Mama bergerak lebih cepat daripada yang kuduga.
Tangannya menyambar ke arah flashdisk hitam di telapak tanganku, tetapi sebelum jarinya menyentuhnya, Satria melangkah di antara kami.
“Jangan, Bu,” katanya tegas.
Mama terhenti.
Ballroom yang beberapa menit lalu dipenuhi denting gelas dan musik jazz kini benar-benar sunyi. Bahkan suara pendingin ruangan terdengar jelas.
“Apa-apaan ini?” Mama mendesis. “Ini acara pernikahan anak saya. Kalian mau menghancurkan malamnya?”
Aku menatap wajahnya.

Aneh sekali. Setelah semua yang kutemukan, setelah mendengar sendiri rekaman percakapannya dengan Nadira, sebagian kecil dalam diriku masih berharap Mama akan menyangkal semuanya dengan alasan yang bisa dipercaya.
Mungkin dia dipaksa.
Mungkin rekaman itu dipotong.
Mungkin ada penjelasan lain.
Namun yang kulihat sekarang bukan wajah seorang ibu yang salah paham.
Itu wajah seseorang yang takut rahasianya terbuka.
Arga masih berdiri di atas panggung sambil memegang mikrofon.
“Nadira,” katanya, “aku tanya sekali saja. Empat koma enam miliar dari rekening perusahaan itu ke mana?”
Suara bisik-bisik langsung menyebar di seluruh ruangan.
Ayah menoleh tajam.
“Apa?”
Nadira menggeleng cepat.
“Papa, jangan dengarkan dia. Arga lagi emosi. Kak Alya pasti sudah memengaruhinya.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
Bahkan sekarang, dia masih memilih menyalahkanku.
Pak Hendra maju membawa sebuah map tebal.
“Saya tidak datang untuk mempermalukan siapa pun,” katanya. “Saya datang karena sebagai auditor yang ditunjuk perusahaan, saya harus menyampaikan bahwa transaksi-transaksi tersebut nyata dan telah diverifikasi.”
Ayah mengambil map itu dengan tangan gemetar.
Halaman pertama berisi daftar transfer.
Halaman kedua berisi alamat IP.
Halaman berikutnya berisi bukti duplikasi token otentikasi.
Semakin lama Ayah membaca, semakin pucat wajahnya.
“Nadira,” suaranya parau. “Ini apa?”
Nadira berlari mendekatinya.
“Papa, itu bukan seperti yang kelihatannya.”
“Lalu seperti apa?”
“Dana itu cuma dipindahkan sementara.”
Aku menatapnya.
“Ke perusahaan konsultasi milik siapa?”
Dia terdiam.
Satria menjawab, “PT Aksara Prima Konsultan terdaftar atas nama Bagas Santoso.”
Nama itu membuat Arga menegang.
Aku melihat perubahan kecil di wajahnya.
“Kamu kenal?” tanyaku.
Arga turun dari panggung.
“Bagas mantan pacar Nadira.”
Semua mata beralih kepadanya.
Nadira langsung berteriak, “Dia bukan mantanku!”
Arga tertawa hambar.
“Aku sudah membaca pesan kalian.”
Wajah Nadira benar-benar kehilangan warna.
Aku baru tahu soal itu.
Arga mengeluarkan ponselnya.
“Aku tidak cuma menemukan dokumen pinjaman malam itu, Kak Alya.”
Dia menatapku sejenak.
“Aku juga menemukan percakapan mereka.”
Nadira mencoba merebut ponsel Arga, tetapi Arga mengangkat tangannya menjauh.
“Jangan sentuh aku.”
Suara Arga tidak keras.
Justru itu yang membuatnya terasa lebih dingin.
Dia membuka salah satu pesan.
“Bagas bilang, ‘Setelah saham kakakmu jatuh ke tanganmu, kita bisa selesaikan semuanya.’ Lalu kamu jawab, ‘Tunggu aku resmi menikah dulu. Aku butuh Arga sebagai tameng.’”
Ruangan bergemuruh.
Beberapa tamu mulai saling berbisik terang-terangan.
Nadira menatap Arga seperti seseorang yang sedang melihat lantai runtuh di bawah kakinya.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
“Aku cuma berpura-pura dekat dengan Bagas karena dia bantu urusan perusahaan.”
“Dengan memalsukan tanda tangan kakakmu?”
Nadira diam.
Arga melanjutkan, “Atau dengan menjanjikan kalian akan tinggal bersama setelah saham Kak Alya berhasil diambil?”
Tamparan.
Suara itu meledak di tengah ballroom.
Mama baru saja menampar Arga.
Beberapa orang menjerit kecil.
Mama berdiri dengan dada naik turun.
“Cukup! Kamu belum resmi jadi bagian keluarga ini lalu berani mempermalukan anak saya?”
Arga menyentuh pipinya sebentar.
Kemudian menatap Mama.
“Bu, saya sudah resmi menikah dengannya tadi siang.”
Dia berhenti.
“Tapi setelah malam ini, saya tidak tahu apakah pernikahan ini akan bertahan sampai besok.”
Nadira mulai menangis.
Bukan tangisan seperti ketika dia meminta gaun mahal atau saat keinginannya ditolak.
Tangisnya kasar dan panik.
“Arga, please. Kita baru menikah.”
“Aku tahu.”
“Jangan lakukan ini.”
“Yang melakukan semua ini bukan aku.”
Ayah menjatuhkan map ke meja.
“Kenapa?”
Hanya satu kata.
Tetapi aku tahu pertanyaan itu bukan hanya untuk Nadira.
Ayah menatap Mama.
“Kenapa kalian melakukan ini?”
Mama membuang wajah.
“Aku cuma ingin menyelamatkan keluarga.”
Aku tertawa kecil.
Semua orang menoleh kepadaku.
Mungkin karena selama ini mereka terbiasa melihatku diam.
“Dengan mencuri uang perusahaan?”
Mama menatapku.
“Kamu tidak mengerti.”
“Jelaskan supaya aku mengerti.”
Wajahnya mengeras.
“Semua kendali perusahaan ada di tanganmu. Setiap keputusan harus lewat kamu. Vendor percaya kamu. Bank percaya kamu. Pegawai lebih dengar kamu daripada ayahmu sendiri.”
“Karena aku bekerja di sana setiap hari.”
“Karena kamu sengaja membuat kami semua bergantung padamu!”
Kalimat itu menamparku lebih keras daripada benturan di lantai tadi.
Aku terdiam.
Mama melanjutkan seolah pintu yang bertahun-tahun tertutup akhirnya terbuka.
“Sejak kecil kamu selalu begitu. Nilai terbaik. Kuliah bagus. Papa bangga sama kamu. Semua orang memuji Alya. Lalu ketika perusahaan hampir hancur, kamu datang dan jadi penyelamat lagi.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Jadi itu alasannya?
Bukan uang saja.
Bukan saham saja.
Dendam.
Iri.
Dari ibu kepada anaknya sendiri.
“Nadira cuma ingin punya tempat,” kata Mama. “Dia tidak mau hidup selamanya di bawah bayang-bayangmu.”
Aku memandang adikku.
“Jadi solusinya membuatku dituduh mencuri?”
Nadira terisak.
“Kamu tidak tahu rasanya jadi aku.”
“Aku memang tidak tahu.”
Suaraku mulai bergetar, tapi bukan karena takut.
“Karena ketika kamu kuliah dan liburan ke Bali, aku yang bertemu debt collector. Ketika kamu membeli tas belasan juta, aku menjual mobil supaya pegawai kita tetap digaji. Ketika Papa masuk rumah sakit, aku yang tidur di kursi lorong sambil tetap menjawab telepon klien.”
Aku menunjuk meja-meja di sekitar kami.
“Dan pesta ini. Semua bunga yang kamu bilang harus dari luar negeri. Ballroom ini. Uang muka katering. Aku yang bayar.”
Nadira menatapku dengan mata merah.
“Aku tidak pernah minta kamu jadi pahlawan.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dadaku akhirnya patah.
Bukan patah yang menyakitkan.
Lebih seperti tali yang selama ini mengikatku tiba-tiba putus.
Aku mengangguk perlahan.
“Benar.”
Semua orang diam.
“Aku yang bodoh karena terus mencoba.”
Aku menoleh kepada Satria.
“Lanjutkan.”
Satria membuka map lain.
“Mulai pukul enam sore tadi, atas permintaan pemegang saham mayoritas dan berdasarkan indikasi fraud, rekening operasional tertentu telah dibekukan sementara oleh bank. Seluruh akses token lama sudah dinonaktifkan.”
Mama melotot.
“Apa?”
Nadira menatapku.
“Kamu membekukan rekening perusahaan?”
“Rekening yang terindikasi disalahgunakan.”
“Kamu gila! Besok ada pembayaran vendor!”
“Sudah kupindahkan ke rekening operasional baru yang diawasi dua direktur dan auditor.”
Pak Hendra mengangguk.
“Kegiatan perusahaan tetap berjalan normal.”
Nadira terdiam.
Satria melanjutkan.
“Dan satu jam lalu, laporan resmi mengenai pemalsuan dokumen dan dugaan penggelapan telah diterima penyidik.”
Mama terlihat seperti akan jatuh.
“Kamu melaporkan adikmu sendiri ke polisi?”
Aku menatapnya.
“Aku melaporkan tindak kejahatan.”
“Dia darah dagingmu!”
Aku tersenyum pahit.
“Aneh. Tadi aku bahkan tidak pantas duduk di meja keluarga.”
Beberapa tamu menunduk.
Mereka yang tadi tertawa saat aku jatuh kini tidak ada satu pun berani menatapku.
Nenek Ratih tiba-tiba memukul meja dengan tongkatnya.
“Cukup.”
Suaranya tidak keras, tetapi semua orang diam.
Nenek berdiri perlahan.
Aku segera mendekatinya, tetapi dia mengangkat tangan, menyuruhku tetap di tempat.
Dia menatap Mama.
“Dulu waktu kamu menikah dengan anak saya, saya pikir sifat serakahmu akan hilang setelah punya keluarga.”
Mama pucat.
“Nenek…”
“Diam.”
Ayah menatap ibunya.
Ada sesuatu dalam nada Nenek yang membuat semua orang menyadari bahwa masalah malam itu belum selesai.
Nenek merogoh tas kecilnya.
Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Kalau kalian semua sudah selesai bicara soal siapa yang punya perusahaan, mungkin sekarang waktunya tahu siapa yang sebenarnya memiliki gedung kantor pusat.”
Aku mengernyit.
Mama langsung membeku.
Ayah terlihat bingung.
“Nek, maksudnya?”
Nenek memberikan amplop itu kepada Satria.
Satria membacanya cepat.
Kemudian menatapku.
“Kak Alya, ternyata sertifikat gedung kantor pusat tidak pernah dialihkan menjadi aset perusahaan.”
“Apa?”
Nenek mengangguk.
“Gedung itu dibeli almarhum kakekmu. Sebelum meninggal, dia hibahkan kepadamu.”
Aku merasa seolah salah dengar.
“Ke aku?”
“Kamu masih dua puluh dua tahun waktu itu. Saya yang diminta memegang dokumen sampai kamu cukup dewasa dan sampai saya yakin kamu tahu siapa yang bisa dipercaya.”
Mama mendadak maju.
“Itu tidak mungkin.”
Nenek menatapnya dingin.
“Kenapa tidak mungkin?”
“Gedung itu aset keluarga.”
“Bukan. Itu aset Alya.”
Mama tampak kehilangan napas.
Saat itulah aku mengerti.
Kantor pusat perusahaan kami berada di kawasan strategis Jakarta Selatan. Nilainya sekarang jauh lebih besar daripada ketika pertama dibeli.
Selama bertahun-tahun perusahaan membayar biaya perawatan, tetapi tidak pernah membayar sewa karena semua orang menganggap gedung itu milik keluarga.
Jika gedung itu benar-benar milikku, maka empat puluh persen saham hanyalah sebagian dari kekuatan yang sebenarnya kumiliki.
Nadira terduduk di kursi terdekat.
Namun kejutan terakhir justru datang dari Ayah.
Dia berjalan ke arahku.
Untuk pertama kalinya malam itu aku melihatnya menangis.
“Ayah tahu.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Ayah tahu gedung itu milikmu.”
Dadaku membeku.
“Ayah tahu?”
Dia mengangguk.
“Sejak lama.”
“Lalu kenapa Ayah diam ketika Mama dan Nadira mencoba mengambil sahamku?”
Wajahnya hancur.
“Karena Ayah pengecut.”
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Hanya pengakuan.
“Ayah tahu Nadira sering memanipulasi Mama. Ayah tahu Mama selalu memperlakukanmu berbeda. Tapi setiap kali Ayah mau bicara, Ayah takut keluarga ini pecah.”
Aku menelan sesuatu yang terasa keras di tenggorokan.
“Jadi Ayah membiarkan aku yang pecah.”
Ayah menutup wajahnya.
Kalimat itu membuatku sendiri hampir menangis.
Namun malam itu aku sudah terlalu lelah untuk menangisi orang-orang yang sengaja memilih tidak melihat luka yang mereka buat.
Aku mengambil mikrofon dari Arga.
Tidak ada rencana pidato.
Aku hanya menatap seluruh ballroom.
“Maaf karena resepsi ini berubah seperti ini.”
Nadira menatapku tajam.
Aku melanjutkan.
“Tapi saya rasa sebagian besar dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa keluarga harus selalu dimaafkan. Bahwa darah lebih penting daripada apa pun.”
Aku menarik napas.
“Saya percaya itu selama tiga puluh empat tahun.”
Aku menatap Mama.
“Dan keyakinan itu hampir membuat saya kehilangan perusahaan, nama baik, tabungan, dan mungkin kebebasan saya kalau rencana mereka berhasil.”
Tidak ada yang bergerak.
“Mulai malam ini, saya tidak akan lagi menyamakan memaafkan dengan membiarkan.”
Aku mengembalikan mikrofon kepada Arga.
Kemudian menghampiri Nenek.
“Ayo pulang.”
Nenek tersenyum.
“Sekarang?”
Aku mengangguk.
“Sekarang.”
Kami baru berjalan beberapa langkah ketika Arga memanggilku.
“Kak Alya.”
Aku menoleh.
Dia berdiri beberapa meter dari Nadira.
Tidak lagi di sampingnya.
“Terima kasih sudah kasih tahu aku sebelum terlambat.”
Nadira tersentak.
“Arga…”
Arga melepas cincin pernikahannya.
Dia meletakkannya di atas meja.
“Aku akan menghubungi pengacara besok.”
Nadira menjerit dan mencoba mengejarnya, tetapi Arga sudah berjalan ke arah lain.
Aku tidak merasa puas.
Tidak juga bahagia.
Hanya kosong.
Tiga bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.
Bagas ditetapkan sebagai tersangka lebih dulu setelah penyidik menemukan rekening penampung atas namanya. Nadira kemudian ikut diperiksa atas dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan. Mama tidak ditahan, tetapi keterlibatannya dalam percakapan dan beberapa transfer membuatnya harus menghadapi penyelidikan panjang.
Arga mengajukan pembatalan pernikahan.
Ayah mengundurkan diri dari posisi direktur utama.
Dan untuk pertama kalinya sejak umur dua puluh dua tahun, aku mengambil cuti lebih dari dua minggu.
Aku pergi ke Bandung sendirian.
Bukan untuk bisnis.
Bukan menemui klien.
Hanya untuk berjalan di sekitar kampus lamaku, minum kopi murah, dan mengingat perempuan muda yang dulu pulang ke Jakarta karena merasa harus menyelamatkan semua orang.
Ketika kembali, aku membuat keputusan yang tidak disangka siapa pun.
Aku menjual sebagian sahamku.
Bukan kepada Nadira.
Bukan kepada investor luar.
Aku menawarkannya melalui skema kepemilikan terbatas kepada tiga manajer senior yang telah bekerja bersamaku sejak perusahaan hampir bangkrut.
Pak Hendra bertanya kenapa.
Aku menjawab sederhana.
“Aku tidak mau perusahaan ini lagi bergantung pada satu keluarga.”
Gedung kantor tetap menjadi milikku.
Perusahaan membayar sewa resmi.
Semua transaksi besar membutuhkan dua otorisasi.
Dan tidak ada satu pun anggota keluarga yang mendapat jabatan hanya karena nama belakang.
Suatu sore, hampir enam bulan setelah pernikahan itu, sebuah paket tiba di kantor.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada foto lama.
Aku dan Nadira masih kecil.
Aku mungkin berusia sembilan tahun.
Dia enam.
Kami duduk bersama di lantai ruang tamu sambil memegang kue ulang tahun.
Di belakang foto ada tulisan tangan Nadira.
Aku ingat hari ketika aku masih menganggapmu kakakku, bukan sainganku.
Maaf karena suatu saat aku mulai percaya bahwa untuk menjadi cukup, aku harus membuatmu lebih kecil.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu menyimpan fotonya di laci.
Aku belum siap memaafkan.
Mungkin suatu hari nanti.
Mungkin juga tidak.
Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengerti bahwa memaafkan bukan kewajiban yang memiliki batas waktu.
Malam itu aku pulang lebih awal.
Sebelum meninggalkan kantor, aku melewati ruang rapat besar tempat dulu Mama pernah menangis memintaku menyelamatkan bisnis keluarga.
Lampunya sudah mati.
Kursi-kursi tersusun rapi.
Aku berdiri sebentar di ambang pintu.
Selama bertahun-tahun aku berpikir keluarga adalah meja yang harus kupertahankan tempat dudukku di sana, tidak peduli berapa kali kursiku ditarik.
Ternyata aku salah.
Keluarga bukan tentang siapa yang membiarkanmu duduk di meja mereka.
Keluarga adalah orang-orang yang tidak pernah membuatmu merasa harus jatuh lebih dulu untuk membuktikan bahwa kamu pantas berada di sana.
Aku mematikan lampu lorong.
Lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
