“Kalau kamu tidak selingkuh, rekaman itu akan membuktikan semuanya.”

Beberapa meter di belakang motor yang melaju kencang itu, sebuah mobil bak terbuka milik warga desa melintas. Sopirnya, Pak Darto, melihat sesuatu berkilau di tengah jalan. Awalnya ia hendak mengabaikannya, tetapi karena khawatir benda itu milik orang yang baru saja lewat, ia menghentikan kendaraannya.

“Ada dompet?” tanya istrinya.

“Bukan.”

Pak Darto memungut sebuah kartu identitas yang tergeletak di aspal. Ia mengernyit.

“Lho… ini kan orang yang tadi dibicarakan warga di balai.”

Namun, saat membaca nama di kartu itu, dahinya semakin berkerut.

“Bukan Rangga…”

Ia membalik kartu itu beberapa kali. Foto di sana memang jelas milik pria yang baru saja melintas dengan motor. Tetapi nama yang tertulis adalah “Arga Prasetyo”.

Pak Darto langsung memutar mobil.

“Ayo balik ke balai!”

Sementara itu, suasana di balai warga semakin panas.

Adhi baru saja selesai menelepon polisi ketika seorang petugas desa datang menghampiri.

“Pak, polisi sedang menuju ke sini.”

Tina langsung terduduk lemas.

Savira memperhatikannya tanpa sedikit pun rasa iba.

“Aku sudah bilang, setiap kebohongan pasti ada akhirnya.”

Belum sempat Tina menjawab, suara mobil berhenti terdengar dari luar.

Pak Darto turun tergesa-gesa.

“Pak Hendra! Saya menemukan ini!”

Ia menyerahkan kartu identitas itu.

Semua orang langsung mengerubungi.

Adhi mengambilnya lebih dulu.

Matanya membelalak.

“Ini…”

Savira ikut melihat.

“Foto Rangga…”

“Tapi namanya bukan Rangga,” sambung Hendra pelan.

Semua orang terdiam.

Tina yang semula tertunduk spontan mengangkat kepala.

Wajahnya berubah pucat.

“Itu… bukan…”

Adhi menatapnya tajam.

“Kenapa kamu terlihat kaget?”

“Aku… aku tidak tahu.”

“Bohong.”

Savira mengambil kartu itu.

“Kalau dia benar-benar tunangan adikmu, kenapa namanya berbeda?”

Rere yang sejak tadi belum kembali akhirnya masuk ke balai dengan napas tersengal. Begitu melihat kartu identitas itu, tubuhnya langsung membeku.

“Itu…”

Air matanya perlahan jatuh.

“Mas Rangga…”

“Tidak pernah menunjukkan KTP kepadaku.”

Suasana semakin gaduh.

“Jadi kalian bahkan tidak tahu nama aslinya?” tanya salah seorang warga.

Rere hanya mampu menggeleng.

Adhi langsung merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar jebakan perselingkuhan.

Polisi akhirnya tiba.

Dua mobil berhenti di depan balai.

Seorang penyidik berpangkat inspektur turun bersama beberapa anggotanya.

“Saya Inspektur Dimas. Siapa yang melapor?”

“Saya.”

Adhi maju menyerahkan rekaman dashcam beserta kartu identitas tersebut.

Petugas memutar video beberapa menit.

Setelah selesai menonton, ekspresinya langsung berubah serius.

“Lelaki ini…”

Ia mengangkat kartu identitas.

“Kalian bilang namanya Rangga?”

“Iya.”

“Tidak.”

Semua orang menatapnya.

“Nama aslinya memang Arga Prasetyo.”

Suasana mendadak hening.

Inspektur Dimas menghela napas.

“Sudah hampir enam bulan kami mencari orang ini.”

Adhi mengernyit.

“Mencari?”

“Ia saksi utama dalam kasus pencucian uang sebuah perusahaan logistik. Sebelum sempat diperiksa, dia menghilang.”

Semua orang saling berpandangan.

Savira merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Jadi…”

“Ia menggunakan identitas palsu selama ini.”

Rere langsung terduduk.

“Apa?”

“Apa dia benar-benar mencintaiku?”

Tidak ada yang menjawab.

Di sisi lain kota, Arga menghentikan motornya di sebuah gudang tua.

Ia menoleh memastikan tidak ada yang mengikuti.

Rere turun dengan wajah bingung.

“Kenapa berhenti di sini?”

“Aku harus mengambil sesuatu.”

“Apa?”

“Kamu tunggu saja.”

Arga berjalan masuk ke dalam gudang.

Namun langkahnya langsung terhenti.

Ruangan itu kosong.

Semua koper besi yang selama ini disembunyikan di sana telah hilang.

“Kurang ajar…”

Ia mengepalkan tangan.

Seseorang sudah datang lebih dulu.

Ponselnya tiba-tiba berdering.

Nomor tak dikenal.

“Aku sudah bilang jangan pernah kembali ke gudang itu.”

Suara di seberang terdengar berat.

“Kamu siapa?”

“Kamu lupa siapa yang membuatmu hidup sampai hari ini?”

Wajah Arga berubah tegang.

“Kau…”

“Kalau masih ingin hidup, selesaikan urusan keluarga Adhi.”

Telepon langsung terputus.

Arga memukul tembok sekeras mungkin.

Rere yang berdiri di luar semakin bingung.

Beberapa menit kemudian Arga keluar dengan wajah dingin.

“Ayo.”

“Kita mau ke mana?”

“Pulang.”

“Tapi…”

“Tidak usah banyak tanya.”

Sepanjang perjalanan, Rere mulai menyadari pria yang ia cintai selama dua tahun itu seperti orang asing.

Ia tidak pernah benar-benar mengenalnya.

Sementara itu, di rumah keluarga Adhi, suasana berubah mencekam.

Ibunya, Ratna, baru saja pulang ketika melihat polisi sudah menunggu di ruang tamu.

“Ada apa ini?”

Inspektur Dimas berdiri.

“Ibu Ratna?”

“Iya.”

“Kami ingin meminta keterangan mengenai dugaan persekongkolan fitnah dan penganiayaan.”

Ratna tertawa kecil.

“Kalian pasti salah orang.”

Namun ketika Tina dibawa masuk dengan tangan gemetar, senyum Ratna perlahan menghilang.

“Tina?”

Tina menangis.

“Maaf, Bu…”

Ratna langsung memahami semuanya.

Ia menatap Adhi.

“Kamu benar-benar melibatkan polisi?”

“Aku sudah bilang.”

Suara Adhi terdengar datar.

“Siapa pun yang bersalah harus bertanggung jawab.”

Ratna mendekat.

“Adhi. Mama ini ibumu.”

“Dan Savira istriku.”

Ratna terdiam.

“Aku sudah berkali-kali diam demi menjaga nama keluarga.”

Tatapan Adhi mulai memerah.

“Tapi Mama terus melukai perempuan yang paling aku cintai.”

Ratna masih mencoba bertahan.

“Mama melakukan semua ini demi masa depanmu.”

“Demi masa depanku?”

Adhi tertawa hambar.

“Mama menghancurkan rumah tanggaku lalu menyebutnya masa depan?”

Savira memegang lengan suaminya.

Ia tahu betapa berat ucapan itu keluar dari mulut Adhi.

Ratna akhirnya kehilangan kendali.

“Perempuan itu tidak pantas menjadi istrimu!”

Semua orang terdiam.

“Kenapa?” tanya Savira pelan.

Ratna memandangnya penuh kebencian.

“Karena keluargamu membuat suamiku meninggal!”

Hendra langsung berdiri.

“Apa maksudmu?”

Ratna menunjuk Hendra.

“Dua puluh lima tahun lalu perusahaanmu membuat suamiku bangkrut.”

Hendra membeku.

“Aku…”

Ratna menangis.

“Setelah itu dia bunuh diri.”

Ruangan menjadi sunyi.

Savira memandang ayahnya.

“Pa…”

Hendra perlahan menutup mata.

“Aku memang pernah menjadi direktur perusahaan itu.”

Ratna tertawa pahit.

“Akhirnya kamu ingat.”

Namun Hendra menggeleng.

“Tapi keputusan pemecatan suamimu bukan dariku.”

Ratna membentak.

“Bohong!”

“Itu keputusan komisaris.”

“Aku pernah mencoba mempertahankannya.”

Ratna tidak mau mendengar.

Selama dua puluh lima tahun ia hidup dengan kebencian.

Dan kebencian itu telah membutakannya.

Inspektur Dimas akhirnya memotong.

“Masalah masa lalu bisa dibahas nanti. Saat ini kami harus membawa beberapa orang untuk diperiksa.”

Ratna menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melawan.

Di luar rumah, sebuah mobil hitam memperhatikan semuanya dari kejauhan.

Di dalamnya duduk seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.

Ia tersenyum tipis melihat Ratna digiring polisi.

“Lemah sekali.”

Seorang anak buah di kursi depan bertanya,

“Apa kita lanjutkan rencana berikutnya, Pak?”

Pria itu mengangguk.

“Arga gagal.”

“Lalu bagaimana?”

“Kita gunakan orang lain.”

Ia mengambil sebuah map.

Di dalamnya terdapat foto Adhi, Savira, Hendra, bahkan Inspektur Dimas.

Namun di bagian paling belakang terselip satu foto lama yang sudah mulai pudar.

Foto seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun.

Pria itu mengusap foto tersebut sambil tersenyum dingin.

“Tidak ada seorang pun dari keluarga ini yang tahu…”

Ia menatap keluar jendela.

“…bahwa permainan ini sebenarnya sudah dimulai sejak dua puluh lima tahun yang lalu.”

Mobil hitam itu perlahan melaju meninggalkan rumah keluarga Adhi.

Di sisi lain kota, Arga yang sedang mengendarai motor tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar.

Sebuah pesan anonim masuk.

“Aku sudah mengambil semua bukti darimu. Sekarang giliranmu memilih. Menjadi saksi… atau menjadi korban berikutnya.”

Arga langsung menghentikan motornya.

Tangannya bergetar.

Untuk pertama kalinya sejak menyamar sebagai Rangga, ia benar-benar ketakutan.

Ia sadar satu hal.

Orang yang selama ini ia lindungi ternyata sejak awal memang berniat menghabisinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang