JUTAWAN YANG DINYATAKAN HILANG RESMI DIANGGAP TELAH MENINGGAL.
Bahkan sebelum bunga di makamnya layu, seluruh keluarganya sudah tersenyum sambil menandatangani dokumen pembagian warisan.
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa pria itu sebenarnya masih hidup, menjalani kehidupan sederhana sebagai petani bersama orang-orang asing yang pernah menyelamatkannya.
Dan ketika seluruh ingatannya akhirnya kembali, ia harus menghadapi pilihan yang paling sulit dalam hidupnya.
Membalas pengkhianatan keluarganya atau melindungi rumah baru yang telah memberinya kesempatan hidup untuk kedua kalinya.

Namaku Surya Adinata.
Usiaku enam puluh delapan tahun.
Tetapi selama tujuh tahun terakhir, orang-orang mengenalku hanya sebagai Pak Sur.
Aku tinggal di sebuah desa kecil di lereng pegunungan Jawa Tengah yang bahkan tidak tercantum dalam peta wisata.
Rumahku berdinding papan.
Atapnya bocor setiap kali hujan turun deras.
Setiap pagi aku bangun sebelum matahari terbit, memberi makan ayam, menimba air, lalu mencangkul ladang bersama Pak Hadi.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada sekretaris.
Tidak ada yang memanggilku Tuan Direktur.
Dan anehnya, aku bahagia.
Tujuh tahun lalu, Pak Hadi menemukanku tergeletak di pinggir sungai setelah hujan besar.
Tubuhku penuh luka.
Kepalaku berdarah.
Aku tidak membawa identitas apa pun.
Ketika sadar di puskesmas, aku bahkan tidak tahu namaku sendiri.
Dokter mengatakan benturan di kepalaku menyebabkan amnesia.
Polisi sempat mencari laporan orang hilang, tetapi tidak menemukan kecocokan.
Pak Hadi dan Bu Aminah akhirnya membawaku pulang.
Mereka tidak pernah bertanya apakah aku kaya atau miskin.
Pak Hadi hanya berkata, “Kalau Tuhan masih mengizinkan Bapak hidup, berarti hidup Bapak belum selesai.”
Bu Aminah menambahkan sambil tersenyum, “Kalau belum tahu mau pulang ke mana, tinggal saja bersama kami.”
Sejak hari itu, mereka memanggilku Pak Sur.
Aku belajar menanam cabai, memperbaiki kandang ayam, memilih bibit jagung, dan menjual hasil panen ke pasar kecamatan.
Mereka mengajariku sesuatu yang selama bertahun-tahun bahkan tidak kusadari telah hilang dari hidupku.
Merasa cukup.
Namun semuanya berubah pada suatu sore.
Aku sedang membantu Rini, cucu Pak Hadi, memperbaiki pompa air ketika televisi kecil di ruang tengah menayangkan berita bisnis.
“Adinata Group resmi mengumumkan proyek kawasan industri baru senilai tiga triliun rupiah.”
Tanganku tiba-tiba berhenti.
Di layar muncul seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun.
Namanya Adrian Adinata.
Direktur Utama Adinata Group.
Saat melihat wajahnya, kepalaku mendadak terasa seperti dihantam palu.
Aku melihat meja makan panjang.
Seorang anak lelaki meniup lilin ulang tahun.
Seorang perempuan mengenakan kalung mutiara berdiri di sampingku.
Lalu bayangan lain muncul.
Mobil.
Hujan.
Suara rem.
Seseorang berteriak.
Aku jatuh sambil memegangi kepala.
“Pak Sur!”
Rini berlari menghampiriku.
Malam itu aku demam tinggi.
Dalam tidur, potongan-potongan ingatan datang seperti pecahan kaca.
Namaku Surya Adinata.
Pendiri Adinata Group.
Perempuan berkalung mutiara itu adalah istriku, Ratna.
Adrian adalah putra sulungku.
Aku juga memiliki seorang putri bernama Maya.
Lalu aku mengingat malam terakhir sebelum aku menghilang.
Aku sedang dalam perjalanan menuju vila keluarga di Puncak untuk menemui Adrian.
Beberapa hari sebelumnya, kepala audit internal melaporkan transaksi mencurigakan bernilai ratusan miliar rupiah.
Uang perusahaan dialihkan ke beberapa perusahaan cangkang.
Salah satu nama yang muncul sebagai penerima manfaat adalah adik istriku sendiri, Bima.
Aku menelepon Adrian.
Dia terdengar panik.
“Ayah, jangan bicara kepada siapa pun dulu. Kita selesaikan di vila.”
Aku pergi sendirian.
Di tengah perjalanan, mobilku kehilangan kendali.
Rem tidak berfungsi.
Setelah itu, hanya gelap.
Aku terbangun menjelang subuh dengan napas memburu.
Bu Aminah duduk di sampingku.
“Sudah ingat?”
Aku menatap tanganku yang kasar karena bertahun-tahun bekerja di ladang.
“Nama saya Surya Adinata.”
Bu Aminah tidak terkejut.
Ia hanya menggenggam tanganku.
“Lalu Bapak mau pulang?”
Pertanyaan itu jauh lebih sulit daripada yang seharusnya.
Dua hari kemudian aku pergi ke kota bersama Rini.
Aku tidak langsung mendatangi keluargaku.
Kami masuk ke sebuah warnet di kota kabupaten.
Aku mengetik namaku sendiri.
Ratusan berita muncul.
SURYA ADINATA HILANG DALAM KECELAKAAN MISTERIUS.
PENCARIAN DIHENTIKAN SETELAH ENAM BULAN.
PENGADILAN MENETAPKAN PENDIRI ADINATA GROUP TELAH MENINGGAL.
Aku membuka foto pemakaman simbolisku.
Ada Ratna.
Ada Adrian.
Ada Maya.
Mereka berdiri di depan makam kosong.
Namun sesuatu membuat dadaku terasa dingin.
Berita berikutnya terbit hanya dua minggu setelah penetapan kematianku.
KELUARGA ADINATA SEPAKAT MEMBAGI WARISAN.
Adrian mengambil kendali perusahaan.
Ratna memperoleh beberapa properti.
Maya mendapatkan saham dan aset lain.
Beberapa bulan kemudian, Bima diangkat menjadi komisaris.
Aku membaca semuanya tanpa bicara.
Rini menatapku.
“Mereka benar-benar keluarga Bapak?”
Aku mengangguk.
“Tapi kenapa mereka cepat sekali membagi semuanya?”
Aku tidak bisa menjawab.
Aku pulang ke desa malam itu dengan satu pertanyaan.
Apakah keluargaku hanya mengira aku mati atau seseorang memang menginginkanku mati?
Aku memutuskan kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai Surya Adinata.
Aku datang sebagai Pak Sur.
Dengan kemeja murah, celana kain lama, dan sandal yang dibelikan Pak Hadi di pasar.
Aku berdiri di depan gedung Adinata Group yang menjulang tinggi.
Dulu setiap orang di lobi itu akan berdiri ketika aku masuk.
Sekarang satpam menghentikanku.
“Mau ke mana, Pak?”
“Saya ingin bertemu Pak Adrian.”
“Ada janji?”
“Tidak.”
Satpam tersenyum canggung.
“Maaf, tidak bisa.”
Saat aku hendak pergi, seorang perempuan keluar dari lift.
Rambutnya sudah memutih sebagian.
Aku langsung mengenalinya.
Siska.
Sekretarisku selama hampir dua puluh tahun.
Mata kami bertemu.
Map di tangannya jatuh.
“Pak Surya?”
Aku memberi isyarat agar dia diam.
Satu jam kemudian kami duduk di sebuah kedai kopi kecil.
Siska menangis.
“Kami kira Bapak sudah meninggal.”
“Siapa yang berhenti mencari saya?”
Ia terdiam.
“Pak Adrian.”
Jawaban itu menghantamku lebih keras daripada yang kuduga.
Siska lalu mengeluarkan sebuah flashdisk dari tasnya.
“Sebelum Bapak hilang, Bapak meminta saya membuat salinan laporan audit.”
Aku menggenggam flashdisk itu.
“Kenapa tidak kau serahkan ke polisi?”
“Saya mencoba. Tiga hari setelah Bapak hilang, rumah saya dibobol. Anak saya diteror. Saya takut.”
“Siapa yang melakukan?”
“Saya tidak tahu. Tapi laporan audit itu menunjukkan Pak Bima memindahkan uang perusahaan. Dan semua transaksi disetujui menggunakan akses Pak Adrian.”
Darahku seperti membeku.
Jadi putraku terlibat.
Malam itu aku menyewa kamar murah.
Aku hampir tidak tidur.
Aku membayangkan Adrian kecil berlari mengejarku di halaman rumah.
Aku mengajarinya naik sepeda.
Aku menghadiri wisudanya.
Aku menyerahkan jabatan penting kepadanya karena percaya suatu hari ia akan meneruskan semua yang kubangun.
Apakah anak itu benar-benar mencoba membunuh ayahnya sendiri?
Keesokan harinya, jawabannya datang dari orang yang tidak kuduga.
Maya.
Entah bagaimana Siska memberitahunya bahwa aku masih hidup.
Putriku datang ke kamar penginapan dengan wajah pucat.
Begitu pintu terbuka, dia langsung memelukku.
“Ayah.”
Tubuhnya gemetar.
“Ayah hidup.”
Aku tidak langsung membalas pelukannya.
“Kenapa kalian berhenti mencari Ayah?”
Maya menangis.
“Aku tidak pernah berhenti.”
Ia membuka ponselnya.
Selama tujuh tahun, setiap tahun ia membayar penyelidik swasta menggunakan uang pribadinya.
Dia bahkan pernah pergi ke beberapa rumah sakit dan panti sosial setelah menerima informasi tentang pria tanpa identitas.
“Lalu warisan?”
“Aku menandatangani karena Mama bilang itu satu-satunya cara menjaga saham Ayah agar tidak jatuh ke investor luar. Aku salah. Tapi aku tidak pernah percaya Ayah mati.”
“Adrian?”
Wajah Maya berubah.
“Kak Adrian bukan orang yang Ayah pikir.”
Aku menahan napas.
Namun kalimat berikutnya mengejutkanku.
“Dia juga bukan orang yang mencoba membunuh Ayah.”
Maya menjelaskan bahwa beberapa bulan setelah aku menghilang, Adrian menemukan bukti bahwa Bima menggelapkan uang perusahaan.
Adrian ingin melapor ke polisi.
Namun Bima mengancam akan menyeret Ratna.
Ternyata istriku telah menandatangani sejumlah dokumen tanpa memahami isinya.
Jika kasus terbongkar, Ratna bisa ikut terseret.
Adrian memilih menutupi skandal itu.
Ia menggunakan uang pribadinya untuk mengembalikan sebagian kerugian.
Kesalahannya bukan mencoba membunuhku.
Kesalahannya adalah melindungi orang yang salah.
“Lalu siapa merusak rem mobil Ayah?”
Maya menatapku.
“Kami belum pernah tahu.”
Tiga hari kemudian aku mendatangi rumah lamaku.
Ratna membuka pintu.
Wajahnya kehilangan warna ketika melihatku.
Gelas di tangannya jatuh dan pecah.
“Surya?”
Aku berdiri diam.
“Aku pulang.”
Ratna menangis sambil mundur.
Lalu Adrian muncul dari ruang kerja.
Ketika melihatku, ia membeku.
“Ayah?”
Aku menatap putraku.
“Kecewa melihat Ayah masih hidup?”
Adrian tidak menjawab.
Ia berjalan mendekat lalu berlutut di depanku.
“Maafkan aku.”
Semua kemarahan yang kupendam selama perjalanan tiba-tiba kehilangan arah.
Adrian mengaku menghentikan pencarian resmi karena Bima meyakinkannya bahwa aku pasti sudah terseret arus.
Ia juga takut audit lama ditemukan dan menghancurkan keluarga.
“Aku pengecut, Yah. Tapi aku bersumpah aku tidak pernah menyentuh mobil Ayah.”
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan dari belakang.
Bima berdiri di pintu ruang makan.
Wajahnya tenang.
“Luar biasa. Orang mati ternyata bisa pulang.”
Adrian langsung berdiri.
“Om.”
Aku menatap Bima.
“Kaulah yang merusak mobilku?”
Ia tertawa kecil.
“Kalau benar, apa buktinya?”
Aku mengeluarkan ponsel.
Siska sudah menghubungi polisi.
Tetapi Bima justru tersenyum.
“Kau pikir tujuh tahun hidup sebagai petani membuatmu masih punya kekuasaan?”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
Aku berjalan mendekat.
“Tujuh tahun menjadi petani justru membuatku sadar bahwa kekuasaan bukan hal terpenting.”
Bima kehilangan senyumnya.
“Tapi bukti tetap penting.”
Pintu terbuka.
Dua penyidik masuk bersama seorang pria yang kukenal.
Mantan sopirku, Darto.
Wajah Bima langsung pucat.
Darto selama bertahun-tahun bersembunyi karena menerima uang dari Bima untuk membawa mobilku ke bengkel sehari sebelum kecelakaan.
Ia tidak tahu rem akan dirusak.
Namun setelah aku hilang, Bima membayarnya agar diam.
Rekening transfer, pesan lama, dan kesaksiannya cukup membuka kembali kasus tersebut.
Bima ditangkap.
Namun aku tidak merasa menang.
Melihat tangannya diborgol tidak mengembalikan tujuh tahun hidupku.
Tidak menghapus pengkhianatan.
Tidak mengembalikan kepercayaan yang telah hancur.
Beberapa bulan kemudian pengadilan membatalkan penetapan kematianku.
Secara hukum, aku kembali hidup.
Namaku kembali tercatat.
Sahamku kembali menjadi milikku.
Media memenuhi gerbang rumah.
Para pengacara menyiapkan gugatan.
Semua orang mengira aku akan kembali memimpin Adinata Group.
Aku memang datang ke rapat pemegang saham.
Ruangan langsung sunyi ketika aku masuk.
Aku duduk di kursi yang dulu menjadi milikku.
Adrian berdiri di ujung meja.
“Ayah ingin mengambil kembali perusahaan?”
Aku memandang wajah-wajah di ruangan itu.
Lalu aku tersenyum.
“Tidak.”
Aku menyerahkan sebuah dokumen.
Sebagian besar sahamku dialihkan ke sebuah yayasan independen untuk pendidikan anak petani dan pengembangan desa.
Sisanya kubagi kepada Maya dan Adrian dengan syarat tata kelola perusahaan diperbaiki dan seluruh transaksi diperiksa auditor independen.
Adrian menatapku tidak percaya.
“Kenapa?”
“Karena Ayah menghabiskan empat puluh tahun membangun perusahaan ini dan tujuh tahun belajar bahwa hidup tidak dibangun dari perusahaan saja.”
Aku kembali ke desa.
Pak Hadi sedang memperbaiki pagar ketika mobil yang kutumpangi berhenti.
Ia menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
“Kok pulang lagi?”
Aku tertawa.
“Memangnya saya tidak boleh pulang?”
Bu Aminah keluar membawa teh.
“Katanya Bapak orang kaya.”
Aku mengambil cangkul yang bersandar di dinding.
“Saya memang punya uang.”
“Lalu kenapa masih mau tinggal di rumah bocor?”
Aku memandang rumah papan itu.
Untuk pertama kalinya aku memahami jawabannya.
“Karena rumah besar belum tentu membuat seseorang merasa punya keluarga.”
Beberapa tahun kemudian Pak Hadi meninggal dengan tenang.
Di hari pemakamannya, Adrian dan Maya datang ke desa.
Adrian ikut mengangkat keranda bersama warga.
Tidak ada jas.
Tidak ada pengawal.
Setelah semua orang pulang, dia duduk di sampingku di teras.
“Ayah masih marah sama aku?”
Aku menatap sawah yang menguning.
“Dulu iya.”
“Sekarang?”
“Sekarang Ayah cuma berharap kamu belajar.”
“Belajar apa?”
Aku tersenyum.
“Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk tahu nilainya.”
Adrian menunduk.
Kemudian ia menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada dokumen lama yang baru ditemukan ketika kantor pusat direnovasi.
Sebuah surat yang kutulis delapan tahun sebelumnya.
Surat wasiat pertamaku.
Tanganku gemetar ketika membacanya.
Ternyata bahkan sebelum kecelakaan itu, aku sudah berencana menyerahkan sebagian besar kekayaanku untuk yayasan sosial ketika berusia tujuh puluh tahun.
Aku tertawa pelan.
Adrian kebingungan.
“Ada apa, Yah?”
Aku menatap langit senja.
“Ternyata sebelum kehilangan ingatan, Ayah sudah tahu apa yang harus dilakukan.”
Hanya saja saat itu aku belum punya keberanian.
Aku melipat surat itu.
Di kejauhan, Bu Aminah memanggil kami untuk makan.
Adrian berdiri.
“Ayo, Yah.”
Aku menatap rumah sederhana di belakangku.
Tujuh tahun lalu, keluargaku mengubur makam kosong atas namaku.
Mereka mengira Surya Adinata telah mati.
Mungkin mereka tidak sepenuhnya salah.
Pria yang hidup hanya untuk perusahaan, kekuasaan, dan kekayaan memang mati malam itu di pinggir sungai.
Orang yang kembali tujuh tahun kemudian adalah seseorang yang berbeda.
Aku kehilangan nama.
Kehilangan keluarga.
Kehilangan kekayaan.
Tetapi justru ketika tidak memiliki apa-apa, aku menemukan sesuatu yang selama puluhan tahun tidak pernah bisa kubeli.
Rumah.
Dan akhirnya aku mengerti.
Kesempatan kedua tidak selalu diberikan agar kita kembali mengambil kehidupan lama.
Kadang kesempatan kedua diberikan agar kita cukup berani memilih kehidupan yang seharusnya kita jalani sejak awal.
