hantu.

“Selamat malam semuanya,” ucapku, suaraku menggema jernih di seluruh ballroom. “Selama lima tahun ini, banyak yang bertanya-tanya siapa sosok di balik Apex Global Solutions. Mengapa CEO-nya tidak pernah tampil? Jawabannya sederhana: karena aku ingin melihat sejauh mana perusahaan ini bisa berjalan di bawah pengelolaan operasional yang kopercayakan kepada orang lain.”

Aku mengarahkan pandanganku tepat ke arah Markus.

“Lima tahun lalu, aku mendirikan perusahaan ini dengan modal penuh dari keluarga besarku, Alexander Group. Aku memberikan posisi Junior Partner kepada suamiku, Markus, dengan harapan dia bisa berkembang. Namun sayangnya… kenyamanan membuat seseorang lupa diri.”

Bisik-bisik langsung pecah di antara para hadirin. Para investor mulai menatap Markus dengan pandangan jijik dan kecewa.

“Malam ini, seharusnya menjadi malam pengangkatan Presiden baru. Dan memang benar, malam ini kita akan menyambut kepemimpinan baru. Tapi bukan Markus.”

Aku memberi isyarat ke layar besar di belakangku. Layar tersebut langsung menampilkan dokumen resmi perusahaan, lengkap dengan rincian audit forensik keuangan yang dilakukan diam-diam selama tiga bulan terakhir. Di sana terpampang nyata: penggelapan dana perusahaan sebesar 15 miliar rupiah yang dialirkan ke rekening pribadi atas nama Clarissa Natalia.

“Markus, kamu tidak hanya gagal menjadi suami yang menghormati istrinya, tapi kamu juga gagal menjadi profesional yang jujur. Kamu memintaku duduk di meja paling belakang agar tidak memalukanmu, padahal seluruh gedung ini, bahkan jas yang kamu pakai sekarang, dibeli dengan uangku.”

Akhir dari Segalanya

Markus berdiri, tubuhnya gemetar hebat. “Celestine! Ini fitnah! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku yang membesarkan perusahaan ini!” teriaknya frustrasi, mencoba merangsek maju namun langsung dikunci oleh petugas keamanan hotel.

“Aku bisa, Markus. Karena aku pemilik 85% saham Apex Global Solutions,” jawabku tenang. “Mulai detik ini, kamu resmi dipecat secara tidak hormat. Dan di luar sana, pihak kepolisian beserta tim kuasa hukumku sudah menunggu dengan surat penangkapan atas kasus penggelapan dana dan pencucian uang.”

Clarissa langsung menangis histeris, mencoba menjauh dari Markus seolah-olah pria itu adalah wabah penyakit. Namun terlambat, namanya sudah masuk dalam daftar tersangka.

Aku mengabaikan drama di bawah sana. Aku memperbaiki posisi mikrofonku, tersenyum ramah kepada para investor dan VIP yang kini memberikan tepuk tangan berdiri (standing ovation) atas ketegasanku.

“Bagi para mitra dan investor, jangan khawatir. Apex Global Solutions akan tetap berjalan lebih kuat di bawah kendaliku langsung mulai besok pagi. Mari kita nikmati sisa malam ini.”

Aku turun dari panggung dengan kepala tegak. Saat melewati Markus yang sedang diborgol oleh petugas kepolisian di pintu keluar, aku berhenti sejenak. Aku menatap tuksedo mahalnya yang kini kusut, lalu berbisik pelan di telinganya.

“Baju hitam ini memang elegan, Markus. Sangat cocok untuk melayat karier dan pernikahanmu yang mati malam ini.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang