Kakiku seketika lemas. Rasanya seolah seluruh tulang di tubuhku luruh begitu saja. Aku bertumpu pada kusen pintu yang dingin, memandangi adegan menjijikkan itu dengan napas yang mulai memburu.
Apa yang harus kulakukan? Diam? Berbalik pergi lalu menangis meratapi nasib di dalam mobil? Atau berpura-pura tidak melihat apa-apa demi menjaga nama baik Dokter Dimas yang terhormat?
“Tidak. Logika kedokteranku mungkin mati, tetapi instingku sebagai wanita yang terluka baru saja bangkit.”
Ya, akhirnya aku memilih jalan perlawanan.
“Mas!” teriakku lantang.

Mendengar suaraku yang membelah keheningan ruangan, Dimas tersentak hebat. Tubuhnya menegang. Ia menoleh dengan gugup, dan wajahnya seketika pucat saat pandangan kami bertemu.
“Reva…” ucapnya lirih, terbata-bata.
Aku diam saja? Tentu tidak. Reva yang penurut dan selalu mengalah sudah mati pada detik itu juga.
Dengan langkah tegap dan dada yang naik turun menahan amarah, aku menghampiri Dimas dan apoteker itu. Wanita itu buru-buru membenarkan pakaiannya dengan wajah penuh kepanikan.
“Dasar wanita murahan! Dasar laki-laki tidak tahu diri!” teriakku histeris, meluapkan seluruh luka yang selama dua tahun kupendam seorang diri.
Pandanganku menyapu ruangan. Di atas meja kulihat kotak bekal yang kubuat sejak subuh lengkap dengan jus mangga favorit Dimas. Semuanya masih utuh. Rupanya yang lebih penting baginya pagi ini bukanlah bekal buatanku, melainkan pelukan wanita lain.
Tanpa berpikir panjang, kusambar tumbler berisi jus itu lalu kulemparkan ke arah mereka. Cairan jingga itu langsung membasahi wajah keduanya.
Belum puas, kutumpahkan bekal berisi nasi merah dan tumis udang yang kusiapkan dengan susah payah ke atas kepala mereka.
“Apa kamu tidak malu, Mas? Apa kamu masih pantas disebut suami?” pekikku dengan suara serak.
“Reva, tunggu! Aku bisa jelaskan!” kata Dimas panik.
Namun gerakan berikutnya membuat dadaku seperti ditusuk ribuan jarum.
Dimas justru berdiri di depan wanita itu. Ia melindunginya.
Aku tertawa pahit.
“Hebat sekali. Bahkan di saat seperti ini, yang kamu lindungi bukan istrimu.”
“Tidak seperti yang kamu pikirkan!”
“Aku melihat semuanya dengan mataku sendiri!”
Ketika aku hendak mengejar wanita itu, Dimas menahanku. Bahkan ia membekap mulutku agar aku berhenti berteriak.
Aku meronta sekuat tenaga.
Saat itulah pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar.
Beberapa perawat dan seorang dokter senior berdiri terpaku di ambang pintu.
“Dokter Dimas… ada apa ini?”
Dimas langsung melepaskan tangannya dari mulutku.
Wajahnya berubah pucat.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Wanita yang tadi berusaha kabur kini tidak bisa bergerak karena beberapa staf sudah memenuhi lorong.
Aku menghapus air mata dengan kasar lalu berkata lantang, “Tanyakan saja pada suami saya. Saya hanya datang mengantarkan makan siang, tapi ternyata saya menemukan hadiah yang jauh lebih mengejutkan.”
Semua mata langsung tertuju kepada Dimas.
Apoteker itu gemetar.
“A-aku bisa jelaskan…”
“Silakan,” kataku dingin. “Saya juga ingin mendengar kebohongan baru hari ini.”
Dokter senior itu menghela napas panjang.
“Dokter Dimas, ikut saya ke ruang direktur sekarang.”
Hari itu rumah sakit mendadak gaduh.
Video keributan yang direkam salah satu pengunjung ternyata sudah menyebar di media sosial hanya dalam hitungan jam.
Bukan karena aku sengaja membuatnya viral.
Namun seseorang telah mengunggah rekaman ketika Dimas berusaha membekap mulutku sementara pakaian wanita itu masih berantakan.
Nama Dimas yang selama ini dikenal sebagai dokter teladan mendadak menjadi bahan pembicaraan.
Sepanjang malam teleponnya tidak berhenti berdering.
Keesokan harinya ia pulang ke rumah dengan wajah kusut.
“Reva… kita bicara.”
Aku sedang melipat pakaian anak kami.
“Apa lagi yang perlu dibicarakan?”
“Aku khilaf.”
Aku tersenyum tipis.
“Hanya itu?”
“Aku mencintaimu.”
“Lucu sekali. Kemarin kamu bahkan melindungi wanita lain di depanku.”
“Itu refleks.”
“Refleks seseorang selalu menunjukkan siapa yang sebenarnya paling ingin dia lindungi.”
Dimas terdiam.
“Aku mohon jangan hancurkan karierku.”
Kalimat itu membuatku tertawa getir.
Bukan, bukan karena lucu.
Melainkan karena akhirnya aku sadar.
Sejak awal yang ia pikirkan bukan perasaanku.
Bukan keluarganya.
Melainkan kariernya.
“Apa sekali pun kamu sudah bertanya bagaimana perasaanku?”
Dimas menunduk.
“Aku minta maaf.”
“Aku sudah terlalu sering mendengar kata maaf.”
Aku mengeluarkan sebuah map dari lemari.
“Ini apa?”
“Surat gugatan cerai.”
Matanya langsung membelalak.
“Reva, jangan bercanda.”
“Aku tidak pernah se-serius ini.”
Ia langsung berlutut.
“Anak kita bagaimana?”
“Aku akan membesarkannya dengan baik.”
“Dia butuh ayah.”
“Benar. Tapi dia tidak membutuhkan ayah yang mengajarinya bahwa mengkhianati istrinya adalah hal yang biasa.”
Hari-hari berikutnya menjadi masa paling berat dalam hidupku.
Aku harus menghadapi pertanyaan keluarga, tetangga, bahkan media lokal yang mulai membahas kasus perselingkuhan dokter terkenal.
Sebagian menyalahkanku.
“Mungkin istrinya kurang perhatian.”
“Mungkin istrinya terlalu sibuk.”
“Mungkin istrinya sudah tidak menarik lagi.”
Dulu mungkin aku akan menangis.
Kini tidak lagi.
Aku belajar bahwa masyarakat selalu lebih mudah menyalahkan perempuan.
Untungnya kedua orang tuaku berdiri di sisiku.
“Ayah bangga kamu memilih mempertahankan harga dirimu,” kata ayah sambil menggenggam tanganku.
Kalimat sederhana itu membuatku menangis untuk pertama kalinya setelah semua kejadian.
Sementara itu penyelidikan internal rumah sakit terus berjalan.
Aku sama sekali tidak ikut campur.
Aku hanya menjalani proses perceraian.
Namun dua minggu kemudian seseorang datang mencariku.
Namanya Rina.
Apoteker yang menjadi selingkuhan Dimas.
Wajahnya jauh lebih pucat dibanding hari saat aku memergoki mereka.
“Aku ingin meminta maaf.”
Aku hanya memandanginya.
“Aku tidak datang untuk meminta kamu memaafkan aku.”
“Lalu?”
“Aku datang karena kamu berhak tahu semuanya.”
Ia mengeluarkan flashdisk.
“Ini rekaman CCTV dan salinan percakapan.”
Aku mengernyit.
“Apa maksudmu?”
“Aku memang menjalin hubungan dengan Dimas.”
Dadaku kembali sesak.
“Tapi aku juga korban.”
Aku tidak langsung percaya.
Rina menangis.
“Dia bilang sudah lama berpisah ranjang denganmu. Dia bilang kalian hanya tinggal menunggu waktu untuk bercerai.”
Aku menggeleng.
“Itu bohong.”
“Aku tahu sekarang.”
Ia menyodorkan flashdisk itu.
“Masih ada perempuan lain.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Bukan hanya aku.”
Malam itu aku membuka isi flashdisk.
Tanganku gemetar.
Di dalamnya terdapat percakapan Dimas dengan beberapa wanita berbeda.
Ada perawat.
Ada sales alat kesehatan.
Bahkan ada pasien yang terus dirayunya setelah selesai berobat.
Aku tidak sanggup menghitung jumlahnya.
Yang paling membuatku mual adalah satu pesan.
“Aku selalu bosan dengan perempuan setelah menikah.”
Aku menutup laptop.
Air mataku tidak keluar lagi.
Yang tersisa hanya kehampaan.
Sidang etik rumah sakit akhirnya berlangsung.
Aku hadir hanya sebagai saksi.
Direktur rumah sakit memandang Dimas dengan kecewa.
“Yang kami sesalkan bukan hanya pelanggaran etik sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga penyalahgunaan ruang kerja dan penyalahgunaan kepercayaan.”
Dimas hanya menunduk.
Beberapa minggu kemudian hasil sidang keluar.
Ia diberhentikan dari jabatannya dan dikenai sanksi berat sesuai peraturan rumah sakit.
Hari itu ia menghubungiku berkali-kali.
Aku tidak mengangkat satu pun teleponnya.
Proses perceraian selesai tiga bulan kemudian.
Hak asuh anak jatuh kepadaku.
Aku memulai hidup baru.
Aku kembali bekerja sebagai dokter di sebuah klinik ibu dan anak.
Tidak semewah rumah sakit tempat Dimas dulu bekerja.
Namun setiap hari aku pulang dengan hati yang jauh lebih tenang.
Suatu sore, hampir setahun setelah perceraian, aku melihat seorang pria duduk sendirian di taman dekat klinik.
Rambutnya mulai berantakan.
Tubuhnya lebih kurus.
Itu Dimas.
Ia sedang bermain dengan anak kami.
Saat melihatku, ia berdiri.
“Terima kasih sudah mengizinkan aku bertemu dia.”
Aku mengangguk singkat.
“Ayah…” anakku berlari menghampiriku.
“Ayo pulang, Nak.”
Dimas memandang kami pergi.
Sebelum masuk mobil, ia berkata lirih, “Kalau waktu bisa diputar, aku tidak akan mengkhianatimu.”
Aku menoleh sebentar.
“Masalahnya, waktu memang tidak pernah mau menunggu penyesalan.”
Aku masuk ke mobil sambil menggenggam tangan anakku.
Lewat kaca spion, kulihat Dimas masih berdiri di tempat yang sama.
Sendirian.
Baru saat itulah aku benar-benar mengerti.
Perselingkuhan tidak selalu menghancurkan orang yang dikhianati.
Sering kali, ia justru menghancurkan orang yang memilih mengkhianati kepercayaan seseorang yang pernah mencintainya tanpa syarat.
