…Kak Thu sedang duduk di depan meja, punggungnya tegak namun bahunya gemetar hebat. Di atas meja kayu yang mulai lapuk itu, sebuah laptop tua menyala, memancarkan cahaya biru pucat yang menerpa wajahnya yang pias. Di samping laptop, sebuah alat perekam suara digital berkedip-kedip merah.
Suara Kak Nam kembali terdengar dari pelantang suara laptop, kali ini diikuti batuk kecil yang sangat khas: “Thu, buka laci ketiga, ambil saputangannya…”
Aku terpaku di ambang pintu, napas yang sedari tadi kutahan akhirnya lolos dengan berat. “Kak Thu… apa yang sedang Kakak lakukan?”

Kak Thu tidak menoleh. Jari-jarinya yang kurus bergerak gemetar, menekan tombol pause. Keheningan malam langsung menyergap, menyisakan suara rintik hujan yang menghantam atap seng. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, ia memutar kursinya perlahan. Matanya merah, cekung, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang begitu pekat hingga membuat hatiku ngilu.
“Aku hanya… merindukannya,” bisik Kak Thu. Suaranya serak, nyaris tak terdengar di antara deru angin malam. “Itu rekaman suara Nam dari video-video lama yang kusatukan. Aku memutarnya setiap malam agar bisa tidur. Maaf jika ini membuatmu takut.”
Aku mengembuskan napas lega, namun ada rasa iba yang mendalam menjalar di dadaku. Logis. Semuanya logis. Ketakutanku akan hantu atau perselingkuhan runtuh seketika, digantikan oleh simpati mendalam untuk seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Aku mendekat, berlutut di samping kursinya, dan menggenggam tangannya yang sedingin es. “Kak, Kak Nam sudah tenang. Kakak harus merelakannya. Jika terus begini, Kakak akan menyiksa diri sendiri.”
Kak Thu menatapku lambat, lalu sebuah senyuman tipis—terlalu tipis hingga terasa ganjil—terukir di bibirnya yang pucat. “Kamu benar. Aku harus merelakannya.”
Malam itu, aku kembali ke ruang tamu dengan hati yang lebih tenang. Misteri suara misterius itu telah terpecahkan. Aku pun tertidur pulas hingga pagi menjelang.
Bagian II: Keganjilan di Balik Logika
Dua minggu berlalu. Kehidupan di rumah itu tampak mulai membaik. Kak Thu mulai tersenyum, memasak makanan yang lebih bervariasi, dan tidak lagi mengurung diri. Namun, ketenangan itu terusik oleh hal-hal kecil yang mulai terasa janggal.
Pertama, aku menyadari bahwa Kak Thu tidak pernah lagi menyentuh laptop atau alat perekam itu. Namun, setiap malam tepat pukul dua belas, suara Kak Nam tetap terdengar. Dan durasinya semakin panjang, bukan lagi sekadar potongan kalimat pendek seperti “jangan buka jendela” atau “ambil saputangan”.
Malam itu, aku terjaga karena haus. Saat berjalan menuju dapur, langkahku terhenti di depan kamar Kak Thu. Pintu kamarnya tertutup rapat, namun celah di bawah pintu memancarkan cahaya merah yang remang-remang—bukan cahaya biru laptop.
Dari dalam, aku mendengar suara Kak Nam sedang bercerita:
“Hari ini hujan lagi, Thu. Apakah kamu ingat saat kita terjebak badai di stasiun tua? Kamu menangis karena takut petir, dan aku memelukmu begitu erat…”
Suara itu terlalu jernih. Terlalu dinamis untuk sebuah rekaman video lama. Nada bicaranya memiliki jeda, seolah-olah ia sedang merespons tindakan Kak Thu di dalam kamar secara langsung. Yang membuat bulu kudukku meremang adalah suara Kak Thu yang menjawabnya dengan tawa kecil yang manja—suara yang tidak pernah kudengar sejak Kak Nam meninggal.
“Iya, aku ingat, Sayang. Saat itu jaketmu basah kuyup karena melindungiku,” sahut Kak Thu dari dalam.
Jantungku berdegup kencang. Ini bukan kecerdasan buatan (AI) ataupun rekaman. Ini adalah sebuah percakapan dua arah. Apakah Kak Thu benar-benar berkomunikasi dengan arwah Kak Nam? Ataukah… ada seorang pria yang sangat mirip dengan Kak Nam yang bersembunyi di dalam sana?
Rasa penasaran dan ketakutan bercampur aduk. Keesokan harinya, saat Kak Thu pergi ke pasar tradisional untuk membeli bahan makanan, aku memutuskan untuk menggeledah kamarnya.
Kamarnya rapi, tercium bau minyak kayu putih dan sisa dupa. Aku langsung menuju meja kerja. Laptopnya mati dan berdebu. Alat perekam digital yang tempo hari kulihat kini baterainya sudah dilepas. Aku mulai membuka laci-laci meja.
Laci pertama: tumpukan buku catatan medis Kak Nam. (Kak Nam meninggal karena kanker paru-paru stadium akhir, tubuhnya digerogoti penyakit hingga kurus kering sebelum akhirnya menyerah).
Laci kedua: album foto pernikahan mereka.
Aku ragu-ragu di depan laci ketiga. Teringat ucapan suara misterius malam itu: “Thu, buka laci ketiga, ambil saputangannya…”
Dengan tangan bergetar, ditariknyalah laci ketiga. Tidak ada saputangan. Yang ada hanya sebuah buku diari bersampul kulit hitam milik Kak Thu dan sebuah ponsel pintar yang disembunyikan di bawah tumpukan kain penutup altar. Ponsel itu menyala, menampilkan sebuah aplikasi pesan terenkripsi yang masih terbuka.
Aku membuka pesan teratas dari nomor tanpa nama. Isinya membuat darahku membeku:
“Suara tiruanku malam ini sudah cukup bagus, bukan? Adik iparmu tampaknya mulai percaya itu hanya rekaman. Terus mainkan drama ini, Thu. Sedikit lagi, uang asuransi kematian Nam senilai dua miliar dong akan cair ke rekeningmu. Setelah itu, kita bisa pergi dari negara ini bersama.”
Aku membekap mulutku sendiri. Kak Nam tidak sekadar meninggal karena sakit. Ada konspirasi di sini. Pria di seberang telepon itu… siapa dia? Dan mengapa suaranya bisa persis sama dengan mendiang kakakku?
Bagian III: Labirin Kebohongan
Aku segera mengembalikan ponsel itu ke tempat semula, menutup laci, dan keluar dari kamar dengan tubuh gemetar. Otakku berputar cepat. Kak Thu, wanita yang tampak begitu rapuh dan tulus meratapi suaminya, ternyata sedang merencanakan sesuatu yang besar bersama seorang pria asing menggunakan suara mendiang kakakku.
Malam itu, aku berpura-pura tidur di ruang tamu. Pukul 00.00, suara itu terdengar lagi.
“Thu, malam ini dingin sekali. Apakah adikku sudah tidur?”
“Dia sudah tidur nyenyak di luar,” jawab Kak Thu manis.
“Bagus. Besok agen asuransi akan datang untuk tanda tangan terakhir. Setelah uangnya masuk, aku akan menjemputmu. Aku merindukanmu, Thu.”
“Aku juga merindukanmu, Mas,” balas Kak Thu.
Mendengar kata “Mas”—panggilan yang hanya digunakan Kak Thu untuk Kak Nam—membuatku menyadari satu hal yang mengerikan. Pria di dalam sana bukan menggunakan alat pengubah suara. Dialah pemilik asli suara itu. Tapi bagaimana mungkin? Kak Nam sudah dikremasi. Aku sendiri yang membawa abu jenazahnya ke pagoda!
Keesokan paginya, ketika agen asuransi benar-benar datang, aku menguping dari balik tirai dapur. Kak Thu menandatangani berkas-berkas dengan air mata yang berlinang di pipinya—sebuah akting yang luar biasa luar biasa. Setelah agen itu pergi, Kak Thu kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ia berkata padaku bahwa ia harus pergi ke bank untuk mengurus pencairan dana.
Begitu ia pergi, aku segera bertindak. Aku tidak bisa membiarkan wanita ini lolos begitu saja setelah mengkhianati memori kakakku. Aku menelepon seorang teman lama yang bekerja di kepolisian forensik, memintanya melakukan satu hal darurat: memeriksa ulang sampel DNA dari sisa jaringan tubuh yang disimpan di rumah sakit sebelum “Kak Nam” dinyatakan meninggal sebulan lalu.
Dua jam kemudian, temanku menelepon balik. Suaranya terdengar panik dan bingung.
“Hùng, ada yang aneh dengan data medis kakakmu. Sampel jaringan tubuh dari pasien kanker yang meninggal sebulan lalu itu… secara genetis adalah milik seseorang yang berusia sekitar 50 tahun dengan golongan darah O. Padahal catatan sipil kakakmu, Nam, berusia 32 tahun dan bergolongan darah A.”
Pikiranku berputar hebat. Jadi, siapa yang meninggal di ranjang rumah sakit itu? Siapa yang kami tangisi dan kami kremasi?
Jawabannya hanya satu: Kak Nam belum meninggal.
Dia memalsukan kematiannya sendiri demi uang asuransi. Pria yang berbicara di kamar setiap malam itu… adalah Kak Nam yang asli! Mereka tidak sedang berselingkuh; mereka berdua sedang melakukan penipuan asuransi terbesar, dan aku dijadikan alat sebagai saksi mata yang sah untuk memperkuat alibi bahwa Kak Thu hidup merana sendirian dan mendengar “suara hantu” suaminya akibat trauma.
Bagian IV: Plot Twist yang Tak Terduga
Malam terakhir. Hujan badai mengguyur kota dengan dahsyat. Petir menyambar, merobek langit malam dan memutus aliran listrik di seluruh area perumahan. Rumah menjadi gelap gulita, hanya diterangi oleh kilatan petir yang sesekali masuk melalui celah jendela.
Aku berdiri di tengah ruang tamu yang gelap, memegang sebuah pisau dapur di tangan kananku. Emosiku meluap. Marah karena ditipu, namun ada rasa lega yang aneh karena kakakku ternyata masih hidup. Aku memutuskan untuk mengakhiri sandiwara ini malam ini juga.
Tepat pukul 00.00, pintu depan rumah berderit terbuka. Seseorang masuk dengan jubah mandi hitam yang basah kuyup. Kilatan petir menyinari wajahnya sesaat.
Itu Kak Nam.
Wajahnya, suaranya, postur tubuhnya yang tinggi tegap—bukan kurus kering seperti saat di rumah sakit. Dia tersenyum padaku di kegelapan.
“Hùng, kamu belum tidur?” tanyanya dengan suara berat yang selalu kudengar setiap tengah malam. “Maaf membuatmu terlibat dalam rencana ini. Tapi sekarang semua sudah selesai. Uangnya sudah cair. Kita bisa hidup mewah di tempat lain, bertiga.”
Aku menurunkan pisauku sedikit, mataku berkaca-kaca. “Kak Nam… kenapa Kakak harus melakukan ini? Memalsukan kematian? Menipu semua orang?”
“Demi masa depan kita, Hùng. Penyakit kankersu… maksudku, utang-utangku terlalu banyak. Ini satu-satunya jalan keluar,” katanya sambil melangkah mendekat.
Pada saat itulah, pintu kamar mandi di belakang Kak Nam terbuka. Sebuah senter menyala, menyorot langsung ke wajah pria di hadapanku. Di ambang pintu kamar mandi, berdiri Kak Thu. Wajahnya tidak lagi menunjukkan cinta atau ketakutan. Wajahnya dingin, sedingin es di musim dingin.
Dan di tangan Kak Thu… ada sebuah pistol peredam suara yang diarahkan tepat ke punggung pria yang mirip Kak Nam itu.
Pfft!
Satu tembakan dilepaskan. Pria di hadapanku terbelalak, darah segar menyembur dari dadanya saat ia jatuh tersungkur di lantai ruang tamu, tepat di bawah kaki altar Kak Nam. Ia mengerang kesakitan, menatap Kak Thu dengan tatapan tidak percaya sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
Aku berteriak histeris, mundur hingga punggungku membentur tembok. “Kak Thu! Apa yang Kakak lakukan?! Kamu membunuh Kak Nam?!”
Kak Thu berjalan pelan melewati mayat pria itu, mematikan senter, dan menyalakan sebatang lilin di atas altar. Cahaya lilin menerangi wajahnya yang kini tampak begitu kejam sekaligus puas.
“Dia bukan Nam,” kata Kak Thu datar, suaranya dingin tanpa emosi.
“Apa maksudmu?! Suaranya… wajahnya…”
Kak Thu menatap foto Kak Nam di altar, lalu menatapku. “Nam yang asli sudah meninggal satu bulan lalu di rumah sakit ini, Hùng. Dia benar-benar meninggal karena kanker. Pria yang mati di lantai ini… dia adalah Khánh, saudara kembar identik Nam yang diadopsi oleh keluarga lain sejak bayi dan tinggal di kota lain. Nam sendiri bahkan tidak tahu dia punya kembaran.”
Aku terperangah, otakku menolak untuk memproses informasi ini. “Lalu… lalu kenapa?”
“Khánh menemukan Nam saat Nam sudah sekarat di rumah sakit. Bukannya menolong, Khánh justru mengusulkan rencana gila ini padaku: memalsukan dokumen medis, menggunakan identitas Nam untuk membeli polis asuransi jiwa bernilai tinggi atas nama Nam dengan menggunakan data kesehatan Khánh yang masih segar bugar. Ketika Nam yang asli meninggal, kami menggunakan tubuh Nam untuk mengklaim asuransi, sementara Khánh berpura-pura menjadi Nam yang memalsukan kematian.”
Kak Thu menarik napas dalam-dalam, menatap mayat Khánh dengan jijik. “Khánh mengira aku mencintainya. Dia mengira kami akan melarikan diri bersama dengan uang dua miliar dong itu. Dia bodoh. Dia tidak tahu bahwa pria yang paling kucintai di dunia ini adalah Nam. Dan bajingan ini… dia berani menggunakan wajah dan suara suamiku yang sudah mati untuk memeras dan menyentuhku setiap malam di kamar ini.”
“Lalu… kenapa Kakak membunuhnya sekarang?” tanyaku dengan suara bergetar hebat.
Kak Thu tersenyum miring, sebuah senyuman yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Uang asuransi itu sudah masuk ke rekening pribadiku sore ini, Hùng. Dan dalam hukum, Nam sudah dinyatakan meninggal sebulan lalu. Sekarang, pria yang mati di lantai ini tidak punya identitas. Di mata hukum, Khánh tidak pernah ada di rumah ini. Dan kamu…”
Kak Thu melangkah mendekatiku, menyerahkan pistol yang masih hangat itu ke tanganku yang gemetar, lalu menggenggam jemariku erat-erat di atas gagang senjata.
“…kamu adalah adik ipar yang baik yang baru saja menembak seorang penyusup tak dikenal yang mencoba merampok rumah kita di tengah malam yang gelap. Uang dua miliar itu… akan kubagi dua bersamamu. Sekarang, panggil polisi, Hùng. Mari kita akhiri cerita hantu ini.”
